Latest Post
Tampilkan postingan dengan label renungan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan hidup. Tampilkan semua postingan

Aku Memeluk Islam Tanpa Bertemu Seorang Muslim



Alan Rooney asal Skotlandia berbagi kisah tentang perjalanannya memeluk Islam. Hebatnya, perubahan besar itu terjadi pada dirinya terjadi tanpa pernah bertemu dengan seorang muslim pun. Berikut ini adalah kisah yang ia sampaikan sendiri:
Bagaimana perjalanan seorang pria Skotlandia paruh baya, berkulit putih, tinggal di dataran tinggi Skotlandia bisa menjadi seorang Muslim – apalagi dia belum bertemu dengan seorang muslim pun dalam hidupnya?
Kisah ini berawal ketika aku mendengar seruan untuk sholat dari masjid setempat saat berlibur di pantai di Turki. Panggilan ini membangkitkan sesuatu dalam diriku. Mengilhamiku untuk memulai pencarian spiritual.
Pulang ke rumah di Inverness, aku pergi ke toko buku setempat. Membeli Alquran dan mulai membacanya. Saat membaca, aku selalu meminta kepada Tuhan untuk membimbingku dalam perjalanan yang telah ku jalani ini.
Banyak berdoa. Banyak berlutut.
Alquran benar-benar mengguncangkanku. Buku ini cukup menakutkan untuk dibaca. Karena menceritakan banyak hal tentang diri Anda. Aku menjumpai beberapa hal tentang diriku yang tidak kusukai. Dari sini kuputuskan untuk membuat beberapa perubahan.
Aku tahu, bisa saja kuhentikan membaca Alquran kapan saja. Tapi aku sadar, hal itu berarti melepaskan sesuatu yang sangat penting.
Dan aku sadar akhir dari proses yang sedang kujalani ini: Aku akan menjadi seorang muslim.
Jadi, aku terus membaca. Ku baca Alquran tiga kali, agar bisa mencari sesuatu yang kurang. Namun, setelah tiga kali tamat, tidak juga ada celah yang kutemukan. Aku merasa cukup nyaman dengan segala hal yang dijelaskan Alquran.
Bagian yang paling sulit dalam perjalanan ini adalah aku bertanya-tanya seperti apa aku nantinya. Apakah aku jadi seorang yang aneh. Berpakaian dan berbicara berbeda di mata orang lain?
Apa yang akan dipikirkan keluarga, teman, dan rekan kerja tentangku?
Dan yang terpenting, apa yang akan kupikirkan tentang diriku sendiri? Jadi seperti apa aku nanti?
Aku akan meluangkan waktu, berselancar di dunia maya, mencari tahu cerita orang-orang yang telah lebih dulu melewati pengalaman ini. Yakni sendirian memeluk Islam. Sepertinya tak ada yang sama denganku. Perjalanan masing-masing orang tentu saja unik dan berbeda-beda. Bagaimanapun penting bagiku untuk mengetahuinya. Menyusuri jalan yang sama. Sederhananya, aku beralih membaca dunia online -dari membaca Alquran- karena aku takut terlihat aneh.
Media online juga sangat bagus untuk mengetahui bagaimana shalat dipraktikkan dalam bahasa Arab, untuk mendengarkan Alquran dibacakan dengan suara keras atau mungkin untuk mendengarkan beberapa musik Islami. Bagiku, musik juga baik untuk menginspirasi beberapa ungkapan yang mulai ingin kugunakan.
Intinya, semua ini penting. Aku mempertanyakan semuanya. Dan memang berbagai informasi itu mutlak diperlukan dalam berpindah agama. Anda mempertanyakan diri sendiri. Anda mempertanyakan apa yang Anda dengar, dan apa yang Anda baca.
Jika ada sesuatu yang tidak beres menurutmu, tentu ini indikasi jelas bahwa hal ini bukan untuk Anda. Anda harus mendengarkan dengan baik dengan intuisi dan hati Anda.
Proses ini kulalui sekitar 18 bulan. Beberapa orang, butuh waktu lebih sedikit. Tapi ada juga yang lebih. Sementara aku melakukan semua ini sendirian, tanpa ada yang membantu. Selama proses ini, aku belum pernah bertemu seorang muslim pun.
Setelah 18 bulan, saya menganggap diriku adalah seorang muslim. Aku shalat lima kali sehari, berpuasa di bulan Ramadhan, hanya makan dan minum sesuatu yang sesuai dengan tuntuna Alquran.
Setelah itu, baru kutemukan sebenarnya ada sebuah masjid kecil di kotaku. Aku berkunjung, mengetuk pintu, dan mengenalkan diriku.
Penutup
Benarlah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,
لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَأَهْلَهُ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْشِّرْكَ وَأَهْلَهُ
“Agama ini akan menyebar sejauh jarak yang dicapai malam dan siang, dengan kemulian orang yang mulia dan kehinaan orang yang terhina; yaitu kemuliaan yang dengannya Allah akan memuliakan Islam dan penganutnya, dan menghinakan kesyirikan dan pengikutnya.” (HR. Ahmad dari Tamim ad-Dary radhiallahu ‘anhu).
Dari kisah perjalana keislaman Alan Rooney, kita mendapatkan bahwa Alquran itu memiliki pengaruh luar biasa di hati manusia. Rooney membacanya hingga tiga kali tamat. Namun sayang, sebagian umat Islam pada hari ini, belasan tahun mereka memeluk Islam tapi belum pernah sekalipun tamat membaca terjemah Alquran. Terlebih lagi membaca tafsirnya. Dampaknya, ketika ada ayat-ayat Alquran yang baru mereka dengar dan hal itu bertolak belakang dengan keinginan mereka, dengan mudah mereka tolak.
Sumber: https://www.allamericanmuslim.com/alan-rooney/
 

Kesabaran Pelaku Maksiat…!!!


Seorang Syaikh bercerita bahwa ia pernah berdakwah di hutan belantara di Afrika dengan menempuh perjalanan kaki yang jauh dan sangat melelahkan. Dalam hatinya dia menyangka bahwa ia telah sabar dan berkorban dengan pengorbanan dan kesabaran yang luar biasa dalam berdakwah. Ternyata ia dikejutkan bahwa dalam hutan belantara tersebut ada seorang wanita bule yang telah bertahun-tahun berusaha melancarkan program kristenisasi. Ternyata kesabarannya dan pengorbanannya masih kalah jauh dari kesabaran wanita bule tersebut !!!

Demikianlah…ternyata pelaku kesyirikan juga bersabar dalam kesyirikan mereka…bahkan bersabar dalam mendakwahkan kesyirikan mereka.

Allah berfirman tentang kesabaran kaum kafir Quraisy

إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلا (٤٢)

Sesungguhnya hampirlah ia  (yaitu Nabi Muhammad) menyesatkan kita dari sembahan- sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya" dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalanNya. 
(QS Al-Furqoon : 42)

Ibnu Katsiir berkata :

يَعْنُوْنَ: أَنَّهُ كَادَ يَثْنِيْهِمْ عَنْ عِبَادَةِ أَصْناَمِهِمْ، لَوْلاَ أَنْ صَبَرُوا وَتَجَلَّدُوا وَاسْتَمَرُّوا عَلَى عِبَادَتِهَا

"Maksud mereka yaitu hampir-hampir saja Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) memalingkan mereka dari penyembahan berhala-berhala mereka, akan tetapi kalau bukan karena kesabaran mereka, keteguhan mereka, dan kesinambungan mereka dalam menyembah berhala-berhala mereka" (Tafsiir Ibnu Katsiir 6/113)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka kaum musyrikin membanggakan kesabaran mereka dalam kesyirikan, karena kesabaran merekalah yang menyelamatkan mereka dari dakwah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Hampir-hampir mereka terpengaruh dengan dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi kesabaran merekalah yang telah menyelamatkan mereka. Merekapun membanggakan kesabaran mereka ini !! (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 19/33)

Bahkan mereka saling menasehati diantara mereka untuk bersabar dalam keysirikan mereka. Allah juga berfirman tentang mereka :

وَانْطَلَقَ الْمَلأ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (٦)

Dan Pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan bersabarlah untuk tetap (menyembah) tuhan-tuhanmu, Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki (QS Shaad : 6)

As-Syaikh As-Sa'di berkata :

فَلِهَذَا تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ عَلَيْهِ ... وأما المؤمنون فهم كما قال الله عنهم: { وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }

"Karenanya mereka (kaum musyrikin Arab) saling berwasiat (saling menasehati) untuk bersabar di atas kesyirikan mereka….adapun kaum mukminin maka mereka sebagaimana firman Allah ((Dan saling berwasiatlah kalian dengan kebenaran dan kesabaran))"
 (Taisiir Al-Kariim Ar-Rohmaan hal 583)

Yang menyebabkan mereka bisa bersabar adalah bisikan-bisikan syaitan dengan berbagai macam godaan. Syaitan mengingatkan kepada mereka bahwa agama kesyirikan adalah agama nenek moyang mereka…, jika mereka meninggalkan kesyirikan mereka maka mereka akan menjadi bahan cercaan.., dan mereka akan ditimpa dengan akibat yang buruk…, dan bisikan-bisikan yang lainnya. (lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 17/300)

Lihatlah putra Nabi Nuuh 'alaihis salaam yang kafir, dalam kondisi terdesak tatkala ia telah terbawa oleh banjir, dan Nabi Nuuh telah mengajak putranya yang ia cintai untuk naik di atas kapal…akan tetapi sang anak tetap tidak mau dan sabar dalam kondisi tersebut. Bahkan menyatakan dirinya mampu untuk selamat dengan penuh kesabaran.

Allah mengisahkan hal ini dalam firmanNya :

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (٤٢)قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (٤٣)

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang". dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu Termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
 (QS Huud : 42-43)

Dalam siroh Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam nampak bagaimana kesabaran kaum musyrikin dalam perang demi membela kesyirikan. Lihatlah kaum musyirikin arab dalam perang Badr yang dipimpin oleh Abu Jahal, mereka nekat untuk berjalan menempuh jarak sejauh kurang lebih 350 km dari Mekah menuju Badar. Mereka bersabar menempuh jarak yang jauh…, bahkan orang yang pertama kali tewas dari mereka adalah seorang yang bernama Al-Aswad bin Abdil Asad Al-Makhzuumiy yang telah bersumpah dan berjanji untuk meminum dari kolam air yang dibangun oleh kaum muslimin di lokasi perang di Badar, atau menghancurkan kolam tersebut. Akhirnya tatkala Al-Aswad ini maju hendak minum dari kolam tersebut maka iapun dihadang oleh Hamzah bin Abdil Muttholib radhiallahu 'anhu, dan Hamzahpun berduel dengannnya dan berhasil memenggal kaki si Al-Aswad hingga setengah betisnya. Akan tetapi meskipun kondisi Al-Aswad demikian…ia tetap bersabar dan berjalan merangkak menuju kolam air kaum muslimin dalam rangka untuk meminum atau menghancurkan kolam tersebut. Sungguh kesabaran yang luar biasa…, akan tetapi Hamzah tidak membiarkannya, lalu Hamzahpun membunuhnya. (Lihat Tahdziib Shirroh Ibni Katsiir hal 271).


Sungguh pernah ada suatu masa di tanah air kita jika ada seorang wanita di kampung yang memakai pakaian yang tidak senonoh yang mengumbar aurat maka ia akan menjadi bahan cercaan warga sekampung…, akan tetapi wanita tersebut bersabar tetap memakai pakaian mini tersebut…dan ia terus bersabar serta tidak memperdulikan cercaan dan makian warga kampung. Ternyata sang wanita telah berhasil dalam kesabarannya…bahkan mulai banyak wanita yang mengikuti jejaknya…, bahkan jadilah pengumbaran aurat adalah hal yang biasa dan merupakan mode dan trend…, bahkan kondisi menjadi berbalik, justru wanita yang menutup aurotnya, apalagi bercadar…justru menjadi bahan cercaan dan celaan, bahkan dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak.

Demikianlah…para pelaku maksiat dan kesyirikan sabar dalam memperjuangkan kemaksiatan dan keysirikan mereka…lantas apakah para pejuang tauhid…pejuang sunnah…penyeru kepada kebajikan tidak bersabar???

Bukankah kesabaran para pelaku kemaksiatan dan kesyirikan mengantarkan mereka kepada neraka jahannam…kepada adzab yang pedih…?? Dan bukankah kesabaran para pejuang tauhid dan sunnah mengantarkan mereka kepada surga Allah??, kepada kenikmatan abadi??.


Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 25-01-1433 H / 20 Desember 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja


sumber : www.firanda.com
 

Sempat Takut pada Islam, Wanita Inggris ini Jadi Mualaf


Sempat Takut pada Islam, Wanita Inggris ini Jadi Mualaf


Melanie Jane menyimpan ketakutan tersendiri pada dunia Islam. Terlebih lagi dirinya akan tinggal di negara Islam.
Melanie Jane adalah wanita Inggris yang tengah mengejar karir. Kesempatan bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab dijalaninya demi mewujudkan ambisinya.
Kecintaannya pada budaya baru juga menjadi alasan Jane mengambil pekerjaan di negara Muslim ini.
Namun tak dipungkiri, Jane menyimpan ketakutan tersendiri pada dunia Islam. Terlebih lagi dirinya akan tinggal di negara Islam.

Keputusan sudah diambil, Jane akhirnya membulatkan tekad memulai Karir di Dubai. Pertama kali menginjak kota kosmopolitan Timur Tengah ini, semua gambaran negatif yang dibayangkan Jane luntur.
Stereotype mengenai muslim dan negara muslim pupus seketika. "Kesan saya mengenai muslim dan Islam ternyata tak seperti bayangan ketika pindah dari Inggris," kata Jane seperti dikutip laman Onislam.net, Senin, 10 November 2014.

Jane menuturkan, masyarakat Inggris umumnya mengaitkan Islam dengan pengekangan terhadap wanita. Pemikiran mengenai Islam ini pula yang diyakini Jane dimulai dari cara berpakaian muslimah dan bagaimana perlakukan orang Islam pada isterinya.
"Namun pertemuan saya dengan Mahmoud mengubah semuanya," katanya.
Dalam sejarah masa lalu, tutur Jane, Islam sebetulnya memiliki orang-orang berpendidikan, pemimpin bisnis, Khadijah yang merupakan istri Nabi Muhammad SAW yang merupakan pebisnis wanita.

"Sayangnya cerita-cerita di Inggris mengenai Islam dan muslim berbeda sama sekali," katanya.
Sebelum memutuskan memeluk Islam, Jane mengaku mempercayai adanya kekuatan yang Maha Besar namun dirinya tak tahu apakah zat itu. Agama-agama yang dipelajarinya seringkali tak pernah memberikan jawaban memuaskan.

"Pertanyaan sederhana seringkali tak pernah ada jawabannya," katanya.
Sampai akhirnya Jane menemukan dan mempelajari Islam. Jane yang kini telah berhijab menyadari Islam sangat terbuka terhadap berbagai pertanyaan. Dan setiap pertanyaan senantiasa ada jawabannya.

"Agama lain lebih mengajarkan kepada kepercayaan. itu normal, namun tak memuaskan buat saya," katanya.
Bagi Jane, Islam begitu sempurna dan semuanya pertanyaan mampu terjawab. "Inilah yang meyakinkan saya untuk memeluk Islam," pungkasnya.

sumber : http://www.dream.co.id/jejak/wanita-mualaf-inggris-ini--141109p.html
 

Ampunan Itu Telah Bawa Perampok Ini Masuk Islam

Sohail mengampuni dan bahkan menyantuni perampok itu dengan uang dan makanan. Perampok itu akhirnya bertobat dan masuk Islam.
Ini kisah Mohammad Sohail. Pemilik toko “Shirley Ekspres” di Long Island, New York, Amerika Serikat, yang berhasil mengubah seorang perampok menjadi Muslim.
Kisah itu bermula pada Mei 2009. Kala itu, Sohail hendak menutup toko, karena malam sudah larut. Namun, tiba-tiba seorang pria merangsek ke dalam toko sambil memegang tongkat baseball.
Pria itu rupanya berniat merampok. Pria itu mengancam dan meminta uang kepada Sohail. Namun, Sohail dengan sigap mengambil senapan yang disimpan di bawah meja dan menodongkannya ke wajah perampok itu.

Merasa kalah senjata, sang perampok berlutut. Memohon ampun dan meminta agar Sohail tak menembaknya. Padahal, Sohail tak pernah mengisi senapannya itu dengan peluru. Dia hanya menakut-nakuti perampok tersebut.
 Perampok itu terus memohon. Air matanya bercucuran. “Maafkan saya. Saya tak punya makanan. Saya tak punya uang. Seluruh keluarga saya kelaparan. Jangan panggil polisi. Jangan tembak saya,” demikian kata Sohail menirupan permohonan perampok itu.

Rupanya, Sohail, yang kala itu berusia 48 tahun, sangat tersentuh dengan pengakuan perampok tersebut. “Ketika saya melihat dia mulai menangis seperti itu, saya merasa benar-benar buruk baginya. Saya berkata, oh man, ini sesuatu yang berbeda.”

Sohail lantas meminta pria itu untuk berjanji tak pernah merampok lagi. Pria asal Pakistan tersebut kemudian memberikan uang US$ 40 kepada perampok itu. Dan kebaikan Sohail itu rupanya telah membuat hati sang perampok tergetar. Perampok itu mengungkapkan keinginannya menjadi seorang muslim. Dan kemudian dia membaca Syahadat. Sohail memberikan nama Nawaz Sharif Zardari untuk pria tersebut.

Sohail kemudian meninggalkan pria itu. Dia hendak mengambil susu untuk diberikan kepada perampok tersebut. Namun saat kembali, dia sungguh terkejut. Perampok itu telah kabur sambil membawa uang pemberian Sohail dan beberapa makanan.

Sohail dan polisi Suffolk County tidak tahu siapa sebenarnya pria yang berusaha merampok itu. Setelah insiden Mei, Sohail menyatakan tak akan menuntut perampok itu.
Kisah Sohail itu mengundang banyak simpati. Kisah itu bahkan telah banyak menginspirasi di seluruh negeri. Sohail banyak menerima berbagai macam surat kekaguman yang dialamatkan ke The Shirley Ekspres. Perampokan itu juga terekam CCTV dan kemudian diunggah ke laman Youtube. Laman CNN juga menulis kisah ini pada 4 Desember 2009.
“Orang-orang besar yang mampu melakukan tindakan besar. Anda adalah orang Amerika yang besar,” demikian bunyi salah satu surat.
Sohail bahkan menemukan beberapa ratus dolar dalam surat-surat itu. Dan bukannya memiliki uang itu, Sohail memilih mendermakan pemberian tersebut dengan cara menawarkan makanan gratis maupun kopi kepada orang-orang tak mampu di sekitar tokonya. Makanan dan minuman gratis itu diberikan Sohail setiap jam 9 malam.
 Namun, ada salah satu amplop yang mengejutkan Sohail. Amplop yang diterima pada hari Rabu itu berbeda dari surat-surat sebelumnya.

Surat bercap pos 11 November 2009. Tak ada keterangan siapa pengirimnya. Begitu pula alamatnya. “Anda mengubah hidup saya,” demikian bunyi pembuka surat tersebut.
Dalam surat itu, sang pengirim mengaku menyesal atas perbuatannya enam bulan yang lalu. “Pada saat itu saya tak punya uang, tak punya makanan di meja, tak punya pekerjaan. Tapi saya punya pilihan.
“Saya tahu bahwa itu salah, tapi saya tak punya pilihan. Saya harus memberi makan keluarga saya. Ketika Anda menodongkan senapan itu ke kepala saya, saya yakin 100% bahwa saya akan mati.”
Rupanya surat misterius ini dikirim oleh pria yang mencoba merampok Sohail enam bulan sebelumya. Melalui surat itu pula pria yang pernah akan merampok itu mengaku ingin menjadi “muslim yang benar”, seperti Sohail. Pria itu juga mengaku kehidupannya sudah berubah drastis sejak masuk Islam.
“Saya sangat senang bahwa seseorang telah mengubah hidupnya,” kata Sohail.
Sohail berharap orang yang ernah ingin merampoknya itu benar bertobat dan melakukan perbuatan yang baik. Dan dia yakin akan hal itu.
“Jadi sekarang dia adalah orang yang baik dalam komunitas ini dan saya sangat senang untuk itu. Dia tinggal keluar dari kesulitan, dia tidak di penjara, dia mengurus keluarganya,” tambah Sohail.

sumber : http://www.dream.co.id/your-story/ampunan-itu-telah-bawa-perampok-masuk-islam-150126f.html

 

Kejujuran Wanita Rp 1 Triliun dari Sinchuan

Rekening banknya mendadak bertambah Rp triliun. Wanita lajang itu memilih mengembalikan. Kejujuran baginya adalah segalanya.
Dream – Sudah hampir jam 12 siang. Tapi udara di Peng’an County, Nanchong City, Provinsi Sinchuan, barat daya China, tengah sejuk-sejuknya. Maklum, meski hampir tengah hari, saat itu musim dingin sudah tiba di China.

Kalender di sebuah rumah susun kecil sederhana menunjuk hari Jumat, 12 Desember 2014. Bagi penghuninya, Mu Ping, ini adalah hari biasa. Wanita 51 tahun ini merasa tiada yang istimewa hari itu. Kecuali sebuah pesan singkat yang masuk ke telepon selulernya siang itu.

Wanita yang hidup sendiri itu mengabaikan pesan singkat itu. Siang itu Mu Ping tengah menyibukan diri di dapur kecilnya untuk menyiapkan makan siang. Sama seperti kebiasaan jutaan pegawai kecil di China pada umumnya.

Usai memasak, ia meraih teleponnya. Ia melongok isi pesan yang masuk. Tak lama matanya mengerjap. Ia perbaiki letak kaca matanya yang bergagang hitam. Dia terkejut. Khawatir ada yang salah baca. Tapi tak ada yang keliru. Pesan itu singkat. Tegas.

Pengirimnya adalah Nanchong Commercial Bank. Di situ tertera laporan rekening Mu Ping terakhir. Tapi ini yang mengejutkan Mu Ping: isi rekeningnya membengkak luar biasa. Saldo di rekeningnya kini bertambah 490 juta yuan. Saldo di rekeningnya kini berjumlah 496.906.436 yuan atau sekitar Rp 1,034 triliun!

Sebuah jumlah yang luar biasa besar. Karena seingat dia, saldo terakhir rekeningnya hanya 6.906 yuan atau setara Rp 11 juta.  Beberapa kali Mu Ping mengarahkan pandangan matanya ke layar teleponnya. Dia mencoba tiga kali menghitung. Dimatikannya telepon itu, lalu dinyalakan lagi. Tapi pesan singkat itu tak berubah tetap menunjuk angka Rp 1 triliun.

Bagi Mu Ping yang biasa menerima gaji 3.000 yuan atau hampir Rp 5 juta per bulan, penambahan jumlah itu membuat dia shok. Banting tulang menabung sampai mati pun dia tak akan pernah mendapat uang sebanyak itu. Tapi pesan itu tegas. Jumlah rekeningnya kini Rp 1 triliun. Ia sudah kaya raya sekarang.

Mu Ping coba menguasai diri. Ia mulai berpikir kritis. Baginya, ada kemungkinan pesan singkat itu palsu alias tipuan. Di zaman teknologi maju seperti sekarang, pembohongan atau pemalsuan adalah hal yang wajar terjadi.

Ia pun mencoba realistis. Tidak mungkin wanita lajang seperti dirinya mendadak menjadi kaya raya dalam semalam. Apalagi dia tak pernah memasang lotere.

Rasa laparnya siang itu hilang seketika. Makanan yang sudah masak dan tersedia di dapur tak lagi ia hiraukan. Mendingin bersama cuaca di luar rumah susun kecilnya.

Ia pun menyambar jaket, topi dan syal. Ia memutuskan pergi ke anjungan tunai mandiri (ATM) Nanchong Comercial Bank yang tak jauh dari rumahnya. Hatinya berdegup kencang. Rasa khawatir dan gembira berbaur dalam dadanya. Kegugupan tak bisa ia sembunyikan di balik kaca matanya.

Setiba di ATM, ia pun memasukkan kartu. Sekali lagi ia mengecek isi rekeningnya. Siapa tahu pesan singkat itu palsu dan hanya mengecoh saja. Sebuah modus penipuan yang tak bertanggungjawab.

Tapi di sinilah ia sadar. Pesan singkat itu tak menipu. Jumlah uang di ATM-nya memang mencatat angka yang sama: Rp 1 triliun! Mu Ping kini jadi wanita kaya raya.

Di depan ATM itu, Mu Ping tertegun. Bila menuruti keserakahan, mau rasanya dia menguras batas pengambilan harian tunai di ATM itu. Lalu berbelanja. Memuaskan hati membeli barang mahal. Mengingat sebagai pegawai biasa, ia tak pernah bisa berhura-hura. Pendapatan rutinnya yang sebulan Rp 5 juta harus dia hemat sehingga dia tak pernah berbelanja membabi-buta.

Tapi di sisi lain, nurani Mu Ping berkata ada yang keliru di sini. Itu bukan uangnya. Ada kesalahan dan itu harus segera diperbaiki.

Setelah menimbang sebentar, dia pun dengan tegas melangkahkan kakinya menuju bank cabang tempat ia biasa menabung. Di sana, ia menyampaikan persoalannya kepada salah satu staf.

“Uang itu bukan milik saya. Itu milik negara. Saya tidak bisa mengklaimnya. Ini adalah tugas setiap warga negara. Tak ada yang mau mengambil uang ini untuk dirinya sendiri. Saya percaya setiap orang punya kualitas itu,” ujarnya ke staf bank cabang Nanchong Commercial Bank di wilayahnya.

Laporan itu sontak membuat gempar kantor bank cabang itu. Pihak bank mengakui ada kesalahan transfer yang dilakukan oleh pegawai mereka. Tak sampai 10 menit, uang di rekening Mu Ping menciut. Menjadi angka semula. Uang sebesar 490 juta yuan langsung ditarik kembali.

Pihak bank meminta maaf pada Mu karena telah melakukan kesalahan.

“Staf kami tidak bekerja seseuai standar prosedur. Kami menemukan kesalahan dan segera memberi tahu klien kami dan segera menyelesaikannya tanpa menimbulkan risiko lebih jauh. Kami telah mendisplinkan karyawan yang melakukan kesalahan itu dan meminta maaf pada klien,” kata Yang Guying, Wakil Pimpinan Cabang Peng’an Nanchong Comercial Bank.

Saat ditanya wartawan alasan mengapa dia tak memanfaatkan kesempatan itu, Mu Ping menjawab polos. “Saya berusia 51 tahun. Saya punya gaji sebesar 3.000 yuan per bulan. Saya tidak akan berbohong untuk mengatakan saya puas dengan jumlah itu. Tetapi uang itu bukan milik saya, dan saya tidak ingin memilikinya.” ujarnya.

Mu Ping juga mengaku sengaja tak memberi tahu kejadian ini kepada keluarganya. Sehinga dia bisa dengan segera mengembalikan uang itu ke bank tanpa pertimbangan banyak orang. Tapi pertimbangan menurut hati nuraninya sendiri.

"Melihat uang yang sangat banyak, saya tak punya pikiran apapun dalam benak saya. Ini bukan uang saya dan memberikan uang itu kembali ke bank merupakan cara paling benar," tuturnya.

Begitu diangkat media massa, kisah kejujuran Mu Ping segera menyebar ke media sosial China terbesar macam Sina Weibo. Begitu banyak pujian tentang kejujuran Mu. Tapi tidak sedikit yang menyesalkan tindakan Mu Ping mengembalikan uang itu ke bank.

“Itu sungguh sebuah apel dari surga…,” tulis akun @shuzirui.

“Jika ia tidak  mengembalikan uang itu, dia tak akan digugat oleh bank atau dituduh memiliki uang itu secara illegal,”: tulis akun  @keliaobiandaoisasosu.

Apapun penyesalan publik atas kejujuran Mu Ping, wanita itu tetap tegar. Keyakinan dia tak goyah sedikit pun. Ia yakin sudah bertindak benar.

Di saat zaman sudah begitu permisif dan materialis, Mu Ping adalah sedikit dari manusia langka. Kejujurannya membuat banyak orang tergetar.

Mu Ping pun meninggalkan halaman Nanchong Comercial Bank itu dengan langkah yang ringan. Jaket hangatnya dia rekatkan ke tubuh, guna mengusir desiran angin membeku musim dingin. Uang Rp 11 juta itu terasa jauh lebih ringan bagi wanita jujur ini, daripada uang Rp 1 triliun yang sempat mampir ke rekeningnya beberapa jam yang lalu.

(semoga bisa memotivasi kita untuk semakin bisa berbuat yang baik untuk orang lain)
sumber : http://www.dream.co.id/news/wanita-rp-1-trilun-dari-sinchuan-150105v.html
 

KISAH ISLAM LUKAS, PEMUDA DARI JERMAN


Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz
 
Berkenalan dengan Lukas

Selesai shalat maghrib dari masjid, saya dan teman-teman kembali ke kantor Jeddah Dakwah Center. Tidak lama, masuklah ke ruang sekretariat seorang pemuda berkulit putih dan berambut  pirang. Dia memperkenalkan diri dengan bahasa Arab yang fasih. Namanya Lukas Rothfuchs (24 tahun) berasal dari Jerman. Baru dua hari sampai di Jeddah untuk kerja praktek selama lima bulan di sebuah perusahaan di Jeddah. Lukas masih kuliah mengambil jurusan ekonomi di Universitas Bremen, Jerman.

Di Jeddah, Lukas sementara tinggal di hotel dekat kantor kami selama dua hari setelah itu akan pindah untuk tinggal di tempat yang disediakan oleh perusahaan. Ia sedang jalan-jalan melihat-lihat sekitar hotel lalu ia melihat kantor Islamic Center. Ia berpikir  mencari guru privat bagi dirinya untuk belajar tahfidz Al Quran. Ia masuk dan menemui pengurus kantor. Setelah selesai berbincang dengan pengurus kantor, saya meminta dia untuk menceritakan tentang kisah keislamannya. Kejadian ini terjadi di hari Senin, 24 Dzul Qa'dah 1434 H / 30 September 2013 M.

Masyarakat di Eropa Barat Menjauhi Agama

Lukas menyambut tawaran saya dengan hangat, beliau bercerita, "Kebanyakan masyarakat di Eropa Barat sekarang ini mereka tidak memiliki agama, mungkin di ktp mereka beragama Kristen tapi mereka tidak percaya dengan agama mereka bahkan tidak sedikit dari masyarakat yang atheis termasuk ayah saya meskipun di ktp tertulis beragama kristen. Sudah menjadi kebiasaan, kebanyakan para orang tua yang memiliki anak memasuki usia tiga belas tahun menyuruh anak-anak mereka ke gereja dan sekolah minggu. Mereka bernyanyi nyanyi dan belajar agama mereka sepekan sekali selama dua tahun. Setelah selesai dua tahun diadakan wisuda di gereja yang dihadiri oleh keluarga besar mereka. Saat itu orang tua dan para kerabat memberi hadiah uang untuk anak—anak mereka dan keponakan mereka. Setiap anak bisa mendapatkan 2000 sampai 3000 Euro (sekitar 30 juta sampai 45 juta Rupiah). Jumlah yang sangat besar bagi anak-anak usia 13 sampai 15 tahun. Hampir 95 % tujuan anak-anak belajar sekolah minggu adalah untuk mendapatkan uang saat wisuda. Mereka belajar bukan karena cinta agama.

Agama di mata masyarakat di Eropa Barat tidak ada wibawa. Mereka ragu dan tidak mempercayai agama mereka. Mereka juga mengetahui bagaimana sikap gereja dahulu yang anti terhadap ilmu pengetahuan. Mereka tidak mau didoktrin dengan sesuatu yang berlawanan dengan logika mereka. Akhirnya masyarakat antipati terhadap semua agama dan menggeneralisir bahwa semua agama adalah batil. Agama sumber perpecahan dan perselisihan. Lebih-lebih terhadap Islam, digambarkan oleh mass media bahwa Islam adalah agama yang radikal, orang muslim adalah pembunuh dan teroris. Sebagian orientalis mereka mempelajari Islam tidak secara keseluruhan. Atau jika mereka belajar secara keseluruhan maka mereka tidak jujur. Mereka membawa ayat Al Quran secara sepotong-sepotong. Mereka menyebutkan ayat-ayat jihad, bahwa Islam adalah agama kekerasan yang memerintahkan untuk membunuh orang-orang kafir. Tapi mereka menyembunyikan mengapa jihad disyariatkan? Kapan Jihad diperintahkan? Siapa orang kafir yang diperintahkan untuk dibunuh dan siapa orang kafir yang diharamkan untuk dibunuh?

Meskipun demikian sebagian masyarakat yang sering pergi ke luar negeri khususnya ke negeri-negeri Islam meskipun untuk tujuan wisata dan rekreasi, mereka melihat bahwa Islam adalah agama yang baik. Mereka dapat membedakan antara Islam dan kesalahan oknum yang kebetulan mereka sebagai muslim. Termasuk ayah saya dan keluarga saya, mereka tidak antipati terhadap Islam." 

Mencari Agama yang Hak

"Saat usia saya tiga belas tahun, saya mulai berpikir dan bertanya kepada diri sendiri, "Mengapa saya berada di dunia?" "Apa tujuan hidup saya?" "Alam semesta dengan keteraturannya pasti memiliki pencipta. Kalau ada penciptanya pastilah pencipta memerintahkan dan melarang hamba-hambaNya dengan aturan-aturan agama".

Saya teringat sekarang dengan firman Allah yang artinya,

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal" (Surat Al Baqarah 164)

Mulailah saya mencari agama yang benar. Karena saya di lahirkan dari keluarga Kristen Protestan maka saya memulai mempelajari agama saya.  Saya berangkat ikut sekolah minggu atas kesadaran saya sendiri. Saya tidak mendapatkan ketenangan batin, saya tidak puas. Saya terkadang mendebat pendeta karena ada hal-hal yang tidak bisa saya terima seperti tentang trinitas dan lainnya. Pendeta tersebut mengatakan, "sebenarnya Injil yang ada di tangan kita sudah tidak asli lagi. Isi injil yang ada sekarang sekadar sebagai perumpamaan. Bahkan manusia sendiri berasalnya dari kera bukan dari Adam seperti yang kita baca di injil." Pendeta mengajarkan dogma, meskipun anda tidak puas tapi anda harus meyakininya. Bahkan saya dapatkan dari mereka sebenarnya di hati mereka tidak meyakini kebenaran injil. Saya berpikir untuk apa saya mempelajari agama sedangkan ulama nya saja mereka meragukan isi kebenaran kitab suci mereka. Akhirnya saya berhenti sekolah minggu meskipun belum selesai dua tahun.

Mulai saya mempelajari agama Hindu, Budha tapi tidak logis dan tidak bisa diterima akal saya. Saya pelajari agama yahudi ternyata agama yahudi agama rasis. Mereka mengaku bangsa pilihan Tuhan. Sedangkan manusia yang lahir bukan dari orang Yahudi maka tidak ada kesempatan untuk masuk surga, semuanya di neraka. Jelas ini agama yang batil.

Saat usia saya 14 tahun saya banyak mempelajari tentang Islam dari buku-buku dan internet. Ayah saya senang dengan sejarah dan sering mengajak saya melihat masjid-masjid yang megah ketika sedang berlibur ke Turki. Hati saya merasa tentram ketika melihat masjid atau ketika memasukinya. Permadani yang terhampar di Masjid, cahaya matahari yang masuk ke dalam masjid membuat saya mencintai masjid.

Di Jerman, saya juga mempunyai teman seorang muslim, saya kenal baik dengan keluarganya. Mereka memiliki akhlak mulia seperti kedermawanan, memuliakan tamu yang tidak kami jumpai di masyarakat asli Jerman. Teman saya dan keluarganya meskipun mereka muslim tapi mereka belum konsisten dalam keislamannya. Seperti ibunya tidak mengenakan jilbab. Saya tidak bermaksud merendahkan mereka, saya pun masih banyak kekurangan saya. Maksud saya meskipun kita memiliki kekurangan dalam keislaman, tidak menghalangi kita untuk mendakwahkan Islam sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, khususnya dengan akhlak mulia. Contoh teman saya ini, dengan sebab akhlaknya yang mulia saya semakin cinta kepada Islam. Bisa jadi melalui muamalah yang baik kepada seseorang jauh lebih berkesan dibanding 100 buku yang kita baca atau 100 ceramah yang kita dengar."
 

Proses Lukas Masuk Islam

Saya cinta dan kagum kepada Islam karena Islam agama yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua manusia. Petani yang awam dan professor Doktor di Universitas meskipun tingkat kecerdasan mereka berbeda, semuanya bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah. Islam adalah agama fitrah mengajarkan tauhid penghambaan kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun. Betapa nikmatnya ketika kita bisa menempelkan dahi kita ke bumi untuk sujud kepada Allah. Islam adalah agama yang sempurna mencakup semua aspek kehidupan. Islam agama yang mengatur program kehidupan sehari-hari. Sampai sampai masalah makan dengan tangan kanan, berpakaian, adab masuk wc dan lain-lain diatur oleh Islam. Hal ini tidak akan kita dapatkan di agama lain.

Saya mulai meninggalkan makan babi dan minum minuman keras. Saya pun mulai belajar shalat dari internet karena di tempat kami tinggal di Walsrode belum ada masjid satu pun. Adapun di tempat saya kuliah di kota Bremen ada sekitar 30 masjid. Saya melakukan shalat sekali sepekan kemudian bertahap sekali sehari begitu pula jika datang bulan Ramadhan saya mulai puasa beberapa hari. Sampai usia saya 16 tahun saya mantap untuk masuk Islam dan berusaha menjalankan Islam dengan konsisten termasuk shalat lima waktu dan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tidak pernah saya tinggalkan.

Dari mulai saya mencari agama yang hak sampai saya memeluk Islam butuh waktu tiga tahun. Dalam kesempatan ini saya berpesan kepada para dai agar dalam dakwah mereka kepada non muslim janganlah dengan cara setengah memaksa. Ada sebagian dai ketika bertemu dengan non muslim yang sedang mencari kebenaran, mereka meminta dia buru-buru masuk Islam. "Kalau anda tidak segera masuk Islam, anda mati maka anda akan masuk neraka selama-lamanya". Orang non muslim tadi mungkin akan mengucapkan dua kalimat syahadat di depan da'i tersebut tapi bukan karena ikhlas dan ridha serta yakin. Dia masuk Islam nya setengah terpaksa, akhirnya dengan mudahnya dia akan murtad lagi ketika dia mendapatkan masalah atau musibah dalam hidupnya. Allah berfirman yang artinya, "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)…" (Surat Al Baqarah 256)"

Penyusun menjadi teringat dengan dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada tawanan yang berada di dalam masjid yaitu Tsumamah bin Utsal. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memperlakukan tawanan dengan baik bahkan sampai melepaskannya. Dengan sebab keluhuran akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam akhirnya Tsumamah bin Utsal mendapatkan hidayah Allah dan masuk Islam dengan kesadaran sendiri dan tetap istiqamah sampai akhir hayatnya radhiallahu anhu. Semoga Allah menetapkan hati kita agar istiqamah sampai akhir hayat, amin.

Jangan Jadikan Kami Sebagai Fitnah bagi Orang-Orang Kafir

Yang membuat penyusun kagum kepada Lukas diantaranya dia banyak hafal ayat-ayat Al Quran dan membacanya dengan fasih –masya Allah-. Masih dalam obrolan dengan Lukas, ia melanjutkan pembicaraannya:

" Allah berfirman yang artinya,

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana" (Surat Al Mumtahanah 5)

Saya bukan orang yang pandai ilmu agama, tapi saya belajar dari ilmu mereka. Yang saya ketahui dari ahli tafsir bahwa diantara maknanya jangan sampai orang-orang kafir menguasai orang-orang yang beriman sehingga mereka akan mengatakan jika agama mereka benar tentulah mereka tidak akan kalah dari kami."

Penyusun sempat mengecek dari beberapa kitab tafsir dan diantaranya penjelasan Imam Ibnu Katsir tentang ayat ini,

"Mujahid dan Adh Dhahhak berkata, "Janganlah Engkau adzab kami lewat tangan mereka dan janganlah Engkau adzab kami secara langsung dari Mu, nanti mereka akan berkata, 'Seandainya mereka di atas kebenaran tentu mereka tidak akan mengalami musibah tersebut' ". Qatadah berkata, "Janganlah Engkau menangkan mereka atas kami yang menyebabkan mereka terfitnah (menjadi takabur dan ujub) bahwa mereka menang dikarenakan agama mereka dalam kebenaran". Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir Ath Thabari. Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, "Janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami yang menyebabkan mereka memfitnah kami". (Tafsir Ibnu Katsir).

Lukas melanjutkan pembicaraannya,

"Ayat ini menjadi pr bagi kita kaum muslimin untuk lebih unggul dalam segala bidang dari orang-orang kafir. Hal ini membutuhkan kerja keras dan kesungguhan dalam belajar dan beramal serta selalu berdoa meminta taufik Allah. Juga tanggung jawab kaum muslimin agar mereka berakhlak dengan akhlak mulia sesuai apa yang Allah bimbingkan dalam Al Quran dan lewat lisan Rasululllah Shallallahu Alaihi Wasallam. Jika seorang muslim berperilaku dan berakhlak buruk berarti dia telah merusak citra Islam dan menjadi penyebab fitnah bagi orang kafir karena hal ini akan menjadi penghalang bagi mereka untuk masuk Islam. Dan anda ikut menanggung dosanya!"
 

Cita-Cita Lukas

Lukas bercita-cita ingin membuka sekolah Tahfidz Al Quran. Lukas sekarang sudah menghafal 7 juz dan berusaha untuk menyempurnakan sampai 30 juz. Dia berkeyakinan bahwa umat Islam akan bersatu dan saling mencintai jika kaum muslimin mengamalkan Al Quran. Semoga Allah mengabulkan dan meralisasikan cita-cita Lukas dan memberikan taufik kepadanya dan kita semua, amin.



Pesan Lukas untuk Kaum Muslimin di Indonesia

Penyusun bertanya kepadanya apa pesan anda untuk kaum muslimin di Indonesia?

Lukas menjawab,

"Saya berpesan untuk kaum muslimin di Indonesia dan di seluruh dunia agar mereka bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan mereka nikmat hidayah sejak mereka lahir. Hendaknya saudara-saudara kita kaum muslimin bersyukur bahwa keluarga mereka juga muslim. Rasa syukur kepada Allah ini harus direalisasikan dengan kesungguhan mempelajari Islam, mempelajari Al Quran dan Assunnah dengan metodologi yang benar yaitu memahami dan mempraktekkan Islam dengan pemahaman dan praktek para sahabat radhiallhu anhum. Karena dengan mengikuti Ijma' (kesepakatan) mereka berarti kita berjalan di jalan Allah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Allah berfirman yang artinya, " Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk buruk tempat kembali " (Surat An Nisaa 115)

Mungkin kalian tidak merasakan betapa besarnya nikmat Islam karena kalian dilahirkan sebagai muslim dan keluarga kalian muslimin. Coba anda bayangkan! Seandainya ayah anda, ibu anda, anak anda, kakak dan adik anda bukan muslim dan mereka mati dalam keadaan kafir! Anda tidak bisa mendoakan mereka!, anda tidak bisa memohonkan ampun untuk mereka!, anda tidak bisa mengucapkan doa, "Semoga Allah merahmati mereka !"

Tersentak hati saya dan merinding badan saya mendengarkan ucapannya yang keluar dari hati mengingat Lukas hanya sendiri di keluarganya yang Islam.

Semoga Allah memberkahi Lukas, menetapkannya di atas Islam yang hak sampai wafatnya dan menjadikannya cinta akan keimanan dan menghiasinya di hatinya. Semoga Allah mengirimkan untuknya saudara-saudara se Islam yang berakhlak mulia, membantunya dalam kebaikan dan ketaatan dan membimbingnya dengan ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang benar. Semoga Allah memberikan hidayah untuk kedua orang tuanya, keluarganya dan orang-orang terdekatnya kepada Islam, karuniakanlah mereka mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum mereka wafat. Semoga Allah menjadikan Lukas sebagai sebab masyarakat di Jerman dan di Eropa masuk Islam.

Lukas melanjutkan pembicaraannya, "Hal lain yang ingin saya sampaikan kepada kaum muslimin yang masih bermalas malasan untuk shalat lima waktu. Kami di Jerman dengan masyarakat dan lingkungan yang tidak mendukung keislaman, kami tidak mendengarkan adzan dikumandangkan, sedikitnya jumlah masjid tapi kaum muslimin di sini khususnya mualaf mereka rajin dan konsisten untuk shalat lima waktu di masjid."

 Semoga Allah menambahkan iman kita semua dengan membaca kisah Lukas ini, amin.

Lukas berpesan kepada para aktivis da'wah,

" Hendaknya para juru dakwah bersikap bijaksana dalam berdakwah. Perbedaan mereka dalam metode berdakwah selama mereka sepakat dalam prinsip-prinsip Islam tidak menjadikan mereka bermusuh-musuhan. Saya tidak mengatakan untuk membiarkan kesalahan, kesalahan harus diperbaiki dengan cara yang baik. Jangan sampai perselisihan diekspos lewat internet, buku, kaset yang membuat orang-orang kafir yang sedang mencari kebenaran menjadi ragu akan kebenaran Islam disebabkan oknum-oknum umat Islam yang arogan dan tidak bijaksana. Bahkan terjadi sebagian mualaf di negeri kami yang murtad kembali melihat perselisihan yang terjadi diantara para dai dan ustadz!".

Semoga Allah melembutkan hati kita semua dan mengumpulkan kita di atas kebenaran dan petunjuk, amin.

Selesai mewawancara Lukas, saya segera menyusun tulisan ini. Empat hari kemudian, saya bacakan lagi hasil tulisan saya di hadapan beliau meminta persetujuannya untuk mempublikasikan hasil wawancara. Alhamdulillah beliau setuju dan senang bisa bekerjasama dalam dakwah dan bisa menyampaikan pesan-pesannya untuk kaum muslimin di Indonesia. Lukas menyampaikan salam untuk kaum muslimin di Indonesia.

Terakhir, hendaknya kita merenungkan kisah Islam Lukas ini dan dapat memetik faidah dan pelajaran yang sangat banyak sekali guna memotivasi kita dalam belajar menuntut ilmu Islam dan ilmu-ilmu lainnya yang memberikan manfaat untuk kemaslahatan umat Islam. Berusaha keras mempraktekkan Islam dengan kaaffah (sempurna) dan meninggalkan larangan-larangan agama agar kita mendapatkan ridha dan cinta dari Allah Ta'ala. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang selalu bersyukur kepada Nya, menjadikan kita sebagai orang-orang yang amanah dan menghiasi kita semua dengan keimanan yang benar dan akhlak yang mulia, amin….

Jeddah, Jumat pukul 17.14 tanggal 28 Dzulqa'dah 1434 H / 4 Oktober 2013 M

sumber : http://www.firanda.com/index.php/artikel/sirah/547-kisah-islam-lukas-pemuda-dari-jerman
 

Kisah Makam Seukuran Ubin dan Seorang Gadis ABG Mualaf di Jerman

Beberapa waktu yang lalu, kami membaca sebuah kisah yang ditulis salah seorang sahabat kami (muslimah) yang sedang belajar di kota Duisburg, Jerman. Beliau menceritakan kisahnya ketika bertemu dengan salah seorang gadis remaja di Jerman selama bulan Ramadhan kemarin. Kisah yang membuat hati ini merinding karena gadis Jerman muallaf tersebut telah mengajarkan kepada kita bagaimanakah seharusnya bersikap dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Atas ijin sahabat kami tersebut, kami tulis ulang kisah ini dengan beberapa penyesuaian ejaan dan tanda baca tanpa mengubah makna. Selanjutnya, kami membahas beberapa faidah yang bisa kita ambil dari kisah tersebut.

Kisah Makam Seukuran Ubin dan Seorang Gadis ABG Mualaf di Jerman

Beberapa waktu yang lalu aku melewati pemakaman orang Jerman. Terlihat seperti taman bunga, dengan deretan bunga warna-warni kecuali ada nisan menyembul di sela-selanya. Tampaknya kebiasaan orang Jerman menanam bunga di atas makam. Kalau tidak langsung ditanam di atas tanah, kadang pot-pot bunga diletakkan di atasnya. Tapi bukan ini yang aneh.
Setelah melewati komplek pemakaman penuh bunga, aku melewati komplek pemakaman berbaris dan berderet yang masing-masing besarnya hanya seukuran ubin. Membuatku berpikir lama. Makam apakah ini? Mengapa kecil sekali? Makam binatangkah? Maklum, orang Jerman ini mencintai anjing sebagaimana mencintai anak.

Ternyata makam kecil ini adalah makam abu. Makam manusia yang dibakar dan abunya dikubur. Saking begitu atheisnya sebagian besar orang Jerman, mereka tidak percaya dengan kematian. Tidak pula percaya dengan kehidupan setelah kematian. Harga tanah untuk pemakaman sangat mahal dan biaya perawatan dan sewanya per tahun juga sangat mahal. Jadi, tidak jarang orang Jerman -sekalipun kaya- karena berpikir terlalu ‘realistis’, tidak sedikit pun takut kematian dan tidak ingin memberatkan orang yang masih hidup, mereka berwasiat dibakar saja. Kadang kalau ingin anonim atau tidak ingin memberatkan lagi, abunya diterbangkan saja di udara. Dan jika masih ingin dikenang tapi dengan sewa tanah murah cukup menyewa tanah pemakaman seukuran ubin. Dan itulah deretan makam yang kulihat saat itu.

Selanjutnya, aku melompat ke kisah pertemuanku dengan seorang muslimah Jerman (mualaf) yang masih muda. Dia masih SMU dan sebagaimana kebiasaan umumnya remaja Jerman saat puber, mereka mulai memisahkan diri tinggal dari ortunya. Biasanya mereka akan tinggal bersama pacarnya di apartemen. Dan muslimah mualaf ini pun mempunyai masa lalu seperti itu. Hingga dia memeluk Islam secara diam-diam, dan mencari Islam lewat internet dan kini dia tinggal seorang diri. Kadang sepekan sekali dia mengunjungi orang tuanya. Tetapi jika hendak memasuki rumah ortunya, dia akan tengok kanan kiri dulu hingga tidak ada orang, lalu di depan pintu dia melepas jilbabnya. Alasannya, karena ayahnya memiliki penyakit jantung dan selama ini ayahnya sangat membenci Islam. Jadi dia tidak ingin ayahnya kaget lalu memperparah sakitnya.
Perlu Anda ketahui, meskipun dia baru berjilbab saat awal ramadhan kemarin, tapi dari pertama aku bertemu dengannya saat ramadhan, kerudungnya menjuntai hingga selutut, dan dia
menggunakan rok lebar berwarna gelap. Simpel dan polos. Inilah yang membuatku penasaran. Aku bertanya darimana dia mengetahui tentang jilbab hingga memutuskan berjilbab seperti ini. Padahal menurut pengakuannya, sebelum masuk Islam dia senang menggunakan pakaian minim dan sexy. Dia menjawab, mengetahuinya dari internet. Rasa penasarannya terhadap Islam sangat kuat hingga dia mencari apa-apa dari internet karena memang dia tidak tahu ke mana dia harus bertanya. Lalu apa yang membuatnya berani berubah sedrastis ini? Dia menjawab: karena dia merenungi kematian. Dulu sebagaimana remaja yang lahir dan tumbuh di negara macam Jerman pada umumnya, dia tidak percaya Tuhan hingga dia mulai berpikir tentang kematian.

“Mengapa kamu memilih Islam?”, tanyaku lagi semakin penasaran. Lalu dia bercerita bahwa sejak sekolah setingkat SD dia memiliki teman-teman muslim yang berkebangsaan Turki, karena bangsa Turki adalah komunitas muslim yang mendominasi Jerman. Sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka hingga remaja yang menjalankan agamanya, tetapi orang tua mereka terkadang ada yang masih menjalankannya, meskipun ala kadarnya. Saat berkunjung ke rumah teman-temannya yang muslim dan melihat orang tua mereka masih menjalankan syariat Islam, itulah yang membuat dia berpikir bahwa begitulah seharusnya orang menjalani hidup. Lalu entah bagaimana dia juga selalu merasa tenang setiap mendengar bacaan Al-Qur’an. Dari rasa penasarannya itu, tujuh tahun dia membaca-baca tentang Islam dari internet hingga akhirnya dia memutuskan masuk Islam. “I feel like I am addicted to Islam”, begitulah pengakuannya.

Dia menunjukkan mobile phone-nya yang berisi list murotal Al-Qur’an. “Aku sudah mencoba mendengar semua reciter yang ada di sini, tapi aku paling suka yang ini,” katanya. Dia senang mendengar bacaan Al-Qur’an sehingga pernah aku menemuinya sedang mendengarkan murotal sambil jalan sebagaimana remaja-remaja seusianya mendengarkan musik, meski dia tidak mengetahui sedikit pun artinya. Jawabannya selalu sama, “I feel like I am addicted.”

Lalu beberapa waktu yang lalu tiba-tiba dia berkata padaku, “Aku akan segera menceritakan ke ayahku bahwa aku adalah muslim. Aku benar-benar ingin segera,” katanya. “Kenapa?” tanyaku penasaran karena baru beberapa hari yang lalu dia bercerita dia akan memberitahukan ke ayahnya pelan-pelan saja karena khawatir penyakit ayahnya semakin parah. Jawabannya itu yg akhirnya benar-benar membuatku merinding.

“Aku sangat menyayangi ayahku dan aku mendengar ayahku berwasiat jika dia meninggal dia ingin dibakar, dan aku tidak ingin itu. Aku harus membawakannya banyak buku-buku Islam dan aku akan memintanya mendengarkan Al-Qur’an agar dia masuk Islam dan aku menginginkannya segera, agar jika dia meninggal dia telah menjadi muslim dan dia tidak menginginkan dibakar lagi.”

Lalu dia melanjutkan kata-katanya lagi, “Aku juga harus segera menulis surat wasiat. Usia manusia tidak ada yang tahu. Jika nanti meninggal, aku tidak ingin orang tuaku memakamkanku dengan prosesi pemakaman bukan Islam. Orang tuaku harus segera tahu bahwa aku muslim dan aku akan membuat wasiat dimakamkan harus secara muslim. Aku juga harus mulai menabung karena biayanya sangat besar, jika orang tuaku tidak setuju mereka tetap harus melaksanakan wasiatku karena prosesi itu semua akan menggunakan uang tabunganku sendiri, bukan uang mereka.”

Sebelumnya perlu saya sampaikan, bahwa dia ini muallaf, masih SMU, baru berjilbab awal ramadhan kemarin, dan dia dalam kondisi sehat wal afiat saat ini dan insya Allah tidak sedang sakit apa pun. Tapi itulah sedikit dari penuturannya yg membuatku terkesan.

Beberapa Faidah dari Kisah di Atas

Membaca cerita di atas, setidaknya ada beberapa faidah yang bisa kita ambil.
1- Keimanan terhadap hari akhir, pembeda seorang muslim dengan orang kafir
Di antara pokok keimanan yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir adalah keimanan terhadap hari akhir. Keimanan terhadap hari akhir meliputi keimanan terhadap fitnah qubur, hari kiamat, hari kebangkitan, surga dan neraka. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ السَّاعَةَ لَآَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (QS. Al-Mu’min [40]: 59)

Dari kisah di atas, sangat jelas terlihat bagaimana gambaran kehidupan seorang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kehidupan setelah kematian. Mereka menganggap bahwa kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia semata, dan setelah itu mereka mati dan selesailah segala urusan, tidak ada pertanggungjawaban. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kehidupan mereka hanya diisi dengan sibuk mengejar dunia dan segala kesenangan di dalamnya. Sebagaimana yang kami lihat sendiri, mayoritas hari-harinya diisi dengan bekerja dari pagi sampai malam; ketika akhir pekan tiba, saatnya untuk pesta sampai pagi, tidur panjang di siang harinya, atau rekreasi ke berbagai negara dan lain sebagainya.
2- Islam dan As-Sunnah, kenikmatan yang hakiki
Namun jangan dikira bahwa kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang menyenangkan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan monoton, yang kosong tanpa isi. Oleh karena itu, seseorang masih berada dalam fitrahnya seperti gadis Jerman di atas, dia akan mudah melihat dan merasakan bahwa kehidupan seorang muslim yang hari-harinya diisi dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, berdzikir dan membaca Al Qur’an, itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan seperti inilah yang merupakan kenikmatan yang membahagiakan hati dan menentramkan jiwa-jiwa manusia.

Nikmat berjalan di atas Islam dan As-Sunnah inilah nikmat yang hakiki dan kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk terus mencarinya. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,Nikmat itu ada dua, nikmat muthlaqoh (mutlak) dan muqoyyadah (nisbi/relatif). Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita agar Allah menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu padanya”. (Ijtima’ Al-Juyuus Al-Islamiyyah, hal 5)
Kenikmatan ini hanya Allah Ta’ala berikan khusus kepada hamba-hambaNya yang dicintai-Nya. Dengan nikmat inilah kita dapat meraih surga beserta segala kemewahan di dalamnya. Oleh karena itu, ketika shalat kita selalu berdoa,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (
7)
”Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah [1]: 6-7)

Inilah nikmat yang hendaknya membuat hati kita bergembira dan berbahagia, melebihi berbagai nikmat duniawi yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus [10]: 58)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” dalam ayat di atas adalah Al Qur’an, yang merupakan nikmat dan karunia Allah yang paling besar serta keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan “rahmat-Nya” adalah agama dan keimanan. Dan keduanya itu lebih baik dari apa yang kita kumpulkan berupa perhiasan dunia dan kenikmatannya. (Lihat Taisiir Karimir Rahmaan, hal. 367)

Adapun nikmat berupa berupa harta dan kesenangan duniawi, maka inilah yang sifatnya nisbi (nikmat muqayyadah). Karena nikmat semacam ini juga Allah Ta’ala karuniakan kepada hamba-hamba-Nya yang kafir. Bisa jadi mereka lebih banyak hartanya dibandingkan kita. Mungkin pula kenikmatan berupa harta ini adalah bentuk istidroj (tipuan) dari Allah Ta’ala sehingga manusia semakin tersesat dan semakin menjauh dari jalan-Nya yang lurus. Atau bisa jadi merupakan bentuk ujian dari Allah kepada manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
 …
“Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidroj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413).
Marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)
3- Nasihat terbaik itu adalah kematian
Sesuatu yang mencengangkan hati kita membaca kisah di atas bahwa mengingat kematian adalah faktor pendorong sampainya hidayah kepada gadis tersebut. “Kematian”, inilah penghancur kenikmatan yang mungkin susah payah kita raih selama hidup di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Yang dimaksud dengan “pemutus kelezatan” dalam hadits di atas adalah kematian. Kematian disebut haadzim” (pemutus) karena menjadi sebab pemutus kelezatan dunia.
Betapa banyak di antara kita yang sering mengantar jenazah sampai ke pekuburan, namun hal itu tidak mampu menjadi nasihat untuk memperbaiki diri kita? Ya Allah, lindungilah kami dari jiwa-jiwa yang mati dan tidak bisa menerima nasihat! Kematian inilah yang seharusnya mengerem kita agar tidak tertipu dan terbuai dengan kehidupan dunia sebagaimana kisah di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian), karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang. Dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).
4- Tidak mungkin berkumpul dalam satu jiwa: kecintaan terhadap musik dan kecintaan terhadap Al-Qur’an
Faidah berikutnya dari kisah di atas adalah bahwa kecintaan seseorang terhadap Al-Qur’an akan menyingkirkan kecintaan terhadap musik dan nyanyian. Sebaliknya, kecintaan seseorang terhadap musik dan nyanyian akan menyingkirkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Tidak mungkin kecintaan terhadap keduanya berkumpul dalam satu jiwa yang sama. Ketika hati gadis Jerman di atas mulai mencintai Al-Qur’an, maka hal itu mendorongnya untuk meninggalkan musik dan nyanyian. Berbeda dengan kebanyakan gadis ABG yang kita lihat, saking cintanya mereka terhadap musik dan nyanyian, sampai-sampai hapal puluhan nyanyian dengan begitu mudahnya, namun mereka sulit untuk diajak menghapal Al-Qur’an. Maka benarlah bahwa nyanyian merupakan salah satu cara setan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)

Tentang maksud dari firman Allah Ta’ala “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat di atas, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,”Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia semata, (yang dimaksud dengan ‘perkataan yang tidak berguna’) adalah nyanyian”. Beliau mengulangi sumpahnya tersebut sampai tiga kali. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ma’khul, Amr bin Syu’aib, dan Ali bin Badzimah radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, 6/330-331)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah menulis surat kepada pendidik anak-anaknya. Beliau rahimahullah berkata, ”Hendaklah yang mereka ketahui pertama kali dari pengajaranmu adalah rasa benci terhadap alat-alat musik. Karena hal itu berawal dari setan dan mendatangkan kebencian dari Ar-Rahman. Sungguh telah sampai kepadaku dari orang-orang terpercaya yang berilmu, bahwa menghadiri tempat musik dan mendengarkan nyanyian akan menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam dada sebagaimana air menumbuhkan rerumputan”. (Ighatsatul Lahfan, 1/250)
5- Dakwah kepada orang tua dan keluarga terdekat
Nasihat penting dari kisah di atas adalah hendaknya kita tidak melupakan dakwah kepada orang tua kita. Mungkin di antara kita ada yang begitu bersemangat untuk berdakwah kepada teman atau masyarakat luas pada umumnya, namun justru merupakan orang tuanya sendiri. Kita biarkan orang tua kita masih tenggelam dalam kebodohan terhadap ilmu agama, terjerumus dalam berbagai macam kemusyrikan atau kebid’ahan. Padahal, bagaimana mungkin kita melupakan dakwah kepada orang tua, sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 214)
Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, beliau berdakwah kepada bapaknya sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam Al-Qur’an,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (41) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (42) يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (
45)
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?  Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. (QS. Maryam [19]: 41-45)

Begitu pula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berdakwah kepada paman-pamannya. Di antaranya, ketika pamannya Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah mendatanginya untuk mendakwahinya agar masuk Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya,


يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
“Wahai pamanku! Katakanlah ‘laa ilaaha illallah’, suatu kalimat yang dapat aku jadikan sebagai hujjah (argumentasi) untuk membelamu di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, kisah di atas menjadi nasihat berharga agar kita tidak melupakan dakwah kepada orang tua dan keluarga kita yang lainnya.
Demikianlah beberapa faidah yang dapat kami kumpulkan dari kisah di atas. Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk mudah menerima nasihat dan kebenaran dari siapa pun orangnya.

Selesai ditulis di Rotterdam, Belanda, 24 Dzulhijjah 1434
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.
Artikel Majalah Muslim.Or.Id
 

Kisah Taubatnya Penyembah Berhala


Kisah Taubatnya Penyembah Berhala

Abdul Wahid bin Zaid -rahimahullah- mengisahkan: 
Kami pernah di perahu, lalu angin menghamparkan kami ke sebuah pulau, maka kami turun ke pulau tersebut. Tiba-tiba di sana ada seorang lelaki menyembah patung. Maka kami menghampirinya, dan bertanya kepadanya: “Wahai lelaki, siapa yg kamu sembah?”. Maka dia menunjuk kepada patung.

Kami katakan: “Di perahu kami ada orang yg bisa membuat benda seperti itu, itu bukan sesembahan yg pantas disembah.
Dia: “Kalau kalian, siapa yg kalian sembah?”.

Kami: “Allah”.

Dia: Siapa Allah itu?

Kami: Dialah yang arsy-Nya ada di langit, kekuasan-Nya ada di bumi, dan keputusan-Nya berlaku bagi yang hidup maupun yang sudah mati.

Dia: Bagaimana kalian mengetahui-Nya?

Kami: Dia yg merupakan Raja yang Agung dan Pencipta yang Mulia ini, mengutus kepada kami seorang Rasul (utusan) yg mulia, dan Rasul itu yg mengabarkan kepada kami tentang-Nya.

Dia: Lalu apa yg dilakukan Rasul tersebut?

Kami: Beliau telah menunaikan amanah risalah (yg diembannya), kemudian Allah mengambilnya kepada-Nya.

Dia: Tidakkah dia meninggalkan tanda bukti untuk kalian?

Kami: Tentu.

Dia: Apa yang dia tinggalkan?

Kami: Beliau meninggalkan untuk kami Kitab dari Raja tersebut.
Dia: Perlihatkan kepadaku Kitab Raja tersebut, tentu Kitabnya Raja itu sangat baik.

Maka kami datangkan mushaf Al Quran kepadanya. Dia mengatakan: “Aku tidak tahu ini”. Maka kami bacakan kepadanya satu surat dari Al Qur’an, kami pun terus membacanya hingga dia menangis, kami membaca lagi dan dia terus menangis, sehingga kami selesaikan satu surat. Dia mengatakan: “Sepantasnya pemilik perkataan ini tidak dimaksiati”.

Kemudian dia masuk Islam, dan kamipun mengajarinya syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al Qur’an. Lalu kami mengajaknya bersama kami dalam perahu. Ketika malam menyelimuti kami dan kami beranjak tidur, dia mengatakan: “Wahai kaum, sesembahan ini, yang kalian tunjukkan kepadaku, jika malam datang, apakah Dia tidur?”

Kami menjawab: “Tidak, wahai hamba Allah, Dia itu maha hidup, maha mengatur, dan maha agung, Dia tidak tidur.

Dia: Seburuk-buruk hamba adalah kalian, kalian tidur padahal Pelindung kalian tidak tidur?! Lalu dia mulai dengan ibadahnya, dan membiarkan kami”.

Ketika kami sampai ke negeri kami, kukatakan kepada para sahabatku: “Orang ini baru masuk Islam, dia juga asing di negeri ini”. Maka kami mengumpulkan banyak uang dirham untuknya, dan memberikan kepadanya.

Dia mengatakan: Untuk apa ini?

Kami: Agar kau pergunakan untuk kebutuhan-kebutuhanmu.

Dia mengatakan: La ilaaha illallah… Aku dulu di pulau di tengah laut dan aku menyembah berhala, bukan menyembah-Nya, meski begitu Dia TIDAK MENELANTARKAN aku, apakah Dia akan menelantarkan aku di saat aku mengenal-Nya?!

Kemudian dia pergi mencari nafkah sendiri, dan setelah itu dia menjadi salah seorang yang sangat tinggi kesalehannya, hingga dia wafat.

[Kitab Attawwabin, karya: Ibnu Qudamah, hal 179]
–
Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini
Artikel www.Muslim.Or.Id Abdul Wahid bin Zaid -rahimahullah- mengisahkan:

Kami pernah di perahu, lalu angin menghamparkan kami ke sebuah pulau, maka kami turun ke pulau tersebut. Tiba-tiba di sana ada seorang lelaki menyembah patung. Maka kami menghampirinya, dan bertanya kepadanya: “Wahai lelaki, siapa yg kamu sembah?”. Maka dia menunjuk kepada patung.


Kami katakan: “Di perahu kami ada orang yg bisa membuat benda seperti itu, itu bukan sesembahan yg pantas disembah.

Dia: “Kalau kalian, siapa yg kalian sembah?”.

Kami: “Allah”.

Dia: Siapa Allah itu?

Kami: Dialah yang arsy-Nya ada di langit, kekuasan-Nya ada di bumi, dan keputusan-Nya berlaku bagi yang hidup maupun yang sudah mati.

Dia: Bagaimana kalian mengetahui-Nya?

Kami: Dia yg merupakan Raja yang Agung dan Pencipta yang Mulia ini, mengutus kepada kami seorang Rasul (utusan) yg mulia, dan Rasul itu yg mengabarkan kepada kami tentang-Nya.

Dia: Lalu apa yg dilakukan Rasul tersebut?

Kami: Beliau telah menunaikan amanah risalah (yg diembannya), kemudian Allah mengambilnya kepada-Nya.

Dia: Tidakkah dia meninggalkan tanda bukti untuk kalian?

Kami: Tentu.

Dia: Apa yang dia tinggalkan?

Kami: Beliau meninggalkan untuk kami Kitab dari Raja tersebut.

Dia: Perlihatkan kepadaku Kitab Raja tersebut, tentu Kitabnya Raja itu sangat baik.


Maka kami datangkan mushaf Al Quran kepadanya. 

Dia mengatakan: “Aku tidak tahu ini”. Maka kami bacakan kepadanya satu surat dari Al Qur’an, kami pun terus membacanya hingga dia menangis, kami membaca lagi dan dia terus menangis, sehingga kami selesaikan satu surat. Dia mengatakan: “Sepantasnya pemilik perkataan ini tidak dimaksiati”.

Kemudian dia masuk Islam, dan kamipun mengajarinya syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al Qur’an. Lalu kami mengajaknya bersama kami dalam perahu. Ketika malam menyelimuti kami dan kami beranjak tidur, dia mengatakan: “Wahai kaum, sesembahan ini, yang kalian tunjukkan kepadaku, jika malam datang, apakah Dia tidur?”

Kami menjawab: “Tidak, wahai hamba Allah, Dia itu maha hidup, maha mengatur, dan maha agung, Dia tidak tidur.

Dia: Seburuk-buruk hamba adalah kalian, kalian tidur padahal Pelindung kalian tidak tidur?! Lalu dia mulai dengan ibadahnya, dan membiarkan kami”.

Ketika kami sampai ke negeri kami, kukatakan kepada para sahabatku: “Orang ini baru masuk Islam, dia juga asing di negeri ini”. Maka kami mengumpulkan banyak uang dirham untuknya, dan memberikan kepadanya.

Dia mengatakan: Untuk apa ini?

Kami: Agar kau pergunakan untuk kebutuhan-kebutuhanmu.

Dia mengatakan: La ilaaha illallah… Aku dulu di pulau di tengah laut dan aku menyembah berhala, bukan menyembah-Nya, meski begitu Dia TIDAK MENELANTARKAN aku, apakah Dia akan menelantarkan aku di saat aku mengenal-Nya?!

Kemudian dia pergi mencari nafkah sendiri, dan setelah itu dia menjadi salah seorang yang sangat tinggi kesalehannya, hingga dia wafat.

[Kitab Attawwabin, karya: Ibnu Qudamah, hal 179]

Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini


Artikel www.Muslim.Or.Id
 

Pemain rugbi New Zealand: Islam memberikan saya kebahagiaan

Tanpa iman, bahkan dirinya tidak akan bisa menjadi separuh manusia sebagaimana dirinya sekarang, demikian perasaan seorang pemain sepakbola rugbi New Zealand (Selandia Baru) setelah memeluk Islam.

Sonny Bill Williams,  bintang rugbi yang meraih Piala Dunia ini merasa menjadi seorang manusia baru setelah dirinya menjadi Muslim.

“Saya rasa Saya telah menjadi seseorang yang lebih baik. Ketika Saya bermain, Saya bermain dengan baik,” ujar Williams dalam sebuah video yang dipublikasikan BBC, seperti dilansir OnIslam.

Sebagai seorang Muslim, Williams juga merasakan banyak kasih sayang dan rasa hormat yang ia dapatkan.
“Saya mendapatkan banyak kasih sayang, banyak rasa hormat,” katanya.

Pria yang lahir tahun 1985 ini adalah seorang bintang top rugbi di New Zealand. Ia masuk Islam pada tahun 2008 setelah ia hadir di sebuah Masjid di Sydney.

Setelah menjadi seorang Muslim, banyak perubahan dalam hidup Williams, khususnya pada jiwanya. Ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Islam telah memberikan saya kebahagiaan,” ungkapnya dalam sebuah video lain yang diunggah di YouTube pada September lalu.

Muallaf ini tidak bisa menjelaskan secara rinci yang ada dalam jiwanya setelah memeluk Islam, tetapi salah satu hal nyata yang ia rasakan adalah Islam telah membantunya untuk hidup lebih bersih dan bahagia.
“Apa yang Islam telah lakukan untuk saya di dalam diri saya Saya tidak bisa benar-benar menjelaskannya,” katanya.

“… Saya tidak minum minuman keras atau sesuatu yang serupa dengan itu lagi dan Saya berusaha untuk hidup dengan gaya hidup yang lebih bersih dan hal-hal semacam itu, namun intinya ini [Islam] benar-benar membuat saya lebih berbahagia,” tandasnya.

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/10/28/pemain-rugbi-zealand-islam-kebahagiaan.html#sthash.z23bqsd7.dpuf
 

Mantan anti-Islam Belanda Arnoud Van Doorn memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji di tanah suci

Mantan politikus Belanda yang dulu begitu dikenal sebagai seorang anti-Islam, Arnoud Van Doorn, tahun ini menjadi salah satu dari ribuan orang yang memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Sampai akhir tahun 2011, sebagai seorang anggota parlemen Belanda dan dewan kota Den Haag, nama Arnoud telah lama dikaitkan dengan retorika anti-Islam Geert Wilders dari partai politik sayap kanan Belanda, PVV. Wilders sendiri terkenal dengan kampanyenya melawan Islam, Muslim, dan Al-Qur’an.
Saat itu Arnoud dikenal sebagai pendukung kuat Wilders yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia dengan membuat film anti-Islam “Fitna”. Film yang dirilis pada tahun 2008 itu sontak mengundang banyak perlawanan di negara-negara Muslim.

Dalam langkahnya untuk memproduksi film anti-Islam yang lain, Allah kemudian menunjukkan padanya untuk belajar lebih banyak tentang agama yang sangat dia tentang ini. Dia membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islam secara mendalam dan kemudian pintu hatinya terketuk oleh hidayah Islam. Awal tahun ini, Arnoud pun menyatakan di depan umum bahwa dia telah memeluk Islam.
Awal tahun ini pula Arnoud menjalankan ibadah umrah. Dia kemudian mengungkapkan perasaannya saat melaksanakan ibadah haji dengan mengatakan bahwa matanya dipenuhi air mata sukacita sejak dia tiba di Mekah. Dia juga menambahkan bahwa dia sedang melalui saat-saat terbaik dalam hidupnya, seperti dilansir Akhbaar24.

Dia mengatakan bahwa dalam Islam dia menemukan sesuatu yang kurang yang selama ini dia cari dalam hidupnya. Dia pergi haji untuk memohon ampunan kepada Allah dan berdoa agar Allah menghapus dosa-dosa masa lalunya.

Dia mempunyai keinginan untuk menetap di Madinah dekat dengan Masjid Nabawi, namun untuk saat ini keluarga dan pekerjaannya masih menghalangi dia untuk bisa memenuhi keinginannya itu.
Bertolak dari kesalahannya di masa lalu, saat ini Arnoud tengah berencana untuk memproduksi sebuah film yang membela dan menunjukkan kebenaran Islam.

“Saya merasa malu berdiri di hadapan makam Nabi Shalallahu Alayhi wa Sallam. Saya memikirkan kesalahan besar yang saya buat dengan memproduksi film asusila dan mengaitkannya dengan Nabi Shalallahu Alayhi wa Sallam dan Islam. Saya berharap Allah akan mengampuni saya dan menerima tobat saya,” ungkapnya.

- See more at: http://www.arrahmah.com
 

Isa Graham, Nekat Mencuri Al-Qur’an Demi Membuktikan Kebenaran Injil

Baris demi baris kalimat dalam kitab setebal 500-an halaman yang dibacanya hanya menyisakan satu kesan di benaknya; kagum. Dan kekaguman yang bercampur rasa ingin tahu menjadi satu alasan bagi pemuda bernama Brent Lee Graham untuk mencuri buku itu dari perpustakaan kampusnya.

Dengan desain sampul yang menurutnya eksotis, buku berbahasa Inggris itu lebih dari sekadar menarik bagi Brent. Selain menyajikan berbagai cerita indah para nabi, buku itu berisi banyak kisah mengagumkan yang tak banyak ia ketahui.

“Saat itu aku baru berusia 17 tahun,” Brent mengawali kisahnya pada Republika, di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

-0-0-

Semua berawal dari perenungannya tentang kematian. Brent yang telah mengubah namanya menjadi Isa Graham itu masih mengingat jelas dua peristiwa yang membuka matanya tentang kematian, hal yang tak pernah menyibukkannya.

Masa mudanya yang akrab dengan musik membuat Brent dekat dengan pesta. Dan pesta pada malam itu berbeda. “Aku terus mengingatnya hingga sekarang,” ujar pria yang pernah belajar di sekolah musik itu.
Malam itu, sebelum memasuki rumah tempat pesta digelar, Brent melihat beberapa orang membawa keluar sesosok tubuh lunglai seorang pemuda mabuk. Pemuda itu lalu diletakkan di salah satu sisi halaman rumah, dan ditinggalkan bersama mereka yang lebih dulu tak sadarkan diri karena alkohol. Tak ada pertolongan, tak ada obat-obatan. “Aku berpikir, bagaimana jika mereka mati?” ujarnya.

Brent tak dapat membenarkan apa yang baru dilihatnya. Terlebih, ketika ia berharap ada sedikit kepedulian di sana, Brent justru mendapati sebaliknya. “Beberapa orang yang baru datang ke pesta berlalu begitu saja saat melewati mereka yang tergeletak di halaman. Itu menyedihkan,” katanya.
Terhenyak, Brent mendengar teriakan dari dalam rumah, memanggilnya. Teman-temannya meminta Brent masuk dan memainkan musik untuk mereka.” Brent masuk dengan sebuah pertanyaan menghantuinya. “Jika aku mengalami hal menyedihkan seperti orang-orang yang ada di halaman itu dan kemudian mati, apakah mereka akan memikirkan keadaanku?”

Keesokannya, sebuah peristiwa lain kembali menghentak hati Brent, memaksanya merenungi segala hal dalam hidupnya. “Seorang dosen mendatangi kelasku dan membawa berita kematian salah seorang teman sekelas kami,” kenangnya. Brent terguncang.

Ia semakin teguncang mengetahui teman sekelasnya itu meninggal karena heroin. Brent menjelaskan, semua orang di kampus tahu teman mereka yang baru meninggal itu tak pernah menggunakan heroin. “Dan ia meninggal pada percobaan pertamanya menggunakan obat terlarang itu,” Isa menghela nafas. “Hidup begitu singkat.”

Perasaan takut menyergap Brent. Dan remaja 17 tahun itu mulai memikirkan kehidupannya, juga kematian yang ia tahu akan menghampirinya.

Brent memiliki seorang Ibu yang menjadi pengajar Injil, dan menyekolahkan Brent di sebuah sekolah Injil. “Aku mengetahui isi kitab suciku. Dan karenanya, aku banyak bertanya tentang agamaku,” kata Brent.
Brent tahu, nabi-nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir menyampaikan ajaran yang sama, yakni tauhid. “Pun Yesus. Dalam Injil dijelaskan bahwa ia menyerukan tauhid. Dan itu bertentangan dengan konsep Trinitas yang diajarkan gereja,” ujarnya.

Siang itu, saat membaca terjemahan Alquran di perpustakaan kampus, Brent dikejutkan oleh sebuah ayat yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. “Ayat itu seolah menjawab keraguanku tentang Trinitas,” katanya.

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisa’: 171)

Brent mencuri Alquran itu dari perpustakaan, dan mulai berinteraksi dengan Alquran. Keterkejutan terbesar muncul saat ia membaca ayat-ayat tentang Yesus. “Alquran memuat cerita tentang kelahirannya yang menakjubkan, tentang ibunya yang mulia, juga keajaiban yang tidak diceritakan dalam Injil, ketika dari buaian ia membela kehormatan ibunya.”

Penemuan hari itu membawa Brent pada sebuah misi pembuktian. “Aku bertekad menemukan pernyataan Injil yang akan mampu menjawab pernyataan Alquran. Dan Brent menemukannya. Sayang, jawaban itu sama sekali tak mendukung doktrin agamanya, dan justru membenarkan Alquran.

Dalam Injil Yohanes 3:16 misalnya, tulis Brent dalam artikel “My Passion for Jesus Christ” (muslimmatters.org), disebutkan tentang anak Tuhan dan kehidupan abadi bagi siapapun yang mempercayainya. “Jika kita terus membaca, kita akan bertemu Matius 5:9 atau Lukas 6:35 yang menjelaskan bahwa sebutan ‘anak Tuhan’ tidak hanya untuk Yesus,” katanya.

Brent menambahkan, baik dalam teks Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama, Injil menggunakan istilah “anak Tuhan” untuk menyebut orang yang saleh. “Dalam Islam, kita menyebutnya muttaqun (orang-orang yang bertakwa),” jelas Isa.

Dalam pencarian yang semakin dalam, Brent menemukan bahwa ayat terbaik yang dapat membuktikan doktrin trinitas telah dihapuskan dari Injil. “Ayat itu dulu dikenal sebagai Yohanes 5:7, dan kini secara universal diyakini sebagai sebuah ayat sisipan yang penah secara sengaja ditambahkan oleh gereja,” terang Isa yang kemudian menguraikan hasil penelitian seorang profesor peneliti Injil asal Dallas, Daniel B. Wallace, tentang ayat tersebut.

Dari The New Encyclopedia Britannica yang dibacanya, Brent menemukan pula bahwa tidak satupun doktrin dalam Perjanjian Baru, termasuk kata Trinitas ataupun perkataan Yesus sekalipun, bertentangan dengan pengakuan Yahudi tentang ketauhidan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama (Injil Ulangan 6:4).
Brent berkesimpulan, bukan Yesus ataupun para pengikutnya yang mengajarkan Trinitas. “Dan mereka yang mengajarkan Trinitas menambahkan keyakinan yang dibuat-buat ke dalam Injil?” ia bertanya, sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul di otaknya.

Setelah mencapai kesimpulan yang sulit diterimanya itu, ia menemukan sebuah peringatan dalam Injil Perjanjian Lama. “… jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)

“Ayat itu senada dengan pernyataan Alquran,” tandas Brent. “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

Pertanyaan dalam otak Brent belum tuntas. Ia kembali bertanya-tanya, “Jika Injil dan Alquran sama-sama memastikan Yesus bukanlah seorang anak Tuhan, lalu siapa dia?”

Lagi-lagi, Brent menemukan banyak kesepakatan antara Injil dan Alquran. Melalui ayat masing-masing, kedua kitab yang diselaminya itu menegaskan kenabian Yesus. “Yesus diutus untuk menyeru umatnya pada keesaan Tuhan, sebagaimana dilakukan para nabi dan rasul sebelumnya.”

Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme, dan aku tertarik pada Islam.”

Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, pemerintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku, dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”

Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim, hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.

Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan popular. Ia bisa berpesta sesering apapun bersama teman-teman yang mengelukannya. “Namun aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”

Namun terlepas dari kondisi tidak membahagiakan itu, Brent sangat mencintai musik. Ia mempelajari musik, memainkannya, mengajarkannya, dan menjadi bahagia dengannya. Hingga ia berfikiran bahwa musik adalah agamanya, karena mampu membuatnya bahagia.

Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangunkannya di sebuah malam. “Aku berkeringat dan menangis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapanpun’,” tuturnya.

Dengan keringat dan air mata itu, Brent memanjatkan doa. “Aku meminta pada semua Tuhan; Tuhan umat Kristen, Tuhan umat Islam, Tuhan siapapun, karena aku tak yakin harus meminta pada salah satu diantaranya.”

“Tuhan, aku teramat sedih dan gundah dan tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tolong, beri aku isyarat, beri aku petunjuk, beri aku jalan keluar,” Brent mengutip doa yang diucapkannya 15 tahun lalu.
Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Seorang Muslimah asal Burma yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah email. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah, dan dalam emailnya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.

Beberapa hari kemudian, teman asal Burma itu datang ke rumah Brent dan membawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak dari sahabat Nabi saw, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang kumau’.”

Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memintanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, bertambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.

Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non Muslim) tahu bahwa dalam Islam, kami juga mempercayai Yesus,” ujarnya. Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, melainkan mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya pada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, namun sebagai Muslim,” tegas Brent menutup perbincangan.

sumber : https://www.facebook.com/notes/kisah-muallaf/isa-graham-nekat-mencuri-al-quran-demi-membuktikan-kebenaran-injil/407338015976667
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger