Latest Post
Tampilkan postingan dengan label kisah tabi'ien. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah tabi'ien. Tampilkan semua postingan

Pahlawan Islam – Abdurrahman al-Ghafiqi, Pahlawan Perang di Balath Syuhada


kisah pahlawan islam
Seorang sastrawan Inggris, Southy, menuliskan tentang pasukan Islam yang menyerbu daratan Eropa setelah menguasai Andlusia, dia berkata:
“Banyaknya pasukan tidak terhitung jumlahnya, ada yang dari suku Arab Barbar, Romawi, Persia, Qibti, Tartar,… semua berkumpul di bawah satu panji, disatukan oleh panglima yang agung. Kekuatannya tangguh, semangatnya bergelora seperti api dan rasa persaudaraannya begitu mengagumkan, tak membeda-bedakan sesama manusia.

Dalam jiwa Pemimpin dan yang dipimpin tertanam tekad yang bulat untuk berjuang. Mereka optimis akan kekuatannya yang tak terkalahkan, dan yakin bahwa pasukannya tak akan menemui kesulitan. Optimis, bahwa setiap langkah akan diikuti oleh kemenangan. Mereka terus maju dan maju hingga dunia Barat takluk pada dunia Timur, tertunduk menghormati nama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang-orang dari kutub yang penuh dengan pegunungan es yang dingin membeku datang jauh-jauh untuk melaksanakan haji. Melintasi Sahara dengan kaki telanjang dengan penuh iman, berjalan di gurun pasir yang panas di Arab, berdiri di atas terjalnya bebatuan di Mekah.”
Memang, apa yang Anda katakan tak jauh dari kenyataan. Hayalanmu pun tidak pula meleset. Prajurit yang dipimpin oleh para mujahidin itu memang ingin membebaskan nenek moyang Anda dari kegelapan jahiliyah, seperti yang Anda sebutkan.

Ikut serta dalam pasukan tersebut orang-orang Arab yang perkasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membangkitkan mereka dan membimbingnya untuk mendatangi kalian dari Syam, Hijaz, Nejd, Yaman dan pelosok-pelosok Jazirah Arab, menggulung segala sesuatu laksana badai. Mereka disertai pula oleh orang-orang Barbar yang bangga akan keislamannya, yang turun dari pegunungan Atlas, menyapu bagaikan air bah. Juga orang-orang Persia, yang telah terlepas dari belenggu paganisme kaisar-kaisarnya dan masuk ke dalam agama tauhid, jalan yang lurus. Tak ketinggalan pula orang-orang Romawi, pembelot menurutmu, memang mereka membelot dari kezaliman dan kegelapan menuju cahaya terangnya langit dan bumi dan menerima hidayah menuju agama yang suci. Kemduian orang-orang Qibti, yang bebas dari perbudakan dan belenggu yang mencekik leher, beralih kepada kehidupan yang bebas merdeka di bawah panji Islam, kembali suci seperti saat dilahirkan ibunya.

Tepat sekali, memang pasukan pimpinan Abdurrahman al-Ghafiqi maupun para penghulunya daang untuk melepaskan nenek moyang kalian dari belenggu jahiliyah. Di antara mereka ada yang berkulit putih, hitam, Arab, dan Ajam (non Arab). Tapi mereka bersatu dalam Islam. Nikmat Allah menjadikan mereka bersaudara. Semangat mereka seperti yang engkau sebutkan adalah memasukkan orang-orang Eropa ke dalam agama Allah sebagaimana orang-orang di belahan bumi bagian Timur dan Afrika. Sehingga umat manusia seluruhnya tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pencipta alam semesta.

Dengannya cahaya Islam akan menyinari dataran dan lembah kalian, mataharinya memancar di setiap rumah kalian dan keadilan tegak di antara rakyat dan penguasa kalian. Mereka bertekad mengorbankan nyawa mereka yang berharga untuk membimbing kalian ke jalan Allah dan menyelamatkan kalian dari api neraka.

Sekarang, marilah kita ikuti akhir perjalanan pasukan Islam dan panglimanya yang agung, Abdurrahman al-Ghafiqi.

Kabar tewasnya Utsman bin Abi Nus’ah dan nasib putrinya yang jelita, Minin, mengejutkan Duke Octania. Dia sadar bahwa genderang perang telah ditabuh. Cepat atau lambat singa Islam, Abdurrahman al-Ghafiqi akan menyerbu kapan saja, tak peduli siang atau malam.

Kaisar Duke Octania segera mempersiapkan diri untuk mempertahankan setiap jengkal wilayahnya. Hanya saja bayang-bayang buruk selalu menghantuinya. Dia khawatir akan menjadi tawanan kaum muslimin seperti putrinya yang kini dikirim ke Syam. Dia takut kepalanya dipenggal kemudian ditaruh di atas talam dan diarak keliling kota seperti Loderik, raja Andaluisia dahulu.

Dugaan Duke Octania tepat, tiba-tiba Abdurrahman al-Ghafiqi benar-benar datang bersama pasukan yang luar biasa besarnya, menyerbu dari Spanyol Utara bagai gelombang pasang dan turun ke wilayah Prancis Selatan dari pegunungan Pyrenees laksana air bah. Prajuritnya mencapai 100.000 orang dan setiap batalyonnya didampingi oleh prajurit-prajurit pilihan yang bertubuh tinggi besar.
Prajurit Islam masuk melalui kota Arles yang terletak di tepi sungai Rhone. Pertimbangannya adalah karena kota ini terikat perjanjian damai dengan muslimin dan telah menyetujui kewajiban membayar jizyah. Namun ternyata setelah gubernur as-Samah bin Malik al-Khaulani gugur di Toulouse dan kekuatan muslimin melemah, mereka melanggar perjanjian dan menolak membayar jizyah.
Kedatangan Abdurrahman al-Ghafiqi dan pasukannya di perbatasan Azil, disambut oleh pasukan besar yang disiapkan oleh Duke Octania untuk menghambat gerak maju pasukan Islam. Dua kekuatan berhadap. Perang besar tak terelakkan lagi.

Pasukan pertama yang dikerahkan Abdurrahman al-Ghafiqi adalah pasukan khusus yang lebih mencintai mati daripada kecintaan musuh terhadap kehidupan. Mereka berhasil menggoyahkan dan akhirnya memporak-porandakan barisan musuh. Pertempuran terus merambat ke dalam kota. Pedang-pedang berkelebat membabat kiri-kanan. Pasukan Islam mendapatkan hasil ghanimah di luar perhitungan.

Namun sayang, Duke Octania berhasil meloloskan diri dari medan beserta sisa-sisa pasukannya. Sehingga dia masih menyimpan potensi bersiap-siap menyongsong pertempuran selanjutnya, sebab dia sadar bahwa pertempuran di Arles baru awal dari suatu perang yang panjang.

Bersama pasukannya, Abdurrahman al-Ghafiqi menyeberangi sungai Garonne. Kemenangan demi kemenanganan mereka raih. Satu demi satu kota-kota Octania dapat direbut melalui pasukan kavalerinya, seperti daun-daun yang berugugran diterpa angin. Ghanimah makin menumpuk hingga mencapai jumlah yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Duke Octania berusaha membendung pasukan Islam untuk kedua kalinya dengan mempersiapkan suatu pertempuran besar. Namun kali inipun kaum muslimin mampu mengatasinya. Mereka menghajar dan meluluhlantakkan pasukannya. Duke Octania kembali lolos meninggalkan para prajuritnya yang kocar-kacir. Banyak yang gugur, tidak sedikit yang tertawan dan ada pula yang lari dari medan perang.

Target serangan berikutnya adalah Bordeaux, kota terbesar di Prancis pada waktu itu sekaligus merupakan ibukota Octania. Perang untuk memperebutkan Bordeaux tak kalah serunya dengan peperangan-peperangan yang telah lalu. Sistem pertahanannya tentu lebih kokoh. Tapi dengan perjuangan yang tak kenal lelah, kota besar ini dapat direbut oleh pasukan muslimin seperti kota-kota lainnya. Para panglima musuh gugur sebagaimana teman-teman yang telah mendahului mereka.
Banyak sekali harta ghanimah yang diperoleh dalam perang ini. Tapi yang lebih penting adalah dengan jatuhnya Bordeaux merupakan kunci pembuka kota-kota penting Prancis lainnya, seperti Lyon, Besancon, dan Sens sehingga posisi pasukan Islam saat itu tinggal seratus mil saja dari Paris.
Dunia Eropa tersentak mendapati bahwa Prancis Selatan telah takluk di tangan Abdurrahman. al-Ghafiqi dalam waktu beberapa bulan saja. Mata dunia Barat terbuka akan bahaya besar yang menghadap di hadapan mereka.

Anjuran partisipasi menggaung di seluruh penjuru Eropa. Setiap orang, mampu atau tidak, diharapkan partisipasinya untuk membendung arus Timur yang deras itu. Bila tak mampu membendung dengan pedang, hendaknya menahan dengan dadanya. Bila senjata habis hendaknya jalanan ditutup dengan tubuh mereka. Eropa bangkit menyambut seruan itu. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru dengan membawa apa saja yang bisa digunakan, batu-batu, kayu, duri, dan pedang. Mereka bersatu padu di bawah komando Karel Martel.

Dalam waktu yang bersamaan prajurit Islam telah tiba di Tours, kota Prancis yang padat penduduknya dan menyimpan bangunan-bangunan tua yang indah. Kota ini bangga dengan gereja-gereja besarnya yang terindah di seluruh Eropa dan berisi penuh kekayaan yang tak ternilai harganya.
Prajurit Islam mengepung melingkar layaknya kekang kuda yang melingkari leher kuda. Mereka siap berkorban nyawa untuk merebut kota ini. Dan benar, Tours jatuh di depan mata dan pendengaran Karel Martel.

Akhir bulan Sya’ban 104 H Abdurrahman al-Ghafiqi bersama pasukannya yang perkasa memasuki kota Poitiers. Mereka disambut oleh pasukan besar Eropa yang dipimpin oleh Karel Martel. Perang dahsyat antara kedua pasukan itu tidak hanya tercatat dalam sejarah Islam dan Barat saja, melainkan juga dalam sejarah umat manusia. Pertempuran tersebut dikenal dengan nama, “Balath Syuhada,” karena banyaknya prajurit Islam yang syahid.

Ketika itu pasukan Islam benar-benar dalam puncak kejayaan yang gemilang. Namun sayang, punggung mereka terlalu berat memikul hasil ghanimah yang melimpah ruah. Abdurrahman al-Ghafiqi menyaksikan itu dengan hati sedih dan khawatir. Beliau mengkhawatirkan kondisi pasukan. Bagaimana bisa tenang sementara hati dan pikiran para prajuritnya mulai beralih kpeada harta benda itu? Di saat-saat yang menentukan justru jiwa mereka terbagi, sebelah mata memandang musuh dan sebelah lagi melirik harta-harta ghanimah.

Ingin sekali Abdurrahman menganjurkan pasukannya untuk melepaskan diri dari ghanimah yang bertumpuk-tumpuk itu. Tapi dia sangsi apakah mereka bisa menerima keputusan itu dengan senang hati. Maka tak ada jalan lain kecuali beliau harus mengumpulkan seluruh ghanimah di dalam tenda-tenda yang difungsikan sebagai gudang. Lalu diletakkan di belakang markas sebelum perang berkobar.

Dua pasukan yang sama besarnya mengambil posisi berhadapan. Beberapa hari suasana terasa tegang. Diam dan penuh selidik, seperti dua gunung besar. Masing-masing mengukur kekuatan lawan dan berpikir seribu kali untuk memilih saat yang tepat untuk menyerang.
Waktu demi waktu berlalu, Abdurrahman al-Ghafiqi melihat bahwa semangat pasukannya mulai menyala. Seperti kemampuan mereka dapat diandalkan dan optimis untuk menang. Maka beliau memutuskan agar pasukan Islam lebih dahulu menyerang.

Abdurrahman al-Ghafiqi mulai menerobos pertahanan Barat dengan pasukannya laksana singa yang menerjang dengan ganas. Pihak Barat bertahan seperti benteng yang kokoh. Pertempuran berkecamuk sehari penuh dan belum terlihat tanda-tanda kemenangan pada salah satu pihak. Seandainya tak terhalang oleh gelapnya malam, niscaya mereka tak akan berhenti bertempur.

Memasuki hari kedua, pertempuran kembali berkobar. Prajurit-prajurit Islam menyerang dengan gagah berani dan tekad yang kuat, namun pertahanan Barat belum pula tergoyahkan.

Perang berlangsung hingga tujuh hari berturut-turut dengan dahsyat. Pada hari kedelapan, sedikit demi sedikit barisan musuh mulai terkoyak. Harapan menang pun mulai terbayang. Laksana semburat cahaya fajar di pagi hari. Namun dalam waktu yang sama, sekelompok prajurit Barat menyerang tempat penyimpanan harta ghanimah dan menguasai hampir seluruhnya dengan mudah. Melihat hal itu, pasukan Islam mulai goyah. Sebagian besar dari mereka mundur ke belakang untuk menyelamatkan harta ghanimah tersebut hingga merusak pertahanan barisan depan.

Dengan gigih Panglima besar Abdurrahman al-Ghafiqi berusaha mencegah para prajuritnya surut ke belakang, sambil terus menahan arus serangan dari depan dan menutupi celah-celah yang lemah. Dia bergerak cepat kesana-kemari dengan kudanya yang perkasa. Di saat itulah sebatang panah mengenai tubuhnya sehingga dia terjatuh dari kuda seperti seekor elang yang terjatuh dari puncak gunung. Maka terwujudlah syahid di medan perang yang didambakannya.

Akan halnya dengan pasukan Islam, melihat panglimanya gugur, mereka semakin berantakan, sedangkan musuh kian bersemangat merangsek ke depan. Tak ada yang mampu menghentikan keganasan mereka selain malam yang mulai merayap.

Pagi harinya Karel Martel mendapati pasukan Islam sudah mundur dari medan perang Pioitiers. Namun dia tak berani mengejar. Padahal seandainya dia mengejarnya pastilah dia akan berhasil menghancurkan kaum muslimin. Dia mengira bahwa gerak mundur pasukan Islam adalah disengaja untuk memancing mereka keluar medan terbuka. Ia mengira itu merupakan strategi baru muslimin yang direncanakan malam sebelumnya. Maka Karel Martel memilih untuk tetap di tempat dan merasa cukup dengan membendung kekuatan yang membahayakan itu, lalu menikmati kemenangan yang diraihnya.

Balath Syuhada menjadi peristiwa monumental dalam sejarah. Di hari itu kaum muslimin telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang terbuka lebar, bahkan kehilangan seorang pemimpin besar dan pahlawan yang tangguh bernama Abdurrahman al-Ghafiqi. Peristiwa itu laksana ulangan tragedi Uhud yang memilukan.

Begitulah, semuanya telah menjadi sunnatullah terhadap hamba-hamba-Nya, tak ada yang kuasa merubah ataupun menggantinya.

Kabar kekalahan di Balath Syuhada menjadi tamparan yang menggoncangkan kaum muslimin di segenap pelosok. Duka dan pilu melanda setiap desa dan kota, memasuki setiap rumah Islam. Luka itu hingga kini masih terasa pedihnya, dan akan tetap diingat selagi masih ada seorang muslim yang ada di permukaan bumi ini. Tapi, jangan Anda sangka tragedi itu hanya menyedihkan kaum muslimin saja. Orang-orang Barat yang berakal sehat pun merasakan demikian. Bagi mereka, kemenangan nenek moyang mereka atas kaum muslimin di Poititers merupakan musibah besar bagi umat manusia, khususnya merugikan Eropa dalam mencapai kemajuan.

Sebagai bukti dari pendapat golongan ini, marilah kita simak komentar tentang kekalahan kaum muslimin di Balath Syuhada, oleh pemimpin redaksi majalah “Review Parlementer” yaitu Henry de Syambon, “Kalau saja bukan karena kemenangan pasukan Karel Martel atas pasukan Islam di Prancis, tentu negeri kita tidak perlu tenggelam dalam kegelapan kebodohan pada abad pertengahan. Tidak akan seburuk itu. Dan kita juga tidak perlu mengalami pembantaian besar-besaran yang didasari oleh fanatisme sekte-sekte agama. Benar, seandainya tidak karena kemenangan Barat pada waktu itu, Spanyol akan bisa hidup dalam kearifan Islam yang murni, selamat dari kekejaman badan-badan intelijen dan tidak terlambat menerima arus kemajuan sampai delapan abad. Meski ada perbedaan rasa dan pandangan tentang kemenangan itu, yang jelas kita benar-benar berhutang budi pada kaum muslimin akan kemajuan ilmu, seni dan budaya luhur yang mereka bawa. Kita harus mengakui bahwa kaum muslimin adalah teladan tentang kemanusiaan yang sempurna di saat kita dahulu masih menjadi manusia Barbar yang ganas.”

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

sumber : http://kisahmuslim.com/pahlawan-islam-abdurrahman-al-ghafiqi-pahlawan-perang-di-balath-syuhada/
 

Orang yang Tidak Takut dengan Kematian

tokoh tabi'in said bin jubair dengan hajjaj
Dia adalah Sa’id bin Jubair, pewaris ilmu Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Salah seorang yang paling alim di kalangan tabi’in. Beliau ditemani Abdurrahman bin al-Asy’ats ketika melawan pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan lantaran berbuat sewenang-wenang dan keterlaluan dalam melakukan pembunuhan. Pada saat Ibnul Asy’ats terkalahkan dalam perang Dairul Jamajim dan terbunuh, Sa’id tertangkap di Makkah. Gubernur Makkah yang ketika itu dijabat oleh Khalid bin Abdullah al-Qasri yang menangkapnya.
Ia dibawa menghadap kepada Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi.

Lantas Hajjaj bertanya kepadanya, “Siapa namamu?”
Ia menjawab, “Sa’id bin Jubair.”
Hajjaj berkata, “Bukan, kamu adalah Syaqi bin Kusair.”
Ia menanggapi, “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada dirimu.”
Hajjaj menambahkan, “Celaka ibumu dan juga kamu.”
Ia menjawab, “Yang mengetahui hal ghaib bukanlah kamu.”
Hajjaj berkata, “Sungguh, saya akan mengganti duniamu dengan api yang menyala-nyala.”
Ia berkata, “Seandainya aku mengetahui hal tersebut, pastilah saya menjadikanmu sebagai Tuhan.”
Hajjaj berkata, “Apa pendapatmu mengenai Muhammad?”
Ia menjawab, “Beliau adalah Nabi yang membawa kasih sayang dan pemimmpinnya orang yang mendapat petunjuk.”
Hajjaj melanjutkan, “Apa pendapatmu mengenai Ali? Apakah ia di surga atau di neraka?”
Ia menjawab, “Jika engkau telah masuk ke dalam neraka dan kamu mengetahui siapa yang berada di dalamnya, pastilah engkau mengetahui penduduk neraka.” Hajjaj bertanya lagi, “Apa pendapatmu mengenai para khalifah?”
Ia menjawab, “Saya bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” Hajjaj melanjutkan, “Siapakah di antara mereka yang paling engkau sukai?”
Ia menjawab, “Orang yang paling diridhai oleh Sang Penciptaku.”
Hajjaj bertanya, “Siapa orang yang paling diridhai oleh Sang Pencipta?”
Ia menjawab, “Pengetahuan mengenai hal ini ada di sisi Dzat yang mengetahui rahasia dan bisikkan mereka.”
Hajjaj  berkata, “Saya ingin engkau jujur kepadaku.”
Ia menjawab, “Jika saya tidak menjawab pertanyaanmu, berarti saya tidak berdusta kepadamu.’
Hajjaj berkata, “Mengapa engkau tidak tertawa?”
Ia menjawab, “Bagaimana bisa tertawa seorang makhluk yang diciptakan dari tanah sedangkan tanah dapat dilalap api.”
Hajjaj berkata, “Bagaimana dengan kami yang bisa tertawa?”
Ia menjawab, “Karena hati manusia tidaklah sama.”

Hajjaj hendak membujuk Sa’id dengan keindahan dan permainan dunia. Lantas ia memerintahkan agar didatangkan mutiara, zamrud, dan permata. Semua benda tersebut dikumpulkan di hadapannya.
Sa’id berkata kepada Hajjaj, “Jika engkau mengumpulkan semua ini agar engkau terlindungi dari ketakutan pada Hari Kiamat, maka bagus. Jika tidak demikian, maka hal ini akan menjadi sebauh teror di mana semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Tidak ada kebaikan sedikit pun dalam sesuatu yang dikumpulkan hanya untuk dunia kecuali harta yang baik dan dizakati.”

Lantas Hajjaj menyuruh agar diambilkan alat musik gambus dan seruling. Ketika kecapi itu dimainkan dan seruling ditiup, Sa’id menangis, lalu Hajjaj bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Apakah permainan musik ini?”

Sa’id menjawab, “Yang membuatku menangis ialah kesedihan. Tiupan tersebut mengingatkanku akan hari agung, yaitu hari sangkakala ditiup. Sedangkan kecapi tersebut berasal dari pohon yang ditebang tanpa hak, tali senarnya berasal dari kulit kambing yang akan dibangkitkan bersamanya pada Hari Kiamat.”

Lantas Hajjaj berkata, “Celakalah engkau Sa’id!”
Sa’id menimpali, “Tidak ada celaka bagi orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.’

Lalu Hajjaj berkata, “Pilihlah Sa’id!” (maksudnya, pilihlah dengan cara apa saya membunuhmu).
Ia menjawab, “Terserah kamu sendiri, hai Hajjaj! Demi Allah, Engkau tidak akan membunuhku melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan membunuhmu dengna cara yang sama di akhirat.”
Hajjaj berkata, “Apakah kamu ingin saya ampuni?”

Ia menjawab, “Sesungguhnya ampunan ialah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan kamu tidak mempunyai hak membebaskan dan memberi ampunan.”

Hajjaj berkata kepada tentaranya, “Bawalah ia pergi, lalu bunuhlah dia.” Ketika Sa’id dibawa keluar, ia tertawa. Lantas Hajjaj diberitahu mengenai hal ini, lalu Sa’id dibawa kembali lagi.
Hajjaj bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa?”

Ia menjawab, “Saya takjub pada kelancanganmu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesabaran-Nya terhadapmu.”

Hajjaj berkata, “Bunuhlah dia!”
Lalu Sa’id mengucapkan:
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am: 79)

Hajjaj berkata, “Hadapkanlah wajahnya ke selain arah kiblat.” Lalu Sa’id mengucapkan:
Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaahaa: 55)
Hajjaj berkata, “Sembelih dia!”
Sa’id berkata, “Sesungguhnya saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar selain Allah Yang Esa. Tiada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ambillah dariku sampai engkau bertemu denganku pada hari Kimat.”
Kemudian Sa’id berdoa, “Ya Allah! Janganlah engkau memberinya kesempatan untuk membunuh seorang pun setelah aku.”

Sa’id dibunuh pada bulan Sya’ban tahun 96 H. Setelah itu Hajjaj meninggal dunia pada bulan Ramadhan pada tahun itu juga. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberinya kesempatan untuk membunuh seorang pun setelah Sa’id hingga ia meninggal dunia.

Pada saat Sa’id disembelih, ternyata darahnya mengalir sangat banyak. Lantas Hajjaj memanggil para dokter. Ia menanyakan kepada mereka mengenai Sa’id dan orang-orang yang telah ia bunuh sebelumnya. Sesungguhnya orang-orang yang dibunuh sebelum Sa’id, darahnya yang mengalir hanya sedikit. Lantas para dokter menjawab, “Ketika Sa’id dibunuh, nafasnya masih bersamanya. Darah itu mengikuti nafas. Sedangkan selain Sa’id, ternyata nafasnya telah hilang lantaran ketakutan. Oleh karena ituah darah yang mengalir hanya sedikit.”

Ketika Hasan al-Basri mengetahui bahwa Hajjaj telah membunuh Sa’id bin Jubair dengan cara disembelih, maka ia berdoa, “Ya Allah! Binasakanlah orang fasik yang keterlaluan itu. Demi Allah, seandainya semua yang ada di antara langit dan bumi bekerja sama untuk membunuh Sa’id. Pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menceburkan mereka semua ke dalam neraka.”
Ketika Hajjaj menjelang kematiannya, ia mengalami pingsan kemudian sadar kembali dan berujar, “Apa yang terjadi pada diriku dan Sa’id bin Jubair?” Pada saat sakit, ketika tidur ia pernah bermimpi melihat Sa’id sedang memegang ujung pakaiannya dan berkata kepadanya, “Hai musuh Allah! Dalam rangka apa kamu membunuhku?” Lantas ia pun terbangun dalam keadaan ketakutan. Ia berkata, “Apa yang terjadi pada diriku dan Sa’id bin Jubair?” Setelah Hajjaj meninggal dunia ia dimimpikan di dalam tidur, lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang diperbuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapmu?” Ia menjawab, “Dia membunuhku untuk setiap orang-orang yang kubunuh. Dan Dia membunuhku sebanyak 70 kali karena saya membunuh Sa’id bin Jubair.”

Sa’id bin Jubair merupakan salah seorang yang paling hafal Alquran al-Karim dan sangat mengetahui tafsir sebagaimana ia juga orang yang paling mengetahui hadis, halal, dan haram. Wafa’ bin Iyas berkata, “Pernah suatu hari Sa’id berkata kepadaku pada bulan Ramadhan, ‘Pertahankanlah untuk terus membaca Alquran.’ Makanya, beliau tidak beranjak dari tempatnya sebelum mengkhatamkan Alquran. Sa’id berkata mengenai dirinya sendiri, “Saya membaca Alquran secara keseluruhan di dalam dua rekaat shalat sunah di Baitullah yang mulia.”
Semoga Allah merahmatinya dan memberinya pahala.

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

sumber : http://kisahmuslim.com/orang-yang-tidak-takut-dengan-kematian/
 

IYAS BIN MU’AWIYAHIYAH AL-MUZANNI

 "Dia memiliki keberanian Amru, lapang dadanya Hatim, kebijakan
Ahnaf dan kecerdasan lyas."
(Abu Tamam)

Malam  itu, Amirul  Mukminin  Umar bin Abdul  Aziz  tak bisa tidur, hilang  rasa  kantuknya,  tak mampu  memejamkan matanya,  resah dan  gelisah  hatinya.  Di  saat malam  yang  sangat dingin  itu,  di  Damsyik  pikiran  beliau  sedang  sibuk  dengan  urusan pemilihan  qadhi  di Bashrah yang  diharapkan  dapat menegakkan keadilan di tengah manusia, yang akan menghukum  dengan hukum  Allah yang diterapkan  tanpa gentar  dan gila pujian.

Pilihannya  jatuh  pada  dua  orang  yang  dipandangnya  bak  kuda balap  kembar  dalam  ilmu  fiqih,  tegas dan  kukuh  dalam  kebenaran, cemerlang pemikiran-pemikirannya  dan  tepat  dalam pandangannya. Jika didapatkan  satu keunggulan  tertentu  dari  salah satu dari  keduanya, ia memiliki  keunggulan  lain yang mampu  mengimbanginya.

Keesokan harinya  beliau  mengundang  walinya  di  Irak  yang  bernama Adi  bin  Arthah  yang  ketika  itu  berada  di  Damaskus. Beliau berkata: "Wahai Adi,  panggillah  Iyas bin Mu'awiyah  Al-Muzanni  dan Al-Qasim  bin  Rablah  Al-Haritsi.  Ajaklah  keduanya  membicarakan perihal pengadilan  di Bashrah,  lalu pilihlah  salah satu dari keduanya “Adi  menjawab:  "Saya mendengar  dan  saya taat wahai  Amirul  Mukminin."

Adi  bin  Arthah  mempertemukan  antara  Iyas  dan  Al-Qasim  lalu berkata: "Amirul  Mukminin  -semoga Allah  memanjangkan  umurnya- memintaku  untuk  mengangkat  salah satu dari  kalian  sebagai kepala pengadilan  Bashrah. Bagaimana pendapat  kalian berdua?,,

Masing-masing  mengatakan  bahwa  rekannyalah  yang  lebih  utama (Iyas menganggap  Al-Qasim  lebih  utama  sedangkan  Al-Qasim  memandang  bahwa  Iyas  lebih  utama  darinya-Pent)  sambil  menyebutkan keutamaan,  ilmu  dan kefakihannya.
Adi  berkata:  "Kalian  tidak  boleh  keruar  dari  sini  sebelum  kalian memutuskannya,"

Iyas berkata:  "wahai  Amir, Anda  bisa menanyakan  tentang  diriku dan Al-Qasim  kepada dua  fuqaha  Irak  temama,  yaitu  Hasan AI-Basri dan Muhammad  bin  Sirin,  karena  keduanyalah  yang  paling  mampu membedakan  antara kami berdua."

Iyas mengatakan  seperti  itu  karena  Al-Qasim  adalah murid  dari kedua ulama  tersebut, sedangkan Iyas sendiri  tidak  punya  hubungan apapun  dengan mereka. Al-Qasim  menyadari  bahwa  Iyas akan memojokkannya,  sebab  kalau pemimpin  Irak  itu bermusyawarah  dengan kedua  ulama  itu,  tentulah  mereka akan memilih  dia  dan bukan  lyas. Maka dia segera menoleh kepada Adi  dan berkata: “Wahai Amir  janganlah Anda menanyakan perihalku  kepada siapapun. Demi Allah  yang  tiada
Ilah  selain Dia,Iyas  lebih mengerti  tentang  agama Allah  dari pada aku  dan  lebih mampu  untuk  menjadi  hakim.  Bila aku bohong  dalam sumpahku  ini,  maka  tidak  patut  Anda  memilihku  karena  itu  berarti memberikan  jabatan  kepada orang  yang  ada cacatnya. Bila aku  jujur, Anda  tidak  boleh mengutamakan  orant  yang  lebih  rendah,  sedangkan di sini ada yang  lebih utama."

Iyas berpaling  kepada  amir  dan berkata:  "wahai  Amir,  Anda  memanggil  orang  untuk  dijadikan  hakim.  Ibaratnya  Anda  letakkan  ia di  tepi  jahannam, lalu  orang  itu  (yakni  Al-Qasim-Pent)  hendak  menyelamatkan  dirinya dengan  sumpah  palsu,  yang  dia bisa meminta  ampun kepada  Allah dengan  beristighfar  kepada-Nya,  dan  selamatlah  ia dari apa yang ditakutinya."

Maka Adi  berkata kepada Iyas: "orang  yang berpandangan  seperti dirimu  inilah  yang  layak  untuk  menjadi  hakim.“ Lalu  diangkatlah Iyas sebagai qadhi  di  Bashrah.
_
Siapakah  gerangan  orang  yang  dipilih  oleh  khalifah  yang  zuhud, Umar  bin  Abdul  Aziz  untuk  menjadi  qadhi  di  Basharh ini? Siapakah beliau sebenarnya yang karena kecerdasan, kepandaian  dan kejeniusannya sampai dijadikan  sebagai simbol  dan permisalan  sebagaimana permisalan  kedermawanan  Hatim  Ath-Tha'i,  kebijakan  Ahnaf  bin Qais, keberanian Amru  bin Ma'di?

Abu  Tammam  memuji  Ahmad  bin Mu'tasham  dengan ungkapannya:

Memiliki  keberanian  Amru
Kedermawanan  Hatim
Kebijaksanaan  Ahnaf
Dan kecerdasan  lyas

Mari  kita  telusuri  perjalanan  hidup  tokoh  ini  dari  awal  mulanya, sebab  dia memiliki  sejarah yang benar-benar menakjubkan.

Nama  beliau  adalah  Iyas bin Mu'awiyah  bin  Qurrah  Al-Muzanni, lahir  pada  tahun  46 H  di  daerah  yamamah  Najed.  Kemudian  beliau berpindah  ke Bashrah beserta seluruh  keluarganya.  Di  sanalah beliau tumbuh  berkembang  dan  belajar. Beliau  sering  mondar-mandir  ke Damaskus  ketika  masih  belia  untuk  menimba  ilmu  dari  sisa-sisa  sahabat yang  mulia  dan  tokoh-tokoh  tabi’in  yang  agung.

Telah nampak  bakat  dan  kecerdasan  putera Al-Muzanni  yang  satu  ini  sejak kecil.  orang-orang  sering membicarakan  kehebatan  dan beritanya  kendati  beliau masih kanak-kanak. Telah diriwayatkan  bahwa  ketika  masih  kecil beliau  belajar  ilmu
hisab di  sebuah sekolah yang  diajar  oleh yahudi ahli  dzimmah.  Pada suatu  hari  berkumpullah  kawan-kawannya  dari  kalangan  yahudi ini,  lalu  mereka  asyik  membicarakan  masalah  agama mereka  tanpa menyadari  bahwa  Iyas  turut  mendengarkannya.

Guru  Yahudi  itu berkata kepada  teman-teman  Iyas: "Tidakkah  kalian heran dengan  kaum muslimin  itu? Mereka berkata bahwa mereka akan makan  di surga, namun  tidak  akan buang  air besar?”
Iyas menoleh  kepadanya  lalu  berkata,

Iyas  : "Bolehkah  aku  ikut  campur  dalam  perkara  yang  kalian  perbincangkan  itu  wahai  guru?"
Guru:  "Silakan!"
Iyas  : "Apakah  semua  yang  dimakan  di  dunia  ini  keluar  menjadi kotoran?"
Guru:  "Tidak!"
Iyas  : "Lantas kemana perginya  yang  tidak  keluar  itu?"
Guru:  "Tersalurkan  sebagai makanan  jasmani."
Iyas  : "Lantas dengan alasan apa kalian mengingkari?  Jika makanan yang kita makan  di dunia  saja  sebagian hilang  diserap oleh tubuh, Maka tak mustahil  di jannah seluruhnya diserap  tubuh  dan menjadi makanan  jasmani."

Merasa  kalah  argumen,  guru  itu  memberikan  isyarat  dengan  tangannya  sambil berkata  kepada  Iyas:  "semoga  Allah  mematikanmu sebelum dewasa."

Bertambahlah  umumya  setahun demi  setahun, berita  tentang  kecerdasannya makin  ramai dibicarakan  orang. Telah diriwayatkan  bahwa  tatkala  beliau  masih  muda,  ketika  berada  di  Damaskus  pernah bersengketa dengan seorang  tua penduduk  kota tersebut  tentang suatu hak  kepemilikan.  Setelah putus  asa menyelesaikannya  dengan  adu argumen,  maka masalah  tersebut  dibawa  ke pengadilan.

Ketika  keduanya  telah  berada  di  depan  hakim,  Iyas mengemukakan  argumennya  dengan  suara  lantang  kepada  rivalnya.  Lalu  ditegur  oleh qadhi.

Qadhi  :  "Rendahkanlah  suaramu wahai  anak!, karena rivalmu  adalah seorang yang  sudah  besar baik  secara usia maupun  kedudukannya"

Iyas  : "Akan  tetapi  kebenaran  lebih  besar dari  dia."
Qadhi  : (dengan  marah  berkata)  "Diam"'
Iyas  :  "Siapakah yang akan mengemukakan alasanku jika akudiam?,,
Qadhi  : “Aku  tidak  mendapatkan  semua keteranganmu  sejak masuk majelis ini  selain kebathilan."
Iyas  :  "Laa  ilaahn  illallaahu wahdahu  laa  syariikalahu,  jujurlah,  apakah kata-kataku  haq  ataukah  bathil?"
Qadhi  : "Benar,  demi  Rabb-ul  Ka'bah..benar"

Semangat Putera Al-Muzanni  ini  semakin membara  untuk  memperdalam  ilmu.  Hingga  akhirnya  sampailah  pada  suatu  titik  menakiubkan  yang dikehendaki  Allah.  Sehingga orang-orang  tua pun menaruh hormat  kepadanya, belajar darinya meskipun beliau  masih sangat belia.

Pada suatu  tahun,  ketika  Abdul  Malik  bin  Marwan  mengunjungi Bashrah sebelum menjadi  khalifah,  dia  melihat  Iyas  yang  masih  remaja  dan belum  lagi  tumbuh  kumisnya  berada paling  depan sebagai pemimpin,  sedangkan dibelakangnya  ada empat orang qurra,  (pengafal Al-Qur'an)  yang  sudah berjenggot  panjang  dengan pakaian  resmi berwarna  hijau. Maka  Abdul  Malik  berkata:  "Celaka  benar orang-orang berjenggot  ini, apakah di sini tak ada  lagi orang tua yang bisa memimpin,
sampai  anak sekecil ini  dijadikan  pemimpin  mereka ?” Lalu dia menoleh kepada
Iyas dan bertanya:  "Berapa usiamu wahai  anak muda?"

Iyas menjawab:  "Usiaku sama dengan  usia Usamah bin  Zaid  saat diangkat oleh Rasulullah   sebagai  panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu  Bakar dan Umar wahai amir  -semoga  Allah memanjangkan umur  Anda-  ." Abdul  Malik  berkata: "Kemari, kewahai  anak  muda,  semota  Allah  memberkatimu."

Di  suatu  tahun,  orarng-orang keluar  untuk  mencari  hilal  Ramadan dipimpin  langsung  oleh  sahabat  utama  Anas  bin  Malik  Al-Anshari. Ketika  itu  beliau  telah  berusia  senja dan  hampir  mencapai 100  tahun.

Orang-orang  memperhatikan  seluruh  penjuru  langit,  namun  tidak melihat  apa-apa di  langit.  Akan  tetapi  Anas  terus  mencari-cari  lalu berkata:  "Aku  telah melihat  hilal,  itu  dia!"  Sambil menunjuk  dengan tangannya  ke langit, padahal  tak seorangpun  melihatnya  selain  beliau.

Ketika  itu,  Iyas memperhatikan  Anas,  ternyata  ada sehelai rambut  panjang  yang  berada di  alisnya  hingga  menjulur  di  pelupuk matanya. Dengan  santun  Iyas meminta  ijin  untuk  merapikan  rambut Anas yang menjulur  itu,lalu  bertanya:  "Apakah  Anda  masih melihat hilal  itu, wahai  sahabat Rasulullah ?"
Anas :  "Tidak, aku tidak melihatnya...aku  tidak,melihatnya..."

Tersebarlah  berita  tentang  kecerdasan  Iyas,  orang-orang  berdatangan kepadanya  dari berbagai  penjuru  untuk bertanya  tentang  ilmu dan  agama. Sebagian ingin  belajar, sebagian lagi  ada yang  ingin  menguji  dan  ada pula  yang  hendak  berdebat  kusir.

Di  antara mereka  ada Duhqan  (seperti jabatan  lurah  di  kalangan Persi dahulu)  yang  datang  ke majelisnya  dan bertanya,

Duhqan:  "Wahai  Abu  Wa'ilah,  bagaimana  pendapatmu  tentang  minuman  yang  memabukkan?"

Iyas  : "Haram!"
Duhqan: “Dari sisi mana dikatakan  haram,  sedangkan  ia tak  lebih  dari buah dan air yang  diolah, sedangkankeduanya  sama-sama  halal?"

Iyas  : "Apakah  engkau  sudah selesai  bicara, wahai  Duhqan,  ataukah  masih  ada  yang  hendak  kau  utarakan?"

Duhqan:  "Sudah,  silakan  bicara!"
Iyas  : "seandainya  kuambil  air dan kusiramkan  ke mukamu'  apakah  engkau  merasa sakit?"
Duhqan  : "Tidakl"
Iyas  : "Jika kuambil  segenggam  pasir  dan  kulempar  kepadamu,
apakah  terasa sakit?"
Duhqan:  "Tidak!"
Iyas  : "Jika aku mengambil  segenggam  semen dan kulempar  kepa-
damu, apakah terasa sakit?"
Duhqan:  "Tidak!"
Iyas  :  "Sekarang,jika kuambil pasir  lalu kucampur  dengan  segenggam  semen, lalu aku  tuangkan  air di atasnya dan kuaduk,  lalu  kujemur  hingga  kering,  lalu  kupukulkan  ke kepalamu,  apakah  engkau merasa sakit?"
Duhqan:  "Benar,  bahkan  bisa membunuhku.,,
Iyas  :  "Begitulah  halnya  dengan  khamr.  Di  saat kau  kumpulkan bagian-bagiannya  lalu  kau  olah  menjadi  minuman  yang  memabukkan,  maka  dia  menjadi  haram."

Ketika  beliau  menjabat  sebagai qadhi  atau  hakim  telah  terbukti bahwa  dia benar'benar  orang  yang  cerdas, lihai  dan memiliki  kemampuan besar  dalam menyingkap  hakikat  suatu masalah sampai seakar-akamya.

Pemah  terjadi  sengketa antara dua  orang. yang satu berkata bahwa  dia  telah  menitipkan  sejumlah  harta  kepada  temannya,  tetapi ketika  ia memintanya lagi,  temannya  itu  mengelaknya.  Iyas bertanya kepada  tertuduh  dan dia  tetap mengingkarinya  sambil berkata: “Bila kawanku  ini  punya  bukti,  silakan  didatangkan,  kalau  tidak  maka tiada jalan baginya  untuk  menjatuhkan  aku kecuali dengan sumpah.”
,
Iyas  khawatir  jika  orang  itu  makan  harta  yang  bukan  haknya dengan  sumpahnya.  Maka  dia  berpaling  kepada  si penuduh  dan bertanya:  "Di  manakah  tempat  engkau  menitipkan  harta  itu  kepadanya?" Dia berkata:  "Di  suatu  tempat  bemama  anu."  Iyas bertanya: "Bagaimana  ciri-ciri  tempat  itu?"
_
Penuduh  menjawab:  "Di  sana ada  sebatang pohon  besar. Kami duduk  dan makan bersama dan ketika  kami  hendak beranjak pulang, kuserahkan  harta  itu  kepadanya."  Iyas berkata  kepadanya:  "pergilah ke  tempat  yang  terdapat  pohon  tersebut,  karena  bila  engkau  mendatanginya  bisa  jadi  akan  mengingatkan  kamu  dimana  telah  kau  letakkan  barang  tersebut,  setelah  itu  segeralah  kembali  ke  sini  untuk mengabarkan  apa yang  engkau  dapatkan  di  sana.

Kemudian  pergilah  orang  itu,  sementra  Iyas  berkata  kepada  si tertuduh  yang masih berada  dihadapannya:  "Tunggulah di sini sampai kawanmu  kembali."  Iapun  duduk  menanti.  Kemudian  Iyas mengurus perkara-perkara  lainnya  sambil  terus mengamati  tertuduh  secara  diam-diam.  Setelah  dilihatnya  dia  agak  tenang Iyas  bertanya:  "Apakah kiranya  kawanmu  itu  sudah  sampai  di  tempat  di mana  ia menitipkan hartanya  kepadamu?"
Tanpa menyadari  jebakan  Iyas  tersebut  ia menjawab:  "Belum,  karena tempatnya  jauh  dari  sini."  Mendengar  jawaban  tersebut Iyas sudah bisa menebak apa yang terjadi sesungguhnya, beliau berkata: "Wahai  musuh  Allah,  engkau  hendak  memungkiri  harta  itu  sedangkan sengkau  tahu  dimana  tempat  engkau menerimanya."

Orang  itu  tak bisa berkutik  lagi, lalu  mengakui khianatnya, Iyas  memanggil  polisi  untuk  menahannya  sampai  kawannya  datang.  Setelah kawannya  tiba, dia diperintahkan  untuk  mengembalikan  hartanya.

Bukti  kecerdasan Iyas  terlihat  pula  dalam  kasus berikut:

Ada  dua  orang yang berselisih  lalu mengadukan  persoalan kepadanya  tentang  dua  kain  beludru  yang  biasa  diletakkan  di  atas kepala dan  dijulurkan  hingga  ke bahu.  Yang satu berwama  hijau,  masih baru dan mahal harganya, sedangkan yang  lain berwarna  merah dan  telah usang.

Si penuduh  berkata:  "Suatu ketika  saya istirahat  di  sebuah sungai untuk  mandi,  lalu aku  letakkan  beludru  milikku  yang berwarna  hijau bersama bajuku  di  pinggir  telaga. Lalu  datanglah  orang  ini  dan meletakkan  beludrunya  yang  berwama  merah  di  samping  beludruku lalu  terjun  ke telaga. Lalu  dia selesai  sebelum aku selesai...selanjutnya dia memakai  bajunya  namun  mengambil  beludru  milikku  lalu  dipakaikan  di  kepalanya  dan  langsung  beranjak pergi.  Ketika  aku  selesai
kuikuti  dia dan aku meminta  kembali beludruku,  namun dia mengatakan bahwa  beludru  tersebut miliknya.

Iyas berkata  kepada  lelaki  yang  dituduh:  "Bagaimana  komentar Anda?"  Dia menjawab:  "Tidak demikian  sebenamya." Kemudian  Iyas berkata  kepada  penjaga:  "Ambilkan  aku  sebuah sisir."  Lalu  diambilkanlah  sisir  untuk  beliau.  Selanjutnya  Iyas menyisir  kedua  rambut kepala  orang  tersebut,  lalu  keluarlah  dari  rambut  salah seorang dari mereka bulu  halus berwarna  merah yang  tercecer dari beludru  merah, yang  satunya  lagi  keluar  bulu  halus yang berwarna  hijau..lalu  beliau
memutuskan  beludru  yang  merah  bagi  yang  tercecer  di  rambut kepalanya bulu  kain merah dan beludru  hijau bagi yang  tercecer  bulu
kain  hijau  di  rambut  kepalanya'

Masih  ada lagi bukti  kecerdasan Iyas dan kejeniusannya.  Ada  seorang  di Kufah  yang menampakkan  sebagai orang baik-baik  di mata masyarakat dan menampakkan  sifat wara'  dan taqwa. Hingga  banyak sanjungan  tertuju  kepadanya,  dan orang-orang menjadikan  ia sebagai orang  kepercayaan dan  menitipkan  harta  kepadanya  bila  hendak bepergian  atau menitipkan  wasiat kepadanya bagi anak-anaknya  dan
keluarganya  ketika merasa hendak  datang ajalnya'

Ada seseorang  menitipkan  harta kepadanya, tapi ketika si empunya hendak mengambilnya,  dia mengelak.  Maka  orang itu  datang kepada Iyas dan melaporkan  hal  tersebut. Iyas bertanya  kepada penuduh:

"Apakah  kawanmu  itu  tahu  bahwa  engkau melapor  kepadaku?"  Dia
berkata, 'Tidak".
Iyas berkata:  "Kalau begitu pulanglah  dan besok saya minta  Anda  kembali  kemari."

Kemudian  Iyas memanggil  orang yang dipercaya memegang harta itu  (sekaligus sebagai  tertuduh)  dan berkata kepadanya:  "Ada banyak titipan  harta milik  anak yatim  di  tanganku  dan  tak  ada yang mengurusnya. Aku  pikir,  sebaiknya kutitipkan  saja  kepada Anda. Kujadikan engkau  sebagai wali  atas mereka. Apakah  rumahmu  cukup  aman dan Anda  memiliki  kelonggaran  waktu  untuk  mengurusnya?  Orang
itu  menjawab:  "Saya bersedia  wahai  qadhi."

Iyas berkata: "Kalau begitu,  datanglah  kemari besok lusa dan siapkan  tempat  untuk  menyimpan  harta  itu. Bawalah orang-orang  untuk membantu  membawanya."

Keesokan harinya  datanglah  penuduh  itu  kembali.  Iyas berkata kepadanya:  "Sekarang  datangilah  kawanmu  itu  dan  mintalah  hartamu  kembali,  jika  dia mengingkari  katakan  kepadanya:  "Akan  saya adukan  kamu  kepada  qadhi."

Orang  itupun  datang  kepada  kawannya  untuk  meminta hartanya, tetapi  dia tetap mengelak  dan tak mau mengakuinya.  Maka berkatalah penuduh  itu:  "Kalau  begitu,  sekarang  akan  aku  laporkan  engkau  kepada qadhi."

Begitu  mendengar ancaman  itu, orang yang khianat  tersebut segera mengembalikan  harta  yang  diamanatkan  kepadanya  lalu berdalih bahwa  dia  lupa  dan  sebagainya.

Setelah menerima  kembali  hartanya,  penuduh  menjumpai  Iyas sambil berkata:  "Kawanku  itu  telah mengembalikan  hartaku,  semoga Allah  membalas  kebaikan  Anda  atas jasa dan  budi  baikmu,  wahaiqadhi..."

Keesokan berikutnya,  sesuai  rencana, datanglah  si pengkhianat  itu kepada  Iyas dengan membawa  orang untuk  mengangkut  harta  yang dikatakan  Iyas.  Iyas  menghajarnya  dan  mengumumkan  kecurangannya. Beliau berkata: " Celakalah engkau musuh Allah! Kau jadikan agamamu  untuk  menipu."

Namun,  terkadang  kecerdasan dan kejeniusan  Iyas ada  juga  yang bisa mengalahkan  dengan argumen  yang mematahkannya.

Beliau bercerita tentang  dirinya:  "Aku  belum  pernah  kalah kecuali dengan satu orang. Ketika  itu di sidang pengadilan  Bashrah seseorang menjadi  saksi bahwa  kebun  anu  adalah  benar-benar  milik  si Fulan dan  dia  menguatkannya  kepadaku."
Aku  bertanya  untuk  menguji  kebenaran pengakuannya:  "Berapa jumlah  pohon  di dalamnya?  "' Orang  tersebut menunduk  sejenak,  lalu balik bertanya: "Berapa  lama tuan menjabat qadhi di majelis ini?" Aku menjawab:  "Sejak  beberapa tahun  yang  lalu."  Lalu  dia bertanya:  "Berapa jumlah  genting  di pengadilan  ini?"  Aku  tak mampu menjawabnya ,lalu  aku katakan:  "Kebenaran ada di pihakmu lalu kuterima  kesaksiannya itu.

Di  saat memasuki  ssia 76 tahun,  Iyas bin  Mu'awiyah  bermimpi bertemu  ayahnya  yang  telah wafat.  Keduanya  berlomba  naik  kuda, temyata  tak  ada  yang  menang.  Ayah  Iyas wafat  tatkala  bertsia  76 tahun.

suatu  malam  Iyas bertanya  kepada  keluarganya:  "Kalian  tahu  ini malam apa?"
"Tidak",  jawab  mereka.  Beliau  melanjutkan:  "Malam  ini  adalah bertepatan  dengan  malam  kematian  ayahku.”

Keesokan harinya, didapatkan  bahwa  Iyas telah wafat. semoga Allah merahmati  Iyas, hakim  yang  dikenal  sangat cerdas dan  jenius  pada masanya. (*)


Disalin dari :
SHUWAR MIN HAYATIT TABI’IN
KARYA :
Dr. ABDURRAHMAN RA’FAT BASYA

TERBITAN AT-TIBYAN SOLO
DENGAN
JUDUL JEJAK PARA TABI’IEN

DISALIN ULANG OLEH

ABU AMMAR

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger