Cara Jitu Mengatasi Kemandulan (Syar’i)

Cara Jitu Mengatasi Kemandulan (Syar’i)
Memiliki anak adalah salahsatu keinginan terbesar dari pasangan suami istri. Tapi adakalanya, keinginan itu tinggal harapan. Atau ternyata Allah SWT belum memberikan amanah tersebut.

Berikut ini adalah cara mengatasi kemandulan secara syar’i, menurut seorang dokter thibbun nabawi:
Dalil dari Al Qur’an
Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam berkata,
رَبِّهَبْلِيمِنَالصَّالِحِينَ
” Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash Shaffaat: 100). Ini adalah do’a yang bisa dipanjatkan untuk meminta keturunan, terutama keturunan yang sholeh yaitu yang bisa membantu seseorang semakin taat pada Allah.
Nabi Zakariya ‘alaihis salaam berdo’a,
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
(Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38). Maksud do’a ini kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Ya Rabb anugerahkanlah padaku dari sisi-Mu keturunan yang thoyyib yaitu anak yang sholeh. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/54)
Ibadurrahman (hamba Allah Yang Maha Pengasih) berdo’a,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqon: 74)

Do’a yang juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri (QS. Al Ahqof: 15)

Adapun dalil dari Sunnah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan anak Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma dengan do’a,
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480). Dari sini seseorang bisa berdo’a untuk meminta banyak keturunan yang sholeh pada Allah,
اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي
Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii“ (Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri).”
Maka berdoalah dengan do’a-do’a diatas.

Dalil tentang Istighfar :
ALLAH Ta’ala berfirman dalam kisah Nabi Nuh a.s:
“فَقُلْتُاسْتَغْفِرُوارَبَّكُمْإِنَّهُكَانَغَفَّاراً . يُرْسِلِالسَّمَاءعَلَيْكُممِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْبِأَمْوَالٍوَبَنِينَوَيَجْعَللَّكُمْجَنَّاتٍوَيَجْعَللَّكُمْأَنْهَاراً”
Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat di atas menjelaskan bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.

Dalam Tafsir al-Qurthubi, disebutkan bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada Al Hasan Al Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, Al Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Ar Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”.

Maka Al Hasan Al Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.

Adapun dalil dari Sunnah Rasul shallallahu’alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi:

“فَقُلْتُاسْتَغْفِرُوارَبَّكُمْإِنَّهُكَانَغَفَّاراً . يُرْسِلِالسَّمَاءعَلَيْكُممِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْبِأَمْوَالٍوَبَنِينَوَيَجْعَللَّكُمْجَنَّاتٍوَيَجْعَللَّكُمْأَنْهَاراً”
“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).
Dan, sungguh kita ketahui anak adalah bagian dari rizqi itu sendiri.
Maka  mari kita perbanyak istighfar dalam setiap kesempatan, kapan dan di manapun di waktu-waktu kosong saat bekerja, saat dijalan dan lain sebagainya. Dan, tunggulah hasilnya. Baarakallaahu fiikum
Semoga Allah menganugerahkan pada kita sekalian keturunan yang sholeh dan sholehah, aaamiin Yaa Samii’ud du’aa’.

* dr. Ummu Muhammad Ferihana
 sumber : http://muslimahzone.com/cara-jitu-mengatasi-kemandulan-syari/
 

Diantara Sebab Bandelnya Anak


Kita mungkin heran melihat ada seorang sholeh dan begitu cerdas sekelas Al-Imam Al-Bukhari (Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Bardzibah Al-Bukhari Al-Ju'fi) rahimahullah. Kita sungguh berangan-angan bisa memiliki anak yang sholeh seperti Al-Imam Al-Bukhari dan juga para imam yang lainnya.

Diantara sebab Al-Imam Al-Bukhari menjadi anak yang sholeh adalah karena kesholehan ayah beliau Abul Hasan Isma'il bin Ibarahim.

Ahmad bin Hafsh berkata

دَخَلْتُ عَلَى أَبِي الْحَسَنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنَ إِبْرَاهِيْمَ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: لاَ أَعْلَمُ فِي جَمِيْعِ مَالِي دِرْهَماً مِنْ شُبْهَةٍ

"Aku masuk menemui Abul Hasan Isma'il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata, "Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat" (Taariikh At-Tobari 19/239 dan Tobaqoot Asy-Syaafi'iyyah Al-Kubro 2/213)

Setelah sang ayah meninggal dunia maka Al-Imam Al-Bukhari dipelihara dan dirawat oleh sang ibu. Akan tetapi pada hakekatnya Allah-lah yang telah memelihara Al-Imam Al-Bukhari dan memberikan kesholehan kepadanya karena kesholehan ayahnya.

Allah berfirman :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu" (QS Al-Kahfi : 82)

Al-Haafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وقد قيل إنه كان الاب السابع وقيل العاشر. وعلى كل تقدير فيه دلالة على أن الرجل الصالح يحفظ في ذريته

"Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas-pen) adalah ayah/kakek ketujuh, dan dikatakan kakek yang kesepuluh. Dan apapun pendapatnya (kakek ke 7 atau ke 10-pen) maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang sholeh akan dijaga keturunannya" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/348)

Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ketujuh karena kesholehan seseorang.

Sa'iid bin Jubair rahimahullah berkata

إِنِّي لَأَزِيْدُ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِ ابْنِي هَذَا

"Sungguh aku menambah sholatku karena putraku ini"

Berkata Hiysaam, "Yaitu karena berharap agar Allah menjaga putranya" (Tahdziibul Kamaal 10/366 dan Hilyatul Awliyaa' 4/279)

Sekarang kita renungkan tentang diri kita sebagai ayah…apakah kita termasuk orang-orang sholeh…?? Banyak ibadah…?, menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat??

Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel…, tidak mau diajak sholat ke masjid…, sulit untuk menghafal al-Qur'an.., tidak mau disuruh ngaji…!!!

Bisa jadi sebabnya adalah dirinya sendiri yang tidak sholeh dan memakan atau menggunakan harta haram…sehingga dampaknya kepada anak-anaknya.

Seorang salaf berkata :

إِنِّي لَأَجِدُ أَثَرَ الْمَعْصِيَةِ فِي أَهْلِي وَدَابَّتِي

"Sungguh aku mendapati dampak buruk maksiat pada keluargaku dan tungganganku"

Akan tetapi memang bisa saja Allah menguji seorang yang sholeh dengan anak-anak yang bandel dan durhaka, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Nuuh 'alaihis salaam, demikian juga kisah tentang anak Ibnul Jauzi rahimahullah (baca kembali : "Suara Hati Ibnul Jauzi Kepada Buah Hatinya"). Akan tetapi pada asalnya bahwa jika seorang ayah sholeh maka Allah akan menjaga anak-anaknya. Wallahu a'lam bi As-Showaab.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 18-11-1434 H / 24 September 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda

sumber : http://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/526-diantara-sebab-bandelnya-anak
 

"Kisah Istri Sholehah…" (Berhak Untuk Dibaca…!!)

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

          Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin (SELESAI…)

          Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-11-1434 H / 25 September 2013 M
www.firanda.com
 

Model Raport Dalam Kurikulum 2013

Berlakunya Kurikulum 2013 tentunya membawa implikasi terhadap perubahan beberapa dokumen pendukung, seperti format silabus, RPP. Tak terkecuali dengan format buku raport. Perubahan format buku raport berkaitan dengan sistem penilaian dalam kurikulum 2013 yang mengalami penyempurnaan, karena penilaian dilakukan secara menyeluruh dari ranah sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Siswa juga diamati tentang prilaku/sikap sehari-hari oleh semua guru.

Sebagai bahan masukan kepada sekolah yang telah menerapkan kurikulum 2013, berikut ini saya sediakan contoh/model buku raport dalam kurikulum 2013.

Untuk mendapatkannya silahkan bapak/ibu klik, link/tautan dibawah ini :

CONTOH MODEL BUKU_RAPOR_SD
PETUNJUK PENGISIAN RAPOR SD
CONTOH MODEL BUKU RAPOR SMP
CONTOH MODEL BUKU RAPOR SMA
CONTOH-MODEL-RAPOR-SMA-TERBARU
CONTOH MODEL RAPOR SMK

Karena berupa contoh/model menurut saya pribadi format tersebut masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan/daerah. Jadi kita tidak perlu berdebat panjang tentang format buku raport tersebut karena implementasi pembel;ajaran didalam kelas yang sesuai dengan harapan kurikulum 2013 itu yang lebih penting. Trimakasih, semoga bermanfaat.

sumber : http://goeroendeso.wordpress.com/2013/11/08/model-raport-dalam-kurikulum-2013/
 

[Download] Model Pembelajaran Inovatif dan Menarik

Beberapa hari kemarin di wilayah dinas saya telah dilaksanakan Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Kecamatan. Beberapa peserta mengikuti kegiatan ini dan merupakan perwakilan dari beberapa Gugus Sekolah (GUSLAH). Diantara peserta sempat bertanya apa saja bentuk MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN yang menarik bagi siswa dan juga tadi pagi ada teman dunia maya saya bertanya dan menginginkan MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN sebagai bahan skripsi beliau.
Dan secara kebetulan saya memiliki beberapa contoh MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN dari jiqsaw, pengajaran sinergis,dll. File ini juga saya peroleh dari COPAS saat mengikuti beberapa diklat dan mendapatkan dari beberapa teman.
Berikut filenya yang bisa Anda downoad
Semoga bermanfaat

sumber : http://kangmartho.com/blog/download-model-pembelajaran-inovatif-dan-menarik/
 

Panduan Kurikulum 2013 SD SMP SMA

Tahun pelajaran baru 2013/2014 sudah berjalan beberapa hari, sebagai Guru dan seorang pengajar kita sudah mulai disibukkan dengan berbagai rencana pembelajaran yang akan disampaikan kepada para siswa. Pada tahun pelajaran baru ini ada dua kurikulum yang diberlakukan pemerintah yaitu kurikulum lama KTSP dan Kurikulum terbaru 2013. Tapi untuk kurikulum 2013 tidak semua sekolah pada tahun ini melaksanakannya karena masih dalam tahap uji coba di sekolah yang ditunjuk Pemerintah.


Sekolah kami bukan salah satu yang ditunjuk pemerintah untuk uji coba kurikulum 2013, sebagai seorang Guru saya penasaran seperti apa bentuk ataupun isinya, karena selama ini saya cuma mengetahui kurikulum 2013 ini dari mendengar pembicaraan para Guru dan media televisi tanah air, katanya banyak yang berubah dan ada yang dihapuskan. Awalnya tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu mengenai kurikulum ini, karena dalam hati saya nanti pasti setiap sekolah akan mendapat bimbingan cara pelaksanaan kurikulum yang baru ini kalau sudah selesai uji publik dan digunakan serentak disemua sekolah seluruh tanah air.

Sekian lama ketidaktertarikan saya untuk mencari tahu mengenai Kurikulum baru ini  menghilang setelah kemarin teman semasa kuliah Isnaini shaleh memposting mengenai panduan lengkap kurikulum 2013 di jejaring sosial. Langsung saya unduh panduan tersebut kemudian membandingkannya dengan KTSP ternyata perbedaannya sangat mencolok, ada beberapa mata pelajaran yang ditambah jam mengajarnya dan ini menurut saya sangat menguntungkan bagi guru bersertifikasi yang mempunyai kewajiban mengajar 24 jam, dan ada pelajaran yang dihilangkan seperti TIK, ini yang menjadi dilema bagi guru mata pelajaran tersebut, bagaimana nasib mereka yang pelajarannya dihapuskan pada kurikulum 2013 ini? Mungkin pemerintah punya solusi atau opsi lain bagi Guru-Guru tersebut.

Bagi bapak/Ibu Guru yang ingin mempelajari lebih jauh mengenai kurikulum 2013 ini silakan download di link pada akhir tulisan. dan perlu Bapak/Ibu ketahui jangan jadikan acuan ini sebagai satu-satunya panduan atau referensi mengenai kurikulum 2013.
sumber : http://bingka.wordpress.com/2013/07/24/panduan-kurikulum-2013-sd-smp-sma/
 

DOWNLOAD MY SISTER 2012 FULL SOFTWARE ADMINISTRASI SEKOLAH


Free Download SoftwareMy Sister 2012 merupakan aplikasi terpadu administrasi sekolah. Secara keseluruhan My Sister 2012 memiliki fitur-fitur sebagai berikut.
  • Administrasi Guru dan Siswa
  • Administrasi Perpustakaan
  • Administrasi Keuangan Sekolah
  • Administrasi Pembayaran Administrasi
  • Aplikasi Pengolah Nilai
  • Aplikasi Database Sekolah
  • Aplikasi Bimbingan Konseling
  • Aplikasi Absensi Siswa dan Guru
  • Dan Aplikasi Lainnya

Secara keseluruhan software ini sangat bagus untuk mengelola administrasi di sekolah. Software ini merupakan software berbayar, tapi teman-teman dapat mendownload gratis pada link yang telah saya sediakan.

Atau download My Sister 2011 Full DI SINI (11 MB)
Untuk manual book/buku panduan My Sister 2011 bisa download DI SINI 
Semoga Bermanfaat !!!

Keterangan:
Saat download teman-teman akan diarahkan ke adf.ly, tunggu 5 detik, kemudian klik SKIP AD

sumber : http://sauqy85.blogspot.com/2012/04/download-my-sister-2012-full-software.html
 

Aplikasi Raport Siswa (G-RAPORT)

FILE RAPORT DIUPDATE TERAKHIR PADA TANGGAL 14 SEPTEMBER 2013


Besarnya antusias dan kepercayaan para wali kelas dengan kualitas G-Raport membuat kami yakin bahwa G-Raport adalah salah satu Aplikasi Pembuat Raport yang menjanjikan sebuah kemudahan bagi Sekolah. Tidak butuh terlalu banyak waktu dan perhatian dalam menjalankan aplikasi program ini, cukup perhatikan dan baca panduan kerjanya di jamin semua pengguna langsung dapat mengerti.

G-Raport versi 5.0 adalah perbaharuan ke 5 dari G-Raport (Perbaharuan terakhir pada tanggal 14 September 2013). G-Raport memliki beberapa fitur-fitur tambahan yang dibutuhkan oleh wali kelas. Fitur-fitur tersebut diantaranya :
  • wali kelas bisa menambah, menghapus dan mengedit data mata pelajaran, organisasi, dan ekskul.
  • transfer data siswa dari excel untuk mempermudah pengisian data siswa,
  • import nilai dari excel, untuk mempercepat pengisian nilai.
  • gunakan atau tidak nilai merah,
  • tampilkan atau tidak ranking siswa,
  • pengaturan batas ranking/peringkat yang ingin ditampilkan,
  • menggunakan ranking desimal atau ranking romawi,
  • beberapa font laporan,
  • backup data,
  • bisa mencetak raport per siswa atau satu kelas sekaligus, atau atur sesuai keinginan.
  • fitur-fitur tambahan untuk mempermudah pengisian data raport seperti catatan wali kelas, nilai kepribadian siswa,
  • akurasi data lebih terjamin, dan masih banyak fitur-fitur yang dapat mempermudah dalam pembuatan raport,
  • dan masih banyak lagi fitur-fitur yang membantu dalam pembuatan raport siswa.
G-Raport menghasilkan 6 lembar laporan, yaitu : Cover, Data Siswa, Nilai Mata Pelajaran, Ketercapaian KKM, Pengembangan diri, dan Daftar Nilai Siswa (leger).
Untuk tambahan ada juga lembar Laporan Urutan Ranking siswa jika ingin dicetak.
Untuk mencoba Program G-Raport anda bisa download Software Contoh G-Raport dan contoh data backup di link di bawah ini (Ukuran file hanya 2,3 MB) : 

Aplikasi ini sudah digunakan oleh ratusan sekolah di indonesia.
Daftar 20 Sekolah Pertama Pengguna G-RAPORT :


  1. MTs. NURUL HUDA NW GONDANG (NTB)
  2. SMA NEGERI 1 GANGGA (NTB)
  3. SMA NEGERI 1 BAYAN (NTB)
  4. SMP NEGERI 2 BAYAN (NTB)
  5. SMP NEGERI 3 BAYAN (NTB)
  6. MTs HUBBULWATHAN (RIAU)
  7. MADRASAH ALIYAH DARUL ARKAM (MAKASAR - SULAWESI SELATAN)
  8. PONPES SALAFIYAH ULA AL AMIN (PAKET A) (KALIMANTAN TENGAH)
  9. SD KALAM KUDUS (BALI)
  10. SD NEGERI 1 SIDOREJO (KALIMANTAN TENGAH)
  11. SMA KATOLIK SURIA ATAMBUA (NTT)
  12. SMA NEGERI 1 BATU ENGAU (KALIMANTAN TIMUR)
  13. SMA NEGERI 1 BUNYU (KALIMANTAN UTARA)
  14. SMA NEGERI 1 MARANGKAYU (KALIMANTAN TIMUR)
  15. SMA NEGERI 1 PASIR BELENGKONG (KALIMANTAN TIMUR)
  16. SMA NEGERI 2 KUMAI (KALIMANTAN TENGAH)
  17. SMA NEGERI 2 PANDIH BATU (KALIMANTAN TENGAH)
  18. SMA NEGERI 3 KABUPATEN TEBO (JAMBI)
  19. SMA NEGERI 4 BEKASI (JAWA BARAT)
  20. SMA SEKOLAH TUNAS INDONESIA (BINTARO - TANGERANG SELATAN)
  21. dan yang lainnya....
Semoga Membantu.
sumber : http://mustilan.blogspot.com/2011/11/aplikasi-raport-siswa-g-raport.html
 

# LUPA KEMATIAN | Indikasi Kedunguan !!! #

Setiap yang menangis… suatu saat ia akan ditangisi…
Setiap yang meratapi… suatu saat ialah yang akan diratapi…
Akan tetapi kapan..? dan dimana…?

Jika setiap kita tahu kapan dan dimana kita akan meninggal maka perkaranya lebih mudah untuk mempersiapkan diri…akan tetapi….tidak ada yang mengetahui…

Betapa banyak orang yang pagi hari tertawa, di sore hari iapun ditangisi…

Temanku…di malam hari ia menyolatkan bibinya dan menguburkan bibinya di pekuburan Baqi'…ternyata subuhnya ia yang disholatkan dan dikuburkan di Baqi'…

Janganlah sampai kita lupa …
"Kita dilahirkan… untuk menuju kematian…",
"Kita tinggal… untuk meninggal…"

Orang-orang hebat…para penguasa dunia….ternyata hanya tinggal berita dan kenangan…harta dan kekuasaan yang mereka miliki tak kuasa untuk mengkekalkan mereka…

Ibnu Umar berkata :
فأي المؤمنين أكيس قال أكثرهم للموت ذكرا وأحسنهم لما بعده استعدادا أولئك الأكياس
"Wahai Rasulullah orang mukmin mana yang paling cerdas?". Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya untuk akhirat, mereka itulah orang-orang cerdas" (HR Ibnu Maajah no 4249, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani, lihat juga As-Shahihah no 1384)

Benar… dialah mukmin yang cerdas, yang tahu bahwasanya ia tidak tahu kapan meninggalnya dan dimana?, maka iapun selalu mengingat hari perpisahan tersebut…hari tangisan tersebut…, ia tidak tahu apakah ia mendapatkan husnul khotimah ataukan meninggal dalam kondisi bermaksiat..??, ia selalu mempersiapkan diri…ini sungguh orang yang cerdas.

Adapun orang yang dungu adalah orang yang pura-pura lupa bahwa ia tidak tahu kapan meninggal dirinya…lantas ia tidak mempersiapkan dirinya… ia berusaha melupakan hari perpisahan tersebut dengan menghabiskan waktunya untuk menikmati dunia sepuas-puasnya…sungguh ini adalah orang yang dungu…
Namun ia tetap tidak akan bisa lari dari kematian…

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٨)
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS Al-Jumu'ah )

Anda orang cerdas ataukah orang dungu….? semakin sering mengingat kematian semakin cerdaslah anda, semakin lalai dari kematian semakin dungulah anda…ukurlah kedungan kita masing-masing !!!

By: Ust. Firanda Andirja


 

Mempergauli Manusia dengan Akhlak yang Baik

Ini ditunjukkan oleh sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
“…si mukmin berkata, “Inilah yang akan membinasakanku…” Barang siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, hendaklah ia mendatangi kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat dan hendaklah ia berinteraksi dengan manusia (dengan akhlak) yang ia suka diperlakukan dengannya…” (HR. Muslim) [1]

Hendaklah ia bergaul dengan orang lain dengan akhlak yang mulia sebagaimana ia suka dipergauli oleh manusia dengan akhlak yang mulia. Hendaklah ia berlemah lembut kepada orang lain sebagaimana ia suka orang-orang bersikap lemah lembut kepadanya. Hendaklah ia bertutur kata yang sopan kepada orang lain sebagaimana ia suka orang lain bertutur kata yang sopan kepadany dan seterusnya.

Lalu, akhlak mulia apakah yang dibutuhkan oleh manusia yang hidup di akhir zaman ini? Semua akhlak mulia amat baik untuk kehidupan manusia, namun ada beberapa akhlak yang sangat penting kita perhatikan di akhir zaman ini. Perhatikanlah hadis yang disampaikan oleh seorang shahabat yang mulia yang bernama Al Mustaurid Al Qurasyi, ia berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَقُومُ السَّاعَةُ وَالرُّومُ أَكْثَرُ النَّاسِ فَقَالَ لَهُ عَمْرٌو أَبْصِرْ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . قَالَ لَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ إِنَّ فِيهِمْ لَخِصَالًا أَرْبَعًا إِنَّهُمْ لَأَحْلَمُ النَّاسِ عِنْدَ فِتْنَةٍ وَأَسْرَعُهُمْ إِفَاقَةً بَعْدَ مُصِيبَةٍ وَأَوْشَكُهُمْ كَرَّةً بَعْدَ فَرَّةٍ وَخَيْرُهُمْ لِمِسْكِينٍ وَيَتِيمٍ وَضَعِيفٍ
“Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari kiamat terjadi dan kaum Romawi pada waktu itu orang yang paling banyak jumlahnya.” Amru berkata, “Coba tinjau kembali apa yang engkau katakan tadi!” Ia berkata, “Aku menyampaikan apa yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Amru berkata kepadanya, “Jika engkau berkata demikian, sesungguhnya orang-orang Romawi itu mempunyai empat perangai: Mereka adalah manusia yang paling halim ketika terjadi fitnah, yang paling cepat sadar setelah datangnya musibah, yang paling cepat kembali setelah kalah, yang paling baik kepada anak yatim, orang miskin, dan lemah.” (HR Muslim)[2]

Amru bin Al ‘Ash menyebutkan perangai-perangai yang baik yang ada pada mereka bukan sebagai pemberian loyalitas dan pujian untuk mereka namun beliau hanya menyebutkan sebab-sebab terbesar mengapa mereka menjadi orang yang paling banyak jumlahnya pada saat tegaknya hari kiamat, dan empat perangai ini termasuk akhlak yang diperintahkan oleh Islam, maka kaum musliminlah yang seharusnya paling berhak untuk bersifat dengannya. Dan boleh jadi hadis ini mengabarkan bahwa mereka akan masuk Islam di akhir zaman. Wallahu a’lam.

Bila empat perangai yang indah ini diiringi dengan aqidah yang lurus dan keimanan yang kokoh kepada Allah dan Rasul-Nya pasti akan menimbulkan kekuatan yang dahsyat bagi kaum muslimin, oleh karena itu kita akan sedikit menjelaskan empat perangai ini agar dapat kita amalkan:

  1. a.      Bersifat Halim ketika Terjadi Fitnah
Sifat halim adalah sifat yang dicintai oleh Allah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Al Asyaj Abdul Qais:
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ
Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai oleh Allah yaitu Al Hilmu dan Al Anah.” (HR. Muslim)[3]

Syaikh Shalih bin Ghanim As Sadlan berkata menjelaskan hakikat sifat halim: “Definisinya adalah menahan diri ketika emosi meledak, dan sesuatu yang dapat mendorong kita untuk menahan diri adalah sifat kasih sayang kepada orang yang bodoh, dada yang lapang, menjauhi caci maki, dan cita-cita yang tinggi. Maka orang yang mempunyai akal pikiran yang lurus dan keperibadian yang dewasa selayaknya mengimbangi ledakan emosi dengan sifat halim dan sabar sehingga ia akan bahagia mendapatkan akibat yang baik.

Dan sikap manusia berbeda-beda dalam menghadapi peristiwa yang memancing emosi, di antara mereka ada yang mudah emosi dan tergesa-gesa, dan di antara mereka ada yang tenang tidak terpancing keadaan yang amat panas sekalipun. Yang pertama adalah orang yang bodoh dan yang kedua adalah orang yang terjaga dengan kebeningan pikiran dan keperibadian yang kuat, dan itu tidak akan bisa diraih kecuali apabila kedewasaan akal dapat meredam emosi yang liar.
Inilah nasihat-nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar meniti tujuan yang mulia, bahkan fenomena ringannya akal dan sikap tergesa-gesa adalah fenomena yang menyimpang dari bimbingan Alquran..”[4]

  1. b.      Cepat Sadar Setelah Datangnya Musibah
Musibah yang menimpa seorang mukmin membangunkan hatinya yang bercahaya dengan cahaya iman. Ia segera introspeksi diri mempelajari sebab-sebab terjadinya musibah, dan berusaha memperbaiki diri dengan cara kembali kepada Allah dan taubat yang nasuha, karena musibah itu datang akibat ulah manusia:
  وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ
Dan tidaklah ada musibah yang menimpamu kecuali akibat perbuatan tangan-tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa : 30).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan bahwa tidaklah Allah menimpakan musibah kepada hamba pada badan, harta dan anak-anak mereka dan pada apa yang mereka cintai kecuali disebabkan oleh perbuatan buruk mereka…”[5]

Perhatikanlah kemudian renungkan ayat ini, di negeri ini berbagai macam musibah datang mendera; tsunami, gempa bumi, banjir bandang, kaum muslimin dibunuhi dan dilecehkan dan berbagai macam musibah lainnya seakan tak henti-henti menerpa, dan Allah tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya sedikit pun namun merekalah yang berbuat zalim. Maka hamba yang hatinya masih ada secercah cahaya kehidupan segera terhentak sadar dan memahami bahwa semua ini adalah sebagai peringatan untuk umat Islam agar segera kembali kepada Allah.

Namun sayang sekali banyak manusia yang telah keras hatinya, tak bermanfaat baginya peringatan dan musibah, bahkan ia semakin berburuk sangka kepada Rabbnya, sampai kapankah wahai kaum muslimin kita terus tenggelam dalam kelalaian?? Apakah sampai adzab Allah datang?!

وَمَامَنَعَ النَّاسَ أَن يُؤْمِنُوا إِذْجَآءَهُمُ الْهُدَى وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلآأَن تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ اْلأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلاً
Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia dari beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampun kepada Rabbnya kecuali keinginan menanti datangnya hukuman Allah yang berlaku pada umat-umat yang dahulu atau datangnya adzab atas mereka dengan nyata.” (QS. Al Kahfi : 55).

  1. c.       Cepat Kembali Setelah Kalah
Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda bagi orang yang berakal dan beriman. Ia adalah pengalaman yang berharga dan pelajaran emas dalam kehidupan. Dahulu di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kaum muslimin pernah tertimpa kekalahan dalam dua peperangan yaitu Perang Uhud di putaran kedua dan Perang Hunain di putaran pertama, dua kejadian ini Allah abadikan dalam Alquran agar menjadi pelajaran yang berharga bagi mereka bahwa kekalahan itu adalah akibat menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Pertama: Kisah kekalahan kaum muslimin di perang uhud, apakah sebabnya wahai saudaraku? Sebabnya adalah karena sebagian pasukan pemanah tidak mau menaati perintah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam agar jangan turun baik dalam keadaan menang maupun kalah. Ternyata ketika kaum muslimin meraih kemenangan di awal peperangan, tergiurlah sebagian pasukan pemanah, lalu mereka pun turun untuk ikut mengambil ghonimah, akan tetapi apakah yang terjadi? Pasukan kaum musyrikin berputar membokong kaum muslimin dari arah bukit pertahanan pasukan pemanah, sehingga kaum muslimin menderita kekalahan. Maka Allah abadikan kejadian tersebut dalam Alquran agar dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.
Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمَّآأَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya kekalahan ini?” Katakanlah: “Itu dari kesalahan dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 165)

Allah tidak menyandarkan kekalahan kaum muslimin akibat kekuatan persenjataan kaum musyrikin dan banyaknya jumlah mereka, akan tetapi Allah menyandarkan kekalahan akibat perbuatan kaum muslimin itu sendiri.

Jadi ayat ini adalah pelajaran berharga bagi kita bahwa sebab utama kehinaan kaum muslimin dewasa ini bukan karena kecanggihan persenjataan musuh dan hebatnya taktik dan tipu muslihat mereka, akan tetapi karena kaum muslimin itu sendiri yang banyak menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Tidakkah engkau lihat kenyataan pahit yang tersaksikan oleh mata kepala; bagaimana kesyirikan, perdukunan, mistik, bid’ah, khurofat, dan kemaksiatan merajalela?!!

Maka menerangkan sunah dan bid’ah, tauhid dan syirik kepada umat adalah jalan satu-satunya menuju kejayaan umat Islam. Sehebat apapun rencana busuk orang-orang kafir tidak akan memberikan kemudlorotan kepada kaum muslimin selagi mereka bersabar dalam menjalani ketaatan dan bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman:

إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak akan mendatangkan kemodloratan kepadamu, sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120)

Ibnu Katsir berkata, “Allah memberikan bimbingan kepada mereka kepada jalan keselamatan dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu muslihat orang-orang yang fajir dengan cara menggunakan kesabaran, taqwa dan tawakkal kepada Allah yang meliputi musuh-musuh mereka, karena tidak ada daya dan upaya kecuali dengan idzin Allah.”[6]

Kedua: Kisah kekalahan kaum muslimin di Perang Hunain di awal perang, akibat dari sebagian kaum muslimin yang merasa bangga dengan jumlah yang banyak, sehingga Allah timpakan kepada mereka kekalahan akibat perbuatan tersebut. Lalu Allah mengabadikan kisah tersebut dalam Alquran, Allah berfirman,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مًّدْبِرِينَ
“…dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai berai.” (QS. At Taubah : 25)

Allahu Akbar! Hanya karena merasa bangga dengan jumlah yang banyak kaum muslimin kalah! Bagaimana jadinya bila kaum muslimin berbuat syirik, bid’ah, perdukunan, dan maksiat besar lainnya?!! maka jadikanlah semua itu sebagai pelajaran penting bagi kita, dan pelajaran itu bermanfaat untuk orang-orang yang beriman.

Kedua ayat tadi sangat sepadan dengan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَإِنَّمَا أهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلىَ أنْبِيَائِهِمْ
“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-Nabi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim dan ini lafadz Muslim).[7]
Dan para shahabat adalah orang yang paling cepat kembali setelah kalah, mereka segera intropeksi diri dan mempelajari sebab-sebab kesalahan untuk diperbaiki dan segera bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang mereka lakukan, demikianlah seharusnya kita meniru mereka.

  1. d.      Berbuat Baik kepada Orang-Orang yang Lemah
Berbuat baik kepada orang yang lemah adalah sebab datangnya rezeki dan pertolongan Allah Ta’ala, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ
Carilah aku (dengan memperhatikan) orang-orang yang lemah, sesungguhnya kamu diberi rezeki dan pertolongan melalui orang-orang lemah kalian.” (HR. Abu Dawud)[8]

Islam memerintahkan umatnya untuk memperhatikan orang-orang yang lemah dan memberikan pahala yang besar bagi mereka yang melakukannya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَكَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ
Orang yang membantu para janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah, dan seperti orang yang terus menerus shalat malam dan puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)[9]

Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Barang siapa yang tidak mampu berjihad di jalan Allah dan lemah untuk shalat malam dan berpuasa di waktu siang hendaklah ia mengamalkan hadis ini; hendaklah ia memberi keluasan rezeki kepada para janda dan orang-orang miskin agar ia dikumpulkan bersama orang-orang yang berjihad di jalan Allah tanpa harus bertemu musuh, dan agar dikumpulkan bersama orang-orang yang selalu berpuasa dan shalat malam padahal ia makan di waktu siang dan tidur di malam hari.

Maka hendaklah setiap muslim bersungguh-sungguh melakukan perniagaan yang tak akan pernah rugi ini dengan membantu kehidupan para janda dan orang-orang miskin karena mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala sehingga ia mendapatkan keuntungan dalam perniagaannya dengan diberikan derajat Mujahidin, orang yang selalu berpuasa dan shalat malam tanpa harus bersusah payah, dan itu adalah keutamaan yang Allah berikan kepada siapa yang Ia kehendaki.”[10]

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang memperhatikan anak yatim, beliau bersabda,
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
Aku dan orang yang menanggung anak yatim di dalam surga seperti ini, beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan melebarkan sedikit antara keduanya.” (HR. Bukhari).[11]

[1] Muslim 3:1472 no.1844.
[2] Muslim 4:2222 no.2898.
[3] Muslim 1:48 no 76.
[4] Arba’un haditsan, Hal 12.
[5] Taisir Al Karimrrahman, Hal. 705. Cet. Muassassah Risalah.
[6]Tafsir Ibnu Katsir 2:77 Tahqiq Hani Al Haaj.
[7] Bukhari no.7288 dan Muslim 2:975 no.1337.
[8] Lihat Silsilah Shahihah, no.779.
[9] Bukhari no.6006 dan Muslim 4:2287 no.2982.
[10] Ibnu Bathal, Syarah Shahih Bukhari, 9:218 tahqiq Abu Tamim Yasir bin Ibrahim.
 

9 Orang Yang Tidak akan Diajak Bicara Oleh Allah

Allah akan mengajak bicara hamba-hambaNya kelak pada hari kiamat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ
“Tidak ada seorangpun dari kamu kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya ‘Azza wa Jalla tanpa ada penterjemah antara ia dan Allah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
Namun diantara hambaNya ada yang diajak bicara oleh Allah dengan keras dan penghinaan, akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan. Allah tidak melihat mereka dengan penglihatan kasih sayang, namun dengan kemurkaan. Tentu orang seperti ini akan mendapat adzab yang pedih. Na’udzu billah min dzalik.
Lalu siapakah mereka yang tidak diajak bicara oleh Allah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan dalam empat hadits tentang mereka. Yaitu:
 ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka tidak juga mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda demikian tiga kali. Abu Dzarr berkata, “Merugi sekali, siapa mereka wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Musbil (orang yang memakai kain melebihi mata kakinya), dan orang yang selalu mengungkit pemberiannya, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim).
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ – قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ – وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِر
“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak akan mensucikannya.. Abu Mu’awiyah berkata, “Dan Tidak akan dilihat oleh allah.” Dan bagi mereka adzab yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim).
ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالْفَلاَةِ يَمْنَعُهُ مِنِ ابْنِ السَّبِيلِ وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ لَهُ بِاللَّهِ لأَخَذَهَا بِكَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ وَهُوَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا وَفَى وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا لَمْ يَفِ
“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka tidak juga mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Seseorang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir, namun ia mencegahnya dari ibnussabil yang membutuhkannya. Dan orang yang berjual beli dengan orang lain di waktu ‘Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia mengambilnya segini dan segini, lalu orang itu mempercayainya padahal tidak demikian keadaannya. Dan orang yang membai’at pemimpinnya karena dunia, bila ia diberi oleh pemimpin ia melaksanakan bai’atnya, dan bila tidak diberi maka ia tidak mau melaksanakan bai’atnya.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ رَجُلٌ حَلَفَ عَلَى سِلْعَةٍ لَقَدْ أَعْطَىَ بِهَا أَكْثَرُ مِمَّا أَعْطَى وَهُوَ كَاذِبٌ وَرَجُلٌ حَلَفَ عَلَى يَمِيْنٍ كَاذِبَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ رَجُلٍ مُسْلِمٍ وَرَجُلٌ مَنَعَ فَضْلَ مَاءٍ فَيَقُوْلُ اللهُ الْيَوْمَ أَمْنَعُكَ فَضْلِيْ كَمَا مَنَعْتَ فَضْلَ مَا لَمْ تَعْمَلْ يَدَاكَ (رواه البخاري)
“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, dan Allah tidak akan melihat mereka, yaitu orang yang bersumpah untuk (melariskan) dagangannya bahwa ia telah memberi (harga) lebih banyak dari (harga) yang ia berikan padanya, padahal ia berdusta. Dan orang yang bersumpah palsu setelah ‘Ashar untuk mengambil harta milik seorang muslim. Dan orang yang mencegah kelebihan airnya, maka Allah akan berfirman, “Hari ini aku akan mencegah karuniaKu kepadamu sebagaimana kamu dahulu pernah mencegah kelebihan air yang bukan usaha tanganmu.” (HR Al Bukhari).
Dari empat hadits di atas, kita dapati ada sembilan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat dan disucikan, dan baginya adzab yang pedih, yaitu:
1. Orang yang memakai kain melebihi mata kaki (musbil).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang isbal dalam hadits yang banyak, namun sebagian orang ada yang mempunyai pendapat yang tidak tepat, yaitu bahwa larangan berbuat isbal itu bila disertai dengan kesombongan, berdasarkan hadits:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang menyeret kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.” (HR Al Bukhari dan Muslim).
Dan hadits Abu Bakar Ash Shiddiq:
عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة ) . قال أبو بكر يا رسول الله إن أحد شقي إزاري يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( لست ممن يصنعه خيلاء )
“Dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyeret kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, sesuangguhnya salah satu bagian kainnya melorot tetapi aku berusaha untuk menjaganya (agar tidak melebihi mata kaki).” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau tidak melakukannya karena sombong.” (HR Al Bukhari).
Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits ini mengikat kemutlakan larangan isbal, artinya bahwa isbal itu dilarang bila disertai kesombongan, namun bila tidak disertai kesombongan maka hukumnya boleh.
Inilah fenomena kedangkalan dalam pemahaman. Karena bila kita perhatikan hadits Abu bakar di atas, tampak kepada kita bahwa Abu bakar tidak melakukan itu dengan sengaja, oleh karena itu Nabi menyatakan bahwa Abu bakar tidak melakukannya karena sombong. Ini menunjukkan bahwa orang yang melorotkannya dengan sengaja melebihi mata kakinya adalah orang yang sombong walaupun pelakunya mengklaim dirinya tidak sombong. Karena isbal itu sendiri adalah kesombongan sebagaimana dalam hadits:
وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّ إِسْبَالَ الْإِزَارِ مِنْ الْمَخِيلَةِ
“Jauhilah olehmu isbal (memakai kain melebihi mata kaki), karena isbal itu termasuk kesombongan”. (HR Abu dawud).[1]
Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah berkata, “Isbal itu berkonsekwensi kepada menyeret kain, dan menyeret kain itu berkonsekwensi kepada kesombongan walaupun orang yang melakukannya tidak bermaksud sombong.” (Fathul Baari 10/275).
Imam Ibnul ‘Arobi Al maliki rahimahullah berkata, “Tidak boleh bagi seorangpun untuk memakai kain melebihi mata kakinya dan berkata, “Aku tidak sombong.” Karena larangan isbal telah mencakupnya secara lafadz dan illatnya.” (‘Aridlotul Ahwadzi 7/238).
Jadi klaim bahwa larangan isbal itu diikat dengan kesombongan adalah pendapat yang ganjil dan aneh, karena isbal itu sendiri sudah termasuk kesombongan walaupun pelakunya tidak bermaksud sombong sebagaimana yang katakan oleh Al Hafidz ibnu hajar tadi. Terlebih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingkari beberapa shahabat yang kainnya melebihi mata kaki tanpa bertanya, “Apakah kamu melakukannya karena sombong?” diantaranya adalah hadits ibnu Umar ia berkata:
مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَفِى إِزَارِى اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ « يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ ». فَرَفَعْتُهُ ثُمَّ قَالَ « زِدْ ». فَزِدْتُ فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ.  
“Aku melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara kainku melorot. Beliau bersabda, “Wahai Abdullah, angkat kainmu.” Akupun mengangkatnya. Beliau bersabda, “Tambah!” Akupun menambah (mengangkat)nya. Semenjak itu aku selalu menjaganya.” (HR Muslim).
Dari ‘Amru bin Syariid dari ayahnya berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَ رَجُلًا مِنْ ثَقِيفٍ حَتَّى هَرْوَلَ فِي أَثَرِهِ حَتَّى أَخَذَ ثَوْبَهُ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ وَاتَّقِ اللَّه قَالَ فَكَشَفَ الرَّجُلُ عَنْ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَحْنَفُ وَتَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengikuti seseorang dari Tsaqif sehingga beliau berjalan dengan cepat lalu beliau memegang bajunya dan bersabda, “Angkat kainmu! bertakwalah kamu kepada Allah” Lalu orang itu membuka kedua lututnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku ahnaf (yang berkaki bengkok berbentu X), dan kedua lututku beradu.” Beliau bersabda, “Setiap ciptaan Allah Azza wa Jalla itu indah.” (HR Ahmad dan lainnya).[2]
Lihatlah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya terlebih dahulu apakah kamu sombong atau tidak? Ternyata tidak. Ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan isbal dengan sengaja adalah orang yang sombong walaupun pelakunya merasa tidak sombong.

2. Orang yang suka mengungkit pemberiannya.
Mengungkit pemberian adalah perkara yang dapat membatalkan amal, Allah Ta’ala berfirman:
ياأيها الذين ءامنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى كالذي ينفق ماله رئاء الناس ولا يؤمن بالله واليوم الأخر
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan mengungkit dan menyakiti, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya ingin dilihat manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.” (Al baqarah: 264).
Hendaklah seorang muslim bertakwa kepada Allah dan tidak mengungkit kebaikan-kebaikannya kepada orang lain, baik kepada teman, anak, atau kaum fuqoro. Karena pemberiannya itu adalah untuk kebaikan dirinya sendiri dan pahala untuk persiapan menuju kematiannya.

3. Orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.
Melariskan dagangan dengan sumpah dusta adalah modal orang-orang yang bangkrut dan mencabut keberkahan dagangannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Dua orang yang sedang berjual beli itu punya khiyar (pilihan) selama keduanya belum berpisah, jika keduanya jujur dan menjelaskan maka jual belinya akan diberkahi. Dan jika keduanya menyembunyikan (aib) dan berdusta maka akan dicabut keberkahannya.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

4. Orang tua yang berzina.
5. Raja yang suka berdusta.
6. Orang miskin yang sombong.
Tiga orang ini amat memalukan, karena tidak ada sesuatu yang mendorong mereka melakukan hal tersebut. Ini menunjukkan kepada tabiat yang buruk dan sengaja ingin berbuat maksiat. Al Qadli ‘Iyadl rahimahullah berkata:
خصص المذكورون بالوعيد لان كلا منهم التزم المعصية مع عدم ضرورته إليها وضعف داعيتها عنده فأشبه إقدامهم عليها المعاندة والاستخفاف بحق الله وقصد معصيته لا لحاجة غيرها فإن الشيخ ضعفت شهوته عن الوطء الحلال فكيف بالحرام وكمل عقله ومعرفته لطول ما مر عليه من الزمان …والامام لا يخشى من أحد وإنما يحتاج إلى الكذب من يريد مصانعة من يحذره والعائل قد عدم المال الذي هو سبب الفخر والخيلاء فلماذا يستكبر ويحتقر غيره ؟
“Mereka dikhususkan dengan ancaman, karena mereka berpegang kepada maksiat padahal tidak ada perkara yang mendorongnya, dan pendorongnya amat lemah. Ini menunjukkan bahkan perbuatan mereka itu karena ‘ienad (menentang) dan meremehkan hak Allah dan tujuannya hanya untuk berbuat maksiat bukan karena ada sesuatu yang lain.
Orang yang telah tua renta telah lemah syahwatnya untuk menjimai yang halal terlebih yang haram, ia telah sempurna akal dan pengetahuannya karena telah banyak makan garam… Seorang raja tidak perlu takut kepada siapapun, karena dusta biasanya dilakukan agar terhindar dari keburukan orang yang ia takuti. Dan orang fakir tidak punya harta yang merupakan sebab kesombongan dan keangkuhan, lantas mengapa ia sombong dan menganggap remeh orang lain? (Ad Diibaaj syarah shahih Muslim 1/122).

7. Orang yang bersumpah palsu di waktu ashar untuk mengambil harta muslim dengan tanpa hak.
Perbuatan ini berkumpul tiga keburukan, yaitu bersumpah palsu, dilakukan di waktu yang mulia yaitu waktu ashar, dan mengambil harta muslim. Sumpah palsu sendiri adalah termasuk dosa besar, dan menjadi lebih besar lagi bila dilakukan di waktu yang mulia, dan waktu ashar adalah waktu yang mulia di sisi Allah. Berdasarkan hadits ini dan dalil lainnya.
Bagaimana jadinya bila ternyata disertai mengambil harta muslim, padahal harta seorang muslim itu haramnya sama dengan keharaman bulan haram di negeri yang haram dan di hari yang mulia (Arofah). Sebagaimana dalam hadits:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas kalian seperti keharaman hari ini, di bulan ini dan di negeri ini.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

8. Orang yang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir, namun mencegahnya dari orang yang membutuhkannya.
Perbuatan ini akibat kekikiran yang sangat sehingga mencegah ia untuk memberikan kelebihan air kepada ibnussabil yang amat membutuhkannya. dan sifat kikir itu seringkali menimbulkan perbuatan yang dimurkai oleh Allah Azza wa jalla, dalam hadits:
إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخَلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا
“Jauhilah Syuhh (kikir yang sangat), sesungguhnya syuhh membinasakan orang-orang sebelum kalian. Syuhh menyuruh mereka untuk bakhil, menyuruh untuk untuk memutuskan tali silaturahim, dan menyuruh untuk berbuat kejahatan, merekapun melakukannya.” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani).

9. Orang yang membai’at pemimpin karena dunia.
Membai’at pemimpin yang sah adalah perkara yang diperintahkan oleh islam. Kewajiban rakyat adalah mentaati pemimpinnya dengan penuh keikhlasan karena mengharap keridlaanNya. Orang yang membai’at pemimpinnya dengan ikhlas, ia akan menjalankan hak pemimpinnya walaupun ia tidak diberi, bahkan walaupun ia dizalimi. Sebagaimana dalam hadits:
يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قُلْتُ : كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ :« تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ
“Akan ada setelahku pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku, dan akan ada pemimpin yang hatinya bagaikan hati setan pada tubuh manusia.” Aku berkata, “Apa yang harus aku lakukan wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun tubuhmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah mendengar dan taat.” (HR Muslim).
Membai’at karena dunia adalah sumber fitnah. Sebab orang yang demikian tidak akan mau mentaati pemimpin jika ia tidak diberi harta atau kedudukan. Bahkan ia akan berusaha dengan berbagai cara untuk memburukkan pemimpinnya karena ia tidak diberi. Seperti yang terjadi di zaman ini, terutama dari kalangan wartawan yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka.



[1] Lihat shahih Jami’ Ash Shaghier no 98.
[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 1441.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger