AMIR BTN ABDILLAH AT-TAMIMI

"Puncak  orang yang zuhud ada delapan orang dan yang terdepan
adalah  Amir bin  Abdillah  At-Tamimi."
(Alqamah bin Martsad)

Sekarang  kita berada di  tahun 14H. Saat  di mana para pembimbing generasi  dan guru  utama di kalangan  para sahabat dan  senior tabi'in  membuat perbatasan  kota Bashrah atas perintah khalifah muslimin  Umar bin  Khathab Radhiyallahu ‘Anhu.

Mereka bertekad  untuk membangun kota  baru sebagai  markas  bagi pasukan kaum muslimin untuk  berperang  di  negeri  persi. Sekaligus sebagai  titik  tolak untuk berdakwah ilallah ,  serta  sebagai  menara untuk meninggikan kalimat Allah di muka  bumi.

Di kota ini kaum murslimin  dari  segala  penjuru Jazirah  Arab, ada yang dari Najd, Hijaz dan Yaman  berkumpul untuk menjaga  perbatasan daerah kaum muslimin. Di  antara yang  turut  berhijrah tersebut terdapat  pemuda Najed  dari Banitamim yang  dipanggil dengan  nama Amir bin  Abdillah At-Thmimi Al-Anbari. Usianya  masih  remaja,  masih lunak kulitnya, putih wajahnya,  suci  jiwanya dan  takwa hatinya.

Kendati masih  berstatus  baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya di negeri  kaum muslimin dan paling melimpah hartanya,  karena  tertumpuk di dalamnya   hasil ghanimah perang  dan  tambang  emas  murni.

Namun begitu,  bagi  pemuda  dari BaniTarnim  ini hal  itu bukanlah yang dia cari. Beliau dikenal zuhud  terhadap  apa yang dimiliki  manusia,  berharap terhadap  apa yang ada di  sisi Allah, berpaling dari dunia  dan perhiasannya, menghadapkan  jiwanya  kepada Allah  dan keridhaan-Nya.

=== {0=0=0} ===

Ketika itu pemuka Bashrah  adalah seorang  sahabat  agung Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu ‘Anhu -semoga Allah  meridhainya  dan menjadikan wajahnya berseri di  jannah-Nya. Beliau  adalah  wali kota Bashrah  yang bercahaya. Beliau  juga panglima perang kaum muslimin yang berasal  dari Bashrah setiap  kali menghadapi musuh. Beliau  adalah  imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya  menuju ke  jalan Allah .

=== {0=0=0} ===

Kepada Abu Musa Al- Asy'ari inilah Amir  bin Abdiilah  berguru. Baik dalam kondisi perang maupun  damai. Aktif  menemani beliau setiap menempuh  perjaianan, meneguk  ilmu  darinya  tentang Kitabullah  yang masih segar seperti tatkala diturunkan  di  hati Muhammad. Juga  mengambil  hadits shahih  yang  bersambung  hingga Nabi yang mulia. Beliau menuntut  ilmu  tentang agama Allah  di hadapan Abu Musa Al-Asy'ari.
=== {0=0=0} ===

Setelah  beliau menyemprurnakan  ilmu  sesuai  yang dikehendaki, maka beliau membagi hidupnya  menjadi  tiga bagian.

Bagian pertama adalah untuk  halaqah dzikir  di masjid Bashrah yang di sana dibacakan dan diajarkan Al-Qur'an kepada manusia.

Kedua, beliau pergunakan untuk mengenyam manisnya  ibadah, beliau pancangkan kedua  kakinya  berdiri  di  hadapan Allah hingga letih  kedua  telapak kakinya.

Ketiga, untuk  terjun  ke medan jihad, beliau menghunus  pedangnya untuk berperang di  jalan Allah. Seluruh umumya tidak pemah absen sedikitpun dari tiga kesibukan tersebut, sehingga  beliau dikenal sebagai  abid (ahli ibadahnya) dan ahli zuhudnya  penduduk  Bashrah.

=== {0=0=0} ===

Di antara berita tentang keadaan Amir bin Abdillah adalah seperti yang dikisahkan oleh  seorang  putra  Bashrah  yang  mengatakan:
"Aku  pernah  mengikuti  safar bersama  rombongan yang di dalamnya terdapat Amir  bin Abdillah,  tatkala menjelang malam kami singgah di hutan. Aku melihat Amir  mengemasi barang-barangnya, mengikat  kendaraannya di pohon  dan memanjangkan tali pengitatnya, mengumpulkan rerumputan yang dapat mengenyangkan kendaraannya dan meletakkan di hadapannya...,kemudian beliau masuk ke hutan dan menghilang  di dalamnya. Aku berkata kepada diriku sendiri: "Demi Allah aku akan mengikutinya dan aku ingin melihat apa  yang sedang ia kerjakan di tengah hutan malam  ini."  Aku  melihat Amir  berjalan hingga berhenti di suatu tempat yang lebat pepohonannya dan tersembunyi dari pandangan manusia. Lalu dia menghadap ke kiblat, berdiri untuk shalat. Aku  tidak melihat shalat yang lebih  bagus,lebih sempurna  dan  lebih  khusyuk dari shalatrrya.  Setelah berlalu beberapa  rekaat  yang dikehendaki  Allah, dia  berdo’a  kepada Allah dan bermunajah  kepada-Nya.  Di antara  yang dia ucapkan  adalah: "wahai  Ilahi, sungguh  Engkau  telah menciptakan aku  dengan
perintah-Mu,  lalu Engkau ternpatkan  aku ke dunia  ini sesuai  kehendak-Mu,  lalu Engkau  perintah  kan,,berpegang  teguhlah!,,,  bagaimana aku akan berpegang  teguh jika  Engkau tidak  meneguhkan aku  dengan kelembutan-Mu yaa Qawiyyu  yaa Matiin Wahai  Ilahi..sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa seandainya  aku memiliki  dunia dan seluruh  isinya,  kemudian diminta  demi  meraih  ridha-Mu niscaya aku akan memberikan kepada orang yang memintanya,  maka berikanlah  jiwaku  kepadaku ya Arhamar Rahimin! wahai  Ilahi..kecintaanku kepada-Mu yang sangat,  membuatku  terasa  ringan menghadapi musibah,  ridha atas  segala  qadha,,  maka aku tidak peduli apapun yang menimpa diriku  pagi dan sore  harinya selagi masih bisa mencintai-Mu."

=== {0=0=0} ===

Putra Bashrah  itu melanjutkan: "Kemudian rasa  kantuk mendatangiku hingga aku tertidur. Berkaii-kali  aku tidur  dan bangun sedangkan Amir  masih tegak di tempatnya, tetap dalam shalat  dan  munajatnya sampai datanglah waktu  subuh.

Usai shalat  shubuh beliau berdo,a:

"Ya Allah,  waktu  subuh  telah datang, manusia segera  bangun dan pergi mencari  karunia-Mu. sesungguhnya masing-masing mereka memiliki  keperluan,  dan sesungguhnya  keperluan  Amir  di  sisi-Mu adalah agar Engkau mengampuninya.  Ya  Allah,  kabulkanlah  keperluanku dan juga keperluan mereka  ya Akramal  Akramin.  Ya  Allah,  sesungguhnya aku  telah memohon  kepada-Mu  tiga  perkara,  lalu  Engkau  mengabulkan  dua  di  antaranya  dan  tinggal  satu saja yang belum.  Ya Allah, perkenankanlah  permohonan  tersebut sehingga aku bisa beribadah kepada-Mu  sesuka  hatiku  dan sekehendakku!"

Beliau beranjak dari  tempat  duduknya  dan  tiba-tiba pandangan matanya tertuju  kepadaku. Beliau terperanjat dan berkata: "Apakah Anda membuntutiku  sejak  kemarin malam wahai saudaraku dari Bashrah?" Aku  menjawab:  "Benar." Beliau berkata:  "Rahasiakanlah apa yang Anda  lihat,  semoga Allah  merahasiakan aib Anda!"  Aku  menjawab: "Demi Allah, engkau beritahukan  aku terlebih dahulu  tentang tiga
permohonanmu  kepada Allah  tersebut,  atau aku akan memberitahukan kepada manusia  tentang  apa yang  aku  lihat  darimu."  Beliau berkata; "Duhai  celaka,  jangan  sampai Anda  beritahukan  kepada  orang  lain!"

Aku  katakan:  "Dengan  syarat  engkau penuhi permintaanku padamu." Maka  tatkala beliau melihat keseriusanku,  beliau berkata: "Akan  aku ceritakan  asalkan Anda  mau  berjanji  kepada  Allah  untuk  tidak menceritakan  hal ini kepada  siapapun." Aku berkata:  "Baiklah  aku berjanji kepada Allah  untuk  tidak menyebarkan rahasia  ini  selagi Anda masih hidup."  Lalu beliau berkata:

"Tiada sesuatu yang memudharatkan  agama yang  lebih aku takuti dari fitnah wanita, maka aku memohon kepada Rabb-ku agar mencabut  rasa  cinta (syahwatku)  kepada wanita, maka AIIah mengabulkan do'aku  sehingga  tatkala aku berjalan, aku  tidak peduli  apakah yang aku  lihat  seorang wanita  ataukah  ternbok."  Aku  berkata: "Ini  yang pertama, lantas apa yang  kedua?" Beliau menjawab: "Yang kedua adalah, aku memohon  kepada Rabb-ku agar tidak  diberi  rasa takut kepada siapapun selain Dia. maka Allah mengabulkan aku, sehingga demi Aliah,  tiadalah yang aku  takuti baik yang di  langit dan di bumi selain Dia."

Aku  bertanya: "Lantas ;apa  do'a yang  ketiga?" Beliau menjawab: "Aku  memohon  kepada  Allah  agar menghilangkan  rasa kantuk  dan tidur  sehingga  aku  bisa beribadah  kepada-Nya  di  malam  dan  siang hari  sesuka hatiku,  namun  Allah  belum  mengabulkarrnya. “Tatkala aku mendengar dari beliau, aku berkata: "Kasihanilah dirimu,  Anda telah melakukan  shalat di malam hari dan shaum di siang hari, padahal jannah dapat diraih  dengan amal yang lebih ringan dari apa yang Anda
kerjakan. Dan  neraka dapat  dihindari  dengan perjuangan  yang  lebih ringan dari apa yang Anda usahakan." Beliau  berkata:  "Aku  takut jika nantinya  aku menyesal selagi  tiada bermanfaat  sedikitpun  penyesalan itu. Demi Allah  aku akanbersungguh-sungguh  untukberibadah,  tidak ada pilihan  lain,  jika aku selamat  itu  semata-mata  karena rahmat Allah, jika aku masuk neraka maka itu karena keteledoranku."

=== {0=0=0} ===

Amir  bin  Abdillah  bukan  sekedar ahli  ibadah  di  waktu  malam saja,  namun  juga  mujahid  di  siang harinya.  Tiada penyeru  jihad  fii sabilillah memanggil melainkan beliau  segera  mendatanginya.

Sudah menjadi kebiasaan  beliau, manakala hendak bergabung  bersama para mujahidin  yang  hendak  berperang, beliau melihat-lihat kelompok pasukan untuk memilihnya. Jikabeliau dapatkanyang  sesuai, beliau berkata kepada mereka:  "Wahai  saudara,  sesungguhnya aku ingin bergabung bersama  kelompok kalian ini jika kalian mau mengabulkan tiga permintaanku." Mereka bertanya:  "Apa tiga permintaan  tersebut?" Beliau menjawab:  "Pertama,  hendaknya kalian perkenankan  aku untuk
menjadi pelayan bagi keperluan kalian, maka tidak boleh seorangpun di  antara kalian merebut  tugas tersebut. Kedua, hendaknya  akulah yang dijadikan mu'adzin,  maka tidak boleh seorongpun di antara kalian merebut tugas adzan untuk  shalat. Ketiga, hendaknya kalian  ijinkan aku  untuk  menginfakkan  hartaku  kepada kalian  sesuai  kemampuanku."  Jika mereka menjawab: "ya", maka beliau segera  bergabung,
namun  jika  dijawab  tidak, maka beliau mencari kelompok  pasukan lain  yang mau menerima  permintaan  tersebut.

=== {0=0=0} ===

Sungguh, di kalangan para mujahidin  tersebut Amir  bin Abdillah mengambil  bagian  yang banyak  dalam hal  resiko dan kesusahan, namun mengambil  bagian terkecil dalam hal yang menyenangkan  (pembagian ghanimah). Beliau terjun di kancah peperangan dengan gigih yang  tiada  orang  lain  segigih beliau  dalam berperang. Akan  tetapi  disaat  pembagian ghanimah, tiada yang lebih enggan menerima daripada
beliau.

=== {0=0=0} ===

Inilah sa'ad bin Abi waqash tatkala usai  perang Qadisiyah  di  Istana Kisra, beliau perintahkan  Amru  bin  Muqarrin  untuk  mengumpulkan ghanimah dan menghitungnya agar selanjutnya seperlima dari ghanimah  tersebut dapat  dikirim  ke baitul  maal bagi  kaum  muslimin. Adapun  sisanya  dibagikan  kepada para mujahidin. Maka dikumpul-
kanlah  harta benda berharga yang  luar  biasa banyaknya.  Di  sana ada keranjang besar yang  tertutup  oleh tumpukan  bebatuan berisi penuh bejana-bejana  dari emas dan perak  yang biasa dipakai  oleh raja-raja Persi untuk  makan dan minum.

Ada pula  sebuah  kotak dari kayu mewah yang tatkala dibuka  ternyata berisi  baju-baju,  pakaian dan selendang  kaisar  yang berenda  permata dan mutiara. Ada lagi kotak perhiasan  yang berisi  barang-barang berharga  seperti  kalung dan perhiasan  yang beraneka  ragam.  Ada juga kotak  yang berisi senjata-senjata  milik  raja-raja Persi terdahulu,  dan pedang-pedang para raja maupun pemimpin  yang tunduk  kepada persisepanjang  perjalanan sejarah.

=== {0=0=0} ===

Di  saat orang-orang bekerja menghitung  ghanimah di bawah pengawasan kaum muslimin..tiba-tiba muncullah  seorang  laki-laki yang kusut dan berdebu sedang  membawa kotak perhiasan  yang berukuran besar  dan berat bebannya,  dia mengangkat dengan kedua tangannya sekaligus.

Mereka memperhatikan dengan seksama,  mata mereka  belum pernah melihat  kotak  perhiasan sebesar  itu,  belum  ada pula  di  antara kotak  perhiasan yang  telah  terkumpul  yang  setara atau mendekati besarnya dengan  kotak  tersebut. Mereka  melihat  apa yang  ada di dalamnya,  ternyata  penuh  berisi  perhiasan  permata  dan  intan,  lalu mereka  bertanya  kepada  laki-laki  tersebut:  "Di  manakah  Anda
dapatkan  simpanan yang berharga  itu?"  Orang  tersebut menjawab:

"Aku dapatkan dalam  peperangan  anu..di  tempat  anu.." Mereka bertanya,  "sudahkah  Anda mengambil  sebagiannyal" orang  itu menjawab: "semoga Allah memberikan  hidayah  kepada  kalian DemiAllah, sesungguhnya  kotak  perhiasan ini  dan seluruh  apa yang  dimiliki  raja-raja Persi  bagiku tidaklah sebanding  dengan  kuku hitamku.
Kalaulah  bukan karena  ini merupakan  hak bagi  kaum muslimin niscaya  aku tidak sudi mengangkatnya  dari dalam tanah dan tidak  akan aku bawa ke sini.,, Mereka  bertanya:  "siapakah  Anda, semoga  Allah memuliakan anda,,orang  itu menjawab:  "Demi Ailah, aku  tidak akan memberitahukannya karena  kalian  nanti akan memujiku,  tidak pura  aku ceritakan  kepada selain kalian karena mereka akan menyanngku.  Akan  tetapi  aku memujo  Allah  T'ala dan mengharap  pahala-Nya." Kemudian  ia meninggalkan  mereka  dan pergi. Mereka menyuruh seseorang  untuk  mengikuti laki-laki  tersebut  guna memberitahukan  kepada  mereka  siapa seberrarnya  laki-laki misterius  tersebut.  Utusan tersebut  tersebut membuntuti  di  belakangnya  tanpa  sepengetahuan  beliau hingga sampai kepada para sahabatnya.  Utusan  tersebut  bertanya  kepada mereka perihal  laki-laki  itu,lalu mereka  me.njawab:  "Apaka anda belum tahu siapa  laki-laki itu? Diarah  ahli zuhudnya  orang Basrah...Amir  bin
Abdillah At-Thmimi."

=== {0=0=0} ===

Meski demikian gemilangnya  perjalanan  hidup Amir bin Abdillah -sebagaimana
yang Anda lihat-  namun beliau  tidak  terhindar  pula dari hasutan  dan  gangguan  manusia.

Beliau menghadapi  resiko seperti  yang biasa  dialami  oleh orang yang  lantang menyuarakan kebenarann,  mencegah  kemungkaran  dan berusaha  untuk  menghilangkannya.

Peristiwa  yang melatarbelakangi  beliau  mendapatkan  hasutan  tersebut bermula ketika beliau melihat salah seorang  anak buah dari kepala  polisi Bashrah  sedang  memegang  leher  seoring ahli dzimmah dan menariknya.  Sementara  orang  dzimmi tersebut berteriak  meminta tolong kepada manusia; "Tolonglah  aku  semoga Allah  menolong kalianl  tolonglah ahli dzimmah (yang  dilindungi) Nabi kalian  wahai kaum muslimin!"  Maka Amir  bin Abdillah  datang menghampirinya  dan  bertanya:
"Kamu  sudah menunaikan  jizyah yang menjadi kewajibanmu?,, Ahli dzimmah  itu  meniawab:  "Ya  aku  sudah menunaikannya."  Kemudian Amir  menoleh  kepada  orang  yang  memegang  leher ahli  dzimmah tersebut dan bertanya:  "APa  yang  Anda  inginkan  darinya?"  Dia menjawab: "Aku  ingin  dia  pergi bersamaku untuk membersihkan kebun milik  kepala polisi."  Amir  bertanya kepada si dzimmi:  "Anda
berhasrat  untuk  kerja di tempat tersebut?"  Si  dzimi menjawab:  "Tidak, karena tugas itu akan memeras  tenagaku dan aku  tidak bisa mencari makan untuk  keluargaku!"  Lalu Amir  menoleh lagi kepada laki-laki yang memegang leher dzimi  tersebut:  "Lepaskan dia!"  ia menjawab: "Aku  tidak akan melepaskannya." Maka  tidak ada pilihan  bagi Amir  selain menyelamatkan orang dzimmi  tersebut sembari  berkata:  "Demi Allah,  tidak boleh perjanjian orang dzimmi  (untuk dilindrrngi) dengan  nabi Muhammad  dibatalkan selagi  saya  masih  hidup."  Kemudian berkumpullah manusia  dan  turut membantu Amir mengalahkan  polisi  itu dan akhimya selamatlah  orang
dzimmi  tersebut.  Sebagai  pelampiasannya  teman-teman  petugas  polisi tersebut  menuduh Amir  sebagai  orang yang tidak taat  pemerintah dan keluar  dari ahlus  sunnah  waljama'ah. Mereka berkata:  "Dia  tidak mau menikah  dengan wanita.  tidak  mau  makan  daging  hewan  dan susunya..tidak mau menghadiri  pertemuan yang diadakan pemerintah.." Dan mereka  mengadukan persoalan  tersebut  kepada  amirul mukminin  Utsman bin Affan.

=== {0=0=0} ===

Khalifah  memerintahkan  wali  Bashrah untuk  memanggil  Amir bin  Abdillah  dan meminta  keterangan kepadanya perihal  tuduhan yang ditujukan  atasnya,  lalu hasilnya agar dilaporkan  kepada khalifah. Maka wali  Bashrah memanggil  Amir  dan berkata: "Sesungguhnya amirul mukminin  -semoga  Allah memanjangkan umurnya-  telah menyuruhku  bertanya kepadamu perihal perkara-perkara yang dituduhkan kepada  Anda." Amir menjawab:  "Silakan  Anda bertanya  sesuai dengan yang  diinginkan  amirul  mukminin."  Lalu  wali  Bashrah bertanya:  "Mengapa Anda menjauhi sunnah Rasulullah,  tidak mau menikah?" Beliau menjawab:  "Aku  tidak menikah bukan  karena  ingin menyimpang  dari sunnah Rasulullah  karena  aku tahu bahwa tidak
ada kerahiban (hidup  membujang untuk  beribadah) dalam  Islam. Namun  aku hanya memilikr  satu  iiwa  saja,  maka aku jadikan  ia untuk Allah dan  aku  khawatir  jika  istriku  kelak  akan  mengalahkan  hal itu."

Wali  berkata:  "Lalu mengapa tidak  tidak  mau  makan  daging?"  Beliau menjawab:  "Aku  bersedia memakannya bila  aku berselera dan aku mendapatkannya.  Namun 
tidak  rnendapatkarnnya maka aku  tidak memakannya."  Beliau ditanya  lagi: "Mengapa  Anda  tidak mau makan  keju?"  Beliau menjawab: "Sesungguhnya  di daerah saya banyak  tinggal  orang-orang  majusi  yang membuat  keju, mereka  adalah  suatu  kaum  yang  tidak  membedakan antara bangkai  dengan  hewan  yang  disembelih,  sehingga  saya khawatir jika  minyak  yang  merupakan  satu  bagian  dari  bahan  pembuat  keju berasal  dari  hewan  yang  tidak  disembelih.  Jika  tidak  ada  dua  orang muslim  yang  melihat  bahwa  keju  tersebut  dibuat  dari  minyak  hewan
yang  disembelih,  tentulah  aku  akan memakannya."  Beliau ditanya:  "Apa yang menghalangi  Anda  untuk  mendatangi  pertemuan  yang  diadakan pemerintah  dan menyaksikanuya?"  Bdiau menjawab:  "Sesungguhnya di  depan  pintu  kalian  begitu banyak  orang  yang  ingin  dipenuhi  hajatnya,  maka  undanglah  mereka  ke  tempat  kalian  dan cukupilah  kebutuhan  mereka  dengan  apa  yang  kalian  punya,  dan  biarkanlah  orang yang  tidak  meminta  kebutuhan  ke.pada kalian."

=== {0=0=0} ===

Usai pertemuan  tersebut,  jawaban Amir  bin Abdlillah  ini dilaporkan  kepada amirul  mukminin  Utsman bin  Affan  dan khalifah memandang tidak ada indikasi menyimpang dari ketaatan  atau keluar dari ahlus sunnah wal  jama'ah pada diri  Amir.
Hanya saja  api kejahatan  belum padam sampai di  situ, isu yang membicarakan  keburukan Amir  bin Abdillah  makin gencar,  hingga nyaris saja  terjadi  fitnah  antara pembela beliau dengan orang-orang yang menjadi saingannya,  lalu  Utsman bin Affan  , memerintahkan beliau untuk  berpindah  ke negeri Syam dan menjadikan negeri tersebut  sebagai  tempat tinggalnya. Khalifah mewasiatkan  wali kota Syam Mu'awiyah  bin Abi Sufyan untuk menyambut baik kedatangan Amir  dan menjaga kehormatarnnya.

=== {0=0=0} ===

Sampailah  hari  di mana  Amir  bin  Abdilah  memutuskan  untuk  berpindah  dari Bashrah.  Para  sahabat  dan  murid-murid  beliau  keluar untuk  mengucapkan  perpisahan  dengan  beliau.  Mereka  mengantar beliau  hingga  sampai  di  Marbad,  setibanya  di  sana beliau  berkata kepada  mereka:  "Sesungguhnya  saya  adalah  penyeru  maka  jagalah seruanku."  Lalu  orang-orang  melongok  agar  dapat  melihat  beliau dan  mereka  tenang  tak  bergerak  dan  mata  mereka  tertuju  kepada  beliau, sementara beliau menangkat  kedua  tangannya  dan berdo'a:  "Ya Allah,  orang  yang  telah  menghasut  dan  mendustaiku  serta menjadi sebab  terusirnya  aku  dari negeriku, memisahkan  antara diriku  dengan para  sahabatku...ya  Allah  sesungguhnya  aku  telah memaafkannnya, maka  maafkanlah  dia. Berilah  ia karunia  kesehatan  dalam  agama  dan dunianya.  Limpahkanlah  aku, dia  dan  juga  seluruh  kaum  muslimin dengan  rahmat-Mu,  ampunan-Mu  dan  kebaikan-Mu  wahai  Yang  Paling  pengasih"  kemudian  Beliau mengarahkan  kendaraannya  menuju Syam.

=== {0=0=0} ===

Amir  bin  Abdillah  menrutuskan  hidup  di  negeri Syam  untuk  mengisi  sisa-sisa  umumya.  Beliau memilih  Baitul Maqdis  sebagai tempat tinggal  dan beliau mendapstkan  perlakuan  baik  dari pemimpin  Syam Mu'awiyah  bin  Abi  Sufyan, dihormati  dan  dihargai.

Tatkala beliau  sakit  merijelang  wafatnya,  para  sahabat beliau menjenguknya  dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis. Mereka bertanya:  "Apa  yang  menyebabkan  Anda  menangis,  padahal Anda memiliki  keutaamaan  ini  dan itu?"

Beliau meniawab:  "Demi  Allah  aku menangis  bukan  karena  ingin  hidup  lama  di  dunia  atau  takut  menghadapi  kematian,  akan  tetapi  aku  menangis  karena  jauhnya  perjalanan dan alangkah  sedikitnya bekal. Sungguh,  aku berada di antara
tebing dan  jurang..bisa  jadi ke  jannah bisa  jadi pula  tergelincir ke neraka, aku  tidak  tahu di mana aku  akan sampai..."  Kemudian beliau  menghela nafas pelan  sedang  lisannya  basah dengan dzikrullah..di  sana..di sana..di kiblat  yang  pertama..Haramain  yang  ketiga..tempat Raulullah melakukan  isra'..Amir  bin  Abdilah  At-Tamimi  berdiam  diri.

=== {0=0=0} ===

Semoga  Allah menerangi Amir  di dalam kuburnya  dan membahagiakannya  di jannah-Nya yang kekal.
 
Disalin dari :
SHUWAR MIN HAYATIT TABI’IN
KARYA :
Dr. ABDURRAHMAN RA’FAT BASYA

TERBITAN AT-TIBYAN SOLO
DENGAN
JUDUL JEJAK PARA TABI’IEN

DISALIN ULANG OLEH

ABU AMMAR

nantikan kisah berikutnya. Insya Alloh
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger