Latest Post

MENGULAS MISTERI TEMBOK YA’JUJ DAN MA’JUJ


Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ?”

QS. Al-Anbiya: 96 “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”

Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi SAW, berkata; “Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini !” beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj dalam QS. Al-Kahfi : 94 Ya-juj dan Ma-juj menurut ahli lughah ada yang menyebut isim musytaq (memiliki akar kata dari bhs. Arab) berasal dari AJAJA AN-NAR artinya jilatan api. Atau dari AL-AJJAH (bercampur/sangat panas), al-Ajju (cepat bermusuhan), Al-Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan MAF’UL dan YAF’UL / FA’UL. Menurut Abu Hatim, Ma-juj berasal dari MAJA yaitu kekacauan. Ma-juj berasal dari Mu-juj yaitu Malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya-juj dan Ma-juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia.

Mereka berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam AS dan Hawa atau dari Adam AS saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh AS dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh AS mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts Bin Nuh. Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk, Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina.

Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H. Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya.Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar. Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab.

Jika mereka melewati perkampungan, membabad semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk. Siapakah Dzulkarnain ? Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.

Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.).

Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

BENARKAH TEMBOK CINA ADALAH TEMBOK ZULKARNAIN ?

Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman,

“Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

BEBERAPA PENELITIAN TEMBOK YA’JUJ

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.

Letak Perkiraan Tembok Besi Berada

Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di perunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam mahupun Rusia, terletak di republik Georgia.
Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.

Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.

27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.

Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, membunuh, suku-suku lain. Mereka pembuat onar, dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.
Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.

Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

Referensi:

Az-Zuhaily, Tafsir Al-Munir.
Dr. Thaha Ad-Dasuqy, ‘Aqidatuna Wa Shilatuha Bil Kaun Wal Insan Wal Hayat, Darul Huda, Kairo, 1995.

Syekh Sya’ban ‘Abdulhadi Abu Rabah, Islamiyat, Haqaiq Fi Dzilli Tauhid Al-Ara Al-Islamiyah, Muassasah Al-’Arabiyah Al-Haditsiyah, Kairo, 1991.

 

Apakah ya'juj dan majuj sudah muncul

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Ya`juj dan Ma`juj, bangsa yang nanti akan muncul menjelang hari kiamat memang sudah ada sekarang di sebuah wilayah yang dipagari oleh sebuah “benteng”. Namun benarkah mereka telah berhasil menembus dinding besi dan tembaga yang mengisolir mereka selama ini kemudian mewujud dalam bangsa yang mendiami wilayah Rusia dan negaranegara pecahan Soviet di Asia Tengah dan sebagian Eropa? Dan benarkah mereka adalah bangsa Mongol (Tartar)?

Asyrathus Sa’ah ( أَشْرَاطُ السَّاعَةِ) mengandung pengertian asy-syarthu ( الشَّرْطُ) yang bermakna tanda (al-‘alamah). Bentuk jamaknya asyrath ( أَشْرَاطٌ ). Tanda sesuatu adalah permulaannya. Misal, seorang komandan, berarti dia adalah orang yang di depan memimpin pasukan (bawahannya). Sedangkan kata as-sa’ah ( السَّاعَةُ ) secara bahasa memiliki makna satu bagian dari bagian-bagian malam dan siang. Bentuk jamaknya sa’at ( سَاعَاتٌ ) dan sa’a ( سَاعَ ). As- Sa’ah menurut istilah syar’i yaitu waktu terjadinya kiamat. Disebut kiamat lantaran cepatnya hisab pada hari itu, atau pada waktu itu manusia terkejut dalam hentakan sesaat, kemudian semua mengalami kematian dalam satu tiupan. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, Lisanul ‘Arab, dan Al-Qamus Al-Muhith. Lihat Asyrathus Sa’ah, karya Yusuf Al-Wabil) Maka, Asyrathus Sa’ah adalah tandatanda kiamat yang mendahului tibanya
(hari kiamat) serta menunjukkan akan dekatnya.

Tanda-tanda kiamat terbagi menjadi dua bagian, yaitu asyrath shughra, yaitu tanda-tanda yang mendahului kiamat dalam rentang waktu yang panjang, seperti pudarnya ilmu (di tengah kehidupan umat, pent.), berkembangnya kebodohan (terhadap agama), merebaknya minuman keras, banyaknya bangunan bertingkat, dan lainlain.

Adapun yang kedua, yaitu asyrath kubra. Ini merupakan tanda-tanda yang berupa kejadian-kejadian besar yang terjadi menjelang hari kiamat. Apa yang terjadi merupakan peristiwa-peristiwa yang luar biasa, seperti kemunculan Dajjal, turunnya Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya`juj dan Ma`juj, serta terbitnya matahari dari barat. (Asyrathus Sa’ah, karya Ysusf Al-Wabil)

Al-Qur`an mengungkap fenomena kemunculan Ya`juj dan Ma`juj sebagai bagian dari kejadian-kejadian menjelang hari kiamat.

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari kiamat), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir.

(Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dzalim’.” (Al-Anbiya`: 96-97)
Juga dalam surat Al-Kahfi ayat 92-99 dinyatakan pula perihal Ya`juj dan Ma`juj:

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya, suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain1, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah
aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kalian dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’

Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.’ Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”

Kemunculan Ya`juj dan Ma`juj merupakan satu dari tanda-tanda kiamat besar. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim Rahimahullahu dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shalallahu’alaihiwassallam muncul di hadapan kami di mana saat itu kami tengah berbincang-bincang. Maka beliau bertanya: “Apa yang kalian perbincangkan?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Kami sedang berbincang tentang hari kiamat.” Lantas Nabi shalallahu’alaihiwassalam bersabda:

إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ، فَذَكَرَ
الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ
وَيَأْجُوجَ ،n مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ
وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ
ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى
مَحْشَرِهِمْ

“Sesungguhnya tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda. Kemudian Beliau Shalallahu’alaihiwassallam menyebutkan: Muncul Dajjal, binatang (yang keluar dari bumi), matahari terbit dari barat, Isa bin Maryam turun (ke bumi), Ya`juj dan Ma`juj, tiga khusuf2, yaitu di timur, barat, dan jazirah Arab. Lantas akhir semua itu muncul api yang keluar dari Yaman yang menghalau manusia ke tempat berkumpul mereka.” (Shahih Muslim, Kitabu Al-Fitan wa Asyrathu As-Sa’ah)

Bahkan dalam hadits yang berasal dari An-Nawwas bin Sam’an Radhiallahu’anhu (dalam Shahih Muslim) disebutkan kemunculan Ya`juj dan Ma`juj ini dalam satu rangkaian dengan kemunculan Dajjal, Isa bin Maryam, lantas muncul Ya`juj dan Ma`juj. Semua peristiwa tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang
akan mendahului terjadinya hari kiamat. Nampaklah bahwa peristiwa demi peristiwa jelang hari kiamat merupakan peristiwa yang tersusun bagai marjan dalam satu untaian tali. Al-Imam Ahmad Rahimahullahu meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahuanhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam bersabda:
الْآيَاتُ خَرَزَاتٌ مَنْظُومَاتٌ فِي سِلْكٍ فَإِنْ يُقْطَعِ
السِّلْكُ يَتْبَعْ بَعْضُهَا بَعْضًا

“Tanda-tanda hari kiamat (bagaikan) marjan yang disusun dalam untaian tali. Bila tali itu putus, maka terikutlah sebagian pada sebagian (lainnya).” (Musnad Ahmad 12: 6-7, hadits no. 7040. Ahmad Syakir Rahimahullahu berkata, “Sanadnya shahih.” Al-Haitsami Rahimahullahu berkata, “Hadits ini diriwayatkan Ahmad dan di dalamnya terdapat Ali bin Zaid yang bagus haditsnya.” Majma’uz Zawaid, 7/321. Lihat Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil, hal. 246) Ya`juj dan Ma`juj merupakan anak keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalam (manusia).

Dalil yang menunjukkan mereka dari anak cucu Adam adalah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Bukhari Rahimahullahu dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu’anhu dari Rasulullah Salallahu’alaihi wassallam, bersabda:

Allah Subhanahuwata’ala berfirman: “Wahai Adam.” Adam menjawab: “Aku sambut panggilan-Mu dan dengan bahagia aku penuhi perintah-Mu, segala kebaikan berada di tangan-Mu. Kemudian Allah l berfirman, “Keluarkanlah pasukan penghuni neraka.” Adam bertanya, “Apa pasukan penghuni neraka itu?”

AllahSubhanahuwata’ala berfirman, “Dari setiap 1.000 orang ada 999 orang.” Maka, ketika itu anak-anak kecil rambutnya beruban, yang hamil melahirkan kandungannya, dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi karena adzab Allah Subhanahuwata’ala yang teramat keras. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang satu itu?” Beliau jawab, “Bergembiralah, karena kamu hanya seorang sedang dari kalangan Ya`juj dan Ma`juj seribu orang.”

(Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Anbiya` Bab Qishshah Ya`juj wa Ma`juj)

Berdasar hadits ini pula, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan manusia. Kata beliau, “Hadits ini jelas sekali menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Adam.” Demikian pula Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullahu dalam Tafsiru Surati Al-Kahfi menyebutkan bahwa dengan hadits ini kita mengetahui kesalahan mereka yang berpendapat Ya`juj dan Ma`juj bukan berujud seperti manusia. Sebagian mereka sangat pendek dan sebagian lagi sangat tinggi tubuhnya. Sebagian telinganya terpentang dan yang lain berlipat. Semuanya merupakan dongeng Israiliyat. Tidak boleh kita membenarkan (begitu saja), bahkan harus dikatakan bahwa sesungguhnya mereka termasuk bani Adam (manusia), hanya saja mereka kemungkinan berbeda seperti perbedaan (di antara) manusia karena keadaan lingkungannya.” Demikian kata Asy-Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullahu. Karakteristik Ya`juj dan Ma`juj di muka bumi ini adalah melakukan kerusakan. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Mereka berkata, ‘Hai Dzulqarnain, No.37/IV/1428 H/2007 sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi….” (Al-Kahfi: 94) Kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah, yang dimaksud Al-Ifsad (membuat kerusakan) di muka bumi mencakup semua perbuatan yang tidak baik dan tidak memperbaiki. Merusak dengan membunuh, merampok atau merampas, penyimpangan, kesyirikan, dan dalam segala hal.

Ibnu Katsir t saat memberi penjelasan pada ayat:

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya’: 96) disebutkan bahwa (mereka) orang-orang yang cepat dalam berjalan guna membuat kerusakan.

Al-Imam Muslim Rahimahullah dalam Shahihnya meriwayatkan dengan memberi tambahan (pada hadits An-Nawwas bin Sam’an Radhiallahu’anhu) setelah lafal “di danau ini pernah ada air” dengan sabda beliau yang artinya: “Kemudian mereka berjalan hingga Gunung Khumar, yaitu Gunung di Baitul Maqdis, maka mereka (Ya`juj dan Ma`juj) berkata, ‘Sungguh kita telah membunuh penduduk bumi. Maka,
marilah kita bunuh penduduk langit.’ Lalu mereka melepaskan anak panah mereka ke langit, kemudian Allah Subhanahuwata’ala kembalikan anak-anak panah mereka itu kepada mereka dengan berlumuran darah. (Shahih Muslim, tambahan hadits no. 2937)

Begitulah laku lampah Ya`juj dan Ma`juj. Destruktif, membuat onar, berbuat kerusakan di muka bumi. Timbul pertanyaan, kapan Ya`juj dan Ma`juj muncul? Sudahkah Ya`juj dan Ma`juj muncul di era lalu atau bahkan di zaman sekarang ini?

Ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa Ya`juj dan Ma`juj telah ada dewasa ini. Seperti dinukil Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah dalam kitabnya Ya`juj wa Ma`juj wa Fitnatu Ad-Dajjal (hal. 21), bahwa Al-Amir Syakib Arsalan dan selainnya berpandangan sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj adalah negara Soviet atau sebagian dari mereka. Tidak diragukan sesungguhnya mereka adalah bagian dari Ya`juj dan Ma`juj. Demikian diungkapkan Al-Amir Syakib Arsalan. Lain halnya dengan Sayyid Quthub. Dia berpendapat, secara tarjih, bukan yakin,bahwa janji Allah subhanahuwata’ala untuk melubangi dinding telah terjadi serta Ya`juj dan Ma`juj telah keluar. Mereka adalah bangsa Tartar yang muncul pada abad ke-7 Hijriyah. Mereka telah menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam dan menebar kerusakan di muka bumi. (Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 378)

Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu’anhu disebutkan bahwa Allah subhanahuwata’ala memberitahukan kepada Isa ‘alahissalam akan keluarnya Ya`juj dan Ma`juj yang tidak ada seorang pun mampu memerangi mereka, dan Allah subhanahuwata’ala memerintahkan Isa alaihissalam menjauhkan kaum mukminin dari jalan yang ditempuh Ya`juj dan Ma`juj seraya berfirman: “Kumpulkan hamba-hamba-Ku ke gunung Ath-Thur.” (lihat syrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 369)

Berdasarkan hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu’anhu dalam Shahih Muslim, maka akan nampak bahwa kemunculan Ya`juj dan Ma`juj bersamaan masa dengan kehadiran Isa ‘alaihissalam. Maka apabila Ya`juj dan Ma`juj dinyatakan telah muncul, tentu akan timbul pertanyaan, bagaimana dengan Isa ‘alaihissalam?

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah menyatakan setelah beliau rahimahullah memaparkan hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu’anhu yang panjang, “Berdasar hadits shahih ini, sungguh aku telah melihat penjelasan Nabi shalallahu’alaihi wassalam: ‘Sesungguhnya Allah subhanahuwat’ala telah mewahyukan kepada Isa bin Maryam perihal keluarnya Ya`juj dan Ma`juj setelah terbunuhnya Dajjal.’ Barangsiapa yang menyatakan bahwa mereka (Ya`juj dan Ma`juj) adalah Rusia, dan dinding itu telah roboh sejak dulu, maka pendapatnya tersebut menyelisihi apa yang telah dikabarkan Ash-Shadiqu Al-Mashduq (Rasulullah) shalaallahu’alaihi wassalam, maka batil. Karena sesungguhnya, yang menentang kabar Ash-Shadiq adalah pendusta yang membahayakan, sebagaimana dimaklumi. Tidak ada sesuatu yang kuat dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shalallahu’alaihi wassalam yang bisa memalingkan hadits (An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu’anhu, ed.) ini yang anda telah melihat keshahihan sanadnya serta memberi kejelasan dalil-dalilnya tentang maksud yang dituju.

Pada hakekatnya, yang menjadi sandaran bagi orang-orang yang menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah Rusia, demikian pula orang-orang mulhid (atheis), adalah alasan-alasan logika, yang telah menjadi keyakinan pemiliknya.” (Adhwa`u Al-Bayan fi Idhah Al-Qur`an bi Al-Qur`an, hal. 141-142)

Menurut mereka, kalau Ya`juj dan Ma`juj itu sudah ada di balik benteng tersebut, tentu sudah ditemukan lokasinya. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang pesat dan alat-alat yang canggih untuk mendeteksi keberadaan mereka. Tapi, karena tidak ada orang yang menemukan mereka atau lokasi mereka, berarti Ya`juj dan Ma`juj belum pernah ada. Logika seperti ini dapat dibantah dengan realita bahwa banyak hal yang masih belum mampu diungkap hakekatnya, secanggih apapun teknologi yang dikuasai manusia. Ruh misalnya. Ruh, yang demikian dirasakan keberadaannya, selalu menyertai, tetapi belum pernah terungkap eksistensi dan substansinya. Maka, yang menjadi salah satu tanda-tanda datangnya hari kiamat besar, yaitu keluarnya Ya`juj dan Ma`juj pada akhir zaman, belum terjadi. Sebab, hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa Ya`juj dan Ma`juj keluar setelah Isa q turun ke bumi. Dialah yang berdoa kepada Allah subhanahuwata’ala agar membinasakan Ya`juj dan Ma`juj. Allah Subhanahuwata’ala pun lantas membinasakan dan membuang bangkai mereka ke laut, serta mengamankan negara-negara dan hamba-hamba-Nya dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj.

Wallahu ta’ala a’lam.

http://asysyariah.com/apakah-yajuj-dan-majuj-sudah-muncul.html
 

Subhanallah, Alquran Lebih Dulu Ungkap Detail Black Hole


REPUBLIKA. Tahun 1790, John Michele (Inggris) dan Piere Simon (Prancis) mengatakan di langit ada bintang-bintang tersembunyi. Setelah itu pada 1915 teori relativitas Einstein memperkirakan adanya benda-benda tersebut di angkasa yang mempunyai pengaruh pada waktu dan tempat.

Dan akhirnya pada tahun 1957, John Wleir berkebangsaan Amerika bicara tentang Black Holes sebagai efek dari keruntuhan bintang-bintang.

Tahun 1944, para ilmuwan dengan menggunakan teleskop Hubbles menetapkan adanya benda tak terlihat di garis edar M87 yang sekitarnya dikelilingi oleh gas. Mereka memperkirakan berat benda tersebut tiga miliar kali lipat dari berat matahari. Dari sinilah ilmuwan kemudian menamainya Black Holes.

Istilah tersebut diartikan sebagai suatu wilayah di suatu tempat yang mengalami tekanan sangat dahsyat hingga terkumpul di sana benda benda dengan ukuran sangat padat sekali dan tidak ada satupun yang meninggalkan tempat itu hingga cahaya sekalipun.

Black Hole terbentuk ketika sebuah bintang besar runtuh karena bahan bakarnya telah habis. Black holes ini tidak terlihat, namun punya tarikan gravitasi sangat kuat terhadap benda-benda sekitarnya.

Dengan kata lain Black Holes bisa terjadi jika sebuah bintang yang mempunyai berat 20 kali lipat dari matahari kehabisan bahan bakarnya.

Istilah black hole sendiri sebenarnya kurang tepat sebab diartikan sebagai lubang hitam, yang berarti menunjukkan tempat kosong di langit berwarna hitam. Padahal kenyataannya bintang tersebut mempunyai berat berjuta-juta kali berat matahari.

Ini berarti bukan lubang hitam di langit (karena tidak ada yang tahu warnanya), tetapi benda sangat besar berupa bintang yang tak terlihat.

Sebuah benda untuk melepaskan diri dari gaya gravitasi haruslah meluncur dengan sangat cepat. Untuk ukuran bumi benda tersebut harus dilesatkan dengan kecepatan 11 km/detik.

Sementara di black holes, cahaya yang mempunyai kecepatan 300.000 km/detik saja tidak mampu melepaskan diri dari gravitasinya. Inilah kemampuan black holes yang mengerikan. Salah satu ilmuwan barat pernah membuat pernyataan tentang black hole :

It create an immense gravitational pull not unlike an invisible cosmic vacuum cleaner, As it moves, it sucks in all matter in its way-not even light can escape (Ia menciptakan kekuatan gravitasi yang sangat besar yang bekerja seperti vacuum cleaner alam yang tak terlihat. Ketika ia bergerak, ia akan menelan setiap yang dijumpainya-bahkan tidak ada cahaya yang bisa meloloskan diri darinya)

Pernyataan ilmuwan di atas dapat disimpulkan menjadi 3 item besar :
1. Invisible (benda tak terlihat)
2. Vacuum Cleaner (gravitasi penyedot apa saja)
3. Move (yang bergerak dengan terus menerus)

Statement ilmuwan ini baru keluar tahun 2006. Alangkah mengejutkannya manakala Al Quran ternyata telah memberikan detailnya 15 abad silam hanya lewat petikan 2 ayat pendek:
"falaa uqsimu bilkhunnas, al jawaarilkunnas" (Attakwiir: 15 - 16)

Pada ayat tersebut Allah bersumpah dengan bintang-bintang, yang jika kita simpulkan akan menjadi demikian:
1. Khunnas = yang tersembunyi dan tidak terlihat selamanya. (Invisible)
2. Al Jawaari = yang beredar dan bergerak dengan kecepatan tinggi (Move)
3. Kunnas = yang menelan semua yang dilaluinya (inilah kerja dari Vacuum Cleaner)

Maha Suci dan Maha Besar Allah yang telah menurunkan Alquran lewat Rasul-Nya sebagai mukjizat tak terbantahkan sepanjang masa.

 

Bagaimana Piramida Dibangun? Ternyata, Alquran Sudah Menjawabnya


REPUBLIKA, Sejak lama para ilmuwan bingung bagaimana cara sebuah piramida dibangun. Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini?

Times edisi 1 Desember 2006, menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan.

Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa piramida yang paling besar di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan tanah liat.

Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Ini karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam.

Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air sehingga membentuk campuran tanah liat. Kemudian olahan itu dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida. Singkatnya lumpur yang sudah diolah menurut ukuran yang diinginkan tersebut dibakar, lalu diletakkan di tempat yang sudah disediakan di dinding piramid.

Profesor Prancis Joseph Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur.

Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dan batu buatan. Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu 10 hari hingga mirip dengan batu aslinya.

Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.”

Penemuan oleh Profesor Prancis Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar 20 tahun. Sebuah penelitian yang lama tentang piramida Bosnia, "Piramida Matahari" dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini tersebar luas di masa lalu. (Gambar dari batu piramida).

Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!

Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini 1.400 tahun sebelem mereka mengungkapkannya, perhatikan sebuah ayat dalam Alquran berikut ini:

“Dan berkata Fir'aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta." (Al-Qashash:38)

Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini 1.400 tahun sebelem mereka mengungkapkannya, perhatikan sebuah ayat dalam Alquran berikut ini:

“Dan berkata Fir'aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta." (Al-Qashash:38)

Subhanallah! Bukti menakjubkan yang menunjukkan bahwa bangunan-bangunan raksasa, patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban tinggi saat itu, juga dibangun dari tanah liat! Alquran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Prancis.

Kita tahu bahwa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam  tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida.

Sebelum ini, para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini.

Ajaib, 1.400 tahun yang lampau, Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam berbilang tahun setelah berakhirnya dinasti Firaun memberitahukan bahwa Firaun membangun monumen yang kelak dinamakan Piramid menggunakan tanah liat.

Kenyataan ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam  tidaklah berbicara sesuai hawa nafsunya saja melainkan petunjuk dari Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan Nabi Musa ... Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi terakhir-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya dikemudian hari!

Subhanallah! Sungguh suatu hal yang hanya dapat dipahami oleh orang orang yang bukan sekadar berakal, tetapi juga mempergunakan akalnya.

 

AR-RABI' BIN KHUTSAIM

“Wahai  Abu Yazid,  seandainya  Rasulullah  Sallallahu 'Alaihi Wasallam   melihatmu,  tentulah betiau mencintamu." (Abdullah  bin  Mas'ud)

Hilal bin Isaf bercerita kepada tamunya  yang bernama Mundzir Ats-Tsauri:  "Tidakkah  sebaiknya kuantarkan  engkau  kepada syaikh agar kita bisa menambah  keimanan  sesaat?,,  Jawab Mundzir:  "Baik, aku  setuju. Demi  Allah,  tiada  yang  mendorong  aku datang  ke Kufah  ini melainkan  karena ingin  bertemu  dengan gurumu, Rabi' bin Khutsaim  dan  rindu  untuk  bisa tinggal  sesaat  dalam  taman iman  bersamanya. Akan  tetapi apakah engkau sudah minta  izin  kepadanya? Kudengar  dia menderita  penyakit  rheumatik  sehingga  tidak keluar rumah  dan enggan menerima  tamu?"

Hilal  berkata:  "Memang  begitutah  orang-orang  Kufah  mengenalnya, sakitnya  itu  tidak  mengubahnya  barang  sedikitpun.',  Mundzir berkata: "Baiklah. Tetapi Anda  tahu bahwa  syeikh  ini memiliki  perasaan yang  halus, apakah menurut  Anda  kita  layak  mendahului  bicara dan  bertanya sesuka  kita? Atau  kita diam saja menunggu  beliau mulai bicara?"

Hilal  menjawab:  "Andaikata  engkau  duduk  bersama Rabi bin Khutsaim  selama setahun  lamanya,  maka  dia  tidak  akan bicara apapun kecuali  jika engkau yang mulai berbicara  dan akan terus diam bila tidak  kau dahului  dengan pertanyaan.  sebab dia menjadikan  ucapannya sebagai  dzikir  dan diamnya  untuk  berfikir."

Mundzir  berkata:  "Kalau  begitu,  marilah  kita  mendatanginya dengan barakah Allah  Subhanahu Wata'ala."

Kemudian pergilah  keduanya  kepada syaikh  itu. setelah memberi salam,  mereka  bertanya:  "Bagaimana  kabar  Anda  pagi  ini  wahai syeikh?"

Ar-Rabi'  : "Dalam  keadaan  lemah, penuh  dosa, memakan  rizki-Nya dan menanti ajalnya."

Hilal  :  "sekarang di Kufah ini ada  tabib yang handal. Apakah  syeikh mengizinkan  kami memanggilnya  untuk  Anda?"

Ar-Rabi'  : "Wahai  Hilal,  aku  tahu  bahwa  obat itu  adalah benar-benar berkasiat. Tetapi aku belajar dari kaum'Aad,  Tsamud, penduduk Rass  dan abad-abad di antara mereka.  Telah  kudapati  bahwa mereka sangat gandrung  dengan dunia,  rakus dengan segala  perhiasannya. Keadaan mereka lebih  kuat  dan  lebih ahli  dari  kita. Di  tengah-tengah mereka banyak tabib, namun  tetap saja  ada yang sakit. Akhirnya  tak  tersisa  lagi  yang mengobati maupun  yang  diobati karena binasa. (beliau menghela nafas panjang  dan berkata), seandainya itulah  penyakitnya,  tentulah  aku akan berobat."

Mundzir:  "Kalau  demikian,  apa Penyakit yang  Anda  derita wahai Syeikh?"
Ar-Rabi'  :  "Penyakitnya adalah dosa-dosa."
Mundzir:  "Lantas, apa obatnya?"
Ar-Rabi'  : "Obatnya adalah  istighfar."
Mundzir  : "Bagaimana bisa pulih  ke  seh  atanny  a?  "
Ar-Rabi'  : "Dengan  bertaubat,  kemudian  tidak  mengulangi  dosanya (Beliau menatap kedua  tamunya  sambil berkata), dosa yang  tersembunyi.  .  .  dosa  yang tersembunyi.  .  .waspadalah  kalian terhadap dosa yang meski tersembunyi dari orang-orang, namun  jelas  bagi Allah  Subhanahu Wata'ala,  segeralah  datangkan obatnya!"
Mundzir  : " Apa  obatny a?  "
Ar-Rabi'  :  "Dengan taubat nasuha  (lalu beliau menangis  hingga basah jenggotnya)."
Mundzir :  "Mengapa Anda menangis wahai Syeikh?"
Ar-Rabi'  : "Bagaimana aku  tidak menangis?  Aku  pernah berkumpul bersama suatu kaum  (yakni para sahabat)  dimana kedudukan  kami dibanding mereka seakan  sebagai  pencuri."

Hilal  bercerita: "Ketika  kami  asyik berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah  seorang puteranya,  setelah memberi  salam dia  berkata: "Wahai  ayah,  ibu  membuatkan  roti  yang  manis  dan  lezat agar ayah mau  memakannya,  berkenankah  ayah  jika  aku  bawakan  kemari?"

Beliau berkata:  "Bawalah kemari." Pada  saat  puteranya keluar,  terdengar orang meminta-minta  mengetuk pintu.  Syeikh itu berkata: "Suruhlah ia  masuk."

Temyata dia adalah seorang tua yang berpakaian  compang-camping.  Air  liurnya  belepotan  kesana kemari,  terlihat  dari wajahnya  bahwa dia tidak begitu waras. Saya  terus memperhatikan hingga  kemudian masuklah  putera  Syeikh Rabi' membawa  roti  di  tangannya. Ayahnya  langsung  rnengsiyaratkan  agar roti  tersebut diberikan  kepada orang yangg meminta-minta  tersebut.

Roti  itu diletakkan di tangan pengemis  tersebut,  Sesegera  mungkin orang  itu  memakannya  dengan  lahap. Air  liur  rnengalir di  sela-sela roti yang di  makannya. Dia melahapnya hingga habis  tanpa sisa.

Putera Syeikh yang membawakan  roti  tersebut berkata: "Semoga Allah  merahmati  Ayah,  ibu  telah bersusah payah  untuk  membuat roti  itu  untuk  Ayah,  kami  sangat berharap  agar Ayah  sudi  menyantapnya  namun  tiba-tiba Ayah berikan  roti itu kepada orang linglung  yang tidak tahu  apa yang sedang dimakannya."  Syeikh menjawab:  "Wahai puteraku, jika  ia  tidak  tahu, maka  sesungguhnya Allah  Subhanahu Wata'ala Maha Tahu."  Kemudian  beliau membaca  firman Allah:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

"Kamu seknti-kali  tidak  sampai  kepada  kebaktian  [yang sempurna], sebelum  kamu menafkahkan  sebagian  harta  yang kamu cintai...  "(Ali Imran:92)

Bersamaan ,dengan  itu,  tiba-tiba  datanglah  seseorang yang  masih terhitung sebagai kerabatnya dan berkata: "Wahai Abu  Yazid, Hasan bin Fatimah  terbunuh, semoga  keselamatan  tercurah atasnya  dan  juga ibunya." Maka Syeikh berkata: "lnnalillahi wa  inna ilaihi raaji'un,"lalu nembaca firman Allah  Subhanahu Wata'ala :

قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (٤٦)

"Kataknnlah,  Wahai  Allah, pencipta  langit dan bumi,  yang mengetahui yang  ghaib  dan  yang  nyata,  Engkaulah  yang  memutusknn  antara  hsmba-hambaMu  tentang  apa  yang  selalu  mereka  perselisihknn."  (Az Zurnar:46)

Akan  tetapi,  rupanya  orang  itu  belum  puas dengan  reaksi Syeikh, sehingga  dia  bertanya:  "Bagaimana pendapat  Anda  tentang  pembunuhnya?" Beliau  berkata:  "Kepada Allah  dia kembali dan menjadi hak perhitungannya."

Hilal  melanjutkan  ceritanya:  "Setelah kulihat  waktu  harnpir  memasuki Dhuhur,  aku berkata: "Wahai Syeikh, berilah aku nasihat."

Beliau berkata: "Wahai Hilal, janganlah engkau terpedaya dengan banyaknya  sanjungan orang terhadapmu,  sebab  orang-orang  tidak mengetahui  siapa dirimu  yang sebenamya, melainkanhanya  melihat  lahiriahmu  saja.  Ketahuilah,  sesungguhnya engkau  tergantung pada
amalanmu, setiap  amalanyang dikerjakan bukan  karena  Allah Subhanahu Wata'ala akan sia-sia."

Mundzir  juga  berkata:  "Wahai Syeikh, berilah  wasiat  kepadaku juga,  semoga Allah  membalas kebaikan Anda."

Beliau  berkata:  "Wahai Mundzir, bertaqwalah kepada Allah Subhanahu Wata'ala terhadap ilmu yang telah kau ketahui dan yang masih  tersembunyi bagimu, serahkanlah  kepada yang mengetahuinya. Wahai Mundzir  jangan sekali-kali salah  satu dari kalian berdoa: "Ya  Allah, aku telah bertaubat," lalu tidak melakukannya, sebab  dia dianggap dusta. Thpi katakanlah:

"Ya Allah,  ampunilah  aku," maka  itu  akan menjadi  doa. Ketahuilah wahai  Mundzir,  tidak  ada kebaikan  dalam  ucapan  melainkan  untuk tahlil, bertahmid kepada Allah, bertakbir kepada Allah, bertasbih kepada Allah,  bertanya  tentang kebaikan, menjaga dari  kejahatan, menyeru yang ma'ruf, mencegah  dari yang mungkar dan membaca  Al-Qur'an."

Mundzir  berkata:  "Telah  lama kami duduk  bersama  Anda, namun sedikitpun kami tidak mendengar ucapan  sya'ir dari Anda, sedangkan kami melihat sebagian  dari sahabat  Anda mengucapkannya."

Beliau berkata: "Tak ada sepatah katapun  yang aku  ucapkan kecuali akan dicatat di dunia dan kelak akan dibacakan di akhirat. Aku tidak suka mendapatkan bukuku  dibacakan di hari kiamat sedangkan di dalamnya ada kata-kata sya'ir."

Kemudian  beliau  memperhatikan  kami  dan berkata:  "Perbanyaklah mengingat  mati,  karena  ia adalah perkara  ghaib  yang  amat dekat tiba saatnya.  Sesuatu  yang ghaib meskipun  lama waktunya,  pasti serasa dekat ketika datangnya."

Beliau  terisak menangis sambil berkata  terbata-bata:  "Apa yang akan akuperbuat kelak tatkala:
كَلا إِذَا دُكَّتِ الأرْضُ دَكًّا دَكًّا (٢١)وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (٢٢)وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى (٢٣)

Jangan (berbuat demikian). apabila bumi digoncangkan berturut-turut, Dan datanglah Tuhanmu; sedang Malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (Al-Fajr  21,-23)

Belum  lagi  beliau selesai  bicara, terdengar suara adzan Dzuhur. Bersamaan  dengan  itu  puteranya  datang, lalu Syeikh berkata  kepadanya:  "Mari  kita  sambut panggilan  Allah."

Puteranya  berkata kepada kami: "Tolong bantu saya  untuk memapah  beliau ke masjid. Semoga Allah  Subhanahu Wata'ala   membalas kebaikan kepada kalian."

Kemudian  kami  memapahnya  bersama-sama sehingga dia  bisa bergantung  di antara aku dan puteranya pada saat  berjalan. Mundzir berkata: "Wahai Abu Yazid, sesungguhnya Allah  Subhanahu Wata'ala   memberi rukhshah (keringanan) bagi Anda  untuk  boleh shalat di  rumah."

Beliau berkata:  "Memang  benar apa yang  Anda  katakan,  akan  tetapi aku mendengar seruan:  "Marilah  menuju kemenangan!" Barang siapa mendengar  seruan  itu  hendaknya  mendatanginya  walau  harus dengan  merangkak..."

Setelah  cerita tersebut...tahukah  Anda,  siapakah sebenarnya Ar-R.abi'  bin  Khutsaim  itu?

Beliau adalah salah satu ulama  tabi'in  yang  utama  dan satu di an:ara delapan orang yang dikenal paling zuhud  di masanya.  Beliau orang Arab asli,  suku Mudhar  dan silsilahnya bertemu  dengan Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam pada kakeknya,  Ilyas dan Mudhar.  Beliau tumbuh  di atas ketaatan kepada Allah  sejak usia dini.

Ibunda  beliau  sering  terbangun  di  tengah malam  dan melihatnya masih berada di mihrabnya, hanyut  dalam munajahnya  dan tenggelam dalam shalatnya. Ibunya menegur: "wahai  anakku Rabi’  tidakkah  engkau  tidur?,,  Beliau menjawab:  "Bagaimana bisa tidur  seseorang yang di waktu  gelap khawatir  akan disergap musuh?"

Melelehlah  air mata di  pipi  ibu  yang  telah  lanjut  usia  dan  lemah itu,  lalu  didoakanlah  putranya  agar mendapat  kebaikan'

Ar-Rabi’  tumbuh  menjadi  dewasa, seiring  dengan bertambah  wara’ dan  takutnya  kepada Allah Subhanahu Wata'ala .  Seringkali  ibunya  merasa khawatir  karena melihat  puteranya  sering  menangis  sendiri  ditengah  malam, padahal orang iain  tengah lelap dengan tidurnya. Sampai-sampai terlintas  di benak  Ibunya  sesuatu yang  bukan-bukan  lalu  beliau  memanggilnya.

Ibu:"Apa yang sebenarya terjadi atas dirimu wahai anakku apakah ergkau telah  berbuat  jahat  atau telah membunuh  orang?"
Ar-Rabi'  : "Benar, aku  telah membunuh  seorang jiwal.
Ibu  : "siapakah  gerangan yang  telah engkau bunuh'  nak? Katakanlah
agar aku., bisa meminta  orang-orang  menjadi  perantara  untuk  berdamai  dengan  keluarganya,  mungkin  mereka  akan memaafkanmu. Demi Allah seandainya keluarga korban itu mengetahui tangisan dan penderitaanmu  itu, tentulah mereka akan merasa kasihan melihatmu."
Ar-Rabi’  : ,,Wahai ibu, jangan beritahukan  kepada siapapun, aku  telah membunuh  jiwaku  dengan  dosa-dosa"'

Beliau adalah murid  dari Abdullah  bin Mas'ud  sahabat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam  dialah murid  yang paling  banyak meneladani  sikap dan perilakunya. Hubungan A-Rabi’ dengan  gurunya  layaknya  seorang anak dengan ibunya  Kecintaan  guru  terhadap  muridnya  laksana  kasih  sayang seorang  ibu  terhadap  anak  tunggalnya.  Ar-Rabi'  biasa keluar  masuk rumah  gurunya  tanpa harus meminta  izin bila dia datang maka yang tidak diizinkan masuk sebelum Ar-Rabi' keluar.

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu ‘Anhu   merasakan  ketulusan dan keikhlasan Ar-Rabi', kebagusan ibadahnya yang memancar kuat di hatinya, rasa  kecewanya lantaran tertinggal  dari  zaman Nabi  Sallallahu 'Alaihi Wasallam ,  sehingga  tidak  mendapat kesempatan untuk menjadi salah  satu  sahabat beliau.  Ibnu  Mas'ud berkata kepadanya: "Wahai  Abu  Yazid, seandainya Rasulullah  rnelihatmu, tentulah  beliau  rmencintaimu." Beliau  juga berkata:  " Setiap  kali melihat mu aku  teringat pada para mukhbitin  [orang-orang  yang tunduk  patuh kepada  Allah].

Apa  yang dikatakan  oleh Abdullah bin Mas'ud tidaklah berlebihan, karena Rabi' bin  Khutsaim  telah mampu  mencapai kesederhanaan dan ketakwaan yang  jarang bisa dilakukan  oleh orang lain dan selalu diunggulkan dalam berita-berita  yang mengharumkan  lembaran sejarah. Diantaranya yang disebutkan oleh salah  satu kawannya:

Sudah 20  tahun aku bertaman dengan Ar-Rabi', namun belum pernah kudengar  dia  mengucapkan suatu  perkataan  kecuali  perkataan yang naik  kepada Allah,  lalu beliau membaca:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ….(١٠)

kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (Fathir:10)

Abdurrahman bin  Ajlan  bercerita: "Suatu malam aku menginap dirumah  Ar-Rabi'. Ketika dia merasa  yakin bahwa aku telah tertidur, beliau bangun  lalu  shalat sambil membaca ayat:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (٢١)

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al Jatsiyah: 21).

Beliau menghabiskan  sepanjang malamnya  untuk  shalat dan mengulang-ulang  ayat  tersebut  hingga  fajar,  sementara air mata membasahi kedua pipinya.

Berita tentang  rasa  takut  Rabi' bin  Khutsaim  kepada Allah  begitu banyak,  di  antara  contohnya  adalah  kisah  yang  diceritakan  seorang kawannya:
“Suatu hari  kami  pergi  menyertai  Abdullah  bin  Mas'ud  ke suatu tempat bersama Ar-Rabi'  bin Khutsaim.  Tatkala perjalanan kami  sampai  di  tepi  sungai Eufrat  kami melewati  suatu perapian  besar tempat membakar  batu  bata. Apinya  menyala  berkobar-kobar,  terbayang akan kengeriannya,  semburan apinya menjilat  dengan dahsyatnya, gemuruh  suara percikan  apinya  dan gemertak batu bata yang  sudah dimasukkanke  dalamnya.

Tatkala melihat  pemandangan  itu, Ar-Rabi'  telpaku  di  tempatnya, tubuhnya  menggigil  dengan  hebatnya  lalu  beliau  membaca  firman Allah Subhanahu Wata'ala :

وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا

"Apabila nerakn  itu  melihat mereka  dari  tempat  yang jauh, mereka mendengar  kegeramannya  dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilempaikan  ke  tempat  yang sempit  di neraka  itu  dengan  dibelenggu, mereka  di sana  mengharapkan  kebinasaan'"  (Al  Furqan:13)

Hingga  akhirnya  beliau  pingsan. Kami  merawatnya  hingga  sadar kembali  lalu membawanya  pulang  ke rumahnya."

Ar-Rabi,  mengisi  seluruh  hidupnya  untuk  menanti  kematian  dan mempersiapkan  bekal  untuk  menjumpainya.  Pada saat ajal mendekatinya,  puterinya menangis,  lalu beliau berkata:  "Apa yang membuatmu menangis  Wahai puteriku,  padahal  kebaikan  tengah  menanti  dihadapan  ayahmu?"  Sebentar  kemudian  ruhnya  kembali  keharibaan Rabbnya.

Disalin dari :
SHUWAR MIN HAYATIT TABI’IN
KARYA :
Dr. ABDURRAHMAN RA’FAT BASYA

TERBITAN AT-TIBYAN SOLO
DENGAN
JUDUL JEJAK PARA TABI’IEN

DISALIN ULANG OLEH

ABU AMMAR

nantikan kisah berikutnya. Insya Alloh
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger