Latest Post

Wahai Akhi, Takutlah pada Allah

 "Beberapa waktu yang lalu ketika saya berada di kedai internet yang letaknya tidak jauh dari rumah saya di Saqar Quraisy , seorang pemuda duduk disamping saya tengah sibuk mengotak atik komputer . Ketika saya tengah membuka email dan membaca berita pandangan saya tanpa sengaja tertuju pada layar monitor pemuda tersebut dan alangkah sangat terkejutnya saya dengan apa yang saya lihat . Si pemuda menonton adegan yang menurut saya sangat tidak layak untuk ditonton.

Saya segera mengingatkannya , “Akhi tinggalkanlah itu”
Ia menoleh pada saya dan berkata, “ Emangnya kenapa ?”
“Apa yang akhi lihat tersebut akan merusak pikiran dan hati akhi “ , jelas saya padanya .
“Akhi kuliah di Azhar”,  lanjut saya bertanya padanya karena saya melihat buku yang ia bawa .
Tidak dibalasnya.  Saya kembali melanjutkan aktifitas saya.  Dan si pemuda sudah menutup apa yang ia tonton.

            Beberapa waktu kemudian ia terlihat kembali membuka tontonan yang tidak layak tersebut . Saya kembali mengingatkannya tapi ia tidak mengacuhkan.  Sebelum beranjak pergi saya berkata padanya,  “Wahai Akhi takutlah pada Allah”.

            Hal lain yang saya lihat dari pemuda tadi adalah jelas sekali perbedaan antara orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman dan amal soleh dengan hati orang yang kotor oleh dosa dan maksiat. Orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman terpancar kerjenihan pada wajahnya.  Air mukanya terlihat tenang sejuk dipandang dan bersinar .
Sedangkan orang yang dalam hatinya dipenuhi oleh kotoran dosa dan maksiat terlukis pada pancaran mukanya yang keruh gelap dan kurang nyaman untuk dipandang . Apa yang saya lihat mungkin hanya satu dari sekian banyak pemuda yang sering mengakses situs situs jorok tersebut Sangat memprihatinkan betapa tidak karena perbuatan itu akan merusak pikiran hati dan amal .
Bagaimana itu bisa terjadi? . Orang yang suka melihat gambar dan tontonan yang jorok akan tersimpan memori itu dalam otaknya dan lama kelamaan ia akan menjadi pikiran yang sering mengganggu . Kemudian timbullah bisikan dari setan dan dorongan dari hawa nafsu untuk mempraktekkannya Dan kalau orang tersebut tidak tahan ia akan bisa terjerumus pada perbuatan zina .

Semua itu berawal dari pandangan yang tidak dikontrol Dan akibat lainnya adalah pikiran yang sulit untuk fokus hati yang selalu resah gelisah tak menentu karena dosa dan maksiat menggelisahkan hati . Dan pada akhirnya orang tersebut akan diperbudak oleh hawa nafsu dan setan. Sehingga akan sulit untuk belajar dengan tenang ibadah dengan khusyuk dan tidak akan pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya ibadah .

Hati ibarat sebuah wadah . Apa yang akan kita lakukan bila wadah yang biasa digunakan untuk meletakkan makanan berisi kotoran . Langkah yang tepat adalah membersihkan wadah itu terlebih dahulu baru kemudian memasukan makanan . Kalau tidak dibersihkan makanan yang lezat akan bercampur dengan kotoran tersebut dan jadilah makanannya tidak enak .
Mungkin diantara kita telah sering mendirikan shalat membaca al Qur an berzikir dan amal ibadah lainya tapi sering kali kita tidak merasakan rasa nikmat dan lezat dalam hati,  dengan kata lain kita tidak merasakan kemanisan dalam beribadah.

Kenapa hal itu terjadi ? Barangkali kondisi hati kita masih menyimpan kotoran dosa dan maksiat yang belum tuntas atau belum pernah kita bersihkan. Baik kotoran dosa dan maksiat itu berasal dari mata pendengaran kata kata pikiran pikiran kotor atau niat niat yang jelek Itu yang selama ini menjadi penghalang kita untuk merasakan manisnya ibadah dan lezatnya ketaatan .
 Semakin banyak kotoran dosa dan maksiat mengisi hati maka akan semakin sulit bagi kita untuk merasakan lezatnya ibadah .

Saudaraku , Dimanapun kita berada dan kapanpun Allah selalu melihat kita mengetahui apa yang kita lakukan dan tidak ada satu tempatpun di dunia ini yang lepas dari pandangan .
Allah Swt bahkan apa yang terbersit di hati kita Allah Swt mengetahuinya , Allah Swt berfirman dalam beberapa ayat :  Yang melihat engkau ketika engkau berdiri untuk shalat .
Dan melihat perubahan gerakan badanmu di antara orang orang yang sujud (Asy Syu’ara 218 – 219)

Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada . Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan (Al Hadid 4).

Bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di bumi dan di langit (Ali Imran 5). Sungguh Tuhanmu benar benar mengawasi (Al Fajr 14).

Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada (Ghafir 19)
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman Mu adz bin Jabal r a Rasulullah bersabda Bertaqwalah kamu pada Allah dimanapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik akan menghapus keburukan dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik (Hr Tirmidzi).  

Dan yang diriwayatkan dari Anas r a Rasulullah Saw bersabda Sungguh kalian mengerjakan suatu amalan yang ianya dalam pandangan kalian lebih halus nilainya dari sehelai rambut akan tetapi kami pada masa Rasulullah Saw menganggapnya sebagai suatu perbuatan yang membinasakan (Hr Bukhari)
 Semoga kita tidak tergolong pada orang orang yang tertipu oleh bujuk rayu setan dan hawa nafsu . Wallahul musta’an.  

Sumber http://www.eramuslim.com/berita-wahai-akhi-takutlah-pada-allah.html
 

Kisah Seorang Pencuri Terong

Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami' At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanana ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata, 'A'udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?' Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya. Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula. Lalu ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.

Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggilah ia dan syaikh itu bertanya, 'Apakah kamu sudah menikah?', dijawab, 'Belum,'. Syaikh itu bertanya lagi, 'Apakah kau ingin menikah?'. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, 'Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?'. Syaikh itu menjawab, 'Wanita ini datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin', kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokkan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, 'Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab 'Ya'. Kemudian Syaikh bertanya kepada wanita itu, 'Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?', ia menjawab 'Ya'. Maka Syaikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syaikh itu berkata, 'peganglah tangan isterimu!' Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya. Setelah keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.

Sang isteri bertanya, 'Kau ingin makan?' 'Ya' jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: 'heran siapa yang masuk kerumah dan menggigit terong ini?!'. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, 'Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.

(Sumber: Alsofwah.or.id)
 

Kisah Tsa'Labah dalam Timbangan

Pada halaman 254 As-Suyuthi dalam tafsir Al-Jalalain berkata ketika sampai pada ayat, firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya):

“Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shallih.” (At-Taubah: 75)

Orang yang dimaksud itu adalah Tsa’labah bin Hathib

Al-Qadhi Kan’an mengomentari pendapat ini dan mengatakan bahwa cerita tentang Tsa’labah yang diutarakan oleh As-Suyuthi dan anggapan bahwa ayat tadi turun berkenaan dengan cerita tersebut, adalah cerita yang banyak dibicarakan oleh orang dan dinukil oleh para ahli tafsir dengan riwayat apa adanya tanpa mengkritik penisbatan lakon cerita tersebut pada Tsa’labah seperti Ibnu Katsir* dan As-Suyuthi dalam “Jalalain” juga dalam kitab “Ad-Durrul Mautsur” dan lain sebagainya. Namun ada para ahli tafsir lain yang menukil cerita tersebut, tapi kemudian mengkritiknya dan menganggap bahwa tidak mungkin ayat itu turun kepada seorang sahabat yang ikut serta dalam perang Badar.

Dalam kitab “Majma’uz Zawaid” Al-Haitsami mengatakan bahwa cerita tersebut diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan di dalam sanadnya terdapat Ali bin Yazid Al-Halmani dan dia adalah “matruk” (ditinggalkan riwayatnya)

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam kitab “Takhrij Ahaadits Al-Kasysyaf” bahwa cerita tersebut dikeluarkan oleh Ath-Thabrani, juga oleh Al-Baihaqi dalam kitab “Ad-Dalaail” dan kitab “Syu’abu Al-Iman”, juga oleh Ibnu Abi Hatim dan Ath-Thabari, juga oleh Ibnu Mardawaih, semuanya dari jalan Ali bin Yazid dari Al-Qasim bin Abdirrahman dari Abu Amamah. Dan ini adalah sanad yang lemah sekali.” Keterangan-keterangan ini juga disebutkan oleh Ibnu Hqajar dalam kitab “Al-Ishabah”

Sementara itu, Al-Qurthubi dalam tafsirnya –setelah mengungkapkan kisah ini- berkata: “Saya berkata bahwa Tsa’labah adalah Badry (orang yang ikut dalam perang Badar), dan orang Anshar serta orang yang termasuk mendapat kesaksian iman dari Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya. Maka, apa-apa yang diriwayatkan tentang Tsa’labah dalam hal ini adalah tidak benar.

Dan Adh-Dhahhak berkata: “Ayat tersebut turun berkaitan dengan sekelompok orang dari kaum munafikin, mereka adalah: Nabtal bin Al-Harits, Jaddu bin Qays** dan Mu’tab bin Qusyair. Dan memang pantas kalau ayat itu tidak berkaitan dengan Tsa’labah atau orang lain dari kaum Muslimin. Dan kisah yang sedang kita bicarakan ini ditolak, tidak dapat diterima. Bila ayat tersebut memang turun berkaitan dengan orang-orang tertentu maka tentunya adalah orang-orang yang asli munafik. Buktinya, bahwa redaksi ayat-ayat sebelumnya adalah menerangkan prilaku kaum munafikin.” (Lihat ayat 73 s/d 110).

Selain itu juga bahwa ayat yang sedang kita bahas ini telah menyebutkan hal itu, maka firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (wa minhum) “dan di antara mereka” maksudnya adalah orang-orang munafik itu ketika mereka berjanji kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semua mereka dalam keadaan munafik dan bukan mukmin kemudian menjadi jelas kemunafikan mereka dengan melanggar janji, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: (faa’qabahum) “maka Allah menimbulkan kemunafikan (pada hati) mereka” yaitu mereka yang telah melanggar janji kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya mereka merupakan sekelompok orang dan kalau yang dimaksud hanya satu orang saja, tentu ayatnya akan berbunyi (faa’qabahu) (dengan menggunakan kata ganti tunggal, pen.)

Dengan demikian menjadi jelaslah bagi kita kekuatan perkataan Adh-Dhahhak bin Muzahim rahimahullah Ta’ala bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan sekelompok orang dari kaum munafikin –sebagaimana telah dia ungkapkan- dan bahwasanya tidak ada hubungan antara Tsa’labah bin Hathib radhiyallahu anhu- dan tidak seorang pun dari kaum Muslimin yang benar-benar- dengan kisah ini.


------------------------------------------------------

catt :

*Ibnu Katsir menyebutkan kisah ini lengkap dengan sanadnya dan tidak menshahihkannya, juga disebutkan oleh Ash-Shabuni dalam “Mukhtashar Ibnu Katsir” denfgan menghilangkan sanadnya karena ada keyakinan akan keshahihan kisah tersebut, dia juga menyebutkan kisah ini dalam “Shafwatut Tafasir” dan menisbatkannya pada Tsa’labah dan di kitab Muktashar-nya dia menyebutkan Tsa’labah bin Hathib.

**Dalam kitab Al-Ishabah, Ibnu Hajar menyebutkan –ketika menceritakan biografi Jaddu bin Qays dari jalan Adh-Dhahhak- bahwa pada orang inilah turun ayat: (yang artinya)
“Dan di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Berilah saya idzin (tidak pergi perang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalamn fitnah ….” (At-Taubah:49)


Ditulis ulang dari:

“BEBERAPA CATATAN ATAS TAFSIR JALALAIN (terjemahan dari:Tanbihaat muhimmatu ‘ala qurratil ‘ainain wa tafsiir al-Jalaalain, Penerbit: Al-Maktab Al-Islamiy) MUHAMMAD BIN JAMIL ZAINU, DARUL HAQ, JAKARTA, (Serial buku Darul Haq ke-32), Cetakan I (Muharram 1420 H), halaman 96-100.
 

Malik Bin Dinar

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, bahwasanya dia pernah ditanya tentang latar belakang dari tobatnya. Malik bin Dinar kemudian bertanya, “Dahulu aku adalah seorang polisi yang dalam keseharianku selalu kulalui dengan bermabuk-mabukan (minuman arak). Pada suatu ketika aku membeli seorang budak wanita yang amat cantik dan aku pun mencintainya. Aku pun melakukan hubungan layaknya suami – istri dengannya, hingga dia pun melahirkan seorang anak wanita dan aku sangat mencintainya. Ketika anakku mulai dapat merangkak, rasa sayangku semakin bertambah kepadanya. Kami saling mencintai.”

Malik bin Dinar melanjutkan kisahnya lagi, “Suatu ketika aku meletakkan minuman yang memabukkan di hadapanku. Tiba-tiba dia datang menabrakku hingga aku pun terjatuh tepat di atas minuman keras, pakaianku terguyur oleh tumpahan air minuman keras tersebut. Setelah anakku menginjak usia dua tahun, dia panggil menghadap-Nya, sehingga membuatku sangat sedih.”

“Suatu malam, tepat tanggal lima belas bulan sya’ban (Nishfu Sya’ban), dimana pada malam itu tepat pada hari kamis malam, kuhabiskan seluruh malam dengan menegak minuman keras hingga akupun tertidur dan tidak sempat lagi menunaikan shalat isya’. Dalam tidurku, aku bermimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba, terompet telah ditiup, orang-orang yang ada di alam kubur telah dibangkitkan, semua mahluk telah dikumpulkan dan aku termasuk di antara mereka. Tiba-tiba aku mendengar suara berdesis pelan dari belakangku dan aku pun menengoknya yang ternyata itu adalah suara ular naga yang sangat besar, warna hitam kebiru-biruan.

Ular naga itu seakan-akan siap menerkamku, karenanya aku pun lari tunggan-langgang ketakutan. Saat melarikan diri itu, aku sempat berpapasan dengan seseorang yang berusia lanjut dengan pakaian bersih dan menebarkan aroma wangi. Aku lalu memberikan salam kepadanya dan dia pun membalas salamku itu. Aku pun berkata, ‘Wahai syeikh, tolong selamatkan aku dari ular naga itu, semoga Anda juga diselamatkan oleh Allah... !’

Mendengar permintaanku ini, orang itu pun menangis seraya berkata kepadaku, ‘Aku adalah orang yang lemah, sedang ular naga itu lebih kuat daripada diriku, karenanya mustahil aku dapat mengalahkannya. Sekarang cepatlah pergi dari tempat ini, semoga Allah segera memberikan keselamatan kepadamu !’

Akupun berlari meninggalkannya hingga akhirnya aku sampai di perbukitan kiamat, yang ternyata telah memperlihatkan tingkatan-tingkatan neraka. Dari tempat itu aku dapat menyaksikan hal-hal yang mengerikan yang terjadi di dalam neraka. Terdorong oleh rasa takut yang berlebihan atas kejaran ular naga itu, nyaris menggelincirkanku ke dalam neraka. Ketika aku masih dicekam ketakutan, tiba-tiba datang seruan kepadaku, ‘Kembalilah kamu, kamu tidak termasuk penghuninya!’

Oleh karena itu, aku menjadi tenang dan kembali turun menyusuri bukit yang tentu aku kembali dikejar oleh si ular naga.

Aku pun menemui orang tua yang pernah kutemui seraya berkata, ‘Wahai syeikh, bukankah aku pernah memohon pertolongan kepada Anda, akan tetapi Anda tidak dapat menolongku. Sekarang tolonglah aku!’

Mendengar permintaanku untuk kedua kalinya, orang tua tersebut kembali menagis dan berkata, ‘Aku adalah orang lemah, cobalah pergi ke gunung itu, karena di sana ada beberapa titipan bagi orang-orang Islam. Jika di sana kamu mempunyai sebuah titipan, niscaya dia akan dapat menolongmu!”

Malik bin Dinar pun melanjutkan kembali ceritanya, “Aku lalu melihat ke arah sebuah gunung berbentuk bulat yang terbuat dari perak. Di gunung tersebut terdapat beberapa lubang tembus cahaya dan ada juga beberapa buah tabir bergelantungan. Pada setiap pintu kecil maupun gerbangnya itu terdapat dua buah daun pintu yang terbuat dari emas berwarna merah dilengkapi dengan beberapa buah Yaqut berhiaskan mutiara. Pada setiap daun pintu itu terdapat sebuah korden sutera.

Aku pun segera berlari menuju ke gunung tersebut, sementara ular naga itu masih tetap saja mengikutiku dari belakang. Sesaat ketika hampir mendekati gunung tersbut, berserulah seorang malaikat, ‘Angkatlah korden-korden itu dan bukalah daun-daun pintunya serta biarkanlah dia melihatnya dari atas ! Mungkin orang yang celaka ini mempunyai sebuah titipan yang dapat menyelamatkannya dari musuhnya itu.’

Setelah sang malaikat berkata demikian, seketika itu pula semua korden terangkat dan pintu-pintu terbuka, melalui lubang-lubang pintu itu tampak olehku beberapa anak kecil yang wajah mereka bagaikan rembulan. Ular naga besar itupun mendekatiku dan aku menjadi kebingungan.

Sebagian anak-anak yang ada di dalam sana itupun berteriak, ‘Celaka, mari kita naik semua, orang itu telah didekati musuhnya!’

Mendengar teriakan itu, semua anak-anak kecil tadi, kelompok demi kelompok, naik mendekat kepadaku dan tiba-tiab aku bertemu dengan anak gadisku yang telah meninggal dunia itu ada di antara mereka. Ketika putriku melihatku, menangislah dia seraya berkata, ‘Ayah, demi Allah!’

Setelah berkata demikian, secepat kilat putriku melompat ke atas sebuah piringan yang terbuat dari cahaya seperti kilatan busur panah dan bergerak mendekatiku. Selanjutnya, dia pun menarik kedua tanganku dalam genggamannya, sementara aku sedang bergelantungan, tangan kanannya dipergunakan untuk menghalau ular naga itu dari sana.

Putriku lalu menyilakan aku duduk, dan dia pun duduk di pangkuanku sambil tangannya meraba jenggotku, dan berkata, ‘Wahai Ayah, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?’ (Q.S. Al-Hadidi : 16)

Mendengar perkataan putriku ini, aku pun menangis dan berkata, ‘Kamu telah mengetahui Al-Qur’an?’
‘Ayah, aku lebih tahu tentang Al-Qur’an daripada Ayah,’ jawab putriku.

Kepadaku, dia kemudian menceritakan perihal ular naga besar yang hendak membinasakanku tadi, ‘itulah amal jelek Ayah yang dominan. Dia bermaksud menenggelamkan Ayah ke dalam neraka jahanam.’

Dia juga menceritakan perihal orang tua yang kujumpai di jalan, ‘Ayah, itulah amal baik Ayah yang begitu lemah, sehingga dia tiada berdaya sama sekali untuk mengalahkan amal kejelekan Ayah.’

‘Apa yang sedang kamu lakukan di gunung ini?’ tanyaku lagi kepadanya.
‘Kami adalah anak-anak kecil orang-orang islam yang telah ditempatkan di sini hingga hari kiamat nanti. Kami semua telah siap untuk memberikan pertolongan kepada orangtua kami semua’.”

Malik bin Dinar kemudian melanjutkan ceritanya, “Ketika itu aku terperanjat dari tidur lelapku dan sejak pagi itulah kubuang semua minuman kerasku dan menghancurkan semua botolnya. Akupun segera bertobat kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi. Inilah sebab-musabab aku bertobat kepada Allah swt.”

( Sumber : Mereka Yang Kembali, Ragam Kisah Taubatan Nashuha, Ibnu Qudamah - hal : 265)
 

Usaid bin Hudhair Sang Pahlawan Saqifah

Keislamannya

Suatu saat Rasulullah  mengirim Mush’ab bin Umair ke Madinah guna mengajari orang-orang Muslim Anshor yang telah berbai’at kepada Nabi untuk membela Islam di Bai’tul Aqabah pertama, dan untuk menyeru orang lain kepada agama Allah. Namun kedatangan Mush’ab mendapat tantangan dari Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz, di mana keduanya adalah pemimpin kaumnya. Pada suatu saat, Usaid melihat di majelis Mush’ab banyak orang yang dengan penuh minat dan perhatian mendengarkan kalimat-kalimat petunjuk yang mengajak mereka kepada jalan Allah yang diserukan oleh Mush’ab bin Umair. Tiba-tiba majelis yang tenang itu dikejutkan oleh kedatangan Usaid yang melampiaskan segala kemarahan dengan berangnya kepada Mush’ab bin Umair. Melihat ulah Usaid, Mush’ab lalu berkata : “ Sudikah Anda duduk mendengarkannya ? Bila ada sesuatu yang menyenangkan hati Anda, maka Anda dapat mengambilnya. Dan jika Anda kurang berkenan dengannya maka kami hentikan apa yang tidak Anda sukai tersebut.”

Karena melihat Mush’ab mengandalkan logika dan akal serta cara yang baik, maka Usaid menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu berkata kepada Mush’ab: “ Benar kata Anda! Nah kemukakanlah apa yang ada pada Anda!” Mush’ab lalu membacakan ayat-ayat Al Qur`an dan menjelaskan seruannya, agama yang haq, yang Nabi Muhammad perintahkan untuk menyampaikan dan mengibarkan benderanya, yaitu Islam. Orang-orang yang menghadiri majelis yang sama mengatakan : “ Demi Allah sebelum mengucapkannya telah terlihat pada raut wajah Usaid sikap keislamannya, kita mengenalnya pada cahaya muka dan sikap lunaknya . “

Belum lagi Mush’ab selesai menerangkan, Usaid pun berseru dengan amat terkesan: “ Alangkah mulianya kata-kata ini dan alangkah indahnya ….! Apa yang kalian lakukan bila kalian hendak masuk agama ini ?” Jawab Mush’ab : “ Anda bersihkan badan , pakaian, dan ucapkan syahadat yang haq, kemudian Anda sholat.”

Begitulah Usaid, ketika ia mengenal jalannya, ia tidak ragu-ragu lagi maju melangkah menyambutnya dengan kebulatan hati. Usaid tegak berdiri untuk menerima agama yang telah membuka pintu hatinya dan menyinari jiwanya. Ia mandi dan membersihkan diri, lalu menyatakan keislamannya.


Keutamaannya

Termasuk 3 orang shohabat besar dari kalangan Anshor selain Sa’ad bin Mu’adz dan ‘Abbad bin Basyar.

Allah memberikan kelebihan kepadanya dengan suara yg merdu ketika membaca Al Qur`an. Karena merdu dan indahnya suara Usaid, sampai malaikat mendekatinya khusus untuk mendengarkan bacaan Usaid.

Tongkat yang dibawanya bias bersinar di kegelapan malam.

Dalam hadits riwayat Bukhari diterangkan bahwa : Usaid bin Hudhair dan seorang laki-laki Anshor berbincang-bincang di sisi Rasulullah sampai larut malam. Kemudian keduanya pulang dengan membawa tongkatnya masing-masing. Ternyata tongkat tersebut bisa menyinari selama dalam perjalanannya, sehingga ketika salah seorang dari keduanya berpisah di jalan, maka tetaplah bersinar tongkatnya yang lain (yang satu) dan terus berjalan hingga sampai ke rumah (keluarganya).

Pernah mencium pinggul Rasulullah. 
Dari Abdurrahman bin Abi Laila dari bapaknya ia berkata : “Usaid bin Hudhair adalah seorang laki-laki yang sholih, lucu dan tampan. Tatkala ia berbincang-bincang dengan kaum di sisi Rasulullah dan menjadikan mereka tertawa. Lalu Rasulullah  memukul lambungnya, dan ia berkata : “ Anda telah sakiti aku, maka aku balas qishos ya Rasulallah, sesungguhnya Anda berpakaian sedangkan saya tidak berbaju” Abi Laila berkata: Maka Rasulullah mengangkat bajunya dan dipeluklah oleh Usaid kemudian dicium pinggulnya seraya berkata : “ Sungguh demi Bapak dan Ibuku, inilah yang saya kehendaki ya Rasulallah.” (Riwayat Hakim)

Pahlawan di hari Saqifah.
Tak lama setelah wafatnya Rasulullah, segolongan orang Anshor yang dipimpin oleh  Sa’ad bin Ubadah mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang khilafah. Sewaktu debat dan tukar pendapat semakin memanas, maka Usaid pun berpidato yang ditujukan kepada kaumnya golongan Anshor, “ Tuan-tuan semua tahu, bahwa Rasulullah  berasal dari golongan Muhajirin. Dan seseungguhnya kita adalah pembela Rasulullah, maka kewajiban kita sekarang adalah membela khalifahnya..!”

Maka demikianlah, akhirnya ucapan Usaid dalam pidatonya itu menjadi obat yang mujarab untuk menenangkan suasana kembali.

Wafatnya

Usaid bin Hudhair wafat pada bulan Sya’ban tahun 20 H di Baqi’. Salah seorang yg mengangkat jenazah Usaid ke kuburannya adalah Amiirul Mukminin Umar bin Khattab. Ini menunjukkan keutamaan seorang shohabat Nabi yang sholih, cerdas akalnya, dan bijaksana dalam ucapannya.



(ditulis ulang dari Majalah As Sunnah Edisi 22/II/1417-1997, dgn sedikit perubahan tanpa merubah maksud tulisan aslinya)
 

Mush'ab bin Umeir Radiyallahu 'anhu

Mush''ab bin Umeir adalah seorang pemuda yang tampan berasal dari keluarga kaya raya. Dalam kehidupannya ia banyak memiliki limpahan harta, dimanja secara berlebihan, menjadi pujaan banyak gadis, betotak cemerlang dan memiliki nama yang harum di seantero kota Mekah. Selain itu, ia adalah pusat perhatian dalam setiap pertemuan, dimana setiap anggota majelis dan teman-temannya selalu mengharapkan kehadirannya untuk memecahkan berbagai persoalan karena kecermalangan otaknya.

Sampai suatu hari, terbetik kabar tentang Muhammad Al-Amin yang menyatakan diri sebagai utusan Allah untuk menyampaikan agama yang benar. Kian hari kabar itu kian santer di kalangan warga Mekah, dan sampai juga di telinga Mush'ab. Mush'ab tergerak hatinya untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Melalui usahanya, makin banyaklah berita yang ia ketahui, termasuk dimana Rasulullah dan para sahabatnya mengadakan pertemuan rutin, yakni di tempat suci di bukit Shafa, di kediaman Arqam bin Abil Arqam guna menghindari ancaman kaum Quraisy. Di tempat ini Rasulullah dan para sahabat beliau berkumpul dan beribadah kada Allah serta mempelajari ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Dengan semangat dan tekad bulat, suatu hari diikutinya rombongan mereka menuju kediaman Arqam. Seperti tersebut dalam riwayat, baru sekejap mata Mush'ab mengambil tempat duduknya, terdengar olehnya Rasulullah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan kekhusyu'an yang mendalam. Tergetarlah dada Mush'ab oleh pesona yang begitu agung, keharuan yang begitu mendalam dan kebahagiaan yang nyaris sempurna, sehingga membuatnya hampir terlonjak ketika menghampiri Rasulullah.

Namun dengan penuh kebijakan dan rasa kasih sayang, Rasullah mengurut dada pemuda Quraisy itu dengan tangan beliau nan halus. Maka menjadi terasa teduh batin pemuda yang tengah bergejolak hatinya oleh rasa itu. Selanjutnya, pada hari itu juga, masuklah Mush'ab bin Umeir kedalam agama Islam dengan hati mantap dan keyakinan penuh.

Walaupun demikian, tidak semuanya berjalan sempurna. Salah satu sandungan terberat yang dialaminya, setelah masuk Islam adalah dari ibu kandungnya sendiri, yakni Khunas binti Malik. Kharisma dan kekerasan jiwa sang ibu, untuk sementara waktu membuat Mush'ab memnyembunyikan keislamannya, sampai kemudian hari Allah menghendakinya.

Demikianlah, sekian lama ia berusaha menutupi rahasia, sekian lama ia berusaha menutupi rahasia itu. Tetapi kota makah begitu banyak menyimpan mata, apa lagi dalam suasana seperti kala itu. Setiap gerak muslim pasti tak luput dari perhatian. Akhirnya, berita keislaman Mush'ab sampai juga ketelinga ibundanya. Berita itu didapat dari seseorang bernama Utsman bin Thalhah yang melihat dengam mata kepala sendiri, bahwa Mush'ab sering kerumah Arqam secara sembunyi-sembunyi. Bahkan suatu saat, dilihatnya Mush'ab shalat berjama'ah bersama Rasul dan para Sahabatnya beliau.

Betapa murka hati sang ibu, lalu dipanggilnya Mush'ab untuk segera menghadapnya. Di hadapan ibunya, saudara-saudaranya,dan para pembesar Mekah kala itu, Mush'ab berdiri tegar seraya memperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk menyntuh hati nurani mereka. Namun apa mau dikata, hati sang ibu dan semua yang ada disitu tak sedikitpun tergugah. Bahkan sang ibu nyaris menampar muka anaknya, kalaulah tidak melihat cahaya penuh wibawa memancar dari wajah putra terkasihnya itu. Tetapi tak urung, sianak dibawanya juga kesebuah kamar terpencil dalam rumahnya, dan dikurungnya rapat-rapat.

Sampai akhirnya ketika Mush'ab mendengar banyak kaum muslimin berhijrah ke Habasyah, ia berhasil meloloskan diri dengan cara memperdaya sang ibu dan para pengawalnya.

Mush'ab berlari dan menyembunyikan diri di Habasyah bersama rekan-rekannya seperjuangan dengan menghadapi berbagai rintangan dan cobaan silih berganti. Namun ia sangat bangga dan bersyukur, karena dapat mengikuti pola hidup yang diajarkan oleh Rasul, walaupun sebagai resikonya ia harus meninggalkan kemewahan yang selama ini menaungi kehidupannya. Ia harus menanggalkan pakaian indah miliknya dan menggantinya dengan pakaian yang lusuh, usang dan penuh tambalan.

Hingga pada suatu hari, mata setiap orang basah dibuatnya, karena menyaksikan perubahan pada dirinya yang demikian drastis, yakni ketika ia hadir dalam sebuah pertemuan yang dihadiri juga oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Rasulullah sendiri menatapnya dengan rasa syukur, dan dengan penuh arti beliau bersabda :

Dahulu kukenal Mush'ab ini pemuda yang tidak ada imbangnya dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Namun kemudian semua itu ditinggalkan demi Allah dan Rasul-Nya.

Tatkala sang ibu menangkapnya kembali sepulang dari Habasyah, ketika itu pula Mush''ab bertemu untuk berpisah dengan sang ibunda selama-lamanya. Keteguhannya membuat sang ibu putus asa. Sampai detik terakhir, Mush'ab masih terus menasehati ibunya bahwa tidak ada yang berhak di sembah secara benar selain Allah, namun tidak juga membuahkan hasil. Justru hati si ibu semakin murka, akhirnya dengan berlinang air mata, terpaksa dihapusnya juga nama Mush'ab dalam hatinya sebagai anak kandungnya tercinta... Maka berpisahlah kedua anak dan ibu tersebut.

( Sumber : El Fata Edisi I Th. I, hal : 32-37)
 

Mu'adz bin Jabbal radhiyallahu 'anhu

Muadz bin Jabal atau biasa disebut sebagai Abu Abdirahman, beliau termasuk dalam golongan bangsawan yang taat kepada Allah, berbadan tinggi, cakep, putih bersih, besar kelopak matanya, putih mengkilat giginya, berambut pendek lagi keriting, berbudi bahasa dan manis tuturnya serta cerdas dan cemerlang otaknya. Beliau termasuk dalam kelompok Anshar As-Sabiqunal Awwalun (yang pertama masuk islam). Beliau masuk islam umur 18 tahun dan sudah ikut perang Badar pada umur 20 tahun.

Beliau merupakan seorang sahabat nabi yang memiliki banyak keutamaan, beliau termasuk salah satu yang orang yang mengumpulkan Al-Qur'an di masa Rasulullah, salah satu yang pernah memberi fatwa di zaman Nabi. Beliau merupakan hamba shalih yang tunduk kepada Allah dan menyeru kepada manusia. Rasulullah pernah mengutusnya dakwah ke Yaman. Beliau juga termasuk Immamu Fuqaha, pemimpin para fakih, kanzul Ulama gudangnya Ilmu. Seorang pemuda yang penyabar, dermawan, murah hati, lapang dada, dan tingi budi pekertinya.

Tentang ilmunya Umar bin Khatab pernah berkata, Barangsiapa yang ingin bertanyaa tentang Al-Qur'an hendaknya ia datang kepada Ubay bin Kaab, dan barang siapa yang ingin tanya tentang hukum halal dan haram, hendaknya ia datang kepada Mu'adz bin Jabal. Dan barang siapa yang ingin bertanya tentang harta hendaknya ia datang kepadaku. Sesungguhnya Allah menjadikanku tukang penyimpan (baitulmal).

Demikianlah memang Muadz bin Jabal merupakan orang yang diketahui paling paham halal haram, dan beliau sering dimintai untuk berfatwa. Sebagaimana dikatakan oleh Syakr bin Hausyab, Bila para sahabat Rasulullah berbicara dan diantaranya ada Mu'adz bin Jabal, maka mereka akan minta pendapat kepada Mu'adz disebabkan kewibawaannya.

Kecermelangan otak Mu'adz diakui oleh banyak orang, Kecemerlangan inilah yang menjadikan Rasulullah memuji Mu'adz, Rasulullah bersabda,

Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin jabal.

Mu'adz adalah pemimpin ulama yang paling depan.

Kematian Mu'adz bin Jabal akibat terkena serangan penyakit tha'un, yaitu penyakit kusta pada jari telunjuknya. Beliau terkena penyakit ini justru bahagia bahkan mendo'akan agar seluruh keluarganya mendapat penyakit ini, beliau berkata, Ya Allah, jadikanlah bagian keluarga Mu'adz yang banyak (dari penyakit tha'un tersebut). Akhirnya dua putrinya meninggal dan dikuburkan dalam satu lahat. Kemudian putranya Abdurrahman juga tertimpa tha'un juga. Keluarga Mu'adz akhirnya meninggal semua dan pada pekan tersebut juga Mu'adz meninggal.

Kenapa Mu'adz bisa seperti itu ? Karena beliau pernah mendengar dari riwayat Rasulullah bahwa penyakit tha'un sesungguhnya adalah rahmat dari Allah dan do'a Nabi serta wafatnya orang-orang shalih sebelumnya. Beginilah tanda keikhlasan manusia terbaik umamt ini.

Usia meninggalnya Mu'adz 33 tahun, atau ada yang mengatakan 34 usia yang masih sangat muda pada tahun 18 Hijriyah pada pemerintahan Umar bin Khatab.

(Sumber : As-Sunnah edisi 24/II/1416-1995; Hal.68)
 

Abdullah bin Al-Mubarak

Beliau (Ibnul Mubarak) biasa pulang pergi ke Tharasusu dan biasanya saat di tengah perjalanan bila hari telah menjelang malam, beliau segera singgah beristirahat di sebuah penginapan. Di penginapan itu, ada seorang pelayan muda biasa mengurus kebutuhannya. Dan yang lebih menarik perhatian Ibnul Mubarak adalah bahwa pemuda itu ditengah pekerjaan melayani dirinya, juga sangat rajin belajar hadits dengannya. Semangat belajarnya sangat tinggi. Pekerjaanya sebagai pelayan tidak menghalangi untuk terus dan terus memepelajari hadits.

Hingga suatu hari, beliau kembali singgah ke penginapan itu, namum tidak mendapati pemuda tersebut. Saat itu beliu memang sangat tergesa-gesa untuk berperang bersama tentara muslimin, sehingga beliau tidak sempat menanyakan hal itu. Barulah setelah pulang dari peperangan dan kembali kepenginapan, beliau segera menanyakan perihal pemuda tersebut. Orang-orang memberitahukan padanya bahwa pemuda itu kini tengah ditahan karena terlibat hutan yang belum dibayarnya. Maka demi mendengar penjelasan itu, beliau segera bertanya, “Berapakah besar hutangnya, sampai ia tak mampu membayarnya ?”
“Sepuluh ribu dirham,” jawab mereka.

Kemudian beliupun seera menyelidiki dan mencari si pemilik hutang itu. Setelah mengetahui orangnya, beliau lantas menyuruh seseorang untuk memanggil orang tersebut pada malam harinya. Setelah orang itu tiba, Ibnul Mubarak langsung menghitung dan membayar seluruh hutang pemuda tersebut.

Namun segera beliau berpesan, agar pemilik hutang tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun selama beliau masih hidup. Dan orang itupun menyetujuinya. Dan akhirnya Ibnul Mubarak berkata, “Apabila pagi tiba, segera keluarkan pemuda itu dari tahanan.”

Pagi harinya, Abdullah bin Al-Mubarak pun segera bergegas pergi sebelum pemuda itu dibebaskan. Pemuda itu kembali ke penginapan. Orang-orang yang melihatnya langsung berkata, “Kemarin Abdullah bin Al-Mubarak ke sini dan menanyakan tentang dirimu, namun saat ini dia sudah pergi lagi.” Kini yakinlah pemuda itu, bahwa Abdullah bin Al-Muabrak yang telah membebaskan dirinya. Maka segera ia menyelusuri jejak abdullah dan berhasil menjumpai beliau kira-kira dua-tiga marhalah (sata marhalah kira-kira dua belas mil) jauhnya dari penginapan. Demi Abdullah melihat pemuda itu, beliau lantas berkata, “Kemana saja engkau anak muda ? Kenapa aku tak pernah melihatmu lagi di penginapan ?”

Pemuda itu lantas menjawab, “Benar wahai Abu Abdirrahman (Ibnul Mubarak), saya memang baru saja ditahan karena terlilit hutang.”

“Lalu bagaimana engkau dibebaskan?” tanya Abdullah.

“Seseorang telah datang membayar seluruh hutangku, hingga aku bisa dibebaskan. Namun sampai saat ini aku tidak tahu, siapa orang yang telah menolongku,” ujar pemuda itu lagi. Ia berharap bila Abdullah mengakuinya, bahwa Abdullahlah orang yang telah membebaskan dirinya.

Namun beliau justru berkata, “Wahai pemuda, bersyukurlah engaku kepada Allah yang telah memberikan taufik-Nya kepadamu, sehingga bisa terlepas dari hutang.”

Maka pemuda itupun kembali ke penginapan tanpa membawa jawaban dari semua rahasia pembebasan dirinya. Lelaki pemilik hutang itu pun tak pernah memberitahukan kepada siapapun sampai abdullah bin Al-Mubarak wafat.

Oleh : Ummu Nafi’ ( Sumber : El Fata Edisi IV Th. I, hal : 35)
 

Anak Cacat Itu Bernama SALIM

Belum sampai 30 tahun usiaku ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu, dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak membuat mereka tertawa, membicarakan aib manusia, dan mereka pun tertawa.Aku ingat malam itu, dimana aku membuat mereka banyak tertawa. Aku punya bakat luar biasa untuk membuat mereka tertawa. Aku bisa mengubah nada suara hingga menyeruapi orang yang aku tertawakan. Aku menertawakan ini dan itu, hingga tidak ada seorangpun yang selamat dari tertawaanku walaupun ia adalah para sahabatku. Hingga akhirnya sebagian dari mereka menjauhiku agar selamat dari lisanku.
 
Aku ingat pada malam itu aku mengejek seorang yang buta, yang aku melihatnya sedang mengemis di pasar. Lebih buruk lagi, aku meletakkan kakiku di depannya untuk mendorongnya hingga ia goyah dan jatuh, hingga dia berpaling dengan kepalanya dan tidak mengetahui apa yang ia katakan. Leluconku menyebabkan orang-orang yang ada di pasar tertawa.Aku kembali ke rumah dalam keadaan terlambat seperti biasa. Aku mendapati istriku yang sedang menungguku tengah bersedih. Dia bertanya padaku, darimana saja kamu? Aku menjawabnya dengan sinis, “Aku lelah.” Kelelahan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata dengan menangis tersedu, “Aku lelah sekali, tampaknya waktu persalinanku sudah dekat.” 
 
Dalam diamnya, air matanya menetes di pipinya. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku dalam hal ini. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku, lebih khusus di bulan kesembilan dari kehamilannya ini. Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit dengan segera dan aku masuk ke ruang bersalin. Aku seakan merasakan sakit yang sangat beberapa saat. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kelelahan. Maka aku pulang ke rumah dengan meninggalkan nomor HP ku di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.

Setelah beberapa saat, mereka menghubungiku dengan kelahiran Salim. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Pertama kali mereka melihatku, aku bertanya tentang kamarnya. Tetapi mereka memintaku untuk menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter apa? Aku hanya perlu melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan: “Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”
Akhirnya aku menemui dokter tersebut. Lantas dia berbicara kepadaku tentang musibah dan ridha terhadap takdir. Kemudian ia berkata: “Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!”
Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan ucapanku. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong di pasar dan menertawakannya di hadapan manusia.

Maha Suci Allah, sebagaimana engkau mengutuk, maka engkau akan dikutuk. Aku sangat sedih dan tidak mengetahui apa yang aku katakan. Kemudian aku ingat istri dan anakku. Aku berterima kasih kepada dokter atas kelemah lembutannya, lantas aku berlalu dan tidak melihat istriku. Adapun istriku maka dia tidak bersedih, dia ridha dan beriman terhadap takdir Allah. Seringkali ia menasehatiku untuk menjaga diri dari menertawakan orang lain, dan ia juga senantiasa mengulang-ulanginya agar aku tidak ghibah.

Kami keluar dari rumah sakit bersama Salim. Sungguh, aku tidak banyak memperhatikannya. Aku menganggapnya tidak ada di rumah. Ketika tangisannya sangat keras, aku lari ke lorong untuk tidur di sana. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa mencintainya.

Salim pun semakin besar. Mulailah dia merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun, dan mulailah dia berjalan. Maka semakin jelas jika dia pincang. Maka beban yang berada di pundakku semakin besar. Setelah itu istriku melahirkan anak yang normal setelahnya, Umar dan Khalid. Berlalulah beberapa tahun dan Salim semakin besar, dan tumbuh besar pula saudara-saudaranya. Aku sendiri tidak seberapa suka duduk-duduk di rumah, seringkali aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku.

Istriku tidak pernah putus asa untuk senantiasa menasehatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku yang gegabah. Akan tetapi, ia sangat bersedih jika melihatku banyak memperhatikan saudara-saudara Salim, sementara kepada Salim aku meremehkannya. Salim semakin besar dan harapanku kepadanya juga semakin besar. Aku tidak melarang ketika istriku memintaku agar mendaftarkan Salim di salah satu sekolah khusus penyandang cacat. Tidak terasa aku telah melalui beberapa tahun hanya aku gunakan untuk bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-temanku.

Pada hari Jumat, aku bangun pada pukul 11.00 waktu zhuhur. Dan ini masih terlalu pagi bagiku, dimana ketika itu aku diundang untuk menghadiri suatu perjamuan. Aku berpakaian, mengenakan wewangian dan hendak keluar. Aku berjalan melalui lorong rumah, namun wajah Salim menghentikan langkahku. Dia menangis dengan meluap-luap!

Ini adalah kali pertama aku memperhatikan Salim semenjak dia masih kecil. Telah berlalu 10 tahun, tetapi aku tidak pernah memperhatikannya. Aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu, tetapi tidak bisa. Aku mendengarkan suaranya yang sedang memanggil ibunya, sementara aku sendiri berada di dalam kamar. Aku melihatnya dan berusaha mendekat kepadanya. Aku berkata: “Salim, mengapa engkau menangis?” Ketika mendengar suaraku, ia berhenti menangis. Maka ketika ia merasa aku telah berada di dekatnya, dia mulai merasakan apa yang ada di sekitarnya dengan kedua tangannya yang kecil. Dengan apakah dia melihat? Aku merasa bahwa dia berusaha untuk menjauh dariku!! Seolah-olah ia berkata: “Sekarang engkau telah merasakan keberadaanku. Dimana saja engkau selama 10 tahun yang lalu?!” Aku mengikutinya, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia menolak memberitahukan kepadaku sebab dari tangisannya. Maka aku mencoba untuk berlemah lembut kepadanya. Mulailah Salim menjelaskan sebab tangisannya. Aku mendengar ucapannya, dan aku mulai bangkit.

Apakah kalian tahu apa yang menjadi sebabnya!! Saudaranya, Umar, terlambat, terlambat mengantarkannya pergi ke masjid, sebab ketika itu adalah shalat jumat, dia khawatir tidak mendapatkan shaf pertama. Ia memanggil Umar, ia memanggil ibunya, akan tetapi tidak ada yang menjawabnya, akhirnya ia menangis. Aku melihat airmata yang mengalir dari kedua matanya yang tertutup. Aku belum bisa memahami kata-katanya yang lain. Aku meletakkan tanganku kepadanya dan berkata: “Apakah untuk itu engkau menangis, wahai Salim…?!”
Dia berkata, “Ya…”
Aku telah lupa dengan teman-temanku, aku telah lupa dengan undangan perjamuan.
Aku berkata: “Salim, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”
Ia berkata: “Dengan Umar tentunya, tetapi ia selalu terlambat.”
Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”
Salim terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengolok-oloknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap airmatnya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya mengatakan: “Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid!”

Aku tidak ingat kapan kali terakhir aku masuk ke dalam masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan adanya takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lalaikan selama beberapa tahun belakangan. Masjid itu dipenuhi dengan orang-orang yang shalat, kecuali aku mendapati Salim duduk di shaf pertama. Kami mendengarkan khutbah jumat bersama, dan dia shalat di sampingku. Bahkan, sebenarnya akulah yang shalat di sampingnya.

Setelah shalat, Salim meminta kepadaku sebuah mushaf. Aku merasa aneh, bagaimana dia akan membacanya padahal ia buta? Aku hampir saja mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak mengetahui permintaannya. Akan tetapi aku takut jika aku melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat al Kahfi. Terkadang aku membalik-balik lembaran, terkadang pula aku melihat daftar isinya. Maka ia mengambil mushaf itu dari tanganku kemudian meletakkannya. Aku berkata: “Ya Allah, bagaimana aku mendapatkan surat al kahfi, aku mencari-carinya hingga mendapatkannya di hadapannya!!”
Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah…!! Ia telah hafal surat al Kahfi secara keseluruhan…!

Aku malu pada diriku sendiri. Aku memegang mushaf, namun aku rasakan seluruh anggota badanku menggigil. Aku baca dan aku baca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa, maka mulailah aku menangis seperti anak kecil. Manusia masih berada di masjid untuk mendirikan shalat sunnah. Aku malu pada mereka, maka mulailah aku menyembunyikan tangisanku. Maka berubahlah tangisan itu menjadi isakan.

Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Salim!! Aku dekap dia ke dadaku dan aku melihatnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Engkau tidaklah buta wahai anakku, akan tetapi akulah yang buta, ketika aku bersyair di belakang orang fasiq yang menyeretku ke dalam api neraka.”

Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Salim. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Salim.
Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman yang aku kenal di masjid. Aku merasakan nikmatnya iman bersama mereka. Aku mengetahui dari mereka banyak hal yang dilalaikan oleh dunia. Aku tidak pernah ketinggalan mendatangi kelompok-kelompok pengajian atau shalat witir. Aku telah mengkhatamkan al Quran beberapa kali dalam sebulan. Lisanku telah basah dengan dzikir agar Allah mengampuni dosa-dosaku berupa ghibah dan menertawakan manusia. Aku merasa lebih dekat dengan keluargaku. Hilang sudah ketakutan dan belas kasihan yang selama ini ada di mata istriku. Senyuman tidak pernah pergi menjauhi wajah anakku, Salim. Siapa yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah seorang malaikat dunia beserta isinya. Aku banyak memuji Allah atas segala nikmat-Nya.

Suatu hari, teman-temanku yang shalih menetapkan diri melakukan safar untuk berdakwah. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku melakukan istikharah dan bermusyawarah dengan istri. Aku merasa dia akan menolak keinginanku. Akan tetapi ternyata sebaliknya, ia menyetujui keinginanku! Aku sangat bahagia, bahkan ia memotivasiku. Dia telah melihat masa laluku, dimana aku melakukan safar tanpa musyawarah dengannya sebagai bentuk kefasiqan dan perbuatan jahat.

Aku menghadap ke arah Salim. Aku mengabarinya jika aku hendak melakukan safar. Maka dia memegangku dengan kedua tangannya yang masih kecil sebagai ungkapan selamat jalan.
Aku telah meninggalkan rumahku lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih senantiasa menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anakku selama ada kesempatan. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Salim. Aku sangat ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku semenjak aku melakukan safar. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubungi mereka.

Setiap kali aku berbicara dengan istriku perihal kerinduanku padanya (Salim), maka ia tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah.

Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Salim.” Istriku menjawab: “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.
Terakhir, aku pun kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Salim yang akan membukakan pintu itu. Akan tetapi, aku mendapati anakku Khalid yang usianya belum sampai 4 tahun membukakan pintu. Aku gendong dia, dan dia berteriak-teriak: “Baba…baba…”
Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Istriku menyambutku. Wajahnya mulai berubah, seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat.
Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”
Ia berkata: “Tidak apa-apa.”
Tiba-tiba aku teringat Salim, maka aku berkata: “Dimana Salim.”
Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.
Aku berteriak, “Salim…! Di mana Salim?”
Aku mendengar suara anakku Khalid yang hanya bisa mengatakan: “Baba…”
“Salim telah melihat surga,” kata istriku.
Istriku tidak kuasa dengan situasi ketika itu. Ia hendak menangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.

Aku tahu setelah itu, bahwa Salim terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum kedatanganku. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana maka ia menghembuskan nafas terakhir. Ruhnya telah meninggalkan jasadnya.

Aku mengira, anda semua wahai para pembaca akan menangis, dan air mata anda akan mengalir sebagaimana air mata kami juga mengalir. Anda akan tersentuh sebagaimana kami juga tersentuh. Aku berharap Anda semua tidak lupa untuk mendoakan Salim, lebih khusus lagi bagi ibunya yang tetap teguh menjalankan tugasnya walaupun suaminya pergi. Jadilah ibu tersebut seperti perusahaan sebenarnya yang menghasilkan kaum laki-laki yang kuat. Semoga Allah membalas amal kebaikannya.(Pelaku dari kisah ini termasuk diantara dai yang ternama dan terkenal. Ia memiliki banyak rekaman, ceramah dan tulisan.
 
Sumber diambil dari kisah yang berjudul “Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki”, majalah Qiblati edisi 02 thn VII)
 

Tidak Baik Bagimu Wahai Ayahku..Bertakwalah Kepada Allah…

Yaqthan Madinatur Riyadh menjalani hidup dengan hura-hura tanpa makna, hanya sedikit sekali mengenal Allah. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah masuk masjid, bahkan tidak pernah bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala walau sekali. Ternyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak membukakan pintu taubat di hatinya melalui putri mungilnya.

Ia bercerita, “Aku biasa begadang bersama teman-teman sampai pagi. Sepanjang malam kuhabiskan untuk hura-hura dan bermain. Kutinggalkan istriku yang malang dihinggapi kesendirian, penderitaan, dan dera siksa. Hanya Allah-lah Yang Mahatahu. Istriku yang saleh sudah tidak bisa berbuat apa-apa kepadaku. Pernah ia berusaha menasihati dan menegurku, tetapi sia-sia.

Pada suatu malam, aku pulang dari begadang. Jarum jam menunjukkan angka tiga pagi. Melihat istri dan anakku yang tidur lelap, aku langsung menuju kamar sebelah untuk menghabiskan sisa malam dengan menonton video mesum. Padahal, pada jam-jam seperti itu Allah Subhanahu wa Ta’ala turun dan berfirman, ‘Adakah
yang berdoa supaya kuistijabah? Adakah yang beristighfar agar kuampuni? Dan, adakah yang meminta sesuatu supaya kupenuhi?’

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Petri mungilku yang belum genap lima tahun memandangiku heran dan hina. Sebaris kalimat meluncur dari bibirnya, ‘Tidak baik bagimu, ayahku, bertakwalah kepada Allah.’ Kalimat itu ia ulangi tiga kali, lalu daun pintu kembali ditutup lagi. Setelah itu, ia pergi. Aku bingung. Segera kumatikan video, kemudian duduk kebingungan. Kata-kata putriku masih terus terngiang-ngiang di telingaku hingga hampir membunuhku. Aku keluar mengikuti jejak putriku, ternyata ia telah kembali ke tempat tidur. Aku seperti gila, tak tahu apa yang sedang menimpaku saat itu. Tidak lama kemudian, suara muadzin menggema di masjid dekat rumahku, memacahkan keheningan malam yang mena­kutkan. Suara itu memanggil umat manusia untuk shalat fajar. Akhirnya, aku pun berwudhu’ dan berangkat ke masjid. Sejatinya, aku tidak begitu ingin shalat. Tetapi, kata-kata putriku mengusik ketenanganku.

Shalat subuh didirikan. Sang imam menguman­dangkan takbir, kemudian membaca ayat Al-Qur’an. Ketika ia sujud, dan aku juga ikut sujud di belakangnya, kuletakkan keningku di atas hamparan bumi, tangisanku pecah seketika. Aku tidak tahu apa sebabnya. Inilah pertama kali aku bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak tujuh tahun yang silam.

Tangisan itu membuka pintu kebaikan untukku. Seluruh kekafiran, kemunafikan, dan keburukan yang menodai hatiku keluar bersama tangisan itu. Semenjak itu, aku mulai merasakan arus keimanan menjalari sanubariku. Sehabis shalat, aku duduk sejenak, kemudian kembali ke rumah. Aku tidak tidur sampai berangkat kerja. Setibanya di kantor, temanku merasa aneh melihatku datang pagi. Biasanya, karena begadang, aku selalu datang terlambat. Ditanya mengapa datang pagi, kuceritakan pada temanku seluruh peristiwa yang kualami tadi malam. Temanku bilang, ‘Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengirim putri mungilmu untuk menyadarkanmu dari kelalaianmu. Beruntung Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengutus malaikat maut untuk mencabut nyawamu pada saat itu.’

Menjelang waktu Dzuhur, aku merasa capai, karena tidak memejamkan mata sekian lama. Kuminta temanku meneruskan pekerjaanku, dan aku bermaksud pulang untuk beristirahat. Di lubuk hatiku terpendam kerinduan membara untuk segera melihat putri mungilku. Dia telah menjadi penyebab terbukanya pintu hidayah bagiku, juga mengembalikan aku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lebih lanjut ia berkata, “Aku pun pulang ke rumah membawa kerinduan membara untuk segera bertemu putriku. Saat itu, kurasa kakiku bersaing dengan hembusan angin. Setibanya di rumah, tidak seperti biasa kulihat istriku berdiri di depan pintu. Di hadapanku ia berkata lantang, ‘Ke mana saja engkau?’ Kujawab, ‘Aku di tempat kerja.’ Ia bilang, ‘Kami telah berusaha menghubungimu berkali-kali, tetapi tidak ada. Di mana saja engkau?’ Kujawab, ‘Aku di masjid kantorku. Memangnya, apa yang terjadi? Mengapa engkau berdiri di depan pintu seperti ini?’

Istriku berkata lirih, Putrimu telah tiada.
Ia bilang, “Berita itu memukul telak jiwaku. Ta­ngisanku pecah seketika. Tidak ada yang ingat selain perkataan putriku, ‘Tidak baik bagimu, ayahku, ber­takwalah kepada Allah… Tidak baik bagimu, ayahku, bertakwalah kepada Allah.’
Aku menghubungi temanku. Kusampaikan padanya kalau anak yang telah mengeluarkanku dari kegelapan menuju benderang cahaya telah tiada.
Tidak lama kemudian, temanku datang. Aku masuk memandikan dan mengafani putriku. Orang-orang membawanya ke masjid untuk dishalati, kemudian dibawa ke kuburan. Temanku bilang, ‘Ambillah putrimu, dan kuburkanlah.’
Kuambil putriku, lalu kukuburkan. Kubilang pada or­ang-orang di sekitarku, ‘Demi Allah, aku tidak menguburkan putriku, melainkan cahaya yang menerangi jalanku kepada Allah. Anak ini telah membukakan pintu hidayah untukku. Aku berharap, semoga Allah mem­pertemukanku dengannya di surga.’
Orang-orang yang hadir di pemakaman ikut meneteskan air mata. Hati mereka hampir terputus karena menahan kesedihan yang mengharu biru atas kepergian anak kecil itu.
Begitulah saudaraku…

Tidak seorang pun tahu kapan malaikat maut datang menjemputnya. Kematian tidak mengenal besar dan kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya” (An-Nahl: 61).
Karena itu, segeralah kembali kepada Allah. Segeralah bertaubat dengan tulus. Semoga taubat yang tulus menjadi penutup usia, dan menjadi balasan terbaik di surga Yang Maha Pengasih. [Mawaqif Min Hayat Al-Anbiya', hlm. 123]

Sumber: Buku ”Kisah Orang-Orang Shaleh Dalam Mendidik Anak, Pustaka al Kautsar
 

Seorang Gadis Tewas Di Malam Pernikahan


Hanin (bukan nama sebenarnya) adalah seorang gadis yang masih muda belia dan merupakan anak satu-satunya bagi kedua orang tuanya. Dia lahir ke dunia setelah masa-masa mandul selama sepuluh tahun. Sepanjang itu, sang bapak dan ibu merasakan ketiadaan anak. Pandangan masyarakat yang sinis membunuh hati sang ibu dan berbagai perasaan putus asa mengebirinya. Sang bapak mendambakan bisa melihat keturunannya, meski dia sudah termakan usia. Sedangkan sang ibu mendambakan agar dikarunia sesuatu yang bisa menjaga dan menutupi aibnya.

Namun, hari dari demi hari dan tahun demi tahun berlalu, tapi kondisi pun tetap kritis. Maka, tidak ada lagi harapan dari segi medis maupun pihak dokter. Dia hanya bisa bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah pun menghendaki dia membaca berita di salah satu koran tentang perkembangan baru dalam dunia kedokteran, khususnya tentang masalah kemandulan di salah satu negara Eropa. Maka, dia pun mengemasi koper dan berpamitan pada keluarga dan orang-orang tercinta. Dia mengikuti pengobatan intensif sepanjang bulan untuk menjalani beberapa pemeriksaan dan eksperimen sampai akhirnya bisa melahirkan bayi.
Dia pun pulang membawa bayinya kepada keluarganya dan keluarga suaminya di saat semuanya larut dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Kesedihan pun berubah menjelma menjadi kebahagiaan. Semua itu terjadi pada malam hari raya.
Bocah ini pun tumbuh dewasa dan menjadi pusat perhatian semuanya. Sementara tahun-tahun berlalu begitu cepat sampai anak ini pun melanjutkan studi di perguruan tinggi untuk mejadi seorang guru agar dapat memenuhi obsesinya dan menjadi elemen yang baik di tengah masyarakat. Dia pun berhasil meraih ijazah gelar sarjana dan lulus di saat banyak orang malah terancam Drop Out (DO). Dia duduk di rumah sepanjang musim kemarau sambil menanti surat panggilan kerja. Sungguh, kebahagiaan telah mengetuk pintunya sewaktu dia menerima surat panggilan kerja. Malam harinya, dia pun tidak bisa tidur karena saking gembiranya.
Pada pagi harinya, dia berangkat ke tempat tujuan untuk mengetahui tempat kerjanya dengan didampingi kedua orangtuanya. Akan tetapi, serasa belum lengkap kegembiraan itu, tiba-tiba dia merasa bumi bergetar di bawah kedua telapak kakinya mengancamkan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Dia tahu benar bahwa dia bakal bekerja di salah satu pemukiman yang berjarak 250 km dari kota tinggalnya, dengan melewati jalan-jalan yang dikelilingi banyak mara-bahaya. Sang bapak pulang ke rumahnya sedang kesedihan senantiasa menyelimutinya. Dia merasa telah berjalan menentang arus dan berjalan di balik prasangka, tapi dia tidak menuai selain fatamorgana.

Malam harinya, dia tidak bisa tidur. Dia dipusingkan oleh pikiran, apakah harus mencegah putri dan anak semata wayangnya itu untuk menerima pekerjaan itu.? Apakah dia harus memaksanya untuk tetap di rumah karena menjaga kehidupannya padahal dia lahir setelah mengalami masa-masa gersang (mandul).?
Putrinya bersimpuh di depannya sambil menangis, menjerit dan memohon kepadanya agar hatinya luluh, “Ayahanda, jangan engkau tolak pekerjaanku sebagai kesempatan yang barangkali takkan terulang lagi untuk selamanya.”

Sang bapak yang malang ini pun menjawab, “Kamu adalah kesempatan umurku yang takkan terulang lagi untuk kedua kalinya…lalu bagaimana aku menyia-nyiakanmu dengan begitu mudah.?”
Di hadapan permohonan sang anak dan ibunya, sang bapak pun menyerah dan dengan terpaksa dia sepakat. Setiap hari, sang putri menumpang bus bersama teman-teman wanitanya menempuh jarak yang tidak kurang dari 6 jam pulang dan pergi, hingga ketika sudah kembali ke rumahnya seolah-olah tulang-tulangnya remuk redam akibat kelelahan.

Usia sang putri sudah menginjak dewasa dan telah menjadi mempelai cantik yang menantikan seorang lelaki yang akan mengetuk pintu hatinya dan menjadi pendamping hidupnya nanti, agar mereka bisa bersama-sama membangun mahligai rumah tangga. Akhirnya, salah seorang kerabatnya yang bekerja sebagai arsitektur di salah satu perusahaan meminangnya. Tanpa berpikir panjang, dia pun langsung menerimanya. Pada saat itu, dia sudah mendekati usia perawan tua dan bisa saja terlambat menikah.

Masa pertunangan dan akad nikah pun sudah berjalan setahun. Di sela-sela itu, mereka mempersiapkan perangkat rumah tangga dan menentukan liburan panjang untuk melangsungkan pernikahan, mengingat ada banyak waktu di masa-masa itu untuk menyelami kebahagiaan dan ketenangan.

Hari demi hari terus berjalan, sedang dia selalu merasakan sukarnya jalan dan kepenatan perjalanan sehari-hari yang menyita seluruh waktunya. Akan tetapi, dia tetap menahan, merasakan dan menyembunyikan banyak hal yang dialaminya dari keluarganya, setelah terlihat senyuman dingin pada kedua bibirnya. Satu tahun hampir usai, ketika mulai fase ujian akhir tahan. Itulah hari-hari di mana dia merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam bahtera rumah tangganya.

Pada hari yang ditentukan, seperti biasanya dia pun menumpang bus, lalu bus membawanya memutari kota hingga penuh para guru wanita dan bus pun menuju jalan tol… Laju bus semakin kencang dan akibatnya dari sisi bus keluar goncangan dan suara aneh yang mungkin diakibatkan kurang terawatnya bus. Sopir merasa bangga dengan kecepatannya dan dia pun miring ke kanan dan ke kiri. Semua penumpang menentang dan memintanya untuk mengontrol dirinya, tapi sopir itu malah menimpali, “Sobat, aku begini karena cepatnya waktu.” Sang sopir pun meneruskan nafsu dan keterburu-buruannya meski jalanan sempit dan banyak turunan dan tanjakan.

Di tengah-tengah laju perjalanannya itu, dia menghindari mobil yang pertama dan berjalan seperti kilat. Tiba-tiba, trotoar terbelah oleh truk yang muncul bagaikan momok. Sopir berusaha menghindar dan berkelit darinya, tapi keseimbangan mobil hilang, maka bus pun terperosok ke dasar jurang dan membentur salah satu batu besar untuk mengantarkan seluruh penumpangnya menjadi mayat-mayat beku yang bergelimpangan dan sang pengantin pun tewas di malam perkawinannya.”

Sumber: Serial Kisah Teladan -Kumpulan Kisah-Kisah Nyata- karya Muhammad bin Shalih al-Qahthani, hal. 35-39, juz II
 

Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika.

Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.
Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.
Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silahkan!"

Sang pendeta pun mulai bertanya,
  1. satu yang tiada duanya
  2. dua yang tiada tiganya
  3. tiga yang tiada empatnya
  4. empat yang tiada limanya
  5. lima yang tiada enamnya
  6. enam yang tiada tujuhnya
  7. tujuh yang tiada delapannya
  8. delapan yang tiada sembilannya
  9. sembilan yang tiada sepuluhnya
  10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh
  11. sebelas yang tiada dua belasnya
  12. dua belas yang tiada tiga belasnya
  13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya
  14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
  15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
  16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
  17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
  18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
  19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
  20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
  21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
  22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"
Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca basmalah ia berkata,
  1. yang tiada duanya ialah Allah SWT.
  2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)."(Al-Isra': 12).
  3. yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
  4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
  5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
  6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.
  7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
  8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
  9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan
  10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).
  11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusuf
  12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
  13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
  14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing. "(At-Takwir: 18).
  15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
  16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf didekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka," tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang"
  17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara eledai." (Luqman: 19).
  18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
  19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (AlAnbiya': )
  20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
  21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
  22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"

Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Pendeta tersebut berkata,
"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.

" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."

Sang pendeta pun berkata,
"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah."

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam.
Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.

Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan akan menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat..
Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..

Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir..amien


Jangan putuskan e mail ini... please forward
 

Istimewanya Seorang Muslimah

Kalian semua harus bangga jadi seorang muslimah, tidak perlu iri dengan kelebihan yang ada pada lelaki. Nggak percaya? baca ini:

Kaum feminis bilang, susah menjadi wanita ISLAM. Lihat saja peraturan dibawah ini :

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya kurang dibanding lelaki.
4. Wanita menerima pusaka atau warisan kurang dari lelaki.
5. Wanita harus menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak ada di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang banyak beribadah karena masalah haid dan nifas yang tidak dialami lelaki.

Makanya mereka tidak lelah-lelahnya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM"!

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ...??

Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak, bukan?

Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki pun wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya.

Bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka atau warisan kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Manakala lelaki menerima pusaka atau warisan, ia akan menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anaknya.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat, dan seluruh makhluk ALLAH di mukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab kan 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.

Seorang wanita pula, tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara, lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu manapun yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat pada suaminya dan menjaga kehormatannya.

Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat pada suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, ia akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH... demikian sayangnya ALLAH pada wanita, kan?

Bagaimana... ...? Masih merasa tidak adil?
Berbahagialah menjadi seorang muslimah!!!
 

Ramai-Ramai Bersyahadat di Regent Park Mosque


ATAS saran Imam Syeikh Khalifah, saya ikut dan datang ke pengajian hari Sabtu. Walau tidak bisa datang setiap hari Sabtu, namun kehadiran kami cukup dikenal oleh brother Naugal dan istrinya serta teman-teman yang lain. Selain ke masjid, kami juga menyempatkan bersilaturahim dengan teman lainnya. Kadang kita lanjutkan dengan minum kopi atau makan malam.

Masjid ini memang lokasinya sangat sentral, sangat nyaman karena terletak di pusat kota, dai Regent Park, satu kawasan dengan Baker Street. Tempatnya Madame Tussaud (Rumah muesium lilin) sehingga di masjid ini kadang dijadikan meeting point untuk amprokan atau rendevous, bahasa keren-nya.

Syahdan, ‘Islamic Circle’ ini didirikan oleh brother Yusuf Islam pada tahun 1979, saat ia baru masuk Islam. Alhamdulilah pengajian ini masih berjalan secara langgeng yang kini di koordinir oleh brother Naugal Durani yang beristrikan orang Inggris. Sementara Yusuf Islam sendiri hampir jarang berada di UK, selain beliau punya kesibukan lain seperti sekolahnya yang bernama Islamiya, charity-nya dan juga kegiatan bisnis lainnya.

Pengajian ini berlangsung sangat simpel dan sederhana. Dimulai sekitar jam 3 sore setiap hari Sabtu dan dilaksanakan di basement atau kadang kita menggunakan ruang di lantai pertama.

Pengajian dihadiri oleh siapa saja termasuk non-Muslim atau bagi mereka yang masih mencari tahu tentang Islam.

Pembicaranya bisa dari mana saja dan siapa saja. Selama mampu berorasi dengan ilmu yang memadai dengan durasi selama 1 jam. Biasanya, acara ditutup dan di akhiri dengan minum teh dan biscuit. Setelah itu para jamaah saling bersilaturahmi, saling berkenalan dan menambah teman baru.

Tidak ada sesi tanya jawab apalagi diskusi mengingat setiap pembicara sudah punya jadwal di tempat lain. Atau bila ada permintaan dari para jamaah yang ingin diskusi atau bertanya jawab, dilanjutkan sehabis sholat Ashar.

Saya berada di kantornya Syeikh Khalifa, saya tertarik dengan bundelan sertifikat yang bertumpuk di meja kerja beliau. Saya lihat sertifikat para muallaf (orang yang baru masuk Islam).
Saya beranikan untuk meminta ijin pada beliau dan melihatnya. Alhamdulillah, beliaupun mengijinkan.

Luar biasa. Para muallaf datang dari berbagai macam latar belakang baik bangsa, agama dan warna kulit. Ada yang berasal dari kulit hitam, coklat, kuning dan mereka yang berkulit putih baik dari London bahkan dari Jerman dan Prancis. Bahkan ada yang datang dari Eropa Timur seperti; dari Polandia, Romania dan lainnya.

“Ya Syeikh berapa banyak orang yang berikrar syahadat di masjid ini?”

“Ada sekitar 5-6 orang seharinya, terlebih hari Jumat ramai sekali orang bersyahadat, pokoknya ada saja orang berikrar, “ ujar Syeikh Khalifah, Imam masjid lulusan Universitas Al Azhar ini.

Bahkan di akhir pecan, kadang yang ingin bersyahadat jauh lebih banyak dari biasanya. Jika sudah begitu, acara dilakukan di aula yang lebih besar, ujar beliau.

Selain mengurusi masjid, menjadi imam shalat dalam sehari, Syeikh Khalifah juga mengurus pernikahan, nasihat bagi yang sedang mengalami keretakan rumah tangga dan urusan lainnya tentang Islam di London.

Bergetar

Suatu saat saya dapat SMS untuk menghadiri acara ‘ikrar ber-syahadat’ bagi calon pendatang Muslim. Alhamdulilah, saya sempat hadir dan menyaksikan acara yang amat mengharukan ini.
Banyaknya orang yang akan bersyahadat kali bahkan memerlukan ruangan yang lebih besar karena sister Amina membawa rombongan sekitar 19 orang wanita.
Ternyata jumlah yang 19 jadi membengkak hingga mencapai 28 dan mungkin 30 orang karena ada tambahan 2 kelompok lagi. Satu kelompok lelaki saja dan satu kelompok lagi laki-laki dan perempuan dan bahkan ada yang mendadak sontak ingin berikrar pada saat itu juga.

Yang membuat kami semua agak terkejut, hari itu brother Yusuf Islam tiba-tiba hadir. Betul-betul sebuah kejutan bagi yang lainnya juga. Ia nampak santai dengan mengenakan kemeja berlengan pendek dan berpantalon warna khaki. Tidak memakai baju koko Muslim panjang lengkap dengan sorbannya, sebagaimana yang sering ia pakai.
Beliau duduk di sebelah brother Abu Muntasir. Tak tak ayal, brother Naugal, sang panitia memintanya mengucap sepatah dua patah kata sebagai sambutan.

Sepertinya hadirin mendapat privillage (keistimewaan) dengan kunjungan Yusuf Islam hari itu. Tambahan siraman rohani darinya tentunya menambah semangat para muallaf. Maklum Yusuf Islam adalah seorang tokoh selebriti yang kami banggakan di UK.

Momen menggetarkan ketika mendengar para calon saudara-saudari Muslim mulai mengucapkan kalimah Syahadat.

“Asy hadu..ala... ila..ha iIl Allah..wa asyhadu ana..Muhammad dar Rasulullah....” (yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris).

Usai bersyahadat mereka ditakbiri lalu disalami dan berpelukan antara teman, sahabat mereka dengan penuh haru. Bahkan ada yang terisak-isak menangis.
Lalu setiap mereka dapat paket (hadiah) berupa sajadah, al-Quran dan beberapa leaflet atau buku-buku kecil berisi panduan tentang Islam

Berikrar syahadat adalah sebuah transformasi akan sebuah kehidupan untuk seorang manusia dengan segala risiko dan akibat. Tak sedikit para muallaf ini akan mengalami isolasisi atau kehilangan keluarga, teman dan sahabat atau masyarakat sekitarnya. Maklum, keyakinan baru ini akan menghilangkan kebiasaan yang mereka lakukan dulu; baik soal makanan, minuman dan pakaian harus mereka rubah pula. Dan kadang, mereka jauh lebih kaffah dan komit dari pada kita yang lahir sebagai Muslim di Indonesia.

Menariknya lagi, hari itu yang bersyahadat terus bertambah untuk berikrar. Mereka sibuk mengisi formulir baik lelaki dan perempuan. Dan Syeikh Khalifa melakukan dan membimbing mereka untuk bersyahadat sampai 3 atau 4 kali.

Ada sedikit kelelahan pada wajah Syeikh Khalifah karena harus melayani dan membimbing orang-orang yang ingin memeluk Islam hingga sore hari. Namun beliau masih sempat melemparkan senyumnya di saat saya mengarahkan kamera ke wajahnya.

Terus Meningkat

Seperti diketahui, dalam masa seputuh tahun terakhir ini, diperkirakan ada sekitar 100.000 orang British (Inggris, Scottish, Irlandia dan Wales) telah mengikrarkan dua kalimah Syahadat. Mereka menemukan dan memeluk agama baru, bernama Islam. Ini menurut angka statisktik dari para peneliti yang berbasis di Universiats Swansea.

Berita ini sudah beredar di koran cetak atau eletronik tahun lalu yang lumayan membuat dunia terkejut. Ini berita yang luar biasa significan dibanding satu dasawarsa lalu yang berjumlah sekitar kurang lebih 60.000 orang.

Yang mengagumkan, dua pertiga dari jumlah yang bersyahadat adalah wanita, dan rata-rata cukup muda. Berarti Islam amat diminati perempuan di Eropa.  [baca juga; Lautan Jilbab di Britania Raya]

Ini sangat kontradiktif dibanding tuduhan bahwa Islam itu menindas (oppress) perempuan atau tuduhan tidak ada kebebasan terutama dalam hal mengenakan jilbab, menikmati pendidikan, bekerja, memilih suami, soal kawin cerai dan soal harta waris.
Faktanya, wanita Eropa justru berbondong-bondong masuk Islam, menyatakan testimoni-nya bertauhid dan mengakui ke Rasulan Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam.

“Jazakllah khair ya Sheikh for your great job.”

Dan kepada saudaraku yang baru, semoga Allah tidak akan menarik kembali hidayah yang telah Allah semaikan di lahan qalbu kalian. Mudah-mudahan iman terus tumbuh subur bersemi dan akan kuat dan tangguh bak pohon-pohon yang memultigandakan melalui anak cucu mereka. Amien ya Rabb.*/Nizma Agustjik, London, 18 Maret 2012
Keterangan foto: 1. Seorang muallaf mengangkat sertifikat tanda telah memeluk Islam. 2, kehadiran Yusuf Islam yang mengagetkan dan 3, para wanita Eropa yang antri mengucapkan Syahadat


Red: Cholis Akbar
 http://www.hidayatullah.com/read/21782/19/03/2012/ramai-ramai-bersyahadat-di-regent-park-mosque-.html
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger