Latest Post

"Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab"(Bag-2)



2. Data Statistik Amerika
Dalam sebuah buku berjudul "Crime in U.S.A" terbitan Pemerintah Federal di Amerika --yang ini berarti data statistiknya bisa dipertanggungjawabkan karena ia dikeluarkan oleh pihak pemerintah, tidak oleh paguyuban sensus-- di halaman 6 dari buku ini ditulis: "Setiap kasus perkosaan yang ada selalu dilakukan dengan cara kekerasan dan
itu terjadi di Amerika setiap enam menit sekali. " Data ini adalah yang tejadi pada tahun 1988 , yang dimaksud dengan kekerasan di sini adalah dengan menggunakan senjata tajam.
Dalam buku yang sama juga disebutkan:
  1. Pada tahun 1978 di Amerika tejadi sebanyak 147,389 kasus perkosaan.
  2. Pada tahun 1979 di Amerika tejadi sebanyak 168,134 kasus perkosaan.
  3. Pada tahun 1981 di Amerika tejadi sebanyak 189.045 kasus perkosaan.
  4. Pada tahun 1987 di Amerika tejadi sebanyak 211.691 kasus perkosaan.
  5. Pada tahun 1988 di Amerika tejadi sebanyak 211.764 kasus perkosaan.
Data statistik ini, juga data-data sejenis lainnya – yang dinukil dari sumber-sumber berita yang dapat dipertanggungjawabkan-- menunjukkan semakin melonjaknya tingkat pelecehan seksual di negara-negara tersebut. Tidak lain, kenyataan ini merupakan penafsiran empiris (secara nyata dan dalam praktik kehidupan sehari-hari) dari firman Allah: 

"Hai Nabi, katakanIah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu ....."(Al Ahzab: 59 ) 

Sebab turunnya ayat ini, --sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya—karena para wanita biasa melakukan buang air besar di padang terbuka sebelum dikenalnya kakus (tempat buang air khusus dan tertutup). Di antara mereka itu dapat dibedakan antara budak dengan wanita merdeka. Perbedaan itu bisa dikenali yakni kalau wanita-wanita merdeka mereka menggunakan hijab. Dengan begitu, para pemuda enggan mengganggunya. 

Sebelum turunnya ayat ini, wanita-wanita muslimah juga melakukan buang hajat di padang terbuka tersebut. Sebagian orang-orang dujana mengira kalau dia adalah budak, ketika diganggu, wanita muslimah itu berteriak sehingga laki-laki itu pun kabur. Kemudian mereka mengadukan peristiwa tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , sehingga turunlah ayat ini. 

Hal ini menegaskan, wanita yang memamerkan auratnya, mempertontonkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya kepada setiap orang yang lain lalang, lebih berpotensi untuk diganggu. Sebab dengan begitu, ia telah membangkitkan nafsu seksual yang terpendam. 

Adapun wanita yang ber-hijab maka dia senantiasa menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan daripadanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari diri wanita tersebut selain matanya saja.
Syahwat apa saja yang bisa dibangkitkan oleh wanita ber-hijab itu? Instink seksual apa yang bisa digerakkan oleh seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuhnya itu? 

Allah mensyari'atkan hijab agar menjadi benteng bagi wanita dari gangguan orang lain. Sebab Allah Subhanahu Wata'ala mengetahui, pamer aurat akan mengakibatkan semakin bertambahnya kasus pelecehan seksual, karena perbuatan tersebut membangkitkan nafsu seksual yang sebelumnya tenang.
Kepada orang yang masih mempertahankan dan meyakini kebenaran syubhat tersebut, kita bisa menelanjangi kesalahan mereka melalui empat hakikat:
Pertama, berbagai data statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan.
Kedua, hasrat seksual terdapat pada masing-masing pria dan wanita. Ini merupakan rahasia Ilahi yang dititipkan Allah pada keduanya untuk hikmah yang amat banyak, diantaranya demi kelangsungan keturunan. jika boleh berandai-andai, andaikata hasrat seksual itu tidak ada, apakah keturunan manusia masih bisa dipertahankan? Tak seorang pun memungkiri keberadaan hasrat dan naluri ini. Tetapi, dengan tidak mempertimbangkan adanya naluri seksual tersebut tiba-tiba sebagian laki-laki diminta berlaku wajar di tengah pemandangan yang serba terbuka dan telanjang. Amat ironi memang.
Ketiga, yang membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkala ia melihat kecantikan wanita, baik wajah, atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Seseorang tidak mungkin melawan fitrah yang diciptakan Allah (kecuali mereka yang dirahmati Allah), sehingga bisa memadamkan gejolak syahwat-nya tatkala melihat sesuatu yang membangkitkannya. 

Keempat, orang yang mengaku bisa mendiagnosa nafsu seksual yang tertekan dengan mengumbar pandangan mata kepada wanita cantik dan telanjang sehingga nafsunya akan terpuaskan (dan dengan demikian tidak menjurus pada perbuatan yang lebih jauh, misalnya pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya), maka yang ada hanya dua kemungkinan: 

Pertama, orang itu adalah laki-laki yang tidak bisa terbangkitkan nafsu seksualnya meski oleh godaan syahwat yang bagaimana pun (bentuk dan jenisnya), ia termasuk kelompok orang yang dikebiri kelaminnya sehingga dengan cara apa pun mereka tidak akan merasakan keberadaan nafsunya.
Kedua, laki-laki yang lemah syahwat atau impoten. Aurat yang dipamerkan itu tak akan mempengaruhi dirinya. 

Apakah orang-orang yang membenarkan syubhat tersebut (sehingga dijadikannya jalan pemecahan) hendak memasukkan kaum laki-laki dari umat kita ke dalam salah satu dari dua golongan manusia lemah di atas? Na'udzubillah min dzalik

SYUBHAT KEDUA : BELUM MANTAP

Hal ini lebih tepat digolongkan kepada syahwat dan menuruti hawa nafsu daripada disebut syubhat. Jika salah seorang ukhti yang belum mentaati perintah berhijab ditanya, mengapa ia tidak mengenakan hijab? Di antaranya ada yang menjawab: "Demi Allah, saya belum mantap dengan berhijab. Jika saya telah merasa mantap dengannya saya akan berhijab, insya Allah."

Ukhti yang berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Jika perintah itu datangnya dari manusia maka manusia bisa salah dan bisa benar. Imam Malik berkata: "Dan setiap orang bisa diterima ucapannnya dan juga bisa ditolak, kecuali (perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini." Yang dimaksudkan adalah Rasulullah Shallallahu 'Alnihi Wasallam.

Selagi masih dalam bingkai perkataan manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerima. Karenanya, dalam hal ini, setiap orang bisa berucap "belum mantap", dan ia tidak bisa dihukum karenanya.

Adapun jika perintah itu salah satu dari perintah-perintah Allah, dengan kata lain Allah yang memerintahkan di dalam kitabNya, atau memerintahkan hal tersebut melalui NabiNya agar disampaikan kepada umatnya, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan "saya belum mantap".

Bila ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan, padahal ia mengetahui perintah tersebut ada di dalam kitab Allah Tn 'aln, maka hal tersebut bisa menyeretnya pada bahaya yang sangat besar, yakni keluar dari agama Allah, sementara dia tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu berarti ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut. Karena itu, ia adalah ungkapan yang sangat berbahaya.

Seandainya ia berkata: "Aku wanita kotor","aku tak kuat melawan nafsuku", "jiwaku rapuh" atau "hasratku untuk itu sangat lemah" tentu ungkapan-ungkapan ini dan yang sejenisnya tidak bisa disejajarkan dengan ucapan:
"Aku belum mantap." Sebab ungkapan-ungkapan tersebut pengakuan atas kelemahan, kesalahan dan kemaksiatan dirinya. Ia tidak menghukumi dengan salah atau benar terhadap perintah-perintah Allah secara semaunya. Juga tidak termasuk yang mengambil sebagian perintah Allah dan mencampakkan yang lain.

Allah berfirman.Artinya:


"Dan ridaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka piIihan (yang lain) tentang trrusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai AIlah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. " (Al-Ahzab: 36)

 

"Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab" (Bag-1)

Oleh : Syaikh Abdul Hamid Al Bilaly
 
MUQADDIMAH
 
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwannnya. " (Asy Syams: 7-8 )
Manusia diciptakan oleh Allah dengan sarana untuk meniti jalan kebaikan atau jalan kejahatan. Allah memerintahkan agar kita saling berwasiat untuk mentaati kebenaran, saling memberi nasihat di antara kita dan menjadikannya di antara sifat-sifat orang yang terhindar dari kerugian.
Sebagaimana disebutkan dalam surat Al 'Ashr, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa kewajiban kita terhadap sesama adalah saling menasihati.
Beliau bersabda:

"Orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lainnya " (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam "Al Autsah" dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shah Jami'ush Shaghir, hadits no. 6531) 

Dengan kata lain, seorang mukmin bisa menyaksikan dan mengetahui kekurangannya dari mukmin yang lain. Sehingga ia laksana cermin bagi dirinya. Tetapi cermin ini tidak memantulkan gambar secara fisik melainkan memantulkan gambar secara akhlak dan perilaku. Islam juga --sebagaimana dalam banyak hadits—menganjurkan dan mengajak pemeluknya agar sebagian mereka mencintai sebagian yang lain. Di antara pilar utama dari kecintaan ini, hendaknya engkau berharap agar saudaramu masukSurga dan dijauhkan dari Neraka. Tak sebatas berharap, namun engkau harus berupaya keras dan maksimal urituk menyediakan berbagai sarana yang menjauhkan saudaramu dari hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat. 

Hal-hal di atas itulah yang melatar belakangi buku sederhana ini kami hadirkan. Selain itu, kecintaan dan rasa kasih sayang kami kepada segenap remaja puteri di seluruh dunia Islam. Tentu,juga keinginan kami untuk menjauhkan mereka dari bahaya dan kerugian di dunia maupun di akhirat.
Lebih khusus, buku ini kami hadirkan untuk segolongan kaum muslimah yang belum mentaati perintah berhijab ('Hijab: Maksudnya, busana wanita muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dari kepala hingga telapak kaki, hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu. (lihat him.66 ) 

seperti yang diperintahkan syariat. Baik karena belum mengetahui bahwa hijab adalah wajib, karena tidak mampu melawan tipu daya dan pesona dunia, karena takluk di hadapan nafsu yang senantiasa memerintahkan keburukan atau tunduk oleh bisikan setan, karena pengaruh teman yang tidak suka kepada kebaikan bagi sesama jenisnya atau karena alasan-alasan lain. 

Kami memohon kepada Allah semoga uraian dalam buku sederhana ini menjadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yang tertidur, sehingga bisa mengembalikan segenap akhawat yang belum mentaati perintah ber-hijab, kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah Subhanahu Wata'ala.

SYUBHAT DAN SYAHWAT
 
Setan bisa masuk kepada manusia melalui dua pintu utama, yaitu syubhat dan syahwat. Seseorang tidak melakukan suatu tindak maksiat kecuali dari dua pintu tersebut. Dua perkara itu merupakan penghalang sehingga seorang muslim tidak mendapatkan keridhaan Allah, masuk Surga dan jauh dari Neraka. Di bawah ini akan kita uraikan sebab-sebab utama dari syubhat dan syahwat.

A. SYUBHAT PERTAMA : MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL

Sytlbhat ini menyatakan, gejolak nafsu seksual pada setiap manusia adalah sangat besar dan membahayakan.
Ironinya, bahaya itu timbul ketika nafsu tersebut ditahan dan dibelenggu. Jika terus menerus ditekan, ia bisa mengakibatkan ledakan dahsyat. 

Hijab wanita akan menyembunyikan kecantikannya, sehingga para pemuda tetap berada dalam gejolak nafsu seksual yang tertahan, dan hampir meledak, bahkan terkadang tak tertahankan sehingga ia lampiaskan dalam bentuk tindak perkosaan atau pelecehan seksual lainnya.
Sebagai pemecahan masalah tersebut, satu-satunya cara adalah membebaskan wanita dari mengenakan hijab, agar para pemuda mendapatkan sedikit nafas bagi pelampiasan nafsu mereka yang senantiasa bergolak di dalam. Dengan demikian, hasrat mereka sedikit bisa terpenuhi. Suasana itu lalu akan mengurangi bahaya ledakan gejolak nafsu yang sebelumnya tertahan dan tertekan.

1. Bantahan 

Sepintas, syubhat di atas secara lahiriah nampak logis dan argumentatif. Kelihatannya, sejak awal, pihak yang melemparkan jalan pemecahan tersebut ingin mencari kemaslahatan bagi masyarakat dan menghindarkan mereka dari kehancuran. Padahal kenyataannya, mereka justru menyebabkan bahaya yang jauh lebih besar bagi masyarakat, yaitu menyebabkan tercerai-berainya masyarakat, kehancurannya, bahkan berputar sampai seratus delapan puluh derajat pada kebinasaan.
Seandainya jalan pemecahan yang mereka ajukan itu benar, tentu Amerika dan Negara-negara Eropa serta Negara-negara yang berkiblat kepada mereka akan menjadi negara yang paling kecil kasus perkosaan dan kekerasannya terhadap kaum wanita di dunia, juga dalam kasus-kasus kejahatan yang lain. 

Amerika dan negara-negara Eropa amat memperhatikan masalah ini, dengan alasan kebebasan individual. 

Di sana, dengan mudah anda akan mendapatkan berbagai majalah porno dijual di sembarang tempat. Acara-acara televisi, khususnya setelah pukul dua belas malam, menayangkan berbagai adegan tak senonoh, yang membangkitkan hasrat seksual. Bila musim panas tiba, banyak wanita di sana membuka pakaiannya dan hanya mengenakan pakaian bikini. Dengan keadaan seperti itu, mereka berjemur di pinggir pantai atau kota-kota pesisir lainnya. Bahkan di sebagian besar pantai dan pesisir, mereka boleh bertelanjang dada dan hanya memakai penutup ala kadarnya. Terminal-terminal video rental bertebaran di seluruh pelosok Amerika dengan semboyan "Adults Only" (khusus untuk orang dewasa). Di terminal-terminal ini, anak-anak cepat tumbuh matang dalam hal seksual sebelum waktunya. Siapa saja dengan mudah bisa menyewa kaset-kaset video lalu memutarnya di rumah atau langsung menontonnya di tempat penyewaan. 

Rumah-rumah bordil bertaburan di mana-mana. Bahkan di sebagian negara, memajang para wanita tuna susila (pelacur) di etalase sehingga bisa dilihat oleh peminatnya dari luar.
Apa kesudahan dari hidup yang serba boleh (permisif) itu? Apakah kasus perkosaan semakin berkurang? Apakah kepuasan mereka terpenuhi, sebagaimana yang ramai mereka bicarakan? Apakah para wanita terpelihara dari bahaya besar ini?
 

Abu Ubaidah bin Jarah

Saat hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir, Umar bin Khattab berkata : "Seandainya Abu Ubaidah Ibnul Jarrah masih hidup, tentulah ia di antara orang-orang yang akan saya angkat sebagai penggantiku. Dan jika Allah bertanya hal itu kepadaku, maka aku akan jawab: "Saya angkat kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya…"".
Ialah Abu Ubaidah, Amir bin Abdillah Ibnul Jarrah, sahabat Rasulullah yang masuk Islam melalui Abu Bakar pada awal kerasulan, yaitu sebelum Rasulullah. mengambil rumah Arqam sebagai tempat berdakwah.

Semenjak Abu Ubaidah berbai'at kepada Rasulullah., untuk membaktikan seluruh hidupnya di jalan Allah, ia tidak lagi memperhatikan dirinya dan masa depannya. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk mengemban amanat yang dititipkan Allah kepadanya, untuk mencapai ridha-Nya. Amanat yang diembannya selalu dipenuhi dengan tanggung jawab. Dan itu merupakan sifat yang paling menonjol dari Abu Ubaidah. Inilah yang membuat Rasulullah kagum padanya, sehingga Rasulullah bersabda : "Amiinu hadzihi al Ummah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah (orang kepercayaan umat ini, adalah Abu Ubaidah bin Jarrah)".

Rasulullah, sangat sayang pada Abu Ubaidah. Rasulullah pun sangat terkesan atas pribadinya. Ketika datang utusan dari Najran dan Yaman yang menyatakan ke-islaman mereka, mereka meminta kepada Rasulullah agar mengirimkan kepada mereka seorang guru untuk mengajarkan Islam dan Al Quran. Dan Rasululullah bersabda : "Baiklah akan saya kirim bersama tuan-tuan seorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya…., benar-benar terpercaya…., benar-benar terpercaya…!"

Pujian yang begitu tulus keluar dari mulut Rasulullah. Mendengar hal itu para sahabat semua terkesima dan berharap kalau pilihan Rasulullah jatuh pada dirinya, karena pujian tersebut merupakan pengakuan yang jujur dari seorang Rasul yang tidak diragukan lagi kebenarannya.

Peristiwa tersebut diceritakan oleh Umar bin Khattab : "Sebenarnya aku tak pernah tertarik menjadi seorang amir, tetapi ketika Rasulullah mengucapkan hal itu, aku sangat tertarik dan berharap bahwa orang yang dimasudkan Rasulullah itu adalah aku. Dan aku pun cepat-cepat berangkat untuk shalat dzuhur. Seperti biasa, Rasulullah yang mengimami para jamaah. Ketika kami selesai shalat, Rasulullah menoleh ke kanan dan ke kiri. Maka aku pun mengulurkan badan agar kelihatan Rasulullah….tetapi, Rasulullah masih melayangkan pandangannya mencari-cari, hingga akhirnya tampaklah Abu Ubaidah, maka dipanggilnya. Lalu Rasulullah bersabda : 'Pergilah berangkat berangkat bersama mereka dan selesaikanlah apabila terjadi perselisihan diantara mereka dengan yang haq …!' Maka berangkatlah Abu Ubaidah bersama orang-orang dari Najran dan Yaman".

Seperti di zaman Rasulullah, Abu Ubaidah menjadi seorang yang sangat dipercaya. Begitupun setelah Rasulullah wafat, Abu Ubaidah sangat dipercayai umat. Beliau mengemban kepercayaan umatnya dengan amanah dan penuh tanggung jawab. Sehingga tidak aneh kalau beliau selalu dijadikan suri teladan oleh umat di masa itu.

Sampai suatu hari di Madinah, terdengar kabar bahwa Abu Ubaidah wafat. Amirul Mukminin Umar bin Khattab seketika memejamkan kedua pelupuk matanya. Air mata pun meleleh, hingga Umar membuka matanya dengan tawakal menyerahkan diri. Didoakannya Abu Ubaidah agar mendapat rahmat dari Allah. Lalu bangkitlah kenangan-kenangan lamanya bersama Abu Ubaidah sahabatnya. Lalu katanya, "Seandainya aku bercita-cita, maka tak ada harapanku selain sebuah rumah yang penuh didiami oleh tokoh-tokoh seperti Abu Ubaidah…"

Abu Ubaidah wafat di atas bumi yang telah disucikan dari keberhalaan Persi dan penindasan Romawi. ***


 

Abu Sufyan bin Haris

Abdurrahman bin Sabit meriwayatkan, bahawa Sufyan bin Haris adalah saudara sesusuan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam dari seorang wanita yang sama iaitu Halimah As-Sa’diyah. Di samping itu dia pun sudah sangat biasa bergaul dengan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam kerana dia memang sebaya dengan baginda. Ketika baginda diutus oleh Allah Subhanahu Wata’ala sebagai Rasul-Nya, maka Abu Sufyan pun memusuhinya dengan permusuhan yang tidak pernah dilakukan oleh seseorang terhadap diri baginda.

Dia menyerang Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Bahkan selama dua puluh tahun dia menjadi musuh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam saling serang menyerang dengan kaum Muslimin.    Dalam setiap kali peperangan yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dengan kaum Muslimin, Abu Sufyan bin Haris tidak pernah ketinggalan, sehingga akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala berkenan memasukkan sinar Islam dalam lubuk hatinya.

Abu Sufyan bin Haris berkata: “Siapakah yang akan menjadi temanku, sedangkan kehadiran Islam semakin hari semakin kukuh?” Selepas itu ia menemui isteri dan anak-anaknya, lalu ia berkata: “Wahai isteri dan anak-anakku, bersiap-siaplah untuk keluar, kerana Muhammad tidak lagi akan datang!” Anak-anak dan isterinya menjawab: “Sepatutnya telah terlalu awal lagi engkau menyedari, bahawa orang-orang Arab bahkan begitu juga orang-orang di luar bangsa Arab telah mengikutinya, sedangkan kamu sendiri masih tetap memusuhinya. Sepatutnya engkaulah orang yang pertama sekali membantunya!” Kepada pelayannya Abu Sufyan memerintahkan: “Cepat bawa kemari unta dan kuda!”     Setelah unta dan kuda disiapkan, Abu Sufyan bersama dengan isteri dan anak-anaknya pun berangkat, hingga akhirnya mereka sampai di Abwa’, sedangkan pasukan pertama Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam sudah terlebih dahulu sampai di kota itu. Maka Abu Sufyan pun menyamar kerana takut di bunuh oleh pasukan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallamdan hanya berjalan kaki kira-kira satu mil.    

Pada waktu itu pasukan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam sudah mulai datang membanjiri kota Abwa’. Maka Abu Sufyan pun menyingkir kerana merasa takut dengan sahabat-sahabat baginda. Ketika Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam sudah mulai kelihatan yang sedang diiringi oleh para rombongan, Abu Sufyan pun segera berdiri di hadapannya. Ketika baginda melihatnya, ia langsung memalingkan mukanya ke arah lain. Abu Sufyan pun berpindah tempat ke arah baginda memalingkan muka. Namun baginda tetap terus memalingkan mukanya ke arah yang lain pula.    

Dalam hati Abu Sufyan berkata: “Sebelum aku sampai kepadanya, mungkin aku akan mati terbunuh, akan tetapi aku ingat akan kebaikan dan kasih sayangnya, justeru itulah rasa harapan masih tetap ada dalam hatiku.

Dari semenjak dulu lagi aku berkeyakinan, bahawa Rasulullah berserta para sahabatnya akan sangat bergembira bila aku masuk Islam, kerana adanya tali persaudaraanku dengan baginda.”  Melihat Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam berpaling dari Abu Sufyan, maka kaum Muslimin pun berpaling darinya. Dia melihat putera Abu Quhafah iaitu Abu Bakar Siddik pun berpaling darinya. Abu Sufyan memandang ke arah Umar yang sedang bangkit amarahnya, dalam keadaan marah Umar berkata: “Wahai musuh Allah, kamu adalah orang yang selalu menyakiti Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam dan para sahabatnya! Bahkan permusuhanmu itu terhadap umat Islam telah diketahui orang baik yang berada di belahan dunia Timur mahupun Barat!” Mendengar ungkapan dari Umar tersebut, maka Abu Sufyan berusaha untuk membela dirinya. Akan tetapi usahanya itu tidak berhasil, kerana Umar meninggikan suaranya dan Abu Sufyan merasakan pada saat itu bahawa dirinya sudah terkepung oleh hutan belukar manusia yang merasa gembira atas apa yang terjadi pada dirinya.

Dalam keadaan demikian Abu Sufyan berkata: “Wahai bapa saudaraku Abbas, dulu aku pernah datang ke rumahmu serta berharap bahawa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam akan merasa bergembira jika aku masuk Islam, kerana antara diriku dengan dirinya ada pertalian saudara, di samping itu kami keduanya dari kalangan keluarga terhormat. Akan tetapi kenyataan sebagaimana yang engkau saksikan sendiri wahai bapa saudaraku, mereka seakan-akan tidak mahu menerima kehadiranku! Untuk itu aku bermohon kepadamu wahai bapa saudaraku, supaya engkau berkenan mengajak Muhammad berunding mengenai diriku, sehingga ia redha terhadapku!” Bapa saudaranya menjawab: “Tidak, demi Allah, setelah aku menyaksikan semuanya ini, sepatah katapun aku tidak mahu berunding dengannya, kecuali jika ada alasan yang lebih kuat!” Abu Sufyan bertanya: “Wahai bapa saudaraku, dengan siapa lagi aku harus mengadu?”
“Pergilah kamu mengadu ke sana,” jawab bapa saudaranya. 
Kemudian Abu Sufyan menemui Ali bin Abi Talib serta mengajaknya berbicara. Akan tetapi jawapan yang diberikan oleh Ali sama saja dengan jawapan bapa saudaranya Abbas. Sehingga akhirnya ia terpaksa lagi pergi kepada bapa saudaranya Abbas serta memohon kepadanya: “Aku mohon kepadamu wahai bapa saudaraku, sudilah kiranya engkau mencegah orang-orang mencaci makiku.”
Abbas bertanya: “Siapa sebenarnya orang yang mencaci makimu itu?”
Abu Sufyan menjelaskan ciri-ciri orangnya: “Dia adalah orang yang berkulit kuning langsat, tubuhnya agak pendek, gemuk dan di antara kedua matanya terdapat bekas luka.
Abbas menjawab: “Dia adalah Nu’aiman bin Haris An-Najjari.”
Maka Bapa saudaranya Abbas pun menemuinya dan berkata: “Wahai Nu’aiman, Abu Sufyan adalah anak dari bapa saudara Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam dan dia juga anak saudaraku sendiri, walaupun Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam kelihatan tidak menyukainya. Akan tetapi aku yakin, bahawa masih ada harapan baginya untuk mendapatkan keredhaan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam. Oleh kerana itu aku memohon kepadamu supaya kamu berhenti dari mencaci makinya. Mendengar ungkapannya dari Abbas itu maka Nu’aiman berkata: “Baiklah, aku tidak akan mengganggunya lagi.” Pada waktu itu Abu Sufyan sungguh merasa menderita, kerana tidak ada seorangpun yang mahu menegurnya. Walaupun demikian dia tetap berusaha, setiap kali Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam singgah di sebuah rumah, ia tetap berada di depan pintu rumah tersebut. Namun Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam tetap tidak pernah melihatnya dan memalingkan wajah dari dirinya. Walaupun dalam keadaan demikian, dia terus tetap berusaha untuk mendapatkan keredhaan dari Rasulullah Salallahu “Alai Wasssallam, sehingga akhirnya dia menyaksikan sendiri Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam bersama dengan pasukan kaum Muslimin lainnya menaklukkan kota Makkah. 

Abu Sufyan tetap terus berada dekat kuda yang ditunggangi oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam sehingga akhirnya baginda singgah di Abtah. Pada saat itu Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam memandang Abu Sufyan dengan pandangan yang agak lembut dari sebelumnya, dan Abu Sufyan mengharapkan mudah-mudahan Rasulullah mahu senyum kepadanya. Beberapa kaum wanita dari bani Abdul Mutalib datang menemui baginda yang diikuti oleh isteri Abu Sufyan. Setelah itu Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasssallam pergi ke masjid, Abu Sufyan pun tetap setia mengikuti baginda dan tidak sedikitpun ingin berpisah dengannya.     

Akhirnya Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam berangkat menuju Hawazin dan Abu Sufyan pun masih tetap mengikutinya. Pada waktu terjadinya peperangan melawan musuh, maka Abu Sufyan pun segera memacu kudanya dengan sebilah pedang yang terhunus, dan ia bertekad, untuk menebus dosa-dosanya selama ini, tidak ada jalan lain kecuali ia harus mati dalam memperjuangkan agama Allah. Melihat keadaan demikian, kepada Rasulullah, Abbas bapa saudara Abu Sufyan bin Haris berkata: “Wahai Rasulullah, aku bermohon supaya engkau berkenan meredhainya.” 
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam bersabda: “Aku telah meredhainya dan Allah pun telah berkenan mengampunkan segala kesalahannya dan segala bentuk permusuhan yang dilakukannya kepadaku selama ini.”  Mendengar ungkapan Rasulullah demikian, maka Abu Sufyan pun segera mencium kaki Rasulullah yang pada saat itu sedang menunggang kudanya. Maka pada saat itu Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam menoleh ke arah Abu Sufyan dan bersabda: “Engkau adalah benar-benar saudaraku!” Selepas itu Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallammemerintahkan kepada Abbas agar memerintahkan kepada seluruh pasukan perang supaya maju ke medan perang dengan kata-kata: “Majulah kamu dan binasakanlah musuh-musuh itu.”  

Kerana telah mendapat perintah dari Rasulullah Salallahu “Alai Wasssallam, maka Abu Sufyan segera melaksanakan tugasnya. Cuma dengan hanya sekali serangan saja, para tentera musuh berlari kucar kacir. Mereka tidak berani membalas serangan tersebut, sehingga akhirnya Abu Sufyan berhasil mengejar mereka dan tentera musuh lari sejauh tiga mil.    

Demikianlah Abu Sufyan, semenjak dia masuk ke dalam Islam, ia sentiasa taat beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala bahkan dalam suatu riwayat pula dikatakan, bahawa Abu Sufyah tidak pernah mengangkat kepalanya apabila ia berada di depan Rasulullah Salallahu “Alai Wasssallam. Begitu juga pada waktu ajal akan menjemputnya ia berpesan: “Jangan engkau menangisi aku, kerana semenjak aku masuk Islam, aku tidak pernah berbuat dosa.” Setelah Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasssallam meninggal dunia, Abu Sufyan bin Haris selalu menangisi dan meratapinya dengan syairnya:

Aku tidak dapat tidur dan malam pun susah berakhir
Malam bagi orang yang ditimpa bencana akan lama rasanya.
Tangisanku membuatkan aku bahagia
Sesungguhnya musibah yang menimpa kaum Muslimin itu tidaklah seberapa
Betapa besar dan beratnya cubaan ini
pada waktu mendengar berita bahawa Rasulullah sudah tiada
Bumi tempat tinggal kita inipun ikut serta menderita
sehingga terasa miring segala sudutnya.
Telah terputuslah wahyu Al-Quran dari kita
di mana dahulu malaikat Jibril selalu datang membawanya.
Dialah Nabi yang telah melenyapkan syak wasangka kita
dengan wahyu yang diturunkan kepadanya dan sabdanya
Bagindalah yang telah menunjuki kita
sehingga kita tidak perlu bimbang dan terpedaya
Rasulullah selalu siap memberikan petunjuknya kepada kita
Fatimah, jika kamu bersedih meratapinya, hal yang demikian itu dapat kami mengerti.
Akan tetapi jika engkau tidak bersedih, itulah jalan yang baik yang telah ditunjukkannya.
Makam ayahku adalah makam dari setiap makam
kerana di dalamnya bersemayam seorang Rasul
tuan bagi seluruh manusia.
 
 

Abdullah bin Zubeir

Isu bahwa kaum muslimin tidak akan bisa melahirkan bayi karena telah diteluh oleh dukun-dukun Yahudi di Madinah, terjawab sudah. Seorang wanita mulia putri As Siddiq telah melahirkan kandungannya ketika beliau sedang hijrah dari Makkah ke Madinah menyusul teman-temannya seaqidah. Beliau tidak lain adalah Asma` binti Abi Bakar yang melahirkan bayi laki-laki-laki-laki di Quba` dan diberi nama Abdullah. Sebelum disusui Abdullah bin Zubeir dibawa menghadap Nabi Salallahu “Alai Wasssallam dan ditahniq dan didoa`kan oleh beliau.

Abdullah yang memang lahir dari pasangan mujahid dan mujahidah ini berkembang menjadi seorang pemuda pewira yang perkasa. Keperwiraannya dimedan laga ia buktikan ketika bersama mujahid-mujahid lainnya menggempur Afrika membebaskan mereka dari kesesatan. Pada waktu mengikuti ekspedisi tersebut usianya baru berkisar 17 tahun. Namun begitulah kehebatan sistem tarbiyah Islamiyah yang bisa mencetak pemuda belia menjadi tokoh-tokoh pejuang dalam menegakkan Islam. 

Dalam peperangan tersebut jumlah personel diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Personel kaum muslimin hanya 120 ribu tentara sedangkan musuh berjumlah 120 ribu orang. Keadaan ini cukup membuat kaum muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak, walau hal itu tidak membuat mereka keder. Sebab bagi mereka perang adalah mencari kematian sedang ruhnya bisa membumbung menuju jannah sebagaimana yang telah dijanjikan Rabb mereka.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut segera Abdullah memutar otak mencari rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh bertumpu pada raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Segera dan dengan penuh keberanian ia mencoba menembus pasukan musuh yang berlapis-lapis menuju kearah panglima Barbar. Upayanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dengan raja Barbar telah dekat segera ia tebaskan pedang nya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik tersebut. Panji pasukan lawan pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut dihadapan para mujahid yang gagah berani.

Selain seorang jago perang, Abdullah juga seorang `abid yang penuh rasa khusuk dan ketawadhuan. Mujahis penah memberi kesaksian bahwa apabila Ibnu Zubeir sedang sholat, tubuhnya seperti batang pohon yang tak bergeming karena khusuknya dalam sholat. Bahkan Yahya bin Wahab juga bercerita bahwa apabila `Abdullah bin Zubeir ini sedang sujud, banyak burung-burung kecil bertengger dipunggung beliau karena mengira punggung tersebut adalah tembok yang kokoh. Tokoh yang tegas dalam kebenaran ini wafat pada usia 72 tahun terbunuh oleh tangan pendosa Hajjaj bin Yusuf. 
(Dikembangkan dari Shifatu ash-Shofwah, juz 1, hal 344)[masjidits.cjb.net]

 

Abdullah Bin Mas'ud: Penggembala yang Menjadi Ulama


Oleh:Fakhrurrazi Amiruddin

Tokoh kita kali ini adalah seorang ahli ibadah, juga seorang ulama fikih, pemimpin keagamaan masyarakat Irak, dan peletak mazhab fikih di Kufah. Beliau juga termasuk dalam golongan para sahabat yang pertama masuk Islam. Sangat jenius, begitu juga Rasulullah menyifatinya. Beliau mendapat kesempatan emas turut dalam perang Badar Kubra. Sebelum hijrah, beliau dipersaudarakan dengan Zubeir bin Awwam. Kemudian sesampai di madinah al munawwarah, beliau dipersaudarakan dengan Saad bin Muaz. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, beliau diutus ke Qadisiyyah menjadi guru dan pengajar bagi muslimin di daerah itu.

Sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang penggembala domba milik Uqbah bin Abi Muaith. Sebenarnya beliau sudah sejak awal mendengar kabar diutusnya Rasulullah. Tapi karena usianya yang masih sangat muda, ditambah kesibukannya menggembala, beliau acuh dengan kabar tersebut. Bagaimanapun keadaannya, bila Allah sudah berkenan memberi hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi. Suatu hari, ketika panas matahari sudah begitu menyengat, datanglah dua orang yang sangat berwibawa mendekatinya. Terlihat dari wajah dan bibir mereka, keduanya sedang sangat kehausan. Setelah dekat, keduanya berkata, Tolong peraskan susu untuk kami.h Sang penggembala menjawab, Maaf, saya tidak bisa. Domba-domba ini bukan milik saya. Keduanya kembali berkata, gKalau begitu, tolong ambilkan seekor yang masih sangat kecil.h Setelah domba itu diberikan, salah satu dari mereka mengusap teteknya sambil mengucap Nama Allah SWT. Kontan penggembala itu terheran-heran, mana ada domba sekecil itu akan mengeluarkan susu. Tapi lama-kelamaan, susu itu mengembang lalu mengeluarkan air susu dengan derasnya. Setelah hilang rasa dahaga mereka bertiga, pengembala itu pun berkata, Tolong ajari aku kalimat yang tadi engkau baca sebelum memeras. Salah satu dari dua orang yang ternyata adalah Rasulullah SAW itu menjawab, Engkau sungguh anak yang jenius. Mulai saat itu sang penggembala belajar Islam.

Itulah sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah bin Ma’ud. Seorang sahabat yang bertugas membawa sandal Rasulullah . Beliau bisa kapan dan di mana saja bersama Rasulullah. Oleh karena itu, tak mengherankan bila beliau mendapatkan banyak hal dari Rasulullah yang tidak didapatkan para sahabat lain. Baik itu dalam bepergian, di rumah, maupun dalam jaga dan tidur beliau. Karena itu, banyak sahabat mengatakan bahwa beliaulah sahabat yang paling mirip dengan Rasulullah dalam hal tindak tanduknya. Suatu kali, sahabat Umar ra dan Abu Bakar ra bersama Rasulullah  memergoki beliau sedang membaca al Q’urfan dalam sholatnya, maka Rasulullah segera berkata, gBarangsiapa yang ingin membaca al Q’urfan sesuai sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah mengikuti bacaan Ibnu Ummi Maktum, Abdullah bin Masud.h Ini adalah sebuah pengakuan langsung dari Rasulullah bahwa beliau sudah bisa menerapkan ajaran-ajaran Islam sampai gaya pembacaan al Q’urfannya pun sudah mirip dengan ketika al Q’urfan itu diturunkan.
Imam al Aini, dalam menerangkan hadis-hadis Bukhari, mengatakan bahwa Rasulullah memberikan perlakuan khusus kepada Abdullah. Beliau bisa datang kepada Rasulullah kapan saja. Bahkan tidak ada satu hal pun yang dirahasiakan kepada beliau. Beliaulah yang memakaikan sandal, menutupi dengan tirai bila Rasulullah mandi, membangunkan beliau dari tidurnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al Asyari. Beliau berkata, Ketika baru datang dari Yaman, aku dan saudaraku singgah dulu di mesjid. Saat itu kami menganggap Abdullah bin Masfud adalah salah seorang pemuda dari Ahlu Bait Rasulullah, karena begitu seringnya kami melihat beliau dan ibunya memasuki rumah Rasulullah.

Kedekatan beliau dengan Rasulullah  memberikan banyak andil dalam wawasan ilmiah beliau hingga akhirnya beliau menjadi salah seorang pelopor dalam perkembangan fikih Islam. Warisan keilmuannya menyebar di seantero dunia Islam. Selain itu, beliau juga menjadi tempat bertanya para sahabat besar. Dalam sebuah majelis dzikir yang diadakan di rumah Abu Musa al Asy’ari, ada beberapa sahabat yang menanyakan beberapa hal tentang al Qurfan kepada Abdullah, maka beliau langsung berkata, hHanya beliaulah (Abu Musa) yang paling tahu tentang wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Maka Abu Musa pun menjawab, Oh tidak. Beliaulah orang yang dapat masuk ke rumah Rasulullah kapan saja saat kita tidak bisa. Beliau juga orang yang dapat menyaksikan apa-apa yang tidak bisa kita saksikan. Apa pandangan Umar bin Khattab tentang beliau ? Beliau adalah samudera ilmu yang dapat mewarnai kota Qadisiyyah.

Walaupun demikian, kelebihan beliau bukan hanya terletak pada sisi keilmuan dan keruhanian saja. Beliau terkenal juga sebagai seorang mujahid. Terampil dalam teknik berperang, berbadan kuat, pemberani, adalah hal-hal yang dimilikinya. Ketika Rasulullah berkata, Demi Allah, orang-orang Quraisy sama sekali belum pernah mendengar ayat-ayat Allah. Gerangan siapakah di antara kalian yang mau memperdengarkannya kepada mereka? Di sini, keberanian beliau terlihat. Beliau langsung menyambut permintaan Rasulullah , Saya, wahai Rasulullah yang akan memperdengarkannya.h Para sahabat yang hadir agak merasa keberatan dengan hal itu, mengingat Abdullah adalah bekas budak yang tidak mempunyai keluarga yang biasa membelanya. Tapi beliau tetap bersikeras dengan tekadnya. Maka pada keesokan harinya, beliau berdiri tegak di Maqam Ibrahim membaca surat ar Rahman di tengah kerumunan orang-orang Quraisy. Tak ayal lagi, beberapa saat kemudian pukulan bertubi-tubi menghujani beliau. Ketika pulang kepada para sahabat dengan darah membanjiri tubuhnya, mereka berkata, Inilah yang kutakutkan padamu.h Dengan tanpa sedih sedikitpun beliau menjawab, Demi Allah, sekarang baru aku tahu bahwa tidak ada musuh-musuh yang lebih hina dan ringan daripada orang-orang kafir Quraisy. Bila kalian izinkan, aku akan mendatangi mereka sekali lagi besok.
Kemudian kepiawaian beliau dalam berperang telah terbukti bahwa beliaulah yang berhasil memenggal kepada musuh Allah , Abu Jahal pada perang Badar. Hal itu pernah beliau ceritakan, Ketika kuinjak lehernya, sempat dia mengatakan, Hai penggembala kambing, beraninya kau menginjak mahkotaku.Tak lama setelah itu tergelindinglah kepala musuh utama dakwah ini.

Semua keberanian dan keterampilan itu tidaklah timbul karena beliau bertubuh besar. Beliau adalah budak berkulit hitam yang kerempeng dan kecil tubuhnya. Tapi besarnya iman telah merubahnya menjadi seorang yang mempunyai izzah atau kemuliaan dan kehormatan. Suatukali, ketika beliau diminta untuk memanjat pohon, ada seorang sahabat yang bergumam, Oh, kecil sekali kakinya! Mendengar hal itu, Rasulullah SAW marah dan berkata, Jangan kalian berkata begitu. Sungguh kaki itu akan sangat berat timbangannya di surga kelak.

Beliau meninggal tetap dalam kepapaan, memberi bekal anak-anaknya keimanan dan sifat tawakkal kepada Allah Sang Pemberi Rezeki. Begitulah sari hidup seorang sahabat yang tak habis-habisnya memberikan kita keteladanan.
Source: http://sinai.20m.com
 

Teladan wanita shalehah (bagian ke-3, Selesai): Teladan Dalam Dakwah dan Jihad


3. Teladan Dalam Dakwah dan Jihad

a. Ummu Sulaim (Rumaisha binti Malhan), istri Abu Thalhah

dakwatuna.com - Anas berkata: “Abu Thalhah datang untuk meminang Ummu Sulaim, Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya tidak patut bagiku untuk bersuami dengan orang musyrik. Apakah engkau tidak tahu wahai Abu Thalhah, sesungguhnya Tuhan-Tuhan yang engkau sembah itu adalah hasil pahatan seorang tukang batu dan sesungguhnya jika engkau menyalakan api pada tuhan-tuhanmu, maka ia akan terbakar.”

Kemudian Abu Thalhah pergi meninggalkan Ummu Sulaim dan ada sesuatu terjadi di hatinya setelah mendengar perkataan Ummu Sulaim.

Berkali-kali abu Thalhah datang untuk meminangnya, tapi jawaban Ummu Sulaim tetap sama, sampai akhirnya hidayah Allah datang, Abu Talhah masuk Islam, dan keislamannya menjadi mahar pernikahannya dengan Ummu Sulaim. Dari hasil pernikahannya, lahirlah putra-putri yang semuanya hafiz Qur’an.

b. Ummu Suraikh

Ummu Suraikh Ghaziyah binti Jabir bin Hakim dengan kesabarannya, mengisahkan orang yang menyiksanya:

Ibnu Abbas berkata: “Islam telah masuk ke dalam lubuk hati Ummu Suraikh, ketika ia berada di mekah. Akhirnya ia pun masuk Islam. Kemudian secara diam-diam ia masuk ke dalam golongan wanita Quraisy, ia pun membujuk wanita itu, hingga akhirnya masuk Islam. Misinya diketahui oleh penduduk mekah, mereka membawanya kepada Ummu Sulaim dan berkata: Jika bukan karena kaummu, kami pasti sudah membunuhmu”

Kaum Mekah kemudian membawanya di atas unta tanpa satu alas pun. Mereka membiarkan aku di tengah padang pasir yang luas dan panas selama 3 hari tanpa makan dan minum.  Mereka beristirahat, dan ketika mereka beristirahat Ummu Sulaim mendapatkan sesuatu jatuh dari atas, yang ternyata adalah ember yang berisi air, sehingga ia minum sampai cukup, dan menyegarkan badan dan pakaiannya dengan air tersebut. Ketika kaum Quraisy terbangun, dia kaget, karena mendapatkan Ummu suraikh dalam keadaan segar dan basah oleh air, dan menuduh bahwa ia telah mengambil air milik mereka.

Anas bin Malik berkata:
“Rasulullah SAW pergi berperang bersama Ummu Sulaim dan para wanita kaum Anshar. Jika perang telah usai, para wanita itupun memberi minum kepada bala tentara. Mereka juga mengobati tentara yang terluka.” (HR. Muslim).

 Rabbi binti muawid berkata:
“Kami ikut perang bersama Nabi saw, Kami memberi minuman kepada bala tentara, melayani mereka, membawa para syahid yang terbunuh, dan orang-orang yang terluka untuk kembali ke madinah.” (HR. Bukhari)
– Selesai
(hdn)

Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2012/04/20059/teladan-dari-shahabiyah-dan-tabiiyah-bagian-ke-3-selesai-teladan-dalam-dakwah-dan-jihad/#ixzz1ys1qJmM9

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger