Latest Post

Pendeta Sily : Karena Tidak Bisa Menjawabnya, Maka Aku Menyatakan Diri Masuk Islam

Oleh Hasyim Sarhan
Kisah ini adalah kisah yang menakjubkan seputar hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau sekiranya saya tidak mengalami dan mendengarnya langsung, niscaya tidak ada seorangpun yang saya percayai. Kisah ini bermula ketika saya menjadi Direktur Rabithah Al ‘Alam Al Islamy di Johannesburg Afrika Selatan.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 ketika musim dingin. Keadaan hari itu diliputi mendung dan angin yang kencang. Ketika saya menunggu kedatangan seseorang yang sudah ada janji sebelumnya, maka istriku menyiapkan hidangan makan siang untuk menghormatinya. Janji tersebut  adalah dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Orang tersebut adalah seorang penginjil; penyebar agama Nashrani, ia adalah seorang pendeta bernama Sily. Pertemuan dengan Sily ini dimediatori oleh Sekretaris Kantor Robithoh Abdul Kholiq, dimana ia memberitahukan kepada saya bahwa ada seorang pendeta yang ingin datang ke kantor Robithoh untuk urusan penting. Dan pada hari yang telah ditentukan itulah ia hadir dengan ditemani seseorang yang bernama Sulaiman, ia mantan petinju yang telah menjadi anggota dewan tinju setelah Allah memberinya petunjuk kepada Islam. Kemudian saya menemui mereka semua di kantor saya dan berbahagia dengan ini semua.
Sily ini orang yang berperawakan pendek, kulitnya hitam dan senantiasa tersenyum. Dia duduk di depan saya dan mulai berbicara dengan dipenuhi kelembutan. Saya bertanya kepadanya: “Wahai saudaraku Sily! Bisakah anda menceritakan kisah anda ketika memeluk Islam?” Tersenyumlah Sily dan  berujar: “Dengan senang hati!” Saya berkata: “Dengarlah wahai saudaraku sekalian!”.

Sily memulai ceritanya:
“Dulu saya adalah seorang pendeta aktif, saya mengabdikan diri saya ke gereja dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Tidak cukup hanya itu saja, bahkan saya termasuk pembesar gerakan kristenisasi di Afrika Selatan. Karena keaktifan saya itulah akhirnya saya dipilih oleh Vatikan untuk mengemban amanat kristenisasi dengan sokongan dana dari sana. Maka saya senantiasa mengambil dana yang dikirim dari sana untuk tujuan ini. Saya juga menjadikan semua cara yang dapat mengantarkan kepada tujuan. Seringkali saya melakukan kunjungan ke kampus-kampus, sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, desa-desa dan bahkan hutan-hutan. Saya bagikan uang itu kepada mereka dalam berbagai bentuk bantuan, pemberian, hadiah dan sedekah, agar sampai ke tujuan yang saya inginkan dan manusia masuk ke agama Kristen. Adapaun sokongan dari gereja sangat melimpah, sehingga jadilah saya orang kaya. Saya memiliki rumah, kendaraan, gaji tetap dan kedudukan yang terhormat diantara para pendeta.

Pada suatu hari saya pergi untuk membeli beberapa hadiah di pusat perbelanjaan di negara saya. Di pasar saya menemui seseorang yang memakai peci, ia seorang pedagang yang menjual hadiah-hadiah (souvenir), sedangkan saya menggunakan pakaian kebesaran pendeta yang panjang dengan mutiara putih yang membedakan dengan orang yang lain. Orang tersebut mulai menawarkan hadiah-hadiah terbaik. Dan saya tahu kalau ia adalah seorang muslim. Kami di Afrika Selatan menyebut agama Islam sebagai agama India, kami tidak mengatakan agama Islam -karena kebanyakan pemeluknya berasal dari India-. Sesudah saya membeli apa yang saya inginkan, sebelum memperangkap orang yang sederhana tersebut, sebagaimana biasanya kami selalu menipu orang-orang fakir di kalangan kaum muslimin di Afrika Selatan, dengan agama Nashrani dan memberinya bantuan.

Tiba-tiba pedagang tersebut bertanya: “Anda pendeta bukan?”, saya menjawab: “Benar”. Kemudian ia bertanya siapa tuhan saya, saya menjawab: “al-Masih adalah tuhan saya”. Ia bertanya lagi: “Bisakah anda menunjukkan kepada saya satu ayat saja dalam injil yang menyatakan dengan lisan al-Masih sendiri bahwa ia berkata: “Saya Allah atau saya adalah anak Allah, maka sembahlah saya!” Mendengar pertanyaan itu seolah-olah saya disambar petir, saya tidak bisa menjawabnya. Saya berusaha untuk mengingat-ingat apa yang pernah saya baca dari kitab Injil dan kitab-kitab agama Nashrani, tetapi saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Tidak ada satupun disana ayat yang bersumber dari lisan al-Masih yang mengatakan bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Maka tangan saya lemas dan saya dipenuhi kesedihan yang mendalam hingga dada saya sesak. Bagaimana pertanyaan semacam ini tidak pernah terpikirkan oleh saya?

Kemudian saya meninggalkan orang tersebut dan saya menutupi wajah saya. Saya tidak mengetahui keadaan diri saya sendiri kecuali saya terus berjalan dan tidak menoleh kearah manapun. Kemudian saya berjanji untuk meneliti masalah ini walaupun hal ini memberatkan saya. Akan tetapi saya lemah dan kalah. Kemudian saya pergi ke dewan gereja dan saya meminta semua anggotanya dikumpulkan. Ketika sudah berkumpul, saya memberitahukan kepada mereka semua apa yang telah saya alami. Akhirnya mereka semua menyerang saya dan berkata: “Orang India itu telah menipumu. Ia ingin menyesatkanmu dengan agama India mereka”. Kemudian saya menimpali: “Kalau demikian, jawablah pertanyaan saya!” Akhirnya mereka saling bertanya dan tidak ada satupun yang menjawab.

Ketika hari Ahad tiba, waktu dimana saya harus menyampaikan khutbah di gereja, saya berusaha berbicara di depan jamaah namun tidak kuasa. Orang-orang tertegun melihat saya terdiam dan tidak berbicara. Kemudian saya keluar dan meminta kepada teman saya yang lain untuk menggantikan tugas saya. Saya memberitahukan jika saya sakit, padahal tidak demikian, justru saya tersiksa dan bingung terhadap diri sendiri. Akhirnya saya pulang ke rumah dalam keadaan bingung, lalu saya memasuki tempat yang kecil di rumahku, kemudian duduk dan mengambil nafas kuat-kuat. Lalu saya mengangkat pandanganku keatas, kemudian berdo’a. Tapi saya bingung akan berdo’a kepada siapa? Kemudian saya arahkan doa saya kepada yang saya yakini, Allah sebagai sang Pencipta. Dan berujar dalam do’a saya itu:

 “Rabbi…Penciptaku! Bagiku semua pintuku telah tertutup selain daripada pintu-Mu, janganlah Engkau mengharamkanku untuk mengetahui kebenaran, di manakah kebenaran, di manakah yang sebenarnya? Wahai Penciptaku! Jangalah membiarkanku dalam kebingungan, tunjukkanlah kepadaku yang benar!”

Kemudian saya mengantuk dan akhirnya tertidur. Ketika tidur itulah saya bermimpi berada di suatu aula yang besar, tidak ada seorangpun di dalamnya. Tetapi di tengahnya saya melihat ada punggung seseorang, namun tidak jelas karena adanya cahaya disekitarnya. Aku mengira itu adalah Allah yang mengajakku berbicara untuk menunjukkan kepadaku kebenaran. Tetapi yang aku yakini ia adalah seseorang yang bercahaya. Kemudian orang tersebut menunjuk kepadaku dan menyeru: “Hai Ibrahim!” Aku melihat sekitarku untuk melihat siapa yang dimaksud dengan Ibrahim, namun aku tidak mendapati seseorang bersamaku di aula tersebut. Orang itu berkata kepadaku: “Anda Ibrahim, nama anda Ibrahim. Lihat di sebelah kanan anda!” Kemudian saya melihat kanan saya, disana ada seseorang yang berpakaian putih. Orang itu melanjutkan ucapannya: “Ikutilah ia untuk mengetahui kebenaran!” Kemudian saya terbangun dan saya merasa bahagia sekali.

Akhirnya saya berketetapan hati untuk melakukan perjalanan, perjalanan mencari kebenaran, sebagaimana yang telah ditunjukkan kepadaku dalam mimpiku. Dan saya yakin bahwa ini semua merupakan bimbingan dari Allah. Maka saya mengambil upah dari pekerjaan saya dan kemudian melakukan perjalanan. Saya senantiasa mencari dan bertanya seseorang yang memakai pakaian putih hingga pencarian dan perjalanan saya berlangsung lama. Hingga tibalah pencarian saya di kota Johannesburg. Kemudian saya mendatangi kantor penerimaan Lajnah Muslim Afrika, dan saya bertanya kepada karyawan resepsionis: “Bukankah anda memiliki tempat ibadah yang dekat dari sini?” Kemudian ia menunjukkan tempat tersebut dan saya menuju ke sana. Ketika saya dalam masa penantian, tiba-tiba di pintu masjid berdiri seorang laki-laki berpakaian putih yang membuat hati saya senang, karena ia sama dengan yang saya lihat dalam mimpi saya. Saya arahkan pandangan saya dan saya senang melihatnya. Kemudian orang tersebut memanggil saya sebelum saya mengucapkan sepatah katapun: “Marhaban Wahai Ibrahim!” Saya kaget dengan apa yang saya dengar. Orang itu mengetahui nama saya sebelum saya mengenalkan diri saya sendiri. Orang tersebut melanjutkan ucapakannya: “Saya telah melihat anda di dalam mimpi saya bahwa anda ingin mengetahui kebenaran. Dan yang benar adalah agama yang telah diridhoi Allah untuk hamba-Nya adalah Islam.” Kemudian saya memeluk laki-laki itu dan ia pun menyambutnya serta mengucapkan selamat atas nikmat Allah kepada saya untuk mengetahui kebenaran.

Ketika datang waktu shalat Zhuhur, orang tersebut mempersilakan saya untuk duduk di bagian belakang masjid. Kemudian ia shalat bersama dengan orang-orang yang berada di sana. Mereka semua ruku’ dan sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian saya berkata kepada diri saya sendiri: “Demi Allah, ini adalah agama yang benar! saya telah membaca dalam kitab-kitab bahwa para nabi dan para rasul menundukkan dahi mereka ke bumi untuk sujud kepada Allah”.
Selesai shalat, hati saya menjadi tenang atas apa yang telah saya lihat dan dengar. Saya pun berkata lagi: “Demi Allah, Allah telah menunjukkah kepadaku agama yang benar!” Orang itupun memanggilku untuk memberitahukan keislamanku, akhirnya aku mengucapkan dua kalimat syahadat, dan aku menangis dengan tangisan kebahagian atas nikmat Allah berupa hidayah-Nya.”

Dan kami berkata dengan lisan pedagang tersebut menantang semua  orang Nashrani agar mendatangkan satu ayat dalam injil, yang dikatakan oleh al-Masih sendiri bahwa dia mengatakan: “Aku adalah Allah atau anak Allah, maka sembahlah aku!” niscaya mustahil  ia bisa menjawabnya. (AZ)

sumber : http://qiblati.com/pendeta-sily-karena-tidak-bisa-menjawabnya-maka-aku-menyatakan-diri-masuk-islam.html
 

Meninggalkan Yang Haram Maka Keluarlah Aroma Minyak Kesturi dari Badannya



Ada seorang pemuda yang perkerjaannya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini dikenal dengan nama "Faraqna" oleh orang-orang. Walaupun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sa-ngat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pasti menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besar, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya: "faraqna-faraqna", tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatnya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersila-kan masuk ke dalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta yang begitu besar dalam hatinya. Lalu si wanita ini berkata: "Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu., tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan di rumah ini sekarang sedang kosong." Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat 'sesuatu' dengan dirinya. Pemuda itu menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menakut-nakutinya dengan azab yang pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasihat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita menjadi tambah ber-hasrat.

Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang... Akhirnya, karena si pemu-da ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: "Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku akan berteriak kepada semua orang dan aku akan katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku." Setelah si pemuda itu melihat betapa si wanita itu terlalu memaksanya untuk mengikuti keinginan-nya berbuat dosa, akhirnya dia berkata: "Baiklah, tapi apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu?" Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa ke-inginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab: "Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus."
Kemudian masuklah si pemuda ke kamar mandi, semen-tara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perang-kap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali syaitan akan menjadi pihak ketiga. "Ya Alah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, wahai Dzat yang dapat memberi petunjuk bagi orang-orang yang kebingungan." Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya. "Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: 'Aku takut kepada Allah.' Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik... dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan melahirkan penyesalan seumur hidup... Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku... Tidak... tidak ... Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram... Tetapi, apa yang harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu, aku akan mengolesi tubuhku dengan kotoran-kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam keadaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi." Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubuhnya dengan kotoran-kotoran yang ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: "Ya Rabbi, hai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku 'kebaikan' sebagai gantinya." Kemudian dia keluar dari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian, si wanita itu berteriak: "Keluar kau, hai orang gila!" Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang yang di jalan tertawa melihatnya. Akhirnya dia tiba di rumahnya, di situ dia bernafas lega. Lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya.

Kemudian apa yang terjadi? Adakah Allah akan mem-biarkan hamba dan waliNya begitu saja? Tidak... Ternyata, ketika dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia mendapat julukan "al-miski" (yang harum seperti kasturi). Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari bau kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda ini meninggal dan diku-burkan, mereka tulis di atas kuburannya "Ini kuburan Al-Misky", dan banyak orang yang menziarahinya.

Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta'ala akan selalu membelanya, Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam hadits QudsiNya:
"Bila dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin memohon?!"

Pembaca yang budiman!
"Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada ganti-nya. Begitu pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai pengganti-nya."
Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang kecil. Allahu Akbar.
Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka berhak mendapat-kan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka berikan??
Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah dan seruan fitrah yang suci?!


 

Meninggalkan Suatu Perbuatan, Ikhlas Karena Allah Ta'ala Maka Allah Keluarkan Dia Dari Masalah



Dari Nafi' diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang sedang mengadakan perjalanan. Tiba-tiba mereka ditimpa oleh hujan, maka mereka berteduh di dalam sebuah gua. (Tanpa disangka), gua tersebut menyekap mereka, (karena pintunya tertutup oleh sebuah batu besar). Maka ada sebagian dari mereka yang berkata kepada yang lain: "Demi Allah, tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali sifat jujur (keikhlasan), oleh karenanya, saya harap agar masing-masing kalian berdo'a (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala) dengan perantara (wasilah) suatu amal yang dia yakin dikerjakan dengan penuh kejujuran (keikhlasan).

Seorang dari mereka berdo'a: "Ya Allah, Engkau tahu bahwa dulu aku punya seorang pekerja yang bekerja padaku dengan imbalan 3 gantang padi. Tapi, tiba-tiba dia pergi dan tidak mengambil upahnya. Kemudian aku ambil padi tersebut lalu aku tanam dan dari hasilnya aku belikan seekor sapi. Suatu saat, dia datang kepadaku untuk menagih upahnya. Aku katakan padanya, 'Pergilah ke sapi-sapi itu dan bawalah dia'. Dia balik berkata, 'Upahku yang ada padamu hanyalah 3 gantang padi'. Maka aku jawab, 'Ambillah sapi-sapi itu, sebab sapi-sapi itu hasil dari padi yang tiga gantang dulu'. Akhirnya dia ambil juga. (Ya Allah), bila Engkau tahu bahwa apa yang aku perbuat itu hanya karena aku takut kepadaMu, maka keluarkanlah kami (dari gua ini)." Tiba-tiba batu besar (yang menutupi gua itu) bergeser.

Seorang lagi berdo'a: "Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku mempunyai bapak-ibu yang sudah tua. Setiap malam aku membawakan untuk keduanya susu dari kambingku. Suatu malam aku datang terlambat pada mereka. Aku datang kala mereka sudah tidur lelap. Saat itu, isteri dan anak-anakku berteriak kelaparan. Biasanya aku tidak memberi minum buat mereka sehingga kedua orang tuaku terlebih dahulu minum. Aku enggan membangunkan mereka, aku juga enggan meninggalkan mereka sementara mereka butuh minum susu tersebut. Maka, aku tunggu mereka (bangun) sampai fajar menyingsing. (Ya Allah), bila Engkau tahu bahwa hal tersebut aku kerjakan hanya karena takut padaMu, maka keluarkanlah kami (dari gua ini). Tiba-tiba batu besar itu bergeser lagi.
Yang lain lagi juga berdo'a: "Ya Allah, Engkau tahu aku mempunyai saudari sepupu (puteri paman), dia adalah wanita yang paling aku cintai. Aku selalu menggoda dan membujuknya (berbuat dosa) tapi dia menolak. Hingga akhirnya aku memberinya (pinjaman) 100 dinar. (Jelasnya), dia memohon uang pinjaman dariku (karena dia sangat membutuhkan dan terpaksa), maka (aku jadikan hal itu sebagai hilah untuk mendapatkan kehormatannya).

Maka aku datang kepadanya membawa uang tersebut lalu aku berikan kepadanya, akhirnya dia pun memberiku kesem-patan untuk menjamah dirinya. Ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia berkata, 'Bertakwalah engkau kepada Allah, janganlah engkau merusak cincin kecuali dengan haknya'. Maka dengan segera aku berdiri dan keluar meninggalkan uang 100 dinar itu (untuknya). Ya Allah, bila Engkau tahu bahwa apa yang aku kerjakan itu hanya karena aku takut kepadaMu, maka keluarkanlah kami (dari gua ini)". Tiba-tiba bergeserlah batu itu sekali lagi, dan Allah pun mengeluarkan mereka (dari sekapannya). (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan lihat kelanjutan takhrij hadits ini pada kitab kami yang berjudul: Al-I'lam fima warada fi birril walidain washilatil Arham).

 

Meninggalkan Suap-Menyuap, Pintu Rizki Jadi Terbuka



Ada seorang kawan bercerita tentang seorang pedagang di Saudi Arabia. Pada awal dia meniti karir dalam bisnis, dulunya dia bekerja di sebuah pelabuhan di negeri ini. Semua barang-barang perniagaan yang akan masuk harus melalui dia dan mendapatkan tanda tangannya. Dia tidak suka kepada orang yang main kolusi dan suap-menyuap. Tetapi dia tahu bahwa atasannya senang mengambil uang suap. Sampai akhirnya teman kita yang satu ini didatangi oleh orang yang memberitahunya agar tidak terlalu keras dan mau menerima apa yang diberikan oleh penyuap untuk mempermudah urusannya.

Setelah mendengar perkataan tersebut, dia gemetar dan merasa takut. Ia lalu keluar dari kantornya, sementara ke-sedihan, penyesalan dan keraguan terasa mencekik lehernya. Hari-hari mulai berjalan lagi, dan para penyuap itu datang kepadanya. Yang ini mengatakan, 'Ini adalah hadiah dari perusahaan kami'. Yang satu lagi bilang, 'Barang ini adalah tanda terima kasih perusahaan kami atas jerih payah Anda'. Dan dia selalu mampu mengembalikan dan menolak semuanya. Tetapi sampai kapan kondisi ini akan tetap ber-langsung?! Dia khawatir suatu waktu mentalnya akan melemah dan akhirnya mau menerima harta haram tersebut. Dia berada di antara dua pilihan; meninggalkan jabatannya dan gajinya atau dia harus melanggar hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mau menerima suap. Karena hatinya masih bersih dan masih bisa meresapi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan akan mem-berinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3).

Akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Dia berkata, 'Tak lama setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkaruniakan untukku kapal kargo yang kecil. Aku pun memulai bisnisku, mengangkut barang-barang. Lalu Allah mengkaruniakan kapal kargo lain lagi. Sebagian pedagang mulai memintaku untuk mengangkut barang-barang perniagaan mereka karena aku memang sangat hati-hati, seolah-olah barang-barang itu milikku sendiri.
Di antara kejadian yang menimpaku adalah sebuah kapal kargoku menabrak karang dan pecah. Penyebabnya, karena sang nahkoda tertidur. Dia meminta maaf. Tanpa keberatan aku memaafkannya. Maka merasa heranlah seorang polisi lalu lintas laut karena aku begitu mudah memaafkan orang. Dia berusaha berkenalan denganku. Setelah berlangsung beberapa tahun, dia polisi itu bertambah tinggi jabatannya. Saat itu datang barang-barang perniagaan dalam jumlah besar. Dia tidak mau orang lain, dia memilihku untuk mengangkut barang-barang tersebut tanpa tawar menawar lagi".

Pembaca yang budiman, lihatlah, bagaimana pintu-pintu rizki terbuka untuknya. Sekarang dia telah menjadi seorang saudagar besar. Kepedulian sosial dan santunannya bagi orang-orang miskin begitu besar. Begitulah, barangsiapa meninggalkan suatu perbuatan dengan ikhlas karena Allah, niscaya Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.

 

Meninggalkan Maksiat Kemudian Meninggal Malam Harinya, Lalu Allah KaruniKaruniakan Ampunan Untuknya



    Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Adalah Dzulkifli tidak pernah menahan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Suatu saat datanglah kepadanya seorang wanita, lalu Dzulkifli memberikan padanya uang sebesar enam puluh dinar dengan syarat dia boleh menggaulinya.
Saat dia duduk seperti posisi seorang laki-laki di atas iste-rinya, si wanita tadi gemetar dan menangis. 

Dzulkifli ber-kata, 'Mengapa kau menangis? Apakah kau merasa aku memaksamu?'.
Jawab si wanita, 'Tidak, akan tetapi perbuatan ini belum pernah aku lakukan, dan yang mendorongku melakukannya tak lain hanyalah tekanan ekonomi.' 

Dzulkifli berkata, 'Kau akan melakukannya, sementara sebelumnya tidak pernah? Sekarang pergilah kau dan ambillah uang di-nar itu untukmu.' 

Kemudian Dzulkifli bersumpah, 'Demi Allah, mulai sekarang Dzulkifli tidak akan pernah lagi ber-maksiat kepada Allah selamanya!'. 

Malam harinya Dzulkifli meninggal dunia, dan pada pagi hari terdapat tulisan di pintu rumahnya; Sungguh Allah telah mengampuni Dzulkifli'."(1 )

(1) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Musnad-nya 6/334-336, At-Tirmidzi 4/657, dia berkata: “Hadits ini Hasan, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/254-255
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger