Latest Post

[Kisah Nyata] Aku dan Maisya

Bismillahirrahmaanirrahiim
Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.
Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah kujalani “prosedurnya”. Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah.
Akhirnya , aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya. Langsung saja kukatakan pada teman dekatku bahwa aku sangat-sangat setuju.
“Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.
Tapi kujawab enteng, “Tapi ane (aku) langsung sreg kok”.
“Ya sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.
Karena aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya. Jangankan zina, hal-hal yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu, aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu). Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir.
Lewat kurang lebih 2-3 minggu mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan Maisya. Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting yaitu mengungkapkan niatku untuk menikahinya, apa jawabnya? Aku disuruh menghadap murabbinya (guru/pembimbing).
“Kenapa tidak ke orang tua Maisya saja?” tanyaku.
“Tidak, pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya.” jawabnya.
Aku baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya disuruh menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya. Padahal, di antara birrul walidain adalah menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali diajak diskusi tentang pernikahan, bukan gurunya, ustadznya, atau siapa pun. Barulah kutahu itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah (pergerakan).
***

Aku catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan. Pada hari Ahad kuajak 2 teman dekatku untuk menemani ke rumah sang MR. Dengan sedikit kesasar akhirnya sampailah kami di rumahnya. Tapi setelah pencet tombol tiga kali dan “Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka, kami pun pulang dengan agak kecewa, sebab siang itu adalah jam 2, saat matahari sangat terik menyengat.
Kutelepon Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya. Maisya membolehkanku hanya dengan menelepon MR. Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah nyambung. Aku ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama. Dari masalah belajar, kerja, ngaji, tarbiyah, murabbi-ku, ustadz yang sering kuikuti kajiannya, sampai buku-buku yang sering kubaca. Juga, pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya.
Dengan polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang membuatku heran, ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti kajiannya sampai, nada MR agak beda dari awal pembicaraan. Terutama ketika kusebutkan kitab-kitab yang sering
kujadikan rujukan dalam memahami agama. Aku belum tahu kenapa bisa begitu.
Kuceritakan pembicaraan itu pada teman dekatku. Ternyata temanku menjawab dengan nada menyesal.
“Aduh, kenapa tidak bicarakan dulu denganku. Ente tahu? Kalau akan menikahi akhwat tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’ tertentu dan punya MR, maka ente otomais akan ditolak. Apalagi ente sebutkan nama-nama ustadz, buku-buku dan para syeikh Timur Tengah, bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf (populer).”
“Lho kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah, atau apa namanya tadi, liqa’? Ya memang aku tak ikut. Ane juga nggak punya MR dong. Oo.., jadi begitu ya?” aku hanya melongo.
***
Beberapa hari kemudian, aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit hancur.
“Assalamu’alaikum, akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya, mungkin Allah belum menakdirkan kita berjodoh. Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik untuk pasangan kita, saya minta maaf, kalau ada kesalahan selama ini, Assalamu’alaikum,”
“Kletuk, nuut nuut nuut” terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung terputus.
Aku masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban tersebut. Kutaruh gagang telpon dengan lunglai. “Astagfirullah,” kusebut kata-kata itu berulang kali. Apa yang harus kuperbuat? Tak tahu harus bagaimana. Tapi sohib dekatkuyang dari tadi memperhatikanku waktu menelepon nyeletuk.
“Ditolak ya? Udah deh, kan masih banyak harem (wanita) lain, ngapain ngejar-ngejar ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak.”
Aku jawab saja dengan ketus, “Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam pemolakan it, ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”.
“Udah deh jangan terlalu PD,” sahut sohibku.
Ternyata bener juga kata temanku itu, jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan aku ditolak oleh Maisya. Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam, padahal yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku rujukan adalah Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad Shalih Utsaimin, yang semuanya aku tahu bahwa mereka selalu mendasarkan bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih.
Hatiku sudah terlanjur cocok sama Maisya. Jujur aku sudah merasa sreg sekali kalau Maisya jadi pendamping hidupku. Tapi aku ditolak. “Apa yang harus kuperbuat?” kataku dalam hati. Menyerah kemudian mencari yang lain? Baru begitu saja kok nyerah.
Tanpa sepengetahuan sohibku, kutulis surat ke orangtua Maisya. Yang kutahu bahwa dia hanya punya ibu. Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8 tahun. Kutulis surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan itu. Juga janjiku jika ditolak oleh ibunya, maka aku akan menerima dan tak akan menghubunginya lagi.
Dengan penuh harap kukirim surat tersebut, tak disangka ternyata surat itu sampai di tangan Maisya dan dibacanya. Alamak, kenapa bisa begitu? Untuk beberapa hari tidak ada respon. Gundah gulana pun datang. Apa yang harus kulakukan?
Kuputuskan untuk mengirim surat ke Maisya langsung. Semuanya aku ungkapkan dengan bahasa setengah resmi tapi santai. Aku memang sedikit ndableg. Di penghujung surat tersebut kukatakan, “Kalau memang Allah takdirkan kita tidak jodoh, saya punya satu permintaan, tolonglah saya untuk mendapatkan pendamping dari teman-teman Maisya yang Maisya pandang pas untuk saya, minimal yang seperti Maisya.”
Kupikir Maisya akan “tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar. Aku berpikir seandainya ada orang membaca suratku, pasti akan mengatakan “rayuan gombal!”. Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling dalam.
Surat kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima dan dibaca oleh ibu Maisya dan kakak perempuannya. Nah, dari situkah terjadi kontak antara aku dan keluarganya. Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak perempuan Maisya, Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli). Kak Dahlia menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya guna klarifikasi surat tersebut.
***
Seminggu kemudian kupeniuhi undangan itu. Setelah bertemu dan “sesi tanya-jawab” , dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,
“Baiklah, kakak sudah dengar cerita kamu, saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya?
Padahal menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”.
Hatiku berbunga-bunga mendengarnya,. Tapi langsung surut lagi karena pernyataan itu datang dari Kak Dahlia bukan Maisya. Aku sedikit senyum kecut menanggapi omongan kak Dahlia.
“Begini aja deh, kamu sekarang pulang dulu. Biar nanti kakak dan Umi yang akan rayu Maisya. Pokoknya kamu banyak doa aja. Pada dasarnya kami setuju kok sama kamu.”
Aku izin pulang dengan sedikit riang gembira. Mulutku hanya bergumam penuh doa, semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Kira-kira 2 minggu setelah itu kudapat telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya. Dia bilang aku harus bertemu langsung dengan Maisya. Hatiku pun berdebar. Dengan sedikit gagap aku iyakan undangan itu. “Besok deh Kak, insyaAllah saya datang,” jawabku.
Aku duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit basa-basi Kak Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum ditanyakan pada pertemuan sebelumya. Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia memanggil Maisya agar ke ruang tamu menemuiku. Dadaku berdegub. Inilah saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana rupa Maisya yang sebenarnya. Apa sama seperti yang kubayangkan sebelumnya?
Jangan-jangan tidak sama. Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya. Tunggu saja deh.
Tidak lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya. Aku tetap menjaga pandanganku. Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang untuk yang pertama kalinya. Bahkan seharusnya untuk acara nadhar biasanya lebih dari mencuri pandang, karena memang dianjurkan oleh Rasulullah. Tapi bagiku sangat cukup melihatnya sekali-kali. Aku hanya bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya, subhanallah! Aku tak bisa ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku saja.
Tak sadar keringat dingin mengalir dari pelipis. Ada apa gerangan? Kenapa rasanya agak grogi? Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini. Obrolan pun mulai bergulir. Dari mulai pertanyaan-pertanyaan agama secara umum sampai diskusi tentang kerumahtanggaan. Kurang lebih satu jam aku di rumah itu. Aku pun pamit sambil memberikan hadiah-hadiah buku-buku kecil tentang agama.
Di bus kota aku senyum-senyum sendirian. Seakan-akan bus itu adalah bus patas AC padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap rokok. Tapi semua itu tidak kurasakan. Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia berhasil.
Ternyata benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya, kali ini menanyakan kelanjutan proses kami kemarin. Kujawab jika dibolehkan akan kuajak keluargaku di waktu yang kutentukan. Di penghujung pembicaraan, Maisya setuju dengan tawaranku.
Kutanya ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika meng-khitbah seorang wanita. Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya. Tak lupa aku bawakan buah-buahan seadanya. Hal ini sebenarnya sudah kutanyakan kepada Maisya, tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau bawa apa saja pasti dia akan terima. Duh…, senangnya.
Sebelumnya aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya. Bahkan, ibunya punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib (Orang Arab yang mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah). Padahal setahuku Rasulullah tak punya keturunan laki-laki yang kemudian punya anak. Yang ada hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib. Sedangkan dalam Islam, darah nasab hanya sah dari garis bapak atau lelaki. Jadi, mungkin yang dimaksud mereka adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib.
Satu hal yang perlu diketahui, bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan Habaib atau Habib, wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari keturunan non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Aku pun harus siap dengan apa yang akan aku hadapi nanti. Bisa jadi ditolak atau tidak. Dan yang ada di depan mataku adalah ditolak.
Aku datang sekeluarga dengan naik Taksi. Aku tidak punya mobil. Dari mana aku punya mobil sedangkan aku baru bekerja setahun? Sambutan hambar kudapatkan ketika memasuki ruang tamu. Di situ sudah hadir ibu-ibu yang merupakan keluarga besar dari ibu Maisya. Anehnya,di acara itu tidak hadir laki-laki dari pihak keluarga besar Maisya.
Kemudian acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan. Namun yang kutunggu hanya momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri. Saat itu pun tiba. Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya menerima lamaranku.
Diakhir acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya. Ada salah satu dari anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah nanti. Aku hanya menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya. Tapi dia memaksaku untuk menyebutkan jumlahnya. Aku tetap tak mau menyebutkan. Rupanya orang tadi kecewa berat dengan jawabanku.
Setelah acara selesai, aku pamit. Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan. Aku bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya dalam usaha mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini.
Ternyata ujian belum selesai juga. Maisya didatangi keluarga besarnya dengan membawa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lamaranku ditimpa oleh lamaran orang lain.
Orang yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga. Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran, dan juga perhiasan.
Apa yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dibawa pelamar kedua ini. Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan? Maisya tak mau menemuinya. Maisya tak menerima lamarannya.
Bahkan setelah rombongan itu pulang dan meninggalkan bawaan mereka sebagai lamaran untuk Maisya, apa yang Maisya lakukan? “Kembalikan semua barang bawaannya dan jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan, kembalikan dan jangan ada yang tersisa di rumah ini.” Aku dapatkan cerita ini dari kak Dahlia yang meneleponku.
Mendengar semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Padahal aku adalah lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis. Saat itulah aku mulai yakin bahwa Maisya harus kudapatkan, sekali pun harus menghadapi hal-hal yang menyakiti hatiku.
***
Beberapa hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi Maisya. Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan. Malah dia nyerocos panjang lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya. Dengan nada sinis dan tinggi dia mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku. “Saya kasih tau ya! Kamu kan baru bekerja belum satu tahun, belum punya rumah dan mobil. Sedangkan Juli Jajuli (bukan nama asli) kan sudah punya kerjaan, rumah besar, mobil ada dua. Jadi, kamu batalkan lamaran. Biar Maisya menerima lamaran Jajuli. Kamu kan bisa cari yang lain.”
Hhh! Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu. Tapi aku langsung kontrol diri. Aku jawab dengan suara pelan dan sopan bahwa aku akan terima hal itu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sebelum kudengar langsung dari mulut Maisya, aku tak akan pernah membatalkan lamaranku. Gubrakkkk!, terdengar suara gagang telepon dibanting, padahal jawabanku belum selesai.
Suatu hari di tengah kesibukanku, datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30 tahun ke kantorku. Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku, “Kamu yang melamar Maisya? Kamu tuh ga tahu diri ya? Belum jadi menantu saja sudah belagu,” cerocosnya.
“Mohon tenang dulu, apa masalahnya? Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan pelan,” sambutku dengan sabar.
“Kamu tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari, saya sudah muter-muter mencari alamatmu tapi ternyata tidak ketemu-ketemu, apa kamu mau mempermainkan kami?” tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku.
“Apa tadi ente tidak tanya sama orang-orang?” tanyaku.
“Tidak!” jawabnya ketus.
“Ya jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,” sahutku.
“Aaah udah deh jangan banyak alasan,” jawabnya. “Eh aku kasih tau ya, kau tuh jangan pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”, ancamnya.
Dengan sedikit senyum kujawab ancamannnya, “Kalo Nabi punya keturunan seperti ente, pasti Nabi akan sangat marah pada ente. Wanita kok pakai celana jeans, kaos ketat, dan tidak berjilbab. Nabi tentu akan malu jika punya keturunan seperti ente.” Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa yang dia katakan.
Kejadian itu membuat hatiku semakin was-was dan khawatir. Kalau demikian dengkinya mereka dengan pernikahanku bersama Maisya, maka bisa jadi mereka akan lebih jauh lagi dalam memberikan “teror”. Akankah mereka menghalangiku sampai pelaksanaan hari “H”? Wallahu a’lam.
Yang jelas sebelum aku tanda tangan surat nikah yang disediakan penghulu, maka aku belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi Maisya. Semuanya bisa terjadi. Sabarkanlah diriku ya Allah.
Dari telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga besarnya untuk membatalkan pernikahan denganku. Tapi dia lebih memilih akan kabur dari rumah dan tetap menikah denganku. Padahal keluarganya memberi pilihan: batal nikah atau putus hubungan keluarga.
***
Undangan mulai kucetak. Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya banyak untuk pernikahan ini. Aku tidak punya saudara di kota tempat Maisya tinggal. Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga, tetangga, dan kenalan Maisya.
Hari H semakin dekat. Persiapan juga semakin matang. Aku terharu lagi ketika ditanya,
“Akhi siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini? Tapi jangan merasa berat dan terpaksa, kalau tidak ada ya nggak apa-apa.” Aku hanya bisa tergagap menjawabnya. Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku tapi perlu proses untuk cair, jadi sementara aku hanya bisa beri sedikit. Itu pun sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini.
Tapi Maisya menyambut hal itu dengan tanpa cemberut sedikitpun. Subhanallah.
Panitia pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan. Aku bertekad bahwa pernikahan ini harus seislami mungkin, di antaranya memisahkan antara tamu pria dan wanita walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam. Aku tak peduli.
Keluarga Maisya pun tak tinggal diam. Di antara mereka ada yang memintaku agar busana Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada umumnya. Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa. Jelas kutolak mentah-mentah.
Ada juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik gambus dan yang sejenisnya. Tapi itu pun aku tolak. Ternyata sampai mendekati hari H pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka.
Tibalah saatnya kegelisahanku yang paling dalam. Aku sedang berpikir bagaimana jadinya jika ada yang mengacaukan pernikahanku. Aku punya seorang saudara marinir. Aku telepon dia dan kuwajibkan datang. Kalau perlu pakai seragam resmi lengkap. Aku akan jadikan dia sebagai pengamanan tambahan. Karena pengamanan Allah lebih kuat, bahkan tidak perlu ada pengamanan tambahan. Itu hanya ikhtiar saja. Malam hari “H” dia datang dan siap menghadiri acara nikah besoknya.
Aku minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang. Teman senior kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai Panther, bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai pria.
Dengan sedikit gemetar dan mata sedikit basah, aku lalui proses ijab kabul yang sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya seperti sungkem, injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya.
Tangisku meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya. Tangis makin dahsyat saat aku menghadap ibuku. Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan saudara yang mendampingiku.
Subhanallah, aku sudah menjadi seorang suami. Aku menjadi kepala keluarga yang didampingi oleh Maisya yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”. Akhirnya kulalui rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya sampai dikaruniai beberapa anak yang lucu-lucu. Semoga dapat aku lalui kehidupan ini dengan diiringi bimbingan dari yang Maha membolak balikkan hati, sehingga hatiku tetap teguh dengan agama-Nya.
Suami Maisya
_ _
Diambil dari Buku “Semudah Cinta Di Awal Senja” Terbitan Nikah Media Samara
 

Kondisinya Persis Seperti Yang Didoakan Terhadapnya


Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, Sa'id bin Zaid -salah seorang dari sepuluh orang yang diberitakan Rasulullah masuk surga- mengalami suatu kejadian yang membuat penduduk Yatsrib (Madinah) sejak dulu hingga kini masih memperbincangkan dan mengenangnya.
Yaitu kisah Arwa binti Uwais yang mengklaim bahwa Sa'id bin Zaid telah mencaplok sebagian dari tanahnya. Ia lantas menyebar-nyebarkan berita kepada setiap orang. Tak berapa lama, perkaranya sampai kepada Marwan bin al-Hakam, penguasa Madinah kala itu. lalu Marwan mengirim utusan agar mengatakan tentang hal itu kepada Sa'id. Maka, terbebanilah pikiran shahabat Rasulullah ini sembari berkata,
"Mereka mengira akulah yang menzhaliminya! Padahal aku telah mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda (artinya),
'Barangsiapa mencaplok sebidang tanah secara zhalim, maka dia akan dihimpit (dikalungkan) dari tujuh lapis bumi pada hari Kiamat.' (HR.Muslim)
Ya Allah, sesungguhnya dia mengklaim bahwa aku telah menzhaliminya. Jika dia berdusta, maka butakanlah penglihatannya dan lemparkanlah di sumur yang dipermasalahkannya terhadapku serta tampakkanlah cahaya pada tanah yang menjadi hakku sehingga menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa aku tidak pernah menzhaliminya."
Maka tidak berapa dari itu, meluaplah lembah 'Aqîq yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya, lalu tersingkaplah batas tanah yang diperselisihkan keduanya dan tampak pulalah bagi kaum Muslimin bahwa Sa'id berada di pihak yang benar.
Dan tak berapa dari itu pula, lebih kurang sebulan kemudian, Arwa benar-benar menjadi buta. Kemudian tatkala dia sedang berkeliling di tanah yang diperselisihkannya itu, tiba-tiba dia terjatuh di sumurnya tersebut.
'Abdullah bin 'Umar berkata, "Ketika kami masih kecil, kami sering mendengar seseorang berkata kepada yang lainnya, 'Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Dia membutakan Arwa'.
Tentunya kejadian seperti itu tidaklah aneh, sebab Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda (artinya),
"Takutlah doa orang yang teraniaya/dizhalimi, karena sesungguhnya antara doa tersebut dan Allah tidak terdapat penghalang." (HR.Muslim)
Nah, apa lagi bila yang dizhalimi itu Sa'id bin Zaid, salah seorang dari sepuluh orang yang sudah dijamin masuk surga, apa jadinya????.
(SUMBER: Kitab Nihâyah azh-Zhâlimîn, karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy, Juz.I, h.20-22)

 

Kisah Maling Yang Tobat


Al-Qâdly at-Tannûkhiy berkata, "Seorang mantan maling yang sudah bertaubat menceritakan kepadaku, 'Suatu ketika aku singgah di sebuah kota, aku berniat mencuri sesuatu di sana, lalu mataku tertuju pada seorang pedagang VALAS (Valuta Asing) yang hidupnya berkecukupan. Aku mencari akal bagaimana bisa mencuri darinya hingga akhirnya berhasil mencuri sebuah kantong uang miliknya, lalu aku menyelinap. Tapi, tak berapa jauh, aku bertemu seorang nenek nan sudah renta bersama seekor anjingnya. Aku merasakan dadaku berdetak karena si nenek ini bersikap cemberut terhadapku dan seakan memaksa. 
Dia berkata, 'Wahai cucuku, apa yang telah kau lakukan. Lihatlah anjing ini menggonggong dan bergelantung kepadaku!.' Lalu orang-orang ramai memandang ke arah kami.
Akhirnya, si nenek itu berkata kepada khalayak, 'Ayo, lihatlah ke arah anjing ini. Dia telah mengenal orang ini.' 
Orang-orangpun tertegun dengan kejadian itu sementara aku menjadi semakin bimbang sembari berkata di dalam hati, 'jangan-jangan nenek inilah yang menyusuiku dulu sementara aku tidak mengenalnya!.'
Si nenek kemudian berkata, 'Ayolah ikut aku, tinggallah di rumahku hari ini.'
Dia tidak beranjak dariku hingga akhirnya aku pergi bersamanya menuju rumahnya. Ternyata di sana banyak sekali anak-anak muda yang sedang minum. Mereka memegangi banyak sekali buah-buahan di tangan mereka. Mereka menyambut kedatanganku, mengajakku ke dekat mereka dan menyuruhku duduk bersama mereka.
Aku melihat mereka berpakaian dengan pakaian yang bagus, lalu aku memfokuskan mataku kepadanya. Untuk menenangkan diri, aku menyediakan minuman untuk mereka hingga akhirnya mereka tertidur dan semua orang yang berada di rumah itu tertidur. Lalu aku bangun dan mempreteli semua apa yang mereka miliki satu-persatu, kemudian kabur. Namun tiba-tiba anjing menerkamku seakan singa yang ganas, ia menggonggong, berbolak-balik ke sana kemari sembari terus menggonggong hingga semua orang yang tidur terjaga. Aku menjadi malu dan sangat malu karenanya.
Begitu siang tiba, aku melakukan lagi apa yang pernah aku lakukan kemarin dan juga aku berbuat terhadap mereka dengan hal yang sama. Aku terus mencari siasat licik untuk mengecoh si anjing hingga malam tiba, namun aku mendapatkan ide apapun.
Tatkala mereka sudah tertidur, aku ingin melakukan hal yang biasa aku lakukan, tiba-tiba si anjing menghadangku seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya terhadapku. Sementara aku terus melakukan perbuatan licik itu selama tiga malam. Manakala aku merasa frustasi, aku memohon diberi izin untuk keluar dari rumah itu. 
Aku berkata, "Apakah kalian mengizinkanku, karena aku sangat tergesa-gesa sekali."
Mereka menjawab, "Hal itu terserah kepada si nenek tua."
Lalu aku meminta izin kepadanya, maka dia berkata, "Berikan kepadaku apa yang telah engkau curi dari pedagang VALAS itu, lalu pergilah kemana yang engkau suka dan jangan pernah menginjakkan kaki di kota ini lagi karena sesungguhnya tidak suatu pekerjaanpun yang dapat dilakukan seseorang selama aku ada di sini."
Lantas dia mengambil kantong yang aku curi tersebut dan mengusirku. Aku berhasil meraih cita-citaku untuk terlepas dari cengkeramannya.
Aku berusaha meminta pesangon darinya, lalu dia memberikannya kepadaku dan keluar bersamaku hingga akhirnya mengusirkku dari kota itu sementara si anjing masih setia bersamanya. Akupun melewati perbatasan kota itu.
Aku berhenti sejenak, kemudian berlalu sementara si anjing membuntutiku hingga aku menjauh kemudian ia pulang sembari melihat ke arahku dan menoleh. Aku juga melihat ke arahnya hingga ia hilang dari pandangan mataku."
(SUMBER: Nihâyah azh-Zhâlimîn karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy, Juz.I, h.53-56 sebagai yang dinukilnya dari kitab al-Azkiyâ` karya Ibn al-Jawziy, h.188)

 

Kedermawanan Itu Adalah Jernih


Seorang pria dari kaum Quraisy bercerita:
"Suatu saat, Muhammad bin Al-Munkadir* dari Bani Taim bin Murrah pergi untuk berhaji. Dia seorang yang sa-ngat dermawan. Sebelum berangkat dia memberikan sedekah kepada orang-orang. Semua barang miliknya sudah habis, yang tersisa hanyalah baju yang dia pakai. Dia berangkat haji bersama kawan-kawannya.

Dalam perjalanan, dia singgah di telaga air. Saat itu da-tanglah wakilnya dalam rombongan itu dan berkata, 'Kita tidak punya apa-apa, bahkan meski sisa uang satu dirham.' Mengetahui hal itu, Muhammad meneriakkan bacaan talbiyah dan diikuti oleh semua kawan-kawannya, bahkan juga orang-orang yang sama-sama singgah di telaga itu. Di antara orang-orang itu ada Muhammad bin Hisyam **. 

Setelah mendengar suara talbiyah menggema, Muhammad bin Hisyam berkata, 'Demi Allah, aku yakin di sekitar telaga ini ada Muhammad bin Al-Munkadir, cobalah kalian lihat.' Ternyata memang benar Muhammad bin Al-Munkadir ada di situ. Kemudian Muhammad bin Hisyam berkata, 'Aku kira dia tidak mempunyai uang. Bawalah uang sebanyak 4000 dirham ini kepadanya.' 

*     Dia adalah Muhammad bin Al-Munkadir bin Abdullah bin Abdul Izza Al-Quraisy At-Taimy (54-130 H.), dia penduduk Madinah, seorang ahli hadits dan zuhud. (Al-A'lam 7/333).


**     Bin Isma'il Al-Makhzumy, dia diangkat oleh Hisyam bin Abdul Malik sebagai gubernur Makkah dan Thaif tahun 114 H. Ketika Al-Walid bin Yazid berkuasa dia diturunkan dari jabatannya dan ditangkap. (Al-A'lam 7/355).


 

Kecerdikan Abu Ja’far Al-Manshur


Suatu ketika Abu Ja'far, 'Abdullah bin Manshur, seorang khalifah, sedang duduk-duduk di salah satu kubah kota al-Manshur di 'Iraq. Tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki yang sedang sedih dan bolak-balik ke sana- kemari di sepanjang jalan. Lalu dia mengirimkan utusan untuk menemuinya dan menanyakan kondisinya. 

Maka orang tersebut menceritakan bahwa pernah suatu hari dia pergi berbisnis dan mendapatkan keuntungan yang besar sekali. Setelah itu, dia kembali membawa hasil keuntungan tersebut kepada sang isteri dan menyerahkan semua uang dinar kepadanya. Namun kemudian, kisahya, isterinya tersebut mengatakan kepadanya bahwa semua uang tersebut telah dicuri orang dari rumah, padahal setelah dia meneliti, tidak ada satupun bekas lobang atau sesuatu yang terbongkar di rumahnya.

Lantas berkatalah al-Manshur kepadanya, "Sejak kapan kamu menikah dengannya?"
"Setahun yang lalu." Jawabnya
"Saat kamu nikahi, dia masih perawan atau sudah janda?", tanyanya lagi
"Sudah janda." Jawabnya
"Masih muda atau sudah berumur?." Tanya al-Manshur lagi
"Masih muda." Jawabnya pula
Tak berapa lama kemudian, al-Manshur mengambil sebuah botol berisi parfum yang demikian semerbak aromanya seraya berkata kepada orang tersebut, "Pakailah ini, pasti akan hilang semua kegelisahanmu."
Lalu orang itu mengambilnya dan membawanya pulang.

Setelah orang tersebut berlalu, al-Manshur berkata kepada para pengawal pilihannya, "Duduklah kalian di dekat pintu-pintu masuk kota ini. Siapa saja yang melintasi kalian dan tercium dari tubuhnya semerbak aroma parfum tadi, maka bawalah dia kemari.!!"

Sementara orang tadi sudah sampai di rumahnya dan segera menyerahkan parfum tersebut kepada sang isteri sembari berkata, "Ini ada parfum bagus, hadiah dari Amirul Mukminin!."

Tatkala menciumnya, sang isteri ini demikian takjub dan terpikat dengannya, lalu sertamerta dia membawa parfum tersebut kepada seorang laki-laki, kekasih gelap yang dia cintai. Kepada orang inilah, dia menyerahkan semua uang dinar yang hilang itu. si perempuan ini berkata kepadanya, "Pakailah parfum yang bagus ini!."

Tanpa rasa curiga dan pikir panjang lagi, kekasih gelapnya ini langsung memakainya, dan pergi melintasi sebagian pintu kota. Akhirnya, dari tubuhnya tersebut terciumlah semerbak aroma parfum sang khalifah itu. Karenanya, diapun kemudian diciduk oleh para pengawal istana dan dibawa menghadap al-Manshur.
Setibanya di istana, al-Manshur bertanya kepadanya,
"Dari mana kamu dapatkan parfum ini?." Ternyata orang ini tidak dapat bersikap tenang dan terbata-bata di dalam menjawabnya. Melihat gelagat seperti ini, maka al-Manshur langsung menyerahkannya kepada polisi sembari memberikan titah,
"Jika dia mau menghadirkan sekian dan sekian dinar yang dicurinya, maka ambillah darinya. Bila dia tidak mau, maka cambuklah dia seribu kali cambukan!!!."

Tak lama kemudian, pakaiannya dilucuti untuk dicambuk sembari diancam, hingga akhirnya dia mengaku dan berjanji akan mengembalikan uang dinar yang dicurinya itu. Kemudian dia menghadirkan uang tersebut seperti sediakala, tidak kurang sepeserpun.

Setelah itu, al-Manshur diberitahu perihal tersebut, lantas si empunya uang dinar tersebut dipanggil lagi untuk menghadap. Ketika dia sudah datang, al-Manshur berkata kepadanya,
"Bagaimana pendapatmu, bila aku berhasil mengembalikan semua uangmu yang hilang, apakah kamu setuju aku yang akan menjatuhkan vonis terhadap isterimu?."
"Baiklah, wahai Amirul Mukminin." Katanya
"Ini semua uang dinarmu tersebut dan aku juga telah menceraikan isterimu itu darimu.!" Kata Amirul Mukminin, al-Manshur.
Setelah itu, sang khalifah yang cerdik ini mengisahkan kepada orang tersebut kronologis ceritanya.
(SUMBER: Nihâyah azh-Zhâlimîn, karya Ibrahim bin 'Abdullah
al-Hâzimiy, Juz.I, h.88-90 sebagai yang dinukilnya dari
buku Tsamarât al-Awrâq karya al-Hamawiy, h.142)

 

Janji Bertemu Di Surga


Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata: "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku'. Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu:
''Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. (Yunus: 15).
Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.' 

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata: "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo'akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya: "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?" 

Dia menjawab: "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan". 

Pemuda itu bertanya: "Jika demikian, kemanakah kau menuju?"
Dia jawab: "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."
Pemuda itu berkata: "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab: "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Subha-nahu wa Ta'ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah." 

Si Pemuda bertanya: "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.

 

Karena Kejujuran, Cobaan Berubah Menjadi Nikmat



Dari Ibnu Syihab, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik, diriwayatkan, bahwa Abdullah bin Ka'ab bin Malik dia adalah penuntun Ka'ab dari anak-anaknya saat Ka'ab menjadi buta berkata: "Saya mendengar Ka'ab bin Malik bercerita tentang kisahnya saat tidak ikut dalam perang Tabuk. 

Ka'ab bercerita, 'Saya tidak pernah absen dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja, saya juga tidak ikut dalam perang Badar, tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menegur orang-orang yang absen saat itu. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat itu hanya ke luar untuk mencegat kafilah onta yang membawa dagangan kaum Quraisy. Dan tanpa ada rencana sebelumnya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta'ala memper-temukan kaum muslimin dengan musuh mereka. Tapi saya pernah ikut bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam (Baiatul) Aqabah, saat itu kami mengadakan janji setia terhadap Islam. Dan peristiwa ini lebih saya senangi ketimbang peristiwa perang Badar, walaupun perang Badar itu lebih sering dikenang oleh banyak orang!' 

Sehubungan dengan perang Tabuk, ceritanya begini. Saya tidak pernah merasa lebih kuat secara fisik dan lebih mudah secara ekonomi ketimbang saat saya absen dalam perang itu. Demi Allah, saya tidak pernah punya dua kendaraan (kuda), tetapi ternyata saat perang itu saya bisa mempunyai dua kendaraan.

 Sebelum Tabuk, bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak para sahabat untuk perang, biasanya beliau selalu tidak menerangkan segala sesuatunya dengan jelas dan terang-terangan. Tetapi dalam perang ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berterus terang kepada para sahabat. 

Sebab, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan melangsungkan peperangan ini dalam kondisi cuaca yang sangat panas. Beliau akan menempuh perjalanan yang jauh, melalui padang pasir yang begitu luas. Dan beliau juga akan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan semua ini pada para sahabat. Saat itu, jumlah kaum muslimin memang banyak. Tidak ada catatan yang menyebutkan nama-nama mereka secara lengkap.' 

Ka'ab berkata, 'Dari saking banyaknya, sampai-sampai tak ada seorang pun yang ingin absen saat itu kecuali dia menyangka tidak akan diketahui selagi wahyu tidak turun dalam hal ini. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melangsungkan perang Tabuk itu di saat buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan suburnya. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin telah bersiap-siap, hampir saja saya berangkat dan bersiap-siap dengan mereka. 

Tapi ternyata saya pulang dan tidak mem-persiapkan apa-apa. Saya berkata dalam hati, 'Saya bisa bersiap-siap nanti.' Begitulah, diulur-ulur, sampai akhirnya semua orang sudah benar-benar siap. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berkumpul bersama kaum muslimin untuk berangkat. Tetapi saya tetap belum mempersiapkan apa-apa. Saya berkata, 'Saya akan bersiap-siap sehari atau dua hari lagi, kemudian saya akan menyusul mereka setelah mereka berangkat.' Saya ingin bersiap-siap, tapi ternyata saya pulang dan tidak mempersiapkan apa-apa. Begitulah setiap hari, sampai akhirnya pasukan kaum muslimin benar-benar sudah jauh dan perang dimulai. Saat itu saya ingin berangkat untuk menyusul mereka, tapi sayang, saya tidak melakukannya. Saya tidak ditakdirkan untuk berangkat. 

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin keluar dari kota Madinah, aku keluar dan berputar-putar melihat orang-orang yang ada. Dan yang menyedihkan, yaitu bahwa saya tidak melihat kecuali yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang memang mendapat keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sementara itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyebut-nyebut saya sampai beliau tiba di Tabuk. Di sana, beliau duduk-duduk bersama para sahabat dan ber-tanya, 'Apa yang diperbuat Ka'ab?' Ada seseorang dari Bani Salamah yang menyahut, 'Ya Rasulullah, dia itu tertahan oleh pakaiannya dan bangga dengan diri dan penampilannya sendiri.' Mendengar itu Muadz bin Jabal berkata, 'Alangkah jeleknya apa yang kamu katakan. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak mengetahui dari Ka'ab itu kecuali kebaikan.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diam.' 

Ka'ab melanjutkan ceritanya, 'Ketika saya mendengar bahwa beliau bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Madinah kembali, saya mulai dihinggapi perasaan gundah. Saya pun mulai berfikir untuk berdusta, saya berkata, 'Bagaimana saya bisa bersiasat dari kemarahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam besok?'
Untuk itu, saya minta bantun saran dari keluarga saya. Setelah ada informasi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mulai masuk kota Madinah, hilanglah semua kebatilan yang sebelumnya ingin saya utarakan.
Saya tahu, bahwa tidak mungkin saya bisa bersiasat dari kemarahan beliau dengan berdusta. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah tiba, dan biasanya bila beliau tiba dari suatu perjalanan, pertama kali beliau masuk ke masjid, lalu shalat dua rakaat, kemudian duduk-duduk menemui orang-orang yang datang. 

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut berperang menemui beliau. Mereka mengajukan berbagai macam alasan diikuti dengan sumpah jumlah mereka lebih dari 80 orang- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima mereka secara lahir dan membai'at mereka serta memin-takan ampunan. Adapun rahasia-rahasia hati, semuanya beliau pasrahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Saya pun datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau tersenyum sinis, kemudian berkata, 'Kemarilah!' Saya berjalan sampai duduk di hadapan beliau. Lalu beliau bertanya, 'Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Tidakkah kau sudah membeli kendaraanmu?' Saya jawab, 'Ya benar. Demi Allah, sekiranya aku sekarang duduk di hadapan orang selain engkau dari seluruh pendu-duk dunia ini, tentu aku bisa selamat dari kemarahannya dengan mengemukakan alasan tertentu. Aku telah di-karuniai kepandaian berdiplomasi. Akan tetapi, demi Allah, aku yakin, kalau hari ini aku berdusta kepada engkau dan engkau rela menerima alasanku, niscaya Allah akan mena-namkan kemarahan diri engkau kepadaku. Dan bila aku berbicara jujur kepada engkau, maka engkau akan menjadi marah karenanya. Sesungguhnya aku mengharapkan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala . Tidak, demi Allah, sama sekali saya tidak mempunyai alasan apa pun secara fisik dan lebih lapang secara ekonomi daripada saat aku tidak ikut serta dengan engkau.' 

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Orang ini telah berkata jujur, bangun dan pergilah sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan keputusan dalam masalahmu ini!' Saya pun berdiri dan pergi. Saat itu orang-orang dari Bani Salamah mengikutiku, mereka berkata, 'Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui bahwa engkau pernah berbuat kesalahan sebelum ini. Mengapa engkau tidak mengajukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam alasan-alasan seperti yang dilakukan orang lain yang juga tidak ikut? Dan dosamu nanti akan hilang dengan istighfar (per-mintaan ampun) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untukmu.' Mereka terus menerus mencerca saya sampai-sampai saya sempat berfikir untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meralat pem-bicaraan saya yang pertama. Kemudian saya bertanya pada mereka, 'Adakah orang yang mendapatkan perlakuan sama denganku?' Mereka menjawab, 'Ya, ada dua orang lagi yang mengatakan seperti apa yang kau katakan dan mendapat-kan jawaban seperti jawaban yang kau terima.' Saya ber-tanya lagi, 'Siapa mereka?' Mereka menjawab, 'Murarah bin Ar-Rabi' Al-Amry dan Hilal bin Umayyah Al-Waqify.' Mereka menyebutkan nama dua orang yang pernah ikut perang Badar dan mereka bisa dijadikan anutan. Setelah mendengar dua nama yang mereka sebutkan itu saya terus pergi. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tidak ikut bersama beliau. Akibatnya, orang-orang semua meninggalkan kami dan sikap mereka pun berubah, bahkan dunia ini pun seolah juga berubah, tidak sama dengan dunia yang saya kenal sebelumnya. 

Kami merasakan hal demikian selama 50 hari. Selama itu, dua teman senasib saya hanya berdiam diri dan duduk di rumah masing-masing sambil menangis. Berbeda de-ngan saya, saya termasuk yang paling muda dan paling kuat menahan ujian ini. Saya pergi keluar dan ikut shalat berjamaah, tetapi tidak ada satu pun yang mau berbicara dengan saya. Saya datangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan saya ucapkan salam kepada beliau saat berada di tempat duduknya seusai shalat. Saya berkata dalam hati, 'Adakah Rasulullah menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?!' Kemudian saya shalat di dekat beliau, saya mencuri pandangan. Saat saya sedang shalat, Rasulullah melihat kepada saya. Tapi bila saya menoleh kepadanya, beliau berpaling dari saya. Setelah cukup lama orang-orang meninggalkan saya, suatu saat saya pergi memanjat dinding kebun Abu Qatadah dia adalah sepupu saya dan termasuk orang yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah dia tidak menjawab salam saya. Saya berkata, 'Wahai Abu Qatadah! Demi Allah aku bertanya, adakah engkau tahu bahwa aku ini mencintai Allah dan RasulNya?' Dia diam saja. Saya kembali bertanya tapi dia tetap diam. Saya bertanya sekali lagi, akhirnya dia juga menjawab, 'Allah dan RasulNya sendiri yang lebih tahu.' Air mata saya berlinang dan saya kembali memanjat dinding itu lagi. 

Ketika saya berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada se-orang bangsawan dari Syam. Dia termasuk para pedagang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah. Dia berkata, 'Siapa yang dapat menunjukkan di mana Ka'ab bin Malik?' 

Orang-orang yang ada di situ menunjukkannya. Setelah dia mendatangi saya, dia menyerahkan pada saya sebuah surat dari Raja Ghassan. Dalam surat itu tertulis, 'Aku telah mendengar bahwa kawanmu (yaitu Nabi Muhammad) telah meninggalkanmu, sementara engkau tidaklah dijadikan oleh Allah berada pada derajat yang hina dan terbuang. Datanglah kepada kami, kami akan menghiburmu.' Setelah membaca surat itu saya bergumam, 'Ini termasuk rangkai-an ujian Allah.' Lalu saya bawa surat itu ke tungku dan membakarnya.
Setelah berlalu 40 hari dari total 50 hari , utusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada saya. Katanya, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyuruhmu untuk menjauhi isterimu!' Saya bertanya, 'Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?', dia menjawab, 'Tidak, jauhilah dia dan janganlah kau mende-katinya'. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga me-ngirimkan utusan beliau kepada dua rekan senasib saya. Maka saya meminta pada isteri saya, 'Pergilah kau ke tem-pat keluargamu. Menetaplah di sana sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memutuskan masalah ini!' 

Ka'ab berkata, 'Isteri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia berkata, 'Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah tua renta, dan dia tidak mempunyai pembantu. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Tidak, tetapi jangan sampai dia mendekatimu!' Isterinya menjawab, 'Demi Allah, dia sudah tidak bisa bergerak lagi dan dia masih tetap menangis sejak dia mempunyai masalah ini sampai hari ini juga.' Sementara itu sebagian keluarga saya berkata, 'Bagaimana sekiranya engkau juga minta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah isterimu, agar dia bisa melayanimu seperti isteri Hilal bin Umayyah.' Tetapi saya menjawab, 'Demi Allah, dalam masalah ini aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bila aku minta izin kepada beliau, sementara aku ini masih muda?!' 

Saya berada dalam kondisi demikian selama sepuluh malam, sehingga jumlahnya 50 malam dari mulai pertama kali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang orang untuk berbicara pada kami. Pada hari yang ke-50, saya menghadiri shalat Subuh, setelah itu saya duduk-duduk, sementara kondisi saya persis seperti yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, diri sendiri terasa sempit, begitu juga bumi yang luas ini terasa sempit bagi saya. Saat saya duduk dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya mendengar suara orang yang berteriak dengan lantang di atas bukit, 'Wahai Ka'ab, bergembiralah!' Saat itu juga saya langsung sujud, saya tahu bahwa masalah saya akan berakhir. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengumum-kan datangnya taubat (pengampunan) Allah atas kami bertiga saat beliau selesai shalat Subuh. Banyak orang pergi menemui kami untuk menyampaikan kabar gembira. Sebagian mereka ada yang menemui dua kawan senasib saya, dan ada seseorang yang ingin menemui saya dengan berkuda. Sementara itu ada seorang Bani Aslam yang hanya berjalan kaki, lalu dia naik ke bukit dan meneriakkan kabar gembira pada saya. Ternyata suara itu lebih cepat dari pada kuda. Setelah orang yang naik ke bukit itu datang menemui saya untuk menyampaikan langsung, saya tang-galkan pakaian saya dan saya hadiahkan untuknya sebagai imbalan atas kabar gembiranya. Demi Allah, sebenarnya saya ini tidak mempunyai baju lagi selain itu. Akhirnya saya meminjam baju orang, kemudian berangkat menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang-orang datang berduyun-duyun mengucapkan selamat atas kabar gembira ini. Mereka mengatakan, 'Selamat atas pengam-punan Allah untukmu!' Setelah itu saya masuk ke dalam mesjid, di situ terlihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk di kelilingi banyak orang. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah bangun dan menuju ke arah saya dengan setengah lari. Dia menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangun selain dia, dan saya tidak akan melupakannya.
Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata dengan wajah bersinar penuh kegembiraan, 

'Bergembiralah dengan datangnya sebuah hari yang paling baik yang pernah engkau lalui semenjak kau dilahirkan oleh ibumu.' 'Dari engkau atau dari Allah, ya Rasulullah?' tanya saya. Beliau menjawab, 'Bukan dariku, tapi dari Allah.' Dan demikianlah, bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang gembira, wajah beliau bersinar seperti bulan. Kami semua tahu hal itu. Setelah aku duduk tepat di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, saya berkata, 'Wahai Rasulullah, sebagai pertanda taubat ini, aku akan melepas semua hartaku dan menjadikannya sebagai shadaqah untuk Allah dan RasulNya.' Rasulullah menjawab, 'Ambillah sebagian dari hartamu, ini lebih baik untukmu.' Saya berkata, 'Ya, aku akan mengambil jatahku yang aku dapatkan dari perang Khaibar.' Setelah itu saya ungkapkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sebagai pertanda taubatku kepada Allah, aku berjanji bahwa aku akan selalu berkata jujur selama hidupku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang muslim yang diuji oleh Allah dalam kejujuran kata-katanya melebihi ujian yang aku dapatkan.' 

Dan sejak aku ungkapkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak pernah berdusta sampai hari ini. Saya memohon semoga Allah tetap menjaga saya selama sisa hidup saya. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firmanNya kepada RasulNya: 

"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan. Setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melain-kan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguh-nya Allahlah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur." (At-Taubah: 117-119). 

Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah Allah karuniakan kepada saya setelah nikmat hidayah Islam- yang lebih besar dari nikmat kejujuran saya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya tidak ingin berdusta tapi kemudian binasa seperti binasanya orang-orang yang telah berdusta. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mem-berikan komentar tentang orang-orang yang berdusta di dalam wahyu yang diturunkanNya- dengan kata-kata yang sangat keras dan jelek. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Kelak mereka akan bersumpah kepdamu denga nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka itu berpalinglah dari mereka, karena mereka itu adalah najis dan tempat mereka adalah Jahannam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepada-mu agar kamu rela kepada mereka. Tetapi, jika sekiranya kamu rela kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rela kepada orang-orang yang fasik itu." (At-Taubah: 95-96). 

Ka'ab berkata:
"Kami bertiga tidak memperhatikan lagi orang-orang yang diterima alasan mereka setelah bersumpah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau menyumpah mereka dan memintakan ampun buat mereka, sementara itu beliau menangguhkan urusan kami sampai Allah sendiri yang memutuskan. Oleh karena itu Alah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan,''(Dan Allah juga telah menerima taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.'' 


Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah tidak ikut serta-nya kami bertiga dalam perang, tetapi yang dimaksud adalah ditangguhkannya taubat kami serta tidak diikutsertakannya kami pada kelompok orang-orang yang telah ber-sumpah dan mengemukakan alasan dan diterima oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

 

Ia Tinggalkan Nyayian Maka Allah Menggantikannya dengan Hidayah dan Iman

Negara-negara kafir pada umumnya, baik Barat maupun Timur hidup dalam kesengsaraan. Ya, demi Allah, itulah kenyataan mereka. Sebab hati yang merupakan raja anggota badan adalah asal-muasal kebahagiaan dan kenikmat-an serta siksa dan kesengsaraan.
Jangan terkecoh dengan kenikmatan mereka. Memang, jasad mereka berada di Surga, tetapi hati mereka di Neraka. Inilah kenyataan yang ada!
Karena itu, orang kafir selalu hidup dalam kesempitan dan kesusahan. Allah berfirman:
 

Buah Taqwa

Suatu saat, Raja Bukhatnezar(1) datang ke Baitul Maqdis dari negeri Syam. Dia membunuh orang-orang Bani Israil dan merebut secara paksa kota Baitul Maqdis serta menawan banyak orang dari mereka. Di antara mereka yang ditawan adalah Nabi Danial 'alaihis salam.(2) 

Sebelumnya, Raja ini didatangi oleh para ahli nujum (peramal) dan orang-orang cendekia saat itu. Mereka semua mengatakan, 'pada malam ini dan ini akan dilahirkan seorang bayi yang nantinya akan menghinakan dan menghancurkan kerajaanmu.' Maka Raja itu berjanji dan bersumpah, 'Demi Allah, tak ada seorang bayi pun yang lahir pada malam itu kecuali akan aku bunuh,' Di antara bayi-bayi yang lahir saat itu, hanya bayi Danial saja yang tidak dibunuh, tetapi dibuang ke hutan yang terdapat singa di dalamnya. Bayi Danial hanya sempat dijilat-jilat oleh seekor singa beserta anaknya dan tidak menyakitinya, sampai akhirnya datanglah ibunya. Saat dua binatang itu menjilatinya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menyela-matkannya. Para cendekiawan daerah itu mengatakan, bahwa akhirnya Danial mengukir gambar dia beserta dua singa itu yang sedang menjilatinya, di atas batu cincinnya agar senantiasa tidak lupa akan nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala itu. (HR. Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan). 

Dalam redaksi riwayat lain disebutkan:
Ada seorang Nabi pada masa Bani Israil, jauh setelah Nabi Musa As meninggal dunia, namanya Danial 'alaihis salam. Dia didustakan oleh kaumnya. Bahkan akhirnya dia diciduk oleh raja yang berkuasa saat itu dan dilempar-kan ke kandang seekor singa yang sudah dibikin lapar. 

Setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala melihat, betapa besar perasaan tawakkalnya, juga kesabarannya, hanya karena mengharap keridhaanNya, maka Allah mencegah mulut-mulut singa itu untuk memakannya. Bahkan sampai Danial berdiri di atas kedua kakinya di hadapan singa yang sudah tunduk dan tidak lagi membahayakan. Kemudian Allah mengirim Irmiya dari Syam sehingga Danial dapat keluar dari masalah ini dan menumpas orang yang ingin membinasakannya'. 

Dari Abdullah bin Abil Hudail, dia berkata: "Bukhtanashar telah melatih dua singa untuk berburu dan meletak-kannya di dalam kandang. Kemudian dia menggiring Danial dan melemparkannya pada binatang tersebut. Tetapi singa itu tidak mengganggunya sama sekali. Danial pun, dengan izin Allah, untuk beberapa lama tinggal di dalam kandang. Tiba-tiba -suatu saat- dia ingin makan dan minum seperti lazimnya orang-orang. Maka Allah Subha-nahu wa Ta'ala memerintahkan melalui wahyu kepada Irmiya(1) yang saat itu berada di Syam, untuk menyediakan makanan dan minuman Danial. Maka dia berakta: "Ya Rabbi, aku sekarang berada di tanah suci (Baitul Maqdis), sementara Danial berada di kota Babilonia di tanah Iraq." Lalu Allah mewahyukan lagi kepadanya: "Siapkanlah apa yang telah Aku perintahkan kepadamu. Aku akan kirim utusan yang akan membawamu ke sana beserta apa yang kau persiapkan." Akhirnya Irmiya melaksanakan perintah tersebut dan Allah mengirim utusan yang membawanya serta makanan yang dipersiapkannya. Sesampainya di depan gerbang kandang singa, Danial berkata: "Siapa ini?"
Irmiya: "Aku Irmiya."
Danial: "Kenapa kau datang ke mari?"
Irmiya: "Aku diutus oleh Tuhanmu untuk menemuimu."
Danial: "Apakah Dia menyebut namaku?"
Irmiya: "Ya."
Danial: "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak melupakan orang yang mengingatNya. Segala puji bagi Allah yang kalau ada orang bertawakkal padaNya, maka Dia akan berikan kecukupan padanya. Segala puji bagi Allah yang kalau ada orang yang percaya kepadaNya, tidak akan Dia pasrahkan urusannya pada yang lain. Segala puji bagi Allah yang memberikan keselamatan atas kesabaran. Segala puji bagi Allah yang telah menyingkap kesulitan kita setelah ditimpa musibah. Segala puji bagi Allah, Dialah tempat kepercayaan kami, ketika kami berprasangka buruk atas amalan-amalan kami. Segala puji bagi Allah, Dia tempat harapan kami, ketika semua cara tertutup di hadapan kami."


 

Berkah Sebuah Ketakwaan


Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasihati dia dan teman - temannya : "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam diri-nya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing- masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

 

Balasan Kesabaran


Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata: "Anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Salamah meninggal dunia. Maka isterinya berkata kepada keluarganya, 'Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sam-pai aku sendiri yang mengabarkannya!' Anas bin Malik berkata, 'Abu Thalhah datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum'. Anas ber-kata, 'Sang isteri kemudian berdandan indah bahkan lebih indah dari waktu-waktu yang sebelumnya. Setelah dia merasa bahwa Abu Thalhah
 

Balasan Kejujuran dan Amanah


Setiap muslim diperintahkan untuk berlaku amanah dan memiliki akhlak yang baik serta sifat yang terpuji. Barang-siapa yang melakukan sifat-sifat tersebut, niscaya ia diberi balasan yang baik, di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang meninggalkan khianat dan menipu karena Allah dengan segenap kejujuran dan keikhlasan, niscaya Allah mengganti hal tersebut dengan kebaikan yang banyak Abu Hurairah radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 

Balasan Ekspres


    Seorang pemuda yang dulunya pernah studi di benua benua Eropa bercerita bahwa ketika dia masih di sana, ada seorang laki-laki 'Bule' masuk Islam. Setelah masuk Islam, kondisinya berubah, dia benar-benar serius dan antusias sekali menjalankan syari'at Islam secara kaffah (menyeluruh). Bahkan dia dengan bangga menampakkan keislamannya dan membangga-banggakannya di hadapan orang-orang kafir tanpa malu atau ragu-ragu sedikitpun, sekalipun tanpa momen. Yang jelas, dia selalu antusias untuk itu.
    Dia menceritakan bahwa suatu hari, pada salah satu perusahaan milik orang kafir tercantum pengumuman lowongan kerja. Dia bergegas untuk melamar dengan penuh kebanggaan kepada agama barunya ini. Dia harus menghadiri interview dan bersaing untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Tatkala interview dimulai, panitia khusus penerimaan karyawan baru pada perusahaan tersebut mengajukan beberapa pertanyaan yang diantaranya, "Apakah kamu minum khamar?."
 

Akhirnya Dia Mati Seperti Keledai


Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana. 

Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!." 

 

Maktabah Syamillah

Mungkin banyak diantara kita ketika hendak mempersiapkan diri tuk ceramah misalnya kewalahan mencari bahan nah disini kami hendak memberikan link yang insya Allah sangat bermanfaat untuk hal tersebut.
Perlu diketahui bahwa untuk membuka setiap kitab perlu adanya program maktabah syamilah, bila anda sudah punya maka bisa langsung dibuka dengan syamilah viewer, tapi bila belum anda bisa download Versi 2.11 disini klik Program Maktabah Syamilah Ukuran filenya 17 MB.(Butuh Waktu lumayan lama, lebih baik download dengan software DAP atau program mempercepat download yang lain). Apabila anda kesulitan mendownload silahkan pesan langsung SD Yapis AL Jihad Sorong dengan membawa DVD kosong insya Alalh dilayani.
YANG MAU DOWNLOAD LENGKAP SILAHKAN DISINI FILE KURANG LEBIH 1,9 GIGA (belum diekstrak) ===>>>DOWNLOAD<<<===
Berikut ini daftar hiperlink yang selama ini dicari para netter :
Download Kitab Arab Gratis
Daftar Kitab-Kitab Arab Gratis
Kitab Tafsir
Download
Tafsir Ibnu Katsir Muhaqqoq
Tafsir Qurtuby Muhaqqoq
Tafsir Thobary Muhaqqoq
Tafsir Jalalain
Tafsir Baidhowi
Tafsir Al Munir Dr. Wahbah Al Zuhaili : DOWNLOAD DISINI
Ingat untuk membuka file ini anda harus mempunyai program shamela viewer atau Program Maktabah Syamilah.
Kitab Hadits
Kitab Hadits
Download
Al Muwatho’
Shohih Bukhori
Shohih Muslim
Al Mustadrok
Sunan Abu Daud
Sunan Nasa’i
Sunan Tirmidzy
Sunan Daruquthny
Musnad Ahmad
Musnad Syafi’i
Musonaf Abdur Rozaq
Sunan Ibnu Majah
Kitab Fiqih Hanafi
Kitab Fiqih Hanafi
Download
Kitab Atsar Imam Abu Yusuf
Al Mabsuth
Fathul Qodir Ibnu Hammam
Badai’ Shonai’
Kitab Fiqih Maliki
Kitab Fiqih Maliki
Download
Hasyiyah Dasyuqi Ala Al Syarh Al Kabir
Irsyadu Salik Fiqih Imam Malik
Bidayah Mujtahid
Al Mudawwanah
Al Kafi Fi Fiqh Ahli Madinah
Kitab Fiqih Syafi’i
Kitab Fiqih Maliki
Download
Al Umm
Rodhotul Tholibin
Al Majmu
Fathul Mu’in
Kifayatul Akhyar
Fathul Wahhab
Mukhtashor Muzani
Kumpulan Kitab-Kitab
(Kompilasi)
Al Quranul Karim Lengkap Dgn Tafsirnya Ibnu Katsir, Thobari, Qurtubi
Kutubu Tis’ah Kumpulan Hadits Semua ada disini 9 kitab hadits File CHM 54 MB.
Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah
Majmu’ Fatawa 2 Imam ( As Syeikh Bin Bazz & As Syeikh Usaimin )
Kutubus Sunnah ( Kumpulan Kitab-Kitab Sunnah Dalam Aqidah )
Fatawa As Syeikh Sholeh Al Fauzan
Mausu’ah Usulul Fiqh ( Kumpulan Usul Fiqih )
Maktabah As Syeikh Abdur Rahman As Sa’dhiy
Kumpulan Kutubut Tauhid
Kumpulan Kitab Ibnu Qayyim
Kumpulan Kitab Ibnu Taimiyyah
Maktabah As Syeikh Muhammad Amien As Syanqithiy
Maktabah As Syeikh Muhammad Aman Aljami
Kutubu Tis’ah Kumpulan Hadits File Exe lebih kecil 28 MB

MARI SALING BAHU MEMBAHU MENYEBARKAN KEBAIKAN
mohon dilaporkan kalo ada link yang rusak tuk segera dilakukan perbaikan

sumber asli : SD AL JIHAD
 

Bahasa Arab Untuk Pemula

Assalamu “alaikum,
Alhamdulillah Puji syukur kehadirat Allah yang telah memudahkan bagi hamba-hamba-Nya untuk mempelajari agama.
tak lepas dari bagian agama Islam adalah bahasa arab, maka disini kami sengaja memposting pelajaran bahsa arab untuk pemula. Pada buku ini Insya Allah disertai Audio.
Buat antum yang berminat mengkopi file Audio bisa datang Ke SD AL JIHAD dengan membawa DVD kosong Insya Allah akan kami kopikan.
1. Bahasa Arab kurikulum Madinah
- buku 1
- buku 2
- buku 3
Mau download DVDnya ada dilink berikut
#DVD kurikulum madinah#
2. Al-”arobiyah Baina Yadak
- buku 1
- buku 2
- buku 3
untuk audionya klik link dibawah ini
- CD 1
- CD 2
- CD 3

sumber asli : SD AL JIHAD
 

GROW WITH ENGLISH

BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK

Belajar sambil membaca emang sering membosankan
Belajar dengan menbaca+mendengarkan emang menyenangkan
Belajar dengan menbaca+mendengarkan+menyaksikan emang mendasyikkan.
Kali ini mau posting pelajaran bahasa inggris dasar, lumayanlah buat pemula, khususnya buat adek-adek sekolah dasar yg kebetulan memakai buku pelajaran ERLANGGA kayaknya pas deh kalo didampingi yg satu ini.
Oya langsung aja klik gambarnya untuk DOWNLOAD. OK


 
Kelas 4,5 dan 6 Insya Allah menyusul

sumber asli : SD AL JIHAD
 

GROW WITH ENGLISH PART-2

GROW WITH ENGLISH PART-2

Alhamdulillah ternyata banyak yang respon ama grow with english yang pertama. hal itu tentunya ditunjukkkan dengan tingginya rate download lewat 4shared. Terima kasih pada semua yang telah bersedia mampir dan mengunduh bahan belaraj tersebut. kami berharap tentunya hal itu bisa membatu atau turut mencerdaskan bangsa. Amin.
Oya langsung aja untuk download klik gambar yang ada. Selamat mencoba !



 
Sumber Asli :  SD AL JIHAD
 

Belajar Iqro Lebih Aktraktif Dengan Qronis

Belajar Iqro kini menjadi lebih menyenangkan dengan hadirnya Qronis. Qronis adalah sebuah program belajar Iqro yang disertai dengan animasi. Metode yang dipakai metode Iqro yang terdiri dari tiga tahap belajar huruf, tanda-tanda dalam huruf arab seperti fathah , kasroh dan dhommah dan tahap terakhir merangkai huruf hijaiyah.
Tapi yang membedakan dengan metode Iqro biasa adalah dengan adanya gambar animasi yg akan membuat anak-anak semakin bersemangat belajar membaca alquran. Metode ini diciptakan oleh 5 orang mahasiswa STT Telkom Bandung. Metode Qronis ini bisa dipelajari gratis secara online ataupun di download melalui websitenya www.qronis.web.id
Qronis adalah metode pembelajaran membaca Al Qur’an baru dengan dengan pendekatan Iqro Animasi. Media yang digunakan dalam proses pembelajaran Qronis (Iqro Animasi) ini berupa CD interaktif dan halaman website. Hal ini dimaksudkan agar pengaksesan program ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, sehingga terbentuklah karakteristik masyarakat yang tidak hanya ahli dalam IPTEK tetapi juga IMTAQ.
Qronis: Iqro Animasi, belajar iqro, belajar membaca huruf hijaiyyah untuk anak-anak dengan animasi flash.
Belajar dasar-dasar membaca Al-Quran, mengenal huruf-huruf hijaiyyah, belajar cara membaca huruf hijaiyyah dan cara mengucapkan huruf hijaiyyah (yang merupakan unsur pembentuk kata dalam bahasa arab)
Qronis. Yup, qronis. Kali ini saya ingin membahas tentang qronis. Ingat ya, qronis bukan kronis. Karena ‘qronis’ dengan ‘kronis’ memiliki makna yang sangat berbeda tentunya.

Menurut KBBI Daring, kronis diartikan sebagai berikut:
kro·nis a 1 terus-menerus berlangsung; tahan dl waktu yg lama (tt keadaan); 2 berjangkit terus dl waktu yg lama; menahun (tt penyakit yg melanda diri seseorang) yg tidak sembuh-sembuh
Sedangkan qronis yang saya maksudkan merupakan sebuah akronim dari Iqro Animasi. Jadi, qronis ini merupakan suatu program aplikasi komputer untuk memudahkan belajar membaca Al-Qur’an dengan metode iqro. Qronis ini ditujukan untuk anak-anak, tapi tidak menutup kemungkinan bagi orang dewasa yang belum bisa membaca Al-Qur’an untuk mencobanya.
Qronis sangat cocok digunakan bagi mereka para pengajar TPA maupun guru mengaji anak-anak. Tapi, tentunya harus dijalankan dengan komputer. Bisa digunakan sebagai variasi dalam metode pengajaran iqro, sehingga anak-anak pun ikut senang. Mereka serasa diajak bermain sekaligus belajar.
Jadi tunggu Apalagi
Download Sekarang Juga ya
 

Silabus SD Berkarakter


Gak disangka ternyata postigan Silabus Tematik untuk SD banyak pengemarnya. Oya yang satu ini saja masih banyak yang bingung, sekarang udah muncul lagi Silabus Berkarakter.
Sebenarnya sih gak jauh beda dengan yang lama (Silabus Tematik) cuman ada beberapa penambahan. Kalo pada Silabus Tematik Kompetensi dasarnya terpisah dari kolom yang ada, maka untuk Silabus Berkarakter ini Kompetensi Dasarnya menyatu dalam kolom-kolom.
Lengkap deh pokoknya, ada silabus, RPP, Prota, Promes dll.
Penasarankan lihat aja Link berikut :
Password : sdaljihad (tanpa spasi)

1. Kelas-1
2. Kelas-2
3. Kelas-3
4. Kelas-4
5. Kelas-5
6. Kelas-6
7. PAI Kelas I-VI
8. Bahasa Inggris I-VI

sumber asli : SD AL JIHAD
 

Silabus SD part 2

Silabus SD part 2

Alhamdulillah pada posting kali ini kami ingin melanjutkan share Silabus Untuk Sekolah Dasar
khususnya kelas 4, 5, 6. bagi yang berminat silahkah aja langsung klik link di bawah ini >
silabus kelas 4
silabus kelas 5
silabus kelas 6.
untuk RPP, Insya Allah menyusul. Moga bisa membantu Bpk/Ibu Guru sekalian. Amin

sumber asli : SD AL JIHAD
 

SILABUS TEMATIK SD 1-3

Kalo pada kesempatan yang lalu, kita udah orbitkan silabus-1 / silabus-2  untuk semua kelas. ternyatsilabus yang kelas 1 -3 tiga tercampur dengan RP. Jadi kali ini saatnya sharing silabus yang benar-benar tematik mulai dari kelas 1 sampe kelas 3.
Tak lupa dimohon kritik dan saranya untuk kemajuan Blog ini. gak usah tulis E-Mail juga gak papa.

1-Silabus tematik kelas 1
2. Silabus tematik kelas 2
3. Silabus tematik kelas 3

sumber asli : SD AL JIHAD
 

SILABUS DAN RPP SMP BERKARAKTER

Atas permintaan beberapa teman dan pengunjung dan kebetulan pula istri saya guru agama islam di SMP, Alhamdullilah akhirnya saya dapat Silabus dan RPP Berkarakter untuk kelas VII – VIII – IX atau kelas 1-2-3.
Sebelumnya saya minta maaf kalo mungkin saja ada yang terlewat dari postingan ini mohon komentarnya untuk perbaikan yang akan datang.
Semau file dalam Silabus dan RPP ini kami password

Password : sdaljihad

1. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2. MATEMATIKA
3. PKN
4. IPS 1 =  IPS 2
5. IPA
6. BHS. INDONESIA
7. BHS. INGGRIS
8. KETERAMPILAN
9. TIK
10. PENJAS/OLAH RAGA

Semoga bermanfaat dan trimakasih atas kunjungannya. J J J J

sumber asli : SD AL JIHAD
 

SILABUS SMA/MA

Tak disangka begitu besar antusian teman-teman guru untuk membuat perangkat pembelajaran. Apalagi yang hendak mengikuti sertifikasi guru, tentunya hal itu sangat mendukung. Namun tak sedikit diantara rekan rekan guru yang kesulitan untuk memulainya, disebabkan minimnya referensi dan acuan hingga semangat yang menggebu pun hampir pupus ditengah jalan.
Syukur Alhamdulillah, beberapa hari ini bongkar isi harddisk dapat deh silabus untuk SMA/MA. Bagi Bapak/Ibu guru yang berminat bila langsung klik yang ada.
Semua file dipassword.
Password : sdaljihad
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. abu-uswah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger